
Fajar menyinsing, suara burung ikut memeriahkan pagi, bukan tanpa alasan tapi begitulah alam memamerkan keindahannya.
Dua gadis yang masih terlelap di kasur kecil itu. Lia akhirnya membuka matanya namun terlalu malas untuk bangun. Ia kembali memejamkan matanya selama lima detik. Sraak bunyi hempasan selimut, gadis itu bangkit lalu membuka tirai agar cahaya masuk lalu membangunkan remaja lainnya.
Lia langsung menuju kamar mandi sedangkan Alora masih bergerak-gerak diatas kasur dengan mata tertutup.
"Lia jam berapa?" Gumam gadis itu yang hampir tak terdengar jelas.
Lia yang baru keluar dari kamar mandi berkata "udah jam 6 nih, gak siap-siap loe?"
Alora membangkitkan tubuh yang terasa jompo itu. Sepertinya tubuhnya masih terasa pegal bahkan setelah bangun tidur. Gadis itu mandi lalu bersiap-siap berangkat sekolah.
Setelah siap dengan seragam sekolah masing-masing, keduanya keluar kamar menuju meja makan.
"Kalian udah siap? Ayo sarapan dulu" ucap ibunya Lia yang telah menyiapkan meja makan. Seorang ibu yang hangat menyambut anaknya dengan manja begitulah gambaran ibunya Lia. Wanita itu juga menyayangi Alora seperti anaknya.
Merekapun sarapan bersama sembari besenda gurau hingga tergores ukiran indah dibibir Alora yang lama menghilang. Setelah makan kedua gadis itu berangkat dengan naik bus bersama. Bermalam di rumah Lia adalah salah satu cara tepat menghibur gadis penuh luka itu.
...
Hari sibuk lainnya, namun sebenarnya semua terasa sama saja, yang berbeda hanya tanggalnya saja. Berangkat sekolah, belajar, pulang sekolah lalu bekerja, pulang kerja di rumah kesepian lagi. Rutinitas abu-abu menyedihkan itu membuatnya lelah hidup.
Namun ada hari yang terasa sedikit berbeda, hari dengan polesan warna di dalamnya, tidak hanya hitam yang bercampur putih namun warna pelangi yang sesekali menyapa setelah hujan deras mengguyur bumi. Sepertinya sedikit campuran warna akan membawa perbedaan, itulah yang saat ini terjadi.
Guncangan jantung yang berdetak tidak seperti biasanya. Hanya melihat wajahnya atau sekedar menatapnya lewat rasanya tubuh melemas dan lidah kehilangan katanya. Rasa seperti apa itu?
Jam istirahat tampak Alora sedang mengerjakan PR yang harus dikumpulkan pelajaran selanjutnya. Andre datang lalu duduk di kursi depan Alora.
Gadis itu tampak bingung lalu menggaruk kepalanya hingga rambut yang tidak diikat tampak berantakan.
"Loe mau gua pinjamin punya gua?" Tanya Andre menawarkan buku PR nya.
"Loe serius? Kalo loe gak keberatan, gua juga gak keberatan buat nerima" sahut Alora menatap Andre.
Pemuda itu menuju bangkunya untuk mengambil buku lalu kembali duduk di tempat itu. Alora tersenyum kecil lalu dengan senang hati menyalin PR Andre.
Menatap Alora yang menaikkan kedua sudut bibirnya membuat Andre juga ikut tersenyum. Tanpa sengaja matanya melirik rambut Alora yang agak acak, Andre mengangkat tangannya untuk mengusap rambut Alora lalu menyibakkan sebagian rambut yang agak menutupi mata gadis itu ke belakang telinga gadis itu.
Alora si gadis tidak peka itu sama sekali tidak terkecoh dan hanya melanjutkan apa yang ia lakukan. Di sisi lain Andre yang terus menatapnya sembari tersenyum membuat para gadis yang melihatnya merasa sangat iri dan cemburu.
Bagaimana bisa gadis miskin yang biasa saja mendapatkan seorang pangeran tampan yang keluar dari webtoon? Pertanyaan yang kerap keluar dari para penggosip sekolah.
Salah satu pemuda bergelar psyco yang melewati kelas itu juga tanpa sengaja membuang liriknya hingga menatap kedua insan yang tampak bersinar di kelas itu. Beni melihat dengan tatap aneh seolah ingin mengatakan sesuatu lalu pergi.
...
"Dit, loe tau nggak? Alora ternyata dekat sama pemilik Kafe ini, makanya dia sering banget cuti tapi nggak dapat teguran dari manajer" ucap salah satu pekerja di ruang ganti staff wanita.
"Masa sih? Tapi iya juga ya kok bisa dia nggak pernah dapat teguran dari manajer?" ucap Dita yang merupakan staf Kafe juga.
