
Tiba saja seseorang merangkul bahunya, langkah gadis itu terhenti. Ketakutan tergambar jelas di wajahnya.
"Loe tenang aja ini gua!" Suara seorang pemuda yang tidak asing di telinganya.
Penguntit dengan pakaian serba hitam berbalik arah, karena melihat Alora sudah bersama orang lain.
"Sayang tenang ya! Ini gua Andre!" Pemuda itu memeluk gadis yang ketakutan itu sedang menyembunyikan wajahnya di dada Andre.
"Syukurlah! Ternyata Elloe!" Ucap Alora dengan suara yang agak bergetar.
Di rumah Alora, pasangan kekasih itu duduk di teras rumah Alora karena sudah malam agar tidak mengundang fitnah. Dengan dua cangkir kopi hangat di malam yang dingin itu.
"Sayang ke mana aja? Gua ke rumah loe, loenya nggak ada! Kata kak Andi kemaren Lia diikutin juga sama orang aneh, walaupun udah dilaporin, kita juga harus antisipasikan?" Kata Andre lalu meneguk minumannya.
"Loe nungguin gua?" Tanya Alora lalu menatap Andre.
"Iya! Gua khawatir.. gua nungguin di halte eh loe malah pulang jalan kaki, sayang dari mana sih?"
"Aku ada urusan bentar, makanya pulang telat!" Sahut Alora.
"Seriusan? Loe nggak bohong kan?" Tanya Andre.
"Iya sayang! Kamu nggak percaya sama aku?" Alora balik tanya.
Andre hanya diam saja lalu membatin "tolong jujur sama gua Al!". Pemuda itu kembali menatap Alora dengan senyum manis itu. Andre mendekati Alora lalu memeluk gadis itu dari sisi kirinya.
"Loe nggak apa-apa kan? Gua pengen loe baik-baik aja! Tolong jangan bahayakan diri loe lagi ya" ucap Andre sembari memeluk Alora.
Alora hanya diam saja, pelukan hangat itu selalu berhasil menenangkan dirinya.
...
Keesokan harinya, seperti biasa burung-burung berdecit dari sarangnya dan awan hitam menutupi langit di pagi itu. Keluarga Andre sedang sarapan saat pemuda itu baru keluar dari kamarnya.
"Ndre sarapan dulu!" Ucap Jeni pada anaknya namun Andre tidak memperdulikan. Andre masih menyimpan kemarahan pada mamanya.
"Ndre! Makan dulu nih! Entar loe sakit gua juga yang repot" ucap Andi sebagai seorang kakak.
"Loe semalam nggak makan kan? Sehabis dari rumah Alora loe lanjut ngerjain laporan, loe bisa sakit makan dulu!" Sambung Andi hingga akhirnya Andre luluh dan ikut sarapan.
Pemuda itu mengambil piringnya mengisi makanan seadanya lalu duduk dan makan.
"Ngapain kamu di rumah Alora malam-malam?" Tanya Jeni lagi.
"Mah kasian Alora sendirian, keadaan komplek kita lagi rawan loh mah, mama jangan keluar malam ya!" Sahut Andi.
"Tuh cewe ngerepotin kamu aja!" Pungkas Jeni sesukanya.
"Mah tolong ya! Setidaknya Alora nyelamatin hidup aku, mamah ngapain?" Andre agak menahan emosinya.
...
Andre menjemput Alora, mereka jalan bersama sambil bergandengan tangan menuju kelas, rutinitas yang sama setiap pagi. Namun banyak pandangan menuju mereka membuat Alora merasa tidak nyaman. Saat SMA Alora yang berhasil menyingkirkan segala pandangan seperti itu, namun di kampus orang-orang tidak tau apa-apa dan hanya bisa menjudge.
Lalu dari arah belakang mereka terdengar suara seorang gadis menyapa Andre.
"Hei! Andre!" Tentu saja itu suara Ziva yang melambai ke arah Andre.
Kedua insan itu menoleh ke belakang dengan wajah datar, karena situasi batin keduanya tidak baik-baik saja. Alora reflek ingin menarik tangannya dari genggaman Andre, ia berpikir dari pada Andre yang melepasnya lebih baik dia yang inisiatif. Namun, kali ini Andre malah menggenggam kuat dan tidak membiarkan Alora lepas dari genggamannya. Alora melirik pacarnya itu dengan tatap penuh tanda tanya.
Setelah 2 detik terdengar suara seorang pemuda memanggil nama Alora.
