My Secret Alora

My Secret Alora
Good Bye SMA


Klotak-klotak bunyi sepatu heels dari para cewe modis dengan baju branded mereka di salah satu universitas di Indonesia. Beragam karakter dapat terlihat dari kostum yang menggambarkan kepribadian mereka.


Pertama kali menginjakkan kaki sebagai mahasiswa, Lia dan Alora yang baru sampai pintu gerbang terkagum-kagum menatap bangunan universitas dengan design arsitek yang indah dan megah.


"Akhirnya kita jadi mahasiswaa! Good bye masa SMA!" Ucap Lia bersemangat.


Kedua gadis itu melangkah bersama dengan senyum merekah di wajah mereka. Setelah sampai di simpang empat jalan kampus mereka harus berpisah karena Lia berhasil masuk jurusan psikologi seperti yang ia inginkan, sedangkan Alora yang tidak berniat kuliah memiliki keberuntungan dan lulus di jurusan Akuntansi. Namun, perbedaan tidak akan membawa masalah pada persahabatan mereka karena tentu saja, hubungan mereka abadi.


Setelah sampai di fakultas ekonomi, Alora menuju ruang jurusan untuk memastikan informasi ke kelas mana ia akan menuju. Walau sudah mendapatkan informasi sekilas dari group whatsAps gadis itu masih bingung harus menuju ke mana.


Sebuah papan denah yang terpasang di dinding samping ruang jurusan, di sana Alora bersama para mahasiswa baru lainnya sedang menghafal mana kelas yang menjadi tujuan mereka. Lalu segerombolan menuju kelas pilihan mereka masing-masing.


Gadis itu masuk ke kelas dan tampak beberapa remaja sebayanya sudah berada di dalam kelas. Alora sedikit mengoper senyumnya agar tidak dibilang sombong di hari pertamanya.


Hari pertama, di mana semua remaja yang menginjak 18 tahun itu saling bertemu orang baru yang akan ikut mengukir kisah bersama. Hari yang mengesankan untuk diceritakan walau tidak ada hal menarik yang terjadi.


Semua aman sampai seorang pemuda tampan yang baru masuk ke kelas itu dengan tampilan boyfriend material, seolah idol kpop yang baru turun panggung, walau hanya menggunakan jeans hitam dengan kaos putih di balut jaket jeans serba hitam. Iyap pemuda itu adalah Beni, si psyco yang juga berhasil masuk ke jurusan Akuntansi.


Tampilan pemuda itu membuat setiap gadis terpana, namun mereka hanya tidak tau bagaimana kepribadiannya. Begitu masuk, tentu saja Beni yang menemukan Alora dengan kostum biasa saja sedang duduk dan hanya fokus pada ponselnya itu, Beni langsung menghampiri dan duduk di sisinya. Hal ini menyebabkan banyak gadis iri karena mengira Alora yang menjadi pilihan pemuda tampan itu.


Terdengar gesekan kursi di sisinya, Alora menatap Beni yang juga menatapnya. Gadis itu sudah tak heran Beni di jurusan yang sama, namun kenapa harus sekelas juga? Sepertinya doa Om Herman terkabulkan. Seolah sudah diatur sesuai dengan tugas Alora sebagai pengawas Beni sebagai persiapan untuknya yang akan mengambil alih sebuah perusahaan besar.


Alora menghela nafas berat karena akan menemukan kehidupan berat lainnya karena tidak bisa lepas dari pemuda yang satu ini. Namun Beni malah menyeringai saat Alora mengalihkan pandangan darinya.


"Loe nggak suka lihat gua?" Tanya Beni dengan sikap dingin.


Alora memaksakan senyum di bibirnya lalu menjawab "nggak kok! Aman! Mohon kerja samanya yaa!"


"Cih! Bakalan susah nih!" Sahut Beni lalu tersenyum menakutkan.


...


Di sisi lain masih denganĀ  fakultas ekonomi, pemuda lainnya yang juga merasakan hari pertama sebagai mahasiswa tampak menjalankan perannya dengan baik. Ia tampan dan pandai bersosialisasi walau biasanya yang mendekati atau menjadi temannya hanyalah mereka yang ingin memanfaatkan. Iyap itu Andre yang sedang duduk di salah sat bangku kelas dan fokus menyimak penjelasan dosen, walau ia membuat mahasiswa lain tidak fokus malah melirik wajahnya.