"Gua denger-denger sih katanya dia selingkuhannya bos, makanya semena-mena"
"Hush kamu jangan nuduh sembarangan, Alora bukan orang seperti itu, dia libur juga karena masalah keluarganya"
"Itulah anak brokenhome gitu memang banyak tingkah, mereka suka cari pelarian ke om-om tau!"
Dibalik percakapan itu ada Beni yang terhenti langkahnya ketika baru datang untuk ganti seragam sekolahnya.
"Mau jadi apa dia? Mama muda?" Si pemicu gosip itu tersenyum sinis. Sedangkan Dita hanya tampak berpikir dan tidak percaya.
"Ekhem.." deham Beni lalu masuk ke ruang ganti Pria di sebelah ruang ganti wanita.
Alora yang baru sampai sepulang sekolah juga akhirnya memasuki ruang ganti untuk mengganti seragamnya. Walau merasa aneh saat rekan kerjanya tiba-tiba menatapnya sinis, namun gadis itu sudah terbiasa dengan perlakuan semacam itu.
Tatapan orang-orang yang merepotkan jika direspon dan semakin menjadi jika dibiarkan.
Alora bekerja seperti biasa, melakukan tugasnya lalu pulang saat pekerjaannya usai.
Gadis itu menghela berat lalu menuju halte bis. Seorang pemuda yang memakai jaket tudung hitam mengikutinya dari belakang dan ikut naik bis saat Alora naik.
Gadis itu turun dari bis saat bis berhenti di halte dekat rumahnya, begitupun dengan pemuda berjaket dengan topi yang menutupi wajahnya itu ikut turun tanpa disadari gadis itu.
Seseorang yang berperan sebagai pacar dengan sengaja berangkat dari rumahnya menggunakan motornya menuju halte bis agar bertemu Alora. Saat hendak sampai Andre mendapati sosok mencurigakan mengikuti Alora.
"Hei Al! Sini naik biar gua anterin" ucap Andre yang telah memutar balik arah motornya.
"Kalo gua nolak pasti munafik kan?" Kata Alora lesu.
"Ya begitulah! Naik aja lah, lagian udah malam, sepi lagi dan yang paling penting gua pacar loe" jelas Andre sembari melirik si jaket tudung yang ikut menghentikan langkahnya saat Alora berhenti.
"Tapi gua merasa bersalah terus-terusan manfaatin loe"
"Tapi gua bersedia loe manfaatin!"
Akhirnya Alora menaiki motor Andre.
"Pegangan napa? Biar kek orang-orang pacaran lainnya gitu" ucap Andre.
"Loe mau gua turun lagi?" sahut Alora yang enggan menyentuh Andre atau alasan lainnya.
Andre menarik nafas panjang dan berkata "susah bangeeet cairin loe si beku Alora!"
Lalu menge-gas motornya.
Sesampai di rumah Alora, gadis itu turun lalu berkata "makasih ya, gua beruntung loe yang jadi pacar pertama gua!" Gadis itu tersenyum kecil yang hampir tidak terlihat karena minim-nya cahaya di malam itu.
"Gua juga beruntung, pacar gua spesial dan beda dari cewe lain" Andre memamerkan senyum tampannya.
"Idih kepedean loe! Yah walaupun bener sih"
"Jadi menurut loe gua ganteng?" Pemuda itu menunjukkan sederet gigi rapi di balik senyum cerah itu.
"Yaah tergantung sih, tapi loe nggak malu punya cewe kaya gua?"
"Emang loe kenapa?"
"Gua miskin, gak pinter, gak fashionable, gak bisa make up, gak feminim dan paling penting gua.." kata Alora terpotong dengan kata Andre.
"Loe cantik! Mau secemong apapun muka loe, gaya apapun loe tetap cantik!"
Bola mata Alora melebar, tangannya otomatis menutup mulutnya, tidak percaya dengan kata Andre, walaupun hatinya merasa senang, tapi ini memang tidak related dengan pemikirannya.
"Gua harus respon apa ya?" Tanya Alora yang tersenyun di balik telapak tangan yang mentupi bibirnya.
Andre hanya membalas dengan senyuman.
"Gausah ngadi-ngadi loeh! Oya sama satu lagi gua mau ubah perjanjian kita"
"Apaan?"
"Loe nggak perlu bayar gua lagi"
"Kenapa lagi? Loe mau putus lagi?"
"Bukan, gua bukan orang yang se-berharga itu untuk loe nafkahin gua, jadi stop transferin gua, mari kita mutualisme dengan cara lain"
"Bener, memang gua gak salah... loe cantik luar dan dalam" ucap Andre seolah mengejek sambil memasang senyuman nakalnya.
"Dan stop bilang gua cantik, gua geli dengernya" sahut Alora sambil tersenyum.
.
.
.
tbc