
"Ayo sayang kita pergi aja!" Ucap Alora meraih tangan Andre sehingga Andre melepaskan tangan Steve yang hendak menampar Alora.
"Everything will turning back to you! Camkan itu!" Ucap Andre pada pemuda itu lalu pergi bersama Alora.
Tentu amarah memenuhi kepala Steve, terlihat jelas dari dahi yang mengkerut itu.
"Apaan nih? Kok gua ngerasa kalah sih? Aaaarrrggghh!" Steve mengerang kesal lalu mengacak kasar rambutnya.
"Gua bakal balas loe Andre!" Bentak Steve sendirian bahkan Andre dan Alora sudah tidak terlihat.
***
Lia duduk termenung di depan rumahnya menatap langit yang agak mendung. Ingatannya mengarah ke saat-saat di taman dia mengintai Andi bersama gadis itu. Ia bahkan ingat jelas panggilan "Sayang!" Yang ia dengar dari kedua insan itu.
"Namun semua kacau! Dian ngapain sih pake kagetin gua segala! Gua jadi terlihat menyedihkan di depan kak Andi!" Bibirnya maju dengan bagian wajah lainnya menunjukkan wajah cemberut yang imut.
"Oppa? Apa aku menyerah aja? Bagaimanapun cinta sendirian menyedihkan!" Lia tampak mengangguk meyakinkan diri namun nuraninya masih ragu.
"Liaaa cepetan berangkat! Mamah butuh gula cepat belikan!" Teriakan wanita bergelar ibu dari dapur mengejutkan Lia.
"Iya mah! Sorry kelupaan!" Lia langsung berlari sebelum ibunya mengeluarkan jurus mengoceh hingga telinga panas mendengarnya.
Lia datang ke supemarket di lingkungan sekitar rumahnya. Ketika tiba, dia mendapati kertas yang tertempel di dinding kaca supermarket itu.
"Di cari perkerja? Waah kabar bagus nih buat Lora!" Lia tersenyum riang lalu menarik kertas itu bersamanya.
Namun ketika berbalik, ia dikejutkan dengan cinta pertamanya yang tiba saja muncul di depan mata.
"Hai Lia!" Sapa Andi yang baru turun dari sepeda sportnya dengan setelan olahraga.
Lia hanya membalas sapaan itu dengan tersenyum canggung, lalu langsung menuju pintu untuk masuk ke supermarket itu. Tanpa ragu Lia langsung menuju kasir saat mendapati pria paruh baya sedang menghandel supermarket sendirian.
"Pak! Lagi dibutuhkan pekerja ya?" Tanya Lia.
"Iya, kamu tertarik?" Sahut pria itu.
"Nggak bukan saya! Tapi teman saya! Saya pastiin dia akan datang nanti siang pak ya! Tolong simpan lowongannya untuk teman saya!" Lia yang antusias itu terlihat imut di mata Andi.
"Iya! Tapi kamu jangan bohong ya!"
"Iya siap pak!" Lia bahkan melakukan pose hormat dengan seyum di wajahnya. Lalu melirik Andi yang sedang menahan tawa melihat keimutan yang meledak itu.
Lia langsung menuju ke rak gula, lalu menuju rak cemilan dan juga tidak lupa berkeliling ke rak skincare walau tidak membelinya, ia hanya mencari informasi dari beberapa produk yang ia temukan. Setelahnya langsung menuju kasir dan membayar.
"Pak! Jangan lupa tunggu teman saya!" Lia kembali melakukan pose lainnya, yang membuat Andi kembali tersenyum melihatnya.
Sedari tadi pemuda itu terus mengikuti Lia. Namun, Lia yang ingin move on dari cinta sepihaknya berusaha mengabaikan walau menyadarinya. Di sisi lain Andi mendorong sepeda di belakang gadis itu. Akhirnya terdapat jalan berbelok di mana arah rumah keduanya berbeda. Namun, Andi malah ikut berbelok ke arah rumah Lia. Gadis itu tidak tahan lalu berbalik.
"Maaf nih kak! Arah rumah kak Andi ke sebelah sana! Kenapa belok kemari?" Lia yang hanya ingin sendiri.
"Buat nganterin loe!" Sahut Andi santai.
"Huh? Why?" Lia tampak sangat terkejut.
"Kalo loe tiba-tiba pingsan di jalan sendirian kayak kasus kemarin nggak ada yang nolongin gimana?" Andi balik bertanya.
"Huh? Aah..itu.. paling Lia cuman bakal sesak nafas nggak akan pingsan! Jadi jangan khawatir, Lia bisa pulang sendiri kok! Lagian ini masih pagi juga."
"Cuman sesak nafas? Cuman? Lia loe sebenarnya kenapa?"
