My Secret Alora

My Secret Alora
Alora itu Pacarku!


Keesokan harinya, perlahan kondisi kedua remaja dengan takdir yang sama itu membaik. Andre yang merasa sesak menghadapi teman-teman sosialita ibunya yang menjenguknya. Saking sesaknya, seakan ia ingin memasang kembali alat bantu pernafasan yang sudah dilepas kemarin.


Pemuda itu keluar dari kamarnya menuju taman rumah sakit untuk menghirup udara segar. Di lorong terbuka yang khusus di sediakan kursi untuk beristirahat, di sanalah pemuda itu duduk.


Termenung larut dalam pikirannya, pemuda itu memikirkan sikap Alora yang terasa dingin padanya. Sejak hari itu, ia masih belum menemui Alora. Karena Andi melarangnya tanpa alasan yang pasti, Andre masih bingung apa yang sebenarnya telah terjadi. Bahkan tidak seorangpun memberitahukannya nomor kamar Alora agar Andre tidak berkunjung walau menginginkannya.


Tampak seorang gadis yang juga datang bersama ibunya. Wanita paruh baya itu langsung menuju tujuannya, namun gadis itu


"Mah, aku ke sana bentar ya, nanti aku nyusul" ucapnya saat melihat Andre yang duduk sendirian.


Gadis berpenampilan sangat terbuka itu langsung duduk di sisi Andre, hingga pemuda itu tersadar lalu menoleh.


"Hai Ndre!" Sapa gadis itu.


"Mila? Ngapain loe di sini?" Sahut Andre yang terlihat malas bertemu Mila.


"Gua mau jengukin loe lah, mamah gua juga datang loh, yok kita masuk!" Gadis itu melingkarkan kedua tangannya di lengan kiri Andre.


Namun di sisi lain, ternyata Alora juