My Secret Alora

My Secret Alora
Why Her


Hari melelahkan lainnya, kehidupan tidak pernah mudah bagi orang-orang yang tidak punya apa-apa. Sore itu, Alora berakhir di mobil Beni. Kedua insan dalam mobil mode hening itu tampak memasang wajah datar dengan ego masing-masing.


Sesampainya di rumah gadis itu, Alora langsung menarik bagian mobil untuk membuka pintu, namun Beni masih mengunci pintunya.


"Buka!" Ucap Alora setelah menoleh.


"Tunggu sebentar!" Ucap Beni lalu mendekatkan wajahnya ke arah Alora. Tentu saja tatap kosong Alora tidak akan kalah dengan sorot tajam manik Beni yang menargetkan padanya. Jarak wajahnya hanya berjarak beberapa centi meter.


"Gua akan lupain yang gua lihat tadi, dan gua juga nggak bakalan ngasih tau Andre tentang semuanya. Loe pasti pengen nyembunyiin dari dia kan?" Kening kiri Beni terangkat begitu saja, si psyco itu mulai teralih fokusnya ke arah wajah Alora berwarna mencolok itu.


"Lakukan apapun sesuka hati loe! Tuan muda, tolong buka pintunya" Ucap Alora yang lelah dengan semuanya.


"Oiya! Gua memang agak gila tadi, abaikan semua perkataan gua! Lagian semua sia-sia!" Sambung gadis itu lalu mencoba membuka pintu mobil yang masih terkunci itu. Sekuat apapun tarikannya tetap tidak akan terbuka.


Gadis itu kembali menoleh ke arah Beni yang masih sedekat itu ke arahnya lalu mengisyaratkan dengan kepala yaitu dagu menunjukkan ke arah pintu dan segala bagian wajah tetap datar menilik sorot tajam lainnya.


"Al! Gua akan jadi baik buat loe! Jadi.. apa loe bisa tinggalin dia buat gua?" Menatap gadis itu dari jarak dekat membuat denyut nadinya juga ikut merasakan getaran.


Alora sedikit mendekatkan wajahnya hingga Beni mundur karena tidak menduga pergerakan tiba-tiba itu. Tujuan Alora hanya menekan tombol buka pintu mobil lalu turun setelah berhasil menjalankan misinya. Namun, Beni tidak bisa tinggal diam, pemuda itu meraih tangan Alora lagi.


Alora menoleh dengan tatap tajam "pergi sana!" Melepaskan tangannya lalu masuk ke halaman rumahnya.


Di sisi lain, Andre yang menyusul mobil itu menyaksikan Alora turun lebih lama dari ia turun dari mobil saat bersama pacarnya.


"Apa yang mereka bicarakan sampe sedekat itu?" Alis Andre tertaut, ia juga menilik dengan tatap tajam dan kesal.


Begitu Alora turun dari mobil, Andre menghampiri pacarnya yang baru berdiri di teras rumah itu.


"Loe dari mana bareng dia?" Tanya Andre dari belakang Alora.


Gadis itu menoleh dan tampak kelelahan. "Tolong gua pengen sendiri, nanti kita bicara lagi ya!" Alora melangkahkan kakinya membuka pintu dengan kunci yang ia ambil dari tasnya. Ia masuk dan menutup pintu.


Andre hanya menatap punggung kekasihnya yang perlahan hilang dari pandangannya. Namun, Alora kembali membuka pintu lalu berlari ke arah Andre untuk memeluk pacarnya.


"Tolong jangan pergi!" Ucap Alora.


Hembusan nafas gadis itu terasa hangat di dadanya, pemuda itu mengangkat tangannya untuk memeluk gadisnya.


"Aku nggak pergi kok!" Andre membantu Alora melepas peluknya dan merangkulnya untuk masuk ke rumah.


...


Di atas sofa, tampak Andre yang sedang memainkan jemari di ponselnya. Dan Alora yang menyandarkan kepalanya di bahu Andre di mana sebelah tangannya dibiarkan sebagai tempat sandaran Alora sembari membelai lembut rambut gadis itu. Quality time bagi pasangan itu, di mana hanya terdengar musik sendu dan keduanya hanya terdiam. Alora yang larut dalam pikirannya dan Andre yang mengerjakan diskusi kelompok di ponselnya.


