
Sorot mata Alora kembali menemukan sepasang lainnya milik Andre, keduanya larut dalam tatap satu sama lain.
"Kalau gitu... ayo kita putus!" Ucap Alora.
"Huh? Kenapa?" Andre tampak panik dan bingung.
"Dengan begitu loe gak perlu bayar gua lagi buat pacar palsu, selain itu loe bisa meresmikan hubungan real dengan cewe itu" jelas gadis itu.
"Cewe itu? Siapa?" Tanya Andre dengan pertanyaan memenuhi kepalanya.
"Loraaaaa! Gua bawain makanan nih, loe pasti lapar" teriak Lia sembari membuka pintu lalu menuju dapur.
"Lah ada Andre kok? Oiya, loe mau makan bareng sekalian?" Lia bertanya pada Andre yang sedang tidak fokus.
"Andre?" Panggil Lia sembari menyentuh bahu pemuda itu.
"Ah iya!" Sahutnya.
Alora sudah mengambil tiga piring untuk dirinya dan kedua remaja lainnya yang telah duduk di meja makan itu.
Lia bisa merasakan keheningan yang tidak asing lagi untuk Alora, namun Andre bukan tipe introvert yang suka diam begini.
"Kalian berantem?" Tanya Lia ketika sudah tidak dapat menahan jiwa penasarannya.
"Kita udah putus!" Ucap Alora santai.
"Huh? Kenapa?" Lia memastikan jawaban dengan terus melirik kedua insan di depannya.
Tatap Andre perlahan meredup dan kembali larut dalam pikirannya.
Di sisi lain Alora yang berusaha bersikap biasa saja.
...
Keesokan harinya,
Ketidakhadiran Alora memberikan kesempatan kepada Andre untuk bertanya pada Lia. Sedari jam pelajaran pertama Andre melirik Lia dan terus berpikir ia harus menanyakan pertanyaan yang mana dulu.
Bel berbunyi, secepat kilat Andre sudah duduk di bangku depan Lia. Gadis itu baru selesai memasukkan buku ke tasnya dikejutkan pemuda itu sudah memasang tatap serius.
"Lu kenapa?" Lia menatap aneh.
"Gua mau nanya!" Sahut Andre lalu menarik nafas panjang.
"Apaan?"
"Cewe itu siapa?"
"Cewe siapa?" Lia balik bertanya.
"Mana gua tau cewe itu siapa, kalo gua tau gua gak nanya sama loe!" Pemuda itu mencoba mengontrol emosinya.
"Gua juga mana tau, orang pertanyaan loe ga jelas gitu" Lia juga ikutan kesal, namun tiba-tiba teringat.
"Oh! Jangan-jangan itu alasan loe putus sama Lora ya?"
"Kurang lebih gitulah, jadi tu cewe siapa?"
"Dia siapa? Itu juga yang mau gua tanyain sama loe! Cewe yang loe bonceng dan jalan bareng ke pasar malam waktu itu siapa?" Lia hanya menjawab sambil bertanya.
"Jangan-jangan Mila ya? Tu cewe ngapain sih?" Andre tampak sangat kesal.
"Mila? Kayaknya gua pernah dengar namanya, ooh murid baru itu ya? Yang gangguin Lora di perpus"
"Huh? Dia gangguin Al?" Andre tidak tinggal diam langsung mencari Mila karena marah, namun di hentikan langkahnya oleh bel masuk yang kembali berbunyi.
"Lah? Udah masuk lagi?? Baru juga break 7 menit yang lalu!" Ucap Andre yang kembali ke mejanya.
"Cepet pulang kali!"
"Tapi kenapa Lora gak masuk sekolah ya? Padahal semalam dia udah baik-baik aja" gumam Lia tampak khawatir.
Gadis cantik bestie-nya Lora itu mampir ke kafe Beni untuk mencari Alora, namun gadis itu tidak ada di sana. Ia malah menemukan Andre yang juga ada di kafe itu.
Seorang pria paruh baya juga ikut mencari Alora dengan menanyakan keberadaan gadis itu pada staf kafe. Tentu saja kedua remaja itu tidak bisa mengabaikan siapapun yang menyebut nama Alora.
"Bapak siapa?" "Om siapa?" Pertanyaan yang diajukan bersamaan oleh Lia dan Andre begitu menghampiri Herman.
"Saya pemilik kafe ini" Herman menatap heran kedua remaja di depanya.
"Lalu kenapa bapak menanyakan Alora?" Lia kembali bertanya.
"Iya, bos besar tidak mungkin kenal karyawan kecil" sambung Andre.
"Ahaha Alora itu spesial, saya harus memastikan dia baik-baik aja! Oya kalian siapa?" Sahut Herman terlihat gemas dengan remaja di depannya.
"Saya sahabat dekat Alora"
"Saya juga" Andre ikut-ikutan.
"Oh berarti kalian kenal Beni juga kan? Dia anak saya"
"Iya kami tau" sahut Andre.
