My Secret Alora

My Secret Alora
Lonely


Di jalan itu, Alora berjalan berdampingan dengan Beni, keduanya jadi diam sehingga hanya terdengar suara gesekan sandal dengan tanah.


"Al,... nggak bisa ya? Gua aja yang jadi orang yang paling loe sukai?" Kalimat Beni sembari melirik gadis yang tak terkecoh dengan pertanyaan random itu.


"Loe sendiri yang paling tau jawabannya!" Sahut Alora lalu menyeringai selama 1 detik.


"Kitaa... loe dan gua adalah orang-orang yang paling kekurangan kasih sayang! Orang-orang kayak kita ini bahkan nggak bisa mengekspresikan rasa cinta dengan benar! Maka loe dan gua butuh seseorang yang memberikan kasih sayang mereka dengan tulus, dengan begitu kita bisa terus bertahan hidup di dunia yang dark ini!" Sambung Alora sembari terus melanjutkan langkahnya.


"Cih! Bilang aja loe lebih milih Andre! Nggak usah banyak alasan gitu!" Sahut Beni dengan wajah datar itu.


"Loe mau tau kenapa gua milih bertahan hidup, bukannya bunuh diri?" Tanya Alora lagi.


Beni hanya diam saja saat Alora merasa ngaman untuk bercerita.


"Karna kasih sayang mereka! Lucunya gua terpancing dan melupakan rasa sakit gua! Seolah mendengar.. waah hidup gua berarti buat mereka!" Ucap Alora dengan bola mata yang agak berkaca.


"Terus? Itu nggak ada hubungannya sama gua!" Sahut Beni.


"Ada! Ada hubungannya! Loe juga butuh seseorang yang seperti itu dalam hidup loe! Dengan begitu loe bisa menjadi pribadi yang lebih baik! Alasan gua nggak milih loe, karna gua nggak bisa memberikan cinta yang besar buat loe, karna gua juga membutuhkannya dari orang lain! Gua harap loe bisa menemukan seseorang seperti Andre bagi gua! Dengan begitu loe bisa berhenti mengharapkan hal-hal yang akan membuat loe semakin terluka!"


"Tau apa loe tentang gua?" Sahut Beni tanpa menatap gadis itu.


"Gua tau! Loe bocah laki-laki yang sering menyendiri di sudut taman, lalu suatu hari seorang gadis kecil penuh trauma datang menyapa. Gadis itu melihat dirinya ketika menemukan bocah itu di sana! Gua belum bilang makasih! Makasih ya udah buat gadis itu bangun dari mimpi buruknya!" Sahut Alora saat Beni sontak meliriknya ketika mendengar kalimat itu.


"Jadi... itu loe?" Tanya Beni tampak serius sekaligus tak percaya.


"Iya itu gua! Loe masih sama aja! Gua langsung tau itu loe!"


Namun tiba saja terlihat pemuda yang tidak asing di sana. Andre yang menatap tajam mereka dari arah depan mereka.


"Alora? Kok loe bareng dia?" Tanya Andre yang menemukan pacarnya sedang jalan dengan cowo lain sembari menghampiri gadis itu.


"Kita pulang yuk!" Sahut Alora lalu meraih tangan Andre dan merekapun langsung pulang bersama.


Beni menghentikan langkahnya dengan sorot tajam yang menatap kedua oknum di depannya. Pemuda itu menarik nafas panjang lalu menghela berat.


"Apa dari awal gua pernah punya kesempatan? Atau kesempatan itu yang selalu gua sia-sia-in?" Ucap Beni terdengar sendu lalu melangkah pulang menuju rumahnya.


***


Beberapa hari kemudian seperti yang diharapkan, hidup Beni kembali tenang bak mimpi buruk yang menemukan penawarnya. Namun semua terasa lonely, terlalu kesepian ketika dia terbiasa ada beberapa orang yang mengganggu dalam hidupnya.


