
Hari belum berakhir, demi menjalankan misinya, Lia rela menunggu di gerbang sekolah untuk menemui Beni yang merupakan oknum yang sulit ditemui.
Akhirnya terlihat oknum yang ditunggu. Lia langsung menarik nafas panjang lalu menghela berat. Ia mendekati Beni pelan dan langsung berjalan menyeimbangi langkahnya dengan pemuda bergelar psyco itu.
"Loe pasti mau ke Kafe kan? Boleh gua ikut bareng loe?" Basa basi yang terdengar agak canggung keluar begitu saja dari mulut Lia.
"Kenapa?" Beni sebentar menghentikan langkahnya dan menatap Lia.
"Gua mau nyobain menu baru di Kafe loe! Kata Alora ada menu baru enak banget, jadi gua pengen coba sekalian belajar bareng teman-teman lain, boleh gua ikut bareng mobil loe?" Lia menemukan alasan acak dalam kepalanya.
"Oke" sahut Beni yang membuat Lia lega.
Kedua remaja itu naik ke mobil Beni. Melihat pemuda itu yang duduk dikursi pengemudi Lia bertanya
"Loe udah punya SIM A?"
"Iya!" Jawaban singkat itu menandakan Lia aman kalau-kalau ada razia mendadak.
Beni mendapatkan surat Izin mengemudi saat usianya 18 tahun tepatnya tahun lalu. Karena pernah tinggal kelas saat usianya 7 tahun disebabkan orang tuanya resmi bercerai. Sejak saat itu Beni menjadi anak yang keras kepala dan pindah sekolah karena Herman tidak mau anaknya jadi korban bullying walau mentalnya kuat.
Lia harus memicu percakapan sehingga pertanyaan yang ia lontarkan terdengar serius dan masuk akal.
"Gimana nilai matematika loe? Makin meningkat atau menurun lagi? Loe belajar seperti yang gua bilang kan?" Pertanyaan Lia yang mengalir tidak bisa dihentikan.
"Nanyak nya satu-satu aja, biar gampang jawabnya!" Beni tampak memasang muka datarnya.
"Mentor loe ini khawatir tau! Jangan sampe sia-sia gua ngajarin"
"Nilai gua aman-aman aja kok!"
"Alhamdulillah. Terus loe udah mutusin mau masuk fakultas apa untuk di isi di surat rekomendasi?"
Beni agak ragu untuk menjawab mengingat Alora selalu meneror dirinya dengan pertanyaan yang sama.
"Gua mau masuk Teknik Informatika"
"Apa? Tapi itu kan program saintek! Loe kan dari IPS jadi agak susah masuk ke sana, kecuali nilai loe tinggi atau loe berhasil lulus ujian masuk baru bisa"
"Gua tau!" Sahut Beni.
"Terus di Universitas mana?"
"Eh bentar! Buat apa gua kasih tau loe?"
"Bukan apa-apa, buat sharing aja. Gua bakalan masuk fakultas Ekonomi bareng Lora jurusan management busines pilihan pertama dan Akuntansi pilihan kedua, cuman belum tau aja Universitas mana, makanya nanyain loe, siapa tau kami minat juga" jelas Lia dengan kemampuan ngeles nya.
Lia melirik Beni yang fokus menyetir itu dan tidak mendapat jawaban. Sepertinya guning es tidak akan mudah dicairin hanya dalam satu hari. Lia terus menatap Beni tanpa sadar ia membatin "Ya ampun muka ganteng itu.. gua hampir lupa ni orang memang ganteng, yaah sayang aja coba aja sikapnya lebih baik"
Keduanya akhirnya sampai di Kafe, tentu saja Lia langsung mencari Alora yang sudah duluan sampai diantar Andre. Sebelum bergabung ke meja teman belajar yang lain, Lia lebih dulu ke kasir menemui Alora dengan kedok memesan.
"Liat hp loe!" Ucap Lia pada Alora lalu berperan seolah memesan minum.
Lia akhirnya berkumpul dengan teman belajarnya. Dan Alora membaca pesan yang di kirim bestie-nya itu tentang jurusan keinginan Beni.
Alora tampak bimbang dan ragu, sembari memikirkan bagaimana cara selanjutnya untuk bertindak.
...
Malamnya, seusai pulang kerja Alora langsung pulang kerumah. Suara helaan jelas terdengar, itu Alora yang duduk di atas kasur dalam kamarnya. Ia sedang mempertimbangkan apakah harus memberitahu Herman dengan jurusan keinginan Beni atau tidak. Atau apakah ia harus langsung mengubah pilihan Beni.
...
Di sisi Lain, Beni baru sampai rumahnya. Tampak Herman sang ayah sedang menunggu putranya di ruang tamu. Saat membuka pintu, Beni mendapati ayahnya yang hampir tiap malam duduk di tempat yang sama.