"Sayang aku lapar!" Ucap Alora memecah suasana damai itu.


"Kamu mau makan apa? Biar aku pesan... hmm.. kamu mau pizza? Atau ayam goreng? Atau mau pesan mie kesukaan kamu?" Andre merespon pacarnya denganĀ  manja.


"Apa aja aku suka kok sayang!"


"Kamu kalo ada masalah cerita sama aku! Aku bakalan lakuin apapun buat kamu, kamu tau itu kan?" Kata Andre untuk memancing Alora menceritakan keluh kesahnya.


"Aku akan cerita saat aku siap!" Kalimat Alora terdengar sendu.


"Okeh! Hubungin aku kapanpun kamu siap! Aku bakalan ada buat kamu kapanpun" Andre memamerkan senyum tampannya sambil menatap Alora. Gadis itupun, mendongak menatap Andre lalu ikut tersenyum.


Sebuah helaan berat keluar begitu saja, makanan sampai, mereka menikmati makanan itu lalu Andre pulang karna sudah hampir magrib.


Malamnya tanpa angin tanpa hujan, bel rumah Lia berbunyi. Lia reflek memberikan senyumannya ketika melihat bestienya datang.


"Loh bestie? Kok di sini? Padahal gua pengen nganter makanan ke rumah loe! Hayuk masuk" ucap Lia lalu merangkul Alora untuk masuk ke rumahnya.


"Yuk kita makan dulu!" Lia membawa Alora ke meja makan yang sepi itu. Meja yang penuh makanan namun hanya dua orang yang menikmatinya.


"Ini dia! Padahal udah dibungkus mami gua" Lia menunjukkan kotak bekal yang disiapkan untuk Alora.


"Kalo udah malam, mendingan nggak usah nganter aja makanannya, gua bisa rebus mie di rumah, yang paling penting keselamatan elloe! Gua nggak mau kejadian kayak hari itu terjadi lagi! Kalo tiba-tiba kamu sakit lagi gimana?" Alora mengeluarkan kalimat kekhawatiran dalam dirinya.


Sejak datang ia terus menatap gadis ceria itu, seakan ia ingin mengatakan sesuatu tapi menahannya. Tatap sendu itu terus menilik dalam batinnya terus menahan diri.


"Lia! Gua bakal pastiin loe nggak akan kenapa-napa lagi!" Batin Alora.


"Lora memang sahabat yang baik! Makan yang banyak ya kalian!" Sahut ibunya Lia yang datang dari dapur.


"Iya tante!" Sahut Alora.


"Iya dong mah, Lora satu-satunya yang paling setia!" Sahut Lia dengan senyum merekah di bibirnya.


"Gua akan lindungin Lia!" Batin Alora lalu mengambil sesendok nasi dan memasukkan ke mulutnya.


Alora memutuskan untuk menginap, setidaknya ketika bersama Lia, ia tidak akan merasa kesepian. Beberapa waktu lalu mimpi buruk menghampirinya hingga ia kesulitan tidur, tampaknya ingatan masa lalunya yang masih pudar mulai menampakkan diri lagi. Seakan kisahnya belum lengkap, ia hanya mengingat event terbesar namun melupakan hal-hal kecil dari memori-nya.


Sepertinya malam ini akan sama lagi, matanya tidak kunjung terlelap. Ia hanya menatap Lia di sisinya yang sudah tertidur pulas.


"Lia! Apa yang terjadi hari itu? Gua pengen denger langsung dari loe!" Kata Alora pelan lalu menyela rambut Lia yang menutupi wajah mungil itu.


"Serangan panik loe, gua yakin itu ulah dia! Dan yang terjadi hari itu.. aku tau dia penyebabnya!" Gadis yang terjaga itu masih berbicara pada sahabatnya yang tertidur.


"Gua bakalan lakuin sesuatu.. tapi karna gua miskin, gua nggak bisa apa-apa! Maafin gua Lia!" Kata terakhir Alora malam itu dengan bola mata yang berkaca.


.


.


.


tbc