
Cuaca kerap tak menentu, sehari hujan besoknya panas dan hari ini hujan kembali. Semalaman hujan pagi ini terasa segar dimana matahari menyinari dengan terangnya hingga kesulitan untuk membuka mata. Tak terkecuali gadis itu yang sedang menunggu pacarnya menjemput di depan gerbang kecil rumahnya.
Alora tampak menutup bagian keningnya dengan tangannya dan dahi yang agak mengkerut karena cahaya matahari tepat di depan wajahnya. Setelah beberapa menit berlalu, bukannya Andre yang datang malah mobil Beni.
Kaca pintu depan mobil itu terbuka dan tentu saja terpampang wajah tampan pemilik nama Beni itu.
"Naik cepet! Kalo nunggu terlalu lama loe bisa telat, dosennya killer hari ini!" Ucap pemuda itu.
Karena Alora terlalu lama memberikan keputusan, Beni menekan tombol klakson hingga gadis itu terkejut.
"Apaan sih Ben?" Alora agak kesal.
"Ikut nggak? Loe nggak akan bisa masuk kelas kalo telat, tinggal 8 menit lagi nih!" Ucap Beni.
"Duh Andre ke mana lagi?" Alora terdesak mengingat apa yang akan menimpanya.
"Okeh gua dukuan kalo gitu!" Beni menekan gas mobilnya.
"Bentar! Gua ikut! Gua ikut berenti dulu!" Alora menepuk-nepuk mobil itu hingga Beni berhenti, dan langsung membuka pintu lalu menaiki mobil itu.
"Pakai sabuk pengaman loe! Ini bakal bahaya!" Ucap Beni sambil menyeringai, seolah jiwa psyconya keluar.
Karena mereka akan terlambat, tentu pemuda itu tak akan melewatkan kesempatan untuk menunjukkan skill- nya sebagai pembalap handal. Alora sebagai penumpang tentu berpegang erat pada pegangan dan tak lupa melantunkan doa di tiap menitnya.
Laju yang begitu kencang membuat mereka sampai dengan cepat, bahkan saat ini mobil itu terpakir dengan rapi padahal berhenti dengan rem mendadak.
"Udah sampe! Turun! Masih sisa dua menit buat ke kelas, santai aja!" Ucap pemuda itu sembari menyeringai dan bangga pada dirinya.
Alora masih degdekan akibat culture shock yang baru saja ia alami.
"Gua masih hidup?" Tanya Alora yang membuat Beni tersenyum lebar.
"Iya kita masih hidup! Turun! Kita harus masuk kelas!" Ucal Beni lalu membuka pintu mobilnya dan keluar.
Sedangkan Alora baru membuka sabuj pengamannya dan perlahan membuka pintu dan keluar. Begitulah bagaimana mereka berangkat kampus bersama secara dadakan dan Beni sangat menikmati waktunya. Ia juga bahkan tidak membiarkan Alora duduk sebangku dengan orang lain.
...
Kelas usai, kini keduanya memiliki waktu untuk berbincang. Alora menatap Beni dengan serius dan menggunakan tatap tajam.
"Apaan?" Tanya Beni yang tanpa sengaja menemukan sepasang tatap itu mengarah padanya.
"Loe mau gua mati ya?" Tanya Alora serius dan kesal.
"Bukannya bagus? Loe kan memang pengen mati? Dan lebih bagus lagi kita bisa bareng-bareng kan?" Balasan pertanyaan itu dengan mengangkat alisnya membuat Alora semakin kesal hingga menggertakkan giginya karena gemas.
Alora meninju beberapa kali lengan pemuda di sampingnya dengan sedikit amarah. Namun tinju Alora bahkan hanya terasa seolah sentuhan bagi Beni yang lengannya penuh otot itu. Pemuda itu malah tersenyum menatap amarah gadis itu.
"Gua heran kenapa loe selalu berhasil buat gua senyum sih?" Pertanyaan random sekaligus pernyataan yang membuat Alora merasa aneh dan kehilangan kata-kata untuk merespon.
"Gila loe emang!" Ucap Alora.
...
Di sisi lain, Lia sedang menjalani masa indah kehidupan kampusnya. Gadis itu bersama rekan kelompoknya mengajak keliling kampus saat ada kelas kosong seperti saat ini.
Lima gadis berkeliling dengan berjalan kaki sembari berolah raga dengan jalan santai. Sesampainya di lapangan kampus, perhatian gadis tertuju ke lapangan basket terbuka di mana dua seorang pemuda sedang melawan basket saling menghalangi dan berebut bola untuk mencetak poin.
Namun salah satunya adalah pemuda tampan yang menarik perhatian mereka.
"Eh Lia!" Ucap Pemuda itu saat melirik keluar lapangan sedang ada yang menonton permainan mereka.
"Loe ngapain ke sini? Mau ikutan main?" Sambung pemuda itu lalu tersenyum.
"Gua lagi keliling aja sih! Tapi tumben banget loe senyam-senyum gitu!" Sahut Lia yang merasa aneh melihat pemuda itu.