"Lia nggak apa-apa!" Lia menjawab dan masih terheran dan bingung dengan sikap Andi.
"Oya! Panggilan darurat ganti pakek nomor gua aja! Jangan Alora lagi!"
"Huh? Kenapa?" Kejutan lainnya dari pemuda penuh teka-teki ini.
"Alora adalah tipe yang mengabaikan dirinya sendiri demi nyelamatin orang lain. Kalau dia datang terburu-buru dengan kondisinya dia bisa aja terluka! Jadi ganti jadi nomor gua aja!"
"Alasan bagus! Tapi gua juga akan lakuin hal yang sama jika Alora dalam situasi yang sama! Kak Andi mungkin nggak tau, tapi kami bisa saling mengerti satu sama lain. Orang lain hanya bisa menilai tanpa tau kebenarannya! Maaf kak, makasih atas tawarannya tapi Lia belum bisa memberi kepercayaan penuh pada orang lain!" Lia langsung membalikkan tubuhnya melanjutkan langkahnya dengan emosional.
Di sisi lain, Andi hanya berdiri memandangi Lia yang perlahan semakin jauh darinya.
"Orang lain! Ternyata gua cuma orang lain!Kok gua jadi sedih gini?" Gumam Andi lalu berbalik dan pulang.
...
Setibanya di rumah, Andi tampak lesu memarkirkan sepeda itu lalu masuk ke dalam.
"Mana pesanan gua? Loe nggak beli apa-apa? Gimana sih? Padahal udah gua ijinin tidur di kamar gua semalam! Gak setia loe!" Andre yang menunggu di sofa itu mengoceh kesal.
"Loe pesan online aja!" Sahut Andi lalu menuju kamarnya.
"Bakal lama! Keburu gua mati kelaparan!"
Akhirnya Andre harus pergi sendiri dengan sepeda sport tadi.
...
Di supermarket, ia mendapati Alora yang sedang berbincang dengan manajer sekaligus pemilik supermarket itu. Begitu keluar dari supermarket itu, Alora tampak tersenyum kecil lalu melirik sosok Andre di depannya.
"Kenapa senyumnya semanis itu?" Tanya Andre yang juga tersenyum.
"Gua diterima kerja di sini!" Alora berlari ke dalam peluk pacarnya. "Jadi kalo gua pulang malam nggak jauh lagi dari rumah gua! Dan gua nggak perlu merasa hutang budi lagi sama Om Herman! Om Herman udah sering bangey nolongin gua!" Suara Alora terdengar ceria lalu melepas peluknya.
"Bagus deh! Asal loe seneng, gua juga ikut seneng!" Sahut Andre.
Di sisi lain, seorang pemuda lainnya sedang menatap dua remaja itu sejak tadi. Beni hanya berdiri menatap mereka lalu menghela berat nafasnya. Saat ini dia memutuskan untuk mengganggu mereka, ia hanya tidak ingin mereka sering-sering berdua.
"Hai guys!" Sapa Beni dengan suara beratnya.
"Hai! Tumben loe nyapa! Oya Ben, Om Herman ada di rumah?" Alora tampak excited.
"Kenapa nanyain bokap gua?"
"Ada yang pengen gua sampaikan. Ada nggak?"
"Ada! Tapi temenin gua makan mie dulu di sini!"
"Kenapa?" Tanya Andre.
"Gua bosan sendirian!" Sahut Beni.
Ketiga oknum itu berakhir menyantap mie cup yang direbus di supermarket itu sambil duduk di meja di depannya. Alora pencinta mie sangat menikmatinya apalagi gratis. Sementara si penggemar mie lainnya juga menikmati hingga tetes terakhir. Andre menatap heran kedua penggemar mie itu sambil menyeruput mie miliknya.
"Makanya loe cari pacar!" Ucap Andre untuk Beni.
Ucapan itu dibalas lirikan tajam oleh Beni.
"Berhenti bersikap kasar! Dan perhatiin cewe yang menarik perhatian loe!" Saran Andre.
"Termasuk cewe loe?" Sahut Beni santai.
"Maksud loe apa?" Andre kembali bertanya dengan kening mengkerut.
"Satu-satunya cewe yang menarik perhatian gua itu cuman Alora! Gimana dong? Haruskah gua rebut dia dari loe?" Beni dengan wajah datarnya dan melanjutkan menyeruput mienya.
Namun dua oknum lainnya sedang lirik-lirikan, memikirkan bagaimana mereka harus bereaksi terhadap pernyataan pemuda di depan mereka.
"Udahlah! Dia gila!" Ucap Alora sambil menggelengkan kepalanya.
.
.
.
Tbc