My Secret Alora

My Secret Alora
Lia & Alora


Lia berjalan sendirian setelah turun dari bus. Hari semakin gelap dan langit mendung di bisikkan suara gemuruh sesekali.


Gadis itu masih mengkhawatir kan sahabatnya yang dibawa Andi ke rumah sakit pulang sekolah tadi. Di sisi lain, ia juga memikirkan hal lain. Entah mengapa ia merasa sedih tapi juga senang saat menjumpai Andi.


Di jalan itu sambil berjalan perlahan, tiba saja sebuah tangan menyentuh bahunya, sehingga ia berteriak keras karena terkejut. Langkahnya terhenti namun ia tidak berani berbalik seakan kakinya sudah membeku di tempat.


Dengan dahi yang telah mengkerut, ia melirik tangan asing di bahunya itu dan terlihat seolah bayangan seseorang semakin mendekatinya.


"Lia!" Panggil seorang pria dengan suara yang terdengar mengerikan di telinga gadis penakut itu.


"Loe kenapa?" Orang itu menurunkan tangannya dari bahu Lia lalu memeriksa wajah yang sudah tertutup kedua tangannya.


Perlahan jarinya membuka penglihatannya lalu mendapati Andre dengan setelan santainya dengan kantung plastik berisi makanan ringan.


"Loe iseng banget sih? Nakutin gua huhuuu" Lia tiba saja menangis sambil memukul-mukul Andre pelan karena merasa kesal.


"Sorry! Gua nggak maksud!" Andre mencoba menghentikan tangisan itu dengan menepuk pelan punggung gadis ith.


Namun gadis itu belum puas menangis, ia masih menangis sambil menutupi wajah dengan tangannya.


"Loe apain anak orang?" Tanya Andi yang datang dari belakang mereka. Sembari mengkode dengan mengangkat sedikit dagunya ke arah Andre untuk bertanya siapa.


"Lia" gerak mulut Andre tanpa mengeluarkan suara.


Andi yang datang dari belakang langsung merangkul Lia dengan tangan kanannya.


"Loe nggak apa-apa?" Tanya Andi sembari memiringkan kepalanya untuk menatap wajah Lia.


Gadis itu menurunkan tangan dari wajahnya sembari menggelengkan kepalanya. Wajahnya yang terlihat imut itu membuat Andi tersenyum.


"Loe nggak usah khawatir ada gua di sini!" Ucap Andi sembari membawa Lia berjalan dalam rangkulannya.


Andre yang tertinggal langsung mengikuti lalu berjalan di sisi lain Lia.


"Lia pulang ke rumah malam Lora ini?" Tanya Andi.


"Nggak, Lia nggak bisa nginap di sana malam ini, mama Lia sakit"


"Jadi Alora sendirian?"


"Yaah mau gimana lagi" Lia tampak merenung sembari mengusap air matanya.


Andre terlihat khawatir begitupun Andi.


***


Keesokan harinya, begitu bel berbunyi seperti biasa semua siswa langsung keluar kelas kecuali mereka yang bawa bekal atau mereka yang sedang sakit seperti Alora.


"Loe tunggu sini ya!" Ucap Lia pada Alora lalu keluar kelas mengikuti Andre yang langsung keluar.


Sembari menyamakan langkahnya dengan Andre, Lia bertanya "Loe kenapa? Belakangan kayak orang yang.. mm.. nggak seceria dulu aja"


"Loe juga kan?" Andre malah bertanya balik.


Kedua remaja itu berakhir duduk saling berhadapan di meja kantin.


"Tumben loe, nggak nemenin Alora?" Tanya Andre.


"Dia nggak butuh gua, dia sangat-sangat.. sangat mandiri!" Sahut Lia lalu memaksakan senyumnya. Namun setelah 3 detik berlalu, gadis itu menjadi kesal.


"Loe nggak tau kan? Kemaren dia jatuh gara-gara digangguin Mila sama dua temennya, tapi Lora diam aja dan bilang 'nggak apa kok!' Padahal gua lihat sendiri mereka lari kayak orang keciduk gitu" Lia sungguh tidak bisa menghentikan mulut cerewetnya.


"Trus gimana?" Tanya Andre lagi.


"Dia kesulitan jalan dan harus gua papah, tapi yang paling buat kesal dia nggak ceritain apa-apa sama gua, sebenarnya gua ini sahabatnya apa bukan sih?"


"Dia juga nggak bilang apa-apa sama gua, sebenarnya gua pacarnya apa bukan sih?" Andre ikut menghela berat.


"Tapi kan hubungan kalian cuman bisnis? Ah maksud gua.." kata Lia terhenti sebentar untuk mengganti topik.


"Gua cuman pengen dianggap!" Sahut Andre.


"Lora memang gitu, dia nggak akan ceritain masalahnya sebelum dia merasa udah nggak ada jalan keluar dan kita udah nanyain banget, baru dia cerita dan minta bantuan. Itu semua akibat dia terlalu sering sendiri dan jalan di dunianya sendiri"


"Loe tau nggak, kalo Alora sebenarnya nggak mau kuliah. Dia sengaja pancing Beni hanya supaya dia bisa balas budi sama om Herman"


"Maksud loe gimana?" Tanya Andre yang tampak serius.


