My Secret Alora

My Secret Alora
Sebentar Saja


"Loe siapa lagi?" Bentak Steve yang mengerang kesakitan dengan dahi yang mengernyit.


"Gua pacarnya Alora!" Andre yang masih kesal tidak segan mendekati lalu menggenggam kerah baju Steve sembari mengangkatnya berdiri.


"Loe yang siapa?" Tatap tajam yang jarang terlihat dari pemuda yang tampan yang satu ini terlihat sangat mengintimidasi.


"Oh? Jadi ini pacar loe? Pinter juga loe milih cowo!" Steve hanya melontarkan kalimatnya untuk Alora.


"Denger ya! Apapun masalah loe sama Alora loe akan berurusan sama gua!" Andre mengancam namun oknum yang bersalah itu tampak masih santai dan tersenyum.


"Kalo gitu, bayar utang cewe loe! Atau gua bakal nyeret dia ke polisi kalo dia nggak bayar-bayar!" Steve yang penuh dengan kesombongannya. "Cewe miskin kayak dia itu cuman jadi beban! Jadi gua ingatin sama loe sebelum dia diam-diam manfaatin loe buat beli properti atas nama dia lalu ninggalin loe!"


"Berhenti sebut Alora cewe miskin! Atau gua..." kata Andre terhenti di tengah ia bahkan menguatkan genggaman hingga Steve agak terkecik.


Alora mencoba menghentikan kedua pemuda itu karena bagaimanapun, walau perpustakaan agak sepi hari ini, tapi mereka terekam cctv. Alora berusaha menenangkan Andre dan meminta Andre melepaskan tangannya dari pemuda itu.


"Kalian stop! Tolong ja..." kata Alora terhenti saat Ziva berteriak sambil berlari.


"Stop! Jangan cari masalah sama Andre!" Ziva yang baru datang melepaskan tangan Andre dari kerah baju Steve.


"Gua akan laporin loe (menunjuk Steve) ke komite kampus karena berbuat keributan!" Ziva tampak sangat khawatir lalu memeriksa Andre. "Loe nggak apa kan Ndre?"


Andre yang merasa aneh dengan situasinya lalu melirik Alora.


"Sayang, loe nggak apa kan? Ada yang sakit? Atau nyakitin kamu?" Andre mengerutkan dahinya dan benar-benar khawatir.


Sedangkan Ziva hanya menatap punggung Andre karena tindakannya diabaikan seolah tidak terjadi. Key yang baru datang setelah mendengar keributan bersama teman kelompok yang lain langsung angkat bicara.


"Steve! Gua punya videonya, loe berusaha gangguin Alora tadi! Dan kita semua saksinya kita ngelihat tadi! Ya nggak teman-teman?" Key yang tampak seolah pemimpin.


"Iya bener!" Sahut salah satu dari mereka.


Steve terpaksa meninggalkan lokasi kejadian karena terpojok.


Di luar perpustakaan tampak Beni bersama sekumpulan anak muda lain yang satu kelompok. Sepertinya mereka juga ke perpustakaan untuk mencari referensi. Walau Steve berjalan dengan tampang kesal dari depannya, namun Beni tidak peduli seolah tidak mengenalnya. Padahal Steve sedari tadi memasang sorot tajam untuk mengintimidasi Beni namun sia-sia saja.


Kembali ke lokasi kejadian, Ziva tampak melirik kesal ke arah Alora.


"Jadi ini terjadi karena Alora? Loe ada masalah apasih sama Steve?" Tanya Ziva.


"Oh? Loe kenal Steve?" Tanya Key sambil menatap curiga ke arah gadis berambut blonde itu.


"Ah! Itu.. ya gua kenal aja, dia populer di kalangan senior angkatan mereka! Steve kan senior kita!" Ziva agak terbata dengan ucapannya.


"OMG!! Kita ada kelas replace hari ini! 10 menit lagi masuk!" Ucap salah satu teman kelompok Alora.


"Ya ampun, kebiasaan dosen ini mah kalo nggak dadakan gak seru!" Sahut Key lalu menuju meja mereka untuk mengambil barangnya. Begitupun Alora dan yang lainnya juga ikut.


...


Pulangnya, Alora yang tampak sendu dengan beban pikirannya. Ia khawatir karena Steve telah bertemu langsung dengan Andre. Setelah membereskan barangnya, Alora bangkit dari kursinya dan hanya berjalan pelan, tanpa sadar seseorang telah meraih tangannya yang membuat langkahnya terhenti.


Gadis itu tampak menghela berat, tidak henti seseorang terus mencoba menghalangi keberlangsungan hidupnya. Si penarik tangan paling handal, tak lain adalah Beni.