Pemuda itu hanya berjalan lurus menuju kamarnya, sebelum Herman akhirnya menghentikan langkahnya dengan kata
"Duduk dulu, papah mau nanya"
Dengan raut enggan Beni menghampiri dan duduk di depan ayahnya.
"Kamu mau masuk jurusan apa? Ayah akan siapkan semua untuk kamu!"
Beni tetap diam, terlepas dari pertanyaan dan niat baik ayahnya.
"Kenapa kamu selalu diam saat di tanya? Apa kamu udah nggak anggap lagi saya ayah kamu?"
"Apa untung nya bagi papah kalaupun tau?" Akhirnya Andre menjawab walaupun hanya balasan pertanyaan.
"Papah akan bantu kamu! Mulai dari les, contoh ujian persiapan dan berkas-berkas lain. Hal apapun untuk mempersialkan kamu agar bisa masuk Universitas"
"Kenapa tiba-tiba perhatian?"
"Papah selalu perhatian hanya kamu yang nggak bisa lihat itu"
"Perhatian? Dengan uang papah? Lalu maksa aku buat kerja di Kafe? Dari dulu papah cuman peduli sama perusahaan dari pada anak sendiri" kalimat ini menjadi kalimat terakhir Beni, lalu dengan sigap berdiri dan masuk ke kamarnya.
Herman tampak sedih, mengingat selama ini dia bekerja keras agar bisa memberika segalanya untuk anak semata wayang nya.
Alasan perceraiannya adalah masalah ekonomi. Saat usia Beni 3 bulan, Beni di bawa dan di asuh oleh ibunya, karena istri Herman itu tidak tahan dengan kehidupan miskin. Hingga akhirnya Herman bertemu dengan kakeknya Alora yang menawarkan pekerjaan padanya. Sejak saat itu, kakek Alora terus saja membantu Herman hingga pria paruh baya itu berhasil mendirikan perusahaan ritel-nya sendiri.
Beni kembali di asuh pria baruh baya itu setelah Beni Masuk SMP. Perekonomian Herman semakin stabil dan berhasil seperti saat ini. Ia terus bekerja agar anaknya tidak perlu kekurangan suatu apapun.
***
Keesokan harinya, Alora sudah tidak mencari-cari Beni. Gadis itu merasa cukup dan hampir menyerah. Dia mengandalkan Lia dan membiarkan dirinya lagi-lagi tertidur di perpustakaan dengan Andre yang duduk belajar di sampingnya.
Andre melirik sebentar gadis yang tertidur di sisinya itu.
"Loe pasti mimpi buruk semalam, apa mimpi itu datang lagi?" Andre tampak menghela berat lalu melanjutkan belajarnya.
...
Saat Alora tertidur pulas, Lia datang yang baru saja menyelesaikan misinya. Gadis itu mengirimkan chat kepada Beni berisi
"Ben, Kalo loe suka jurusan TI perjuangkan! Minta bantuan bokap loe buat les, atau cari tutor privat. Gua yakin loe pasti bisa! Semangat!"
Di sisi lain, Beni yang menyadari Hp nya bergetar memeriksa chat yang masuk. Setelah membaca chat dari Lia tersebut, akhirnya Beni memutuskan. Daripada meminta bantuan ayahnya, lebih baik memaksa Alora untuk belajar bersama dan akan lebih mudah memanfaatkan gadis itu.
Alora tidak kunjung datang, biasa saat jam istirahat Alora datang meneror Beni dengan ribuan pertanyaan. Namun hari ini, Beni malah menunggu Alora datang. Karena sudah terbiasa di ganggu, jadinya Beni seperti ada yang kurang dalam aktivitas hariannya.
Giliran Beni yang berkedok berkeliling sekolah, namun sebenarnya mencari Alora. Akhirnya pemuda itu menemukan gadis itu yang tertidur bersama Andre yang juga ikut tertidur di perpustakaan.
Beni langsung mendekati kedua oknum itu, lalu duduk di sisi kiri Alora. Tak lama Andre dan Alora dibangunkan oleh bel masuk kelas dan keduanya juga dikejutkan ketika melihat Beni yang sedang membaca buku di meja yang sama dengan mereka.
"Kok tiba-tiba loe di sini?" Tanya Andre.
"Makanya kesekolah jangan tidur mulu!" Sahut Beni lalu bergerak pergi.
Alora dan Andre saling melirik sebentar seolah bertanya-tanya ada apa dengan pemuda itu.
Sepulang sekolah hingga saat sedang bekerja, Alora benar-benar mengacuhkan pemuda Psyco itu. Beni merasa ada yang janggal dengan dirinya yang biasa di sapa Alora dan sejuta pertanyaan misinya itu. Begitupun saat pulang kerja Alora langsung pulang.
Namun, tiba saja Beni menarik tangan Alora yang baru keluar dari Kafe itu hingga langkahnya terhenti. Tentu saja wajah datar Alora terlihat lelah.
"Apaan? Gua mau pulang!" Oceh Alora.
"Yok kuliah bareng!" Ucap Beni
.
.
.
Tbc