"Jadi om Herman nawarin beasiswa penuh dan jaminan pekerjaan setelah lulus untuk Alora tapi syaratnya dia harus buat Beni harus ikut kuliah. Tapi dia malah menyiakan semuanya, bahkan setelah Beni lulus ujian masuk nanti, dia tetap nggak akan kuliah"


"Tapi kan waktu di rumah sakit dia bilang.."


"Kenapa loe segitunya mau bantu dia? Bukannya loe kesel tadi?" Tanya Andre lagi.


"Loe mungkin nggak tau, Lora itu cinta pertama gua!" Sahut Lia sembari tersenyum kembali.


"Loe ...?" Andre mulai memikirkan hal-hal yang aneh.


"Bukan! Dia orang pertama yang nerima gua apa adanya".


.


.


5 tahun yang lalu


Alora adalah seorang gadis dingin yang tiap masuk ke kelas hanya diam saja. Tidak pernah mengobrol atau tidak seorangpun yang mengajaknya bicara.


Saat kelas 8 SMP, kelasnya dirombak sehingga mereka akan bertemu orang-orang yang berbeda. Di sanalah awal pertemuan kedua gadis yang sudah bersahabat hingga saat ini.


Lia adalah gadis yang berpenampilan lugu dengan kedua kacamata menghiasi wajahnya, bukan karena matanya minus, tapi Lia adalah gadis yang paling insecure saat itu, tidak ada sedikitpun kepercayaan untuk dirinya.


Seorang gadis dengan otak pintar, tapi penampilannya yang selalu memakai kacamata lalu rambutnya menutupi seluruh wajahnya, selain itu setiap berjalan melewati seseorang dia selalu sangat menundukkan kepala. Gadis itu selalu dibuli hingga berat badannya sangat menurun. Setiap jam istirahat, makanannya selalu dirampas para pembuli dan tidak ada yang berani melaporkan mereka pada guru.


Di kelas itu, hanya tersisa bangku di meja belakang di sisi Alora, gadis dengan rambut pendek itu dikenal selalu tidak peduli lingkungan sekitar, selain itu dia juga akan bersikap kasar jika diganggu.


Kedua gadis itu duduk satu meja dan selama sebulan pertama tidak saling bicara sedikitpun.


Suatu hari, Alora sudah muak dengan kelakuan para pembuli di kelas itu hingga akhirnya turun tangan. Saat itu Lia kembali menjadi target mereka lagi.


Alora yang belum memasuki kelas itu menyaksikan sikap buruk mereka dari pintu kelas. Akhirnya gadis itu memutuskan ke kantor guru, lalu membawa beberapa guru ke kelas itu sehingga guru menyaksikan sendiri apa yang terjadi.


Setelah sekelompok pembuli itu di panggil ke kantor guru, Alora mendekati Lia lalu memeluk gadis yang menangis itu.


Keesokan harinya, Alora yang biasanya tidak pernah bicara malah lebih dulu menanyakan kabar Lia.


"Aku pikir kamu nggak peduli sama aku!"  Ucap Lia dari balik rambut tebal yang hampir menutupi seluruh wajahnya.


Alora menyibak rambut Lia ke belakang telinganya, hingga terpancarkan wajah cantik yang selama ini tersembunyi.


"Kamu nggak perlu nutupin diri sebegitunya, kamu cantik kok! Abaikan aja semua kata-kata orang yang nggak ada sangkut pautnya sama hidup kamu, ingat! Ini hidupmu bukan hidup mereka! Dan kamu hidup untuk dirimu sendiri bukan untuk mereka!" Kata Alora yang entah bagaimana berhasil menghipnotis Lia menjadi lebih percaya pada dirinya sendiri.


Semakin hari, Alora terus bersama Lia walau ia diam saja dan Lia yang terus bercerita di sisinya. Semua berawal dari bagaimana seseorang memperlakukan orang lain dan menjadikan mereka lebih baik.


Sejak kecil, lingkungan tempat tinggal Lia dulu dipenuhi anak-anak yang iri. Sehingga Lia kecil selalu dicemooh setiap menunjukkan kepintarannya ditambah dengan wajah cantik itu, lengkap sudah alasan mereka.


...


.


.


Masa Kini


Lia masih duduk di depan Andre lalu berkata "kok kita malah ghibahin Alora sih?"


"Trus tujuan loe sebenarnya tiba-tiba muncul di sini apa?" Tanya Andre lalu menghirup minumannya.


"Gua mau loe bantuin gua untuk buat Lora mau kuliah ya? Ya? Mau kan?"


"Nggak ah! Gua nggak minat!"


"Loe kenapa sih? Marah sama Lora? Gua liat loe selalu jauhin dia belakangan ini"


"Gua cuman nggak tau yang sebenarnya terjadi"


"Jadi ceritanya loe cemburu nih sama Beni?" Lia mengatakan kalimat nya dengan iseng.


"Apaan sih?" Andre tampak agak tersipu namun masih cool.


"Ngaku aja ahahahah" Lia tertawa sembari memukul-mukul meja, membuat Andre menutupi wajahnya dengan tangan karena malu dengan tingkah gadis itu.


.


.


.


.


Tbc