Pemuda itu masuk ke jurusan yang berbeda yaitu manajemen bisnis, tentu karena ia harus mengikuti peraturan dari orang tuanya. Ia belum mengetahui pacarnya satu kelas dengan pemuda psyco rivalnya.


...


Selama 4 jam mata kuliah akhirnya kelas pertama mereka sebagai mahasiswa usai. Andre sudah keluar duluan untuk menemui kekasihnya. Pemuda itu berkeliling gedung fakultas Ekonomi dan Bisnis mencari keberadaan Alora. Ia bahkan memeriksa roster mata kuliah gadis itu agar mengetahui ruang mana yang sedang digunakan.


Akhirnya tiba di depan ruang kelas Alora. Namun, ia menemukan Alora jalan berdampingan dengan Beni baru hendak keluar kelas. Tentu saja Beni tidak melewatkan kesempatan untuk menyeringai seolah mengejek Andre.


Andre melempar sorot mata tajam pada rivalnya itu lalu meraih tangan Alora dan menggenggamnya seolah ia pamer bahwa Alora milikku.


"Makan yok!" Ucap Andre pada Alora.


Alora mengangguk lalu ikut melangkah. Namun Beni masih saja mengekor di belakang mereka lalu berjalan di sisi lain Alora. Sungguh Alora sangat beruntung layaknya dua pengawal tampan sedang mengiringi langkahnya.


Seolah berjalan di red carpet, pandangan para gadis kompak sedang melirik ketiga mahasiswa baru itu. Siapa yang akan melewatkan menatap wajah tampan yang diidamkan semua gadis. Tentu mereka berpikir apa yang Alora lakukan hingga seberuntung itu, dia bahkan tidak secantik itu dengan pakaian yang biasa aja terlihat tidak sebanding dengan kedua pemuda kaya di sisinya.


Tak lama, Lia ikut menyusul bersama Alora. Gadis bergelas bestie itu langsung menabrak Beni agar bisa bergandengan dengan Alora.


Beni mengangkat kedua bahunya seolah berkata "entahlah!".


Di kantin, Alora duduk bersama Lia sedangkan Andre dan Beni di depan kedua gadis itu.


"Jadi loe sekelas sama dia? (Beni)" Lia tampak terkejut.


"Yaah begitulah!" Sahut Alora seadanya.


"Seru banget nggak sih? Hari pertama kita?" Tanya Lia.


"Yaah biasa aja sih! Mereka masih tetep lirik-lirik padahal lagi belajar!" Sahut Andre yang masih risih dengan kepopulerannya.


"Yaah orang ganteng emang beda! Loe nggak sadar sejak masa perkenalan kampus loe udah populer!" Sahut Lia lagi.


"Cih! Ganteng?" Beni tampak memasang ekspresi jijik.


Tentu satu kata yang dikeluarkan Beni mengundang perhatian ketiga oknum lainnya. Menyadari ia menerima perhatian, Beni melanjutkan kalimatnya


"Kenapa? Gua se ganteng itu sampe kalian semua liatin gua?" Pertanyaan dengan nada datar dan wajah sombong itu.


"Walau memang bener, gua males ngakuinnya! Siapa sih yang ngajak dia (Beni) ke sini?" Sahut Lia dengan menaikkan sudut bibir kanan dengan alis mengkerut.


"Entah! Ngikut-ngikut aja!" Sahut Andre.


"Udahlah! Dari tadi ngobrol kalian nggak pesen makanan? Gua laper nih!" Sahut Alora.


"Al loe mau makan apa?" Tanya Andre pada pacarnya itu sembari melempar senyum manis itu.


"Samain aja kayak loe!" Sahut Alora lalu tersenyum. Andre mengangguk gemas lalu menunjukkan menu pada Alora


"Kalo yang ini gimana? Loe suka?"


"Boleh!"


Tentu saja ada dua orang jomblo lainnya yang melirik mereka dengan tatap tajam.


"Pamer teruus! Udahlah sadar banget gua jomblo" Seru Lia dengan mulut mengerucut lalu tertawa bersama Alora yang tau karakter sahabatnya.


Di sisi lain, Beni hanya diam saja dan masih melirik interaksi Andre dan Alora. Sebenarnya hanya satu orang yang tidak pernah lepas dari pandangannya, iyap benar orang itu adalah Alora.


.


.


.


tbc