"Iya dong!" Sahut Beni lalu menatap para gadis itu tak melewatkan satupun termasuk Lia yang terakhir lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Ben! Yok lanjut!" Panggil teman mainnya. Beni langsung membalikkan tubuhnya dan kembali bermain.
"Wah nggak sia-sia kita kemari, pemandangan tadi indah banget!" Ucap salah satu gadis lalu tersenyum sendiri.
"Eh tapi kok bisa loe kenal sama yang ganteng itu?" Tanya gadis lainnya pada Lia.
"Beni? Ganteng sih, teman gua pas SMA!" Sahut Lia sembari mengangguk-angguk.
"Wah beruntung ya loe! Menikmati wajah itu bebas!" Ucap gadis lainnya.
"Huh? Beruntung?" Lia menahan tawanya lalu melanjutkan katanya, "iyain aja! Yaudah yok lanjut keliling."
...
"Lia!" Panggil Alora yang mendapati Lia berjalan di depannya.
"Eh Lora? Sama Andre! Mau ke mana?" Tanya Lia membalas sapaan sahabatnya.
"Kita mau ke kantin!" Sahut Andre.
"Iya nih laper banget! Kalian mau kemana?" Alora kembali bertanya.
"Iya kita mau keliling kampus aja, sekaligus buat project tugas kelompok juga sih!" Sahut Lia.
"Yaudah lanjutin aja semangat ya! Kita mau makan dulu!" Ucap Alora sembari tersenyum lalu menuju kantin dengan pacarnya.
Lia membalas dengan anggukan, lalu menyusuri teman-temannya yang jalan duluan karena merasa canggung.
"Lia yang tadi siapa?" Tanya gadis berbut pendek di sana.
"Oh dia Lora sahabat gua dari kecil!" Lia tampak bersemangat menjawab.
"Kalo yang cowonya? Temen loe juga?" Tanya gadis lainnya.
"Iya sih, tapi dia pacarnya Lora!" Lia menjelaskan.
"What? Gua kira mereka cuman temenan, soalnya biasa aja gitu nggak kelihatan kayak lagi pacaran!" Gadis lainnya menyuarakan pendapatnya.
"Mereka suka privasi, dan nggak suka mengumbar hubungan mereka! Stay privat and stay safe!" Lia merasa lelah menjelaskan.
"Bukan karena cowonya nggak mau orang-orang tau gadis itu cewenya? Hahah!" Suara seorang gadis julid.
"Malah Lora yang pengen stay privat tau! Andre cuman nahan aja dan ngikutin keinginan cewenya. Oya jaga mulut kalian!" Lia tampak sedikit kesal dan kenapa dia harus menjelaskan semua pertanyaan mereka.
...
Endingnya setelah melakukan observasi lapangan, saat nya mereka mengerjakan tugas kelompoknya di sebuah Kafe. Walau dari kalangan yang agak berbeda para gadis itu tampak kompak mengerjakan tugas mereka masing-masing yang telah dibagi agar bisa diselesaikan lebih cepat.
"Gua ngerjain yang ini yaa, kalian sisanya!" Ucap gadis yang menjabat sebagai ketua kelompok itu.
Kelima gadis itu terlihat fokus pada laptopnya masing-masing. Namun tiba saja sebuah panggilan membuat kelima gadis itu menoleh.
"Hai Lia!" Sapaan itu berasal dari seorang berseragam jas yang rapi dan baru datang.
"Oh? Kak Andi? Hai kak!" Lia membalas sapaan namun terlihat canggung, kenapa semua orang menyapanya hari ini.
"Gua ketemu klien dulu!" Ucap Andi lalu menuju ke meja seharusnya ia berada.
Lia kembali dihantui pertanyaan.
"Itu siapa Lia?" Tanya ketua kelompok itu.
"Iya, kali ini tampan plus mapan! Enak banget sih jadi loe!" Gadis yang agak lebay tadi kembali bersuara.
"Itu kak Andi, kakaknya Andre pacar Lora tadi!" Sahut Lia lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Uwah! Gen memang menentukan segalanya! Gua harus cari suami ganteng kalo gitu biar anak gua juga ganteng." Sahut gadis lainnya lalu kembali fokus pada tugasnya.
Setelah beberapa menit waktu berlalu, Lia menyelesaikan bagiannya, "guys gua udah siap nih, kalian gimana?" Lia melirik ke tempat duduk Andi tadi, namun pemuda itu sudah hilang dari peradaban, gadis itu tampak sedikit lesu dan kecewa.
"Gua juga udah!" Sahut ketua tim.
"Gua juga!" Sahut lara gadis-gadis itu.
"Kalo udah semua kita bisa siap-siap buat pulang!"
Kelima gadis itu akhirnya keluar dari Kafe setelah melunasi bill masing-masing. Karena rumah masing-masing berlawanan arah mereka pulang sendiri-sendiri dan Lia sedang berpikir apakah ia naik taksi saja atau naik bus.
"Lia!" Panggilan itu membuatnya reflek menoleh.
"Loh kak Andi belum pulang?" Tanya Lia pada pemuda itu.
"Gua nungguin loe! Bareng gua yuk!" Kalimat itu terdengar agak sendu.
.
.
.
Tbc