"Lora! Ternyata bener loe?" Itu suara Steve yang coba menganggu Alora. "Gua tunggu di kelas ya!" Sambung Steve lalu mengedipkan mata kirinya dengan nakal dan senyum seringai.
Andre menyadari ia melewatkan beberapa hal belakangan ini saat melihat aksi genit oknum yang baru saja pergi itu.
"Barusan siapa?" Tanya Andre pada Alora.
"Gimana ya? Mau bilang teman tapi bukan, dia hanya sekelas sama gua di Matkul hari kamis" sahut Alora dengan sedikit anggukan.
"Lalu dia siapa?" Tanya Alora dengan tangan yang mengarah pada Ziva yang dari tadi berdiri bersama mereka.
"Aku Alora!" Gadis itu menjabat tangan Ziva dengan senyuman.
"Jadi ini Alora yang sering loe ceritain? Pacar loe cantik ya! Tau aja yang bening loe Ndre! Hahah" ucap Ziva lalu tertawa.
Andre hanya membalas senyuman.
"Gua duluan ya! Nikmatin waktu kalian!" Ziva langsung meninggalkan mereka di Lobby fakultas Ekonomi itu.
Alora tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Ternyata Andre tidak menyembunyikan hubungan mereka, yaah walaupun kadang-kadang Andre agak aneh.
...
Alora sampai di kelasnya dan siap memulai belajarnya hari ini, tentu bukan hari kamis jadi ia tidak perlu bertemu yang namanya Steve. Namun, ada Beni yang sengaja bangun dari kursinya hanya untuk duduk di samping Alora.
"Gua pinjam buku loe! Gua lupa bawa buku!" Ucap Beni dengan dengan nada khasnya, tidak lembut atau terlalu kasar hanya deep voice yang terdengar memaksa.
Alora malas melirik lalu hanya mendorong buku mata kuliahnya ke arah Beni lalu ia ke arah Key yang duduk di sampingnya.
"Kita lihat berdua bukunya nggak apa ya?" Bisik Alora pada gadis tomboy di sampingnya.
Key tersenyum lalu mengangguk saat dosen sudah masuk ke kelas itu.
...
Pelajaran berakhir damai, namun mereka dianugerahi tugas lagi di tiap akhir mata kuliah usai. Tentu saja mereka harus menyelesaikan kasus akuntansi lainnya yang rumit.
Alora langsung menutup buku miliknya yang digunakan Andre lalu memasukkan dalam tas ranselnya. Beni langsung bangkit dari kursi itu tanpa sepatah katapun. Key hanya melirik kelakuan rekan sekelasnya itu lalu bertanya pada Alora.
"Ra! Itu cowo punya masalah apa sama loe? Kok langsung pergi aja, nggak tau terima kasih udah dipinjamin buku!" Key tampak agak kesal.
"Dia emang gitu! Itupun udah sedikit lebih baik dari pada sebelumnya" Alora juga bangkit dari kursinya.
"Sebelumnya kenapa?" Key sangat penasaran.
"Lain kali gua ceritain, sekarang gua buru-buru masuk kerja! Bye!" Alora berlari keluar.
Ternyata Beni masih menunggu Alora keluar dengan bersembunyi di balik kerumunan lalu mengikuti gadis itu.
"Ini mulai membosankan! Biar gua buat lebih seru!" Senyum seringai lalu mengambil topi hitam dari tasnya sambil mengikuti Alora.
.
.
.
Tbc
Epilog:
Lanjutan Eps 71
Di kelas Andre tampak gelisah saat kehilangan Alora di tangga tadi. Ia khawatir jika sesuatu pasti terjadi apalagi di luar sedang hujan. Saat itu pemuda dengan wajah seperti karakter webtoon itu belum mengetahui Alora berlari ke gedung psikologi untuk menolong Lia dengan serangan panik tiba-tiba.
"Loe kenapa? Gelisah gitu!" Tanya Ziva dengan baju ketat dan rok mini itu mendekati Andre lalu duduk di sampingnya.
"Alora kemana ya? Kok ngilang tiba-tiba gitu?" Sahut Andre bertanya-tanya.
"Alora yang di tangga tadi?" Tanya wanita berambut blonde itu.
"Iya! Dia pacar gua!" Sahut Andre lagi.
"Ohh.. dia yang loe ceritain pas di perpustakaan? Yang loe cepet pulang karena lihat dia di perpus kan? Padahal kita lagi kerja kelompok!"
"Iya loe bener!" Sahut Andre.
Ziva tersenyum saat menatap Andre, namun seketika senyum itu pudar saat berbalik membelakangi Andre.