Fathia keluar dari kamarnya sudah bersiap menuju rumah sakit untuk menjenguk sekaligus menjaga Dwita yang sedang sakit. Gadis itu mendapati abangnya yang duduk termenung di ruang tamu dengan TV yang menyala.


"Mau kemana loe?" Tanya Beni yang ternyata tidak melamun walau wajahnya menggambarkan situasi itu.


"LOE! MAU KEMANA GUA TANYA?" Bentak Beni dengan kesabaran yang setipis tisu itu dibalut dengan luka hatinya yang kesepian itu.


Fathia sontak memegangi jantungnya karena sangat terkejut. "Gua mau ke rumah sakit jengukin nyokap! Loe mau ikut?" Ucap Gadis itu seolah robot yang menjawab dengan nada datar.


"Yaudah sana pergi!" Kali ini tampang Beni tampak mengusir, dan tentu saja Fathia langsung keluar karena kena mental dengan apa yang baru saja terjadi.


Tak lama, Beni menuju ke Kafe mengingat hari yang semakin sore. Ia pergi dengan tujuan setidaknya ia tidak berada di sana sendirian. Tentu Kafe itu tampak ramai, pemuda itu langsung masuk lalu menuju dapur. Karena bosan pula ia mengambil inisiatif untuk ikut bekerja.


Lengkap dengan seragam pegawai Kafe, dirinya bekerja dengan baik namun ia menggunakan masker putih di wajahnya. Tak lama bekerja ia sudah melayani beberapa meja yang datang dan pergi.


Sepasang kekasih telah memasuki Kafe lagi, ia bersiap untuk memberikan menu Kafe dan mencatat pesanan mereka. Namun ada yang tidak asing, kedua oknum itu saling berpegangan tangan dengan senyum merekah di wajah keduanya.


Pemuda itu menyadari sepasang kekasih itu adalah Lia dan Andi. Di mana Andi tampak bahagia dan Lia yang juga tersenyum malu-malu. Beni sedikit menyeringai menyaksikan kisah cinta penuh haru berakhir happy ending yang terpampang di depan matanya.


Pemuda tampan dengan masker itu menghela berat, lalu ia meraih topi salah satu karyawannya dan langsung memakainya di kepalanya.


"Loh itu topi gua!" Ucap pegawai pria itu. Namun dengan segera dihentikan Indra sebagai manager agar tidak terjadinya keributan.


"Udah biarin aja! Itu Beni! Lagi nggak pas otaknya tuh!" Bisik Indra ke pegawai itu. Pria itu mengangguk lalu kembali ke dapur.


Lia tampak melirik kanan kiri seolah ada yang ia cari. Saat itu seorang pemuda tinggi dengan masker plus topi sedang meletakkan menu di meja itu lalu kembali ke meja kasir. Tak lama Beni kembali untuk mengambil catatan pesanan di meja Andi dan Lia.


Gadis itu masih tampak seperti mencari seseorang, karena sesekali ia melirik ke seluruh Kafe itu.


"Mas! Emm.. Beni.. nggak ada di sini ya?" Tanya Lia pada Beni yang menutup diri agar tidak dikenali itu.


"Nggak!" Sahut Beni singkat lalu berbalik dan kembali.


"Loh? Kenapa kamu cari Beni?" Tanya Andi pada gadis yang baru jadi pacarnya itu.


"Udah beberapa hari Lia nggak lihat Beni, Lia juga pengen ngasih tau dia kabar bagahia kita udah jadian! Beni sangat berperan penting loh!" Sahut Lia yang tampak gembira.


Namun tanpa diberitahu, pemuda yang Lia maksud itu sudah mendengarnya sendiri dan melihatnya. Entah mengapa Beni ingin menyembunyikan dirinya dari semua orang saat ini. Pemuda itu menuju ruang ganti untuk mengganti bajunya lalu langsung pergi keluar Kafe menuju mobil dan naik ke mobilnya. Beni duduk di depan setirnya dengan wajah agak sendu.


"Apaan nih? Apa gua harus cari pacar juga?" ucap Beni.


.


.


.


Tbc