"Bentar lagi hujan! Bareng gua aja ke Kafe!" Kata Beni dengan tatap agak sendu itu.


"Kenapa gua harus bareng loe?" Alora dengan pertanyaannya.


"Atau loe mau ikut gua ke suatu tempat? Kita nggak perlu ke Kafe hari ini!" Nada Beni masih pelan berbeda dari biasanya.


"Alora bareng gua!" Andre yang menatap sejak Beni meraih tangan Alora dan belum melepasnya.


"Biarin Alora yang milih!" Sahut Beni.


"Pertama, lepasin tangan pacar gua! Kedua loe nggak berhak maksa pacar gua gitu!" Andre masih tidak mau kalah.


"Gua pilih pacar gua! Emang udah pasti kan?" Alora berjalan menuju pacarnya dan Andrepun merangkul Alora.


"Kalo gua boleh kasih saran, jangan terlalu berharap sama manusia! Loe akan sakit sendiri!" Kalimat yang Alora ucapkan pada Beni terdengar tulus. Gadis itu langsung pergi bersama pacarnya. Sedangkan Beni hanya mampu menatap punggung mereka yang perlahan menghilang dari pandangannya.


"Nggak bisakah loe ada sekali aja saat gua butuh!" Gumam Beni dengan wajah sendu itu.


...


Andre mengantar Alora ke Kafe lalu langsung pulang karena ada urusan. Namun tidak lupa Andre menawarkan akan menjemput pacarnya walau Alora menolaknya. Seperti biasa Alora bekerja dengan baik menghandel apa yang menjadi pekerjaannya.


Tiba saja Indra datang dan duduk di samping Alora yang sedang menghitung uang di bagian kasir karna Kafe sudah mau dan mengganti pekerja untuk shif berikutnya.


"Saya suka kinerja kamu bagus!" Ucap Indra.


"Makasih atas pujiannya pak!" Sahut Alora masih fokus pada perhitungannya.


"Anak akuntan memang beda kalo lagi fokus gini ya? Oya! Loe ada lihat Beni nggak hari ini?"


"Ada tadi pas di kampus!"


"Dia masuk ngampus? Padahal nyokapnya lagi sakit! Loe tau kan?"


"Apa? Ibunya Beni?" Mata Alora membulat.


"Iya! Nyokap Beni ninggalin pak Herman dan yang paling parah, istrinya tidak pernah sekalipun jenguk Beni atau ngunjungin anaknya setelah bercerai. Tapi tiba-tiba ada yang menghubungi ibunya sakit keras di rumah sakit."


Alora tidak percaya akan mendengarkan kusah menyedihkan lainnya.


"Yaah.. walaupun anaknya kasar, Beni itu punya sisi baik walaupun hati nurani udah kebal karna dia anak broken home. Dia pasti butuh waktu untuk nenangin dirinya di saat-saat begini kan?"


"Iya!" Sahut Alora pelan.


"Jadi ini alasan kenapa tatapan Beni tadi berbeda dari biasanya?" Batin Alora yang teringat saat Beni memintanya ke suatu tempat tadi sore.


***


Pagi lainnya menyambut dengan penuh keberkahan, buktinya hujan sudah menyapa manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.


"Karena hujannya di mulai hari jumat kemarin, bakal full hujan nih selama seminggu!" Ucap alora yang berdiri di depan pintu dengan setelah trainingnya.


"Tapi... kok tiba-tiba gua keingat Beni ya? Apa dia baik-baik aja? Gua tau betul hal yang menyangkut orang tua tuh.. pasti bakal membawa luka lama!" Ucap Alora dengan bola mata yang agak berkaca.


"Lupakan! Gua harus beli makanan dulu sebelum cacing gua ngambek lagi!" Gadis itu membuka payung setelah mengenakan jas hujan, itu fungsinya agar ia tidak mudah diserang flu ataupun deman. Karena sering terkena angin malam ketika pulang kerja, ia tidak boleh kehujanan atau akan pingsan di jalan lagi.


Ia berjalan beberapa langkah dari rumahnya lalu mendapati tubuh seorang pemuda yang basah kuyup berdiri di depannya, ia tidak bisa melihat wajah pemuda itu karena payung yang ia pegang terlalu rendah.


"Alora!" Panggilan sendu itu terdengar familiar.


Alora mengangkat payungnya lalu mendapati Beni yang tampak pucat dan tentu sudah basah akibat hujan itu.


"Tolong biarkan gua sekali aja!" Kalimat itu berhasil mengacak isi pikiran Alora mencari alasannya, apalagi tatap sendu itu mengarah padanya.


Beni mendekati gadis itu lalu memeluknya dan berkata,


"Biarkan gua sebentar aja!"


.


.


.


Tbc