"Itu anak-anak pada kenapa? Tapi syukur deh Alora baik-baik aja" gumam Herman lalu pergi.
***
Keesokan harinya, Alora tetap tidak masuk sekolah dan juga tidak mengabari Lia. Sejak semalam ia tidak pulang ke rumah membuat Lia khawatir.
Lia yang duduk di bangkunya menatap layar ponsel berisi chat yang tidak dibalas Alora.
Tring!
Chat masuk berisi "Lia sepertinya gua akan berhenti sekolah dan tinggal sama nenek gua saja!"
"Loraa jangan!" Teriak Lia tanpa sadar. Setelah sedikit malu karena teriak tiba-tiba di kelas penuh siswa itu, gadis itu langsung menelpon bestienya, namun tidak mendapat jawaban.
Andre yang menguping sejak mendengar teriakan Lia tadi juga ikut panik.
"Gua punya ide!" Ucap Andre lalu membisikkan sesuatu ke telinga gadis cantik itu.
Ternyata ide pemuda berparas tampan itu adalah mendatangi perusahaan Herman yang mereka duga "Alora dipaksa menikah dengan om itu". Memang konyol, namun hal itu terpikirkan oleh remaja itu saat teringat Beni pernah mengatakan agar Alora menjauhi ayahnya.
Bukannya menemui pemilik perusahaan, kedua remaja dengan seragam sekolah itu malah membuat keributan di Loby perusahaan, karena berdebat dengan pekerja yang tidak mengizinkan mereka bertemu bos tanpa membuat janji sebelumnya.
Lia dan Andre berakhir di usir satpam dan berada di luar gedung perusahaan besar itu. Keduanya tampak termenung dan kesal.
Tak lama Herman yang baru saja kembali ke kantornya setelah makan siang menemukan kedua remaja itu lalu mengajaknya ke ruangannya.
Di ruangan Herman,
"Kalian yang buat keributan tadi ya? Saya mendengarnya dari petugas depan" tanya pria paruh baya yang lengkap dengan seragam jas-nya.
"Iya pak" sahut Andre.
"Ada apa? Kenapa kalian ingin menemui saya? Andre mengganggu kalian? Atau dia menghancurkan barang kalian atau apa? Biar saya ganti rugi" tanya Herman.
"Pak, tolong jangan nikahi Alora! Dia masih harus sekolah dan sejujurnya dia lebih cocok jadi anak daripada istri" ucap Lia dengan wajah sedih.
"Apa?" Herman bingung.
"Pak, saya belum resmi putus dari Alora, dia masih pacar saya. Dan saya gak setuju dia menikah dengan bapak dan harus putus sekolah!" Ucap Andre tegas.
"Maksud kalian, apa? Alora putus sekolah? Kenapa?" Herman bertanya tampak khawatir.
"Bukannya karena akan menikah dengan bapak?" Tanya Lia masih dengan wajah sedih.
"Untuk apa saya menikahi..Alora sudah saya anggap seperti anak angkat saya" Herman menghela berat lalu kembali bertanya "terus Alora sekarang di mana?"
Kedua remaja itu menggeleng kepala, lalu Lia berkata " dari kemarin Alora gak sekolah dan gak pulang ke rumah juga, apa mungkin dia di rumah neneknya? Karena dia bilang ingin tinggal bareng neneknya"
"Kalo gitu ayo kita ke sana" ucap Andre yang bergegas ingin mengajak Lia.
"Itu dia, gua gak tau alamatnya, katanya sih sekitar 2 jam perjalanan" Lia makin terlihat sedih membayangkan Alora benar-benar putus sekolah.
"Ayo ikut saya!" Kata Herman lalu keluar dari ruangan itu dan diikuti oleh kedua remaja itu di belakangnya.
"Kemana pak?" Tanya Lia sembari berjalan di belakang pria berstatus bos itu.
"Ke rumah nenek Alora" sahut Herman.
***
Sesampainya di rumah nenek Alora, ketiga insan yang tampak khawatir langsung menuju pintu dan mengetuk pintu itu.
Saat pintunya terbuka, tampak seorang wanita tua. Setelah bertanya, namun Alora juga tidak ada di rumah neneknya.
"Kemarin Alora kesini menanyakan soal ibu dan ayah kandungnya" bola mata sayu nenek tampak melirik Herman, lalu mengalihkan menatap kedua remaja itu.
"Lalu Alora kemana nek?" Tanya Andre.
"Lora ke makam ibunya" sahut nenek.
"Apa Annira sudah meninggal buk?" Tanya Herman dan tampak shock.
Kedua remaja yang kebingungan itu melirik kedua orang yang lebih tua dari mereka itu.
"Annira siapa nek?" Tanya Lia pelan.
"Ibu kandungnya Alora" jawab nenek pelan.
Herman dan kedua anak SMA yang dia bawa itu mengunjungi makam Annira lalu menemukan sesosok gadis yang duduk termenung di kursi taman sebelah tempat makam.
"Apa itu Alora?"
.
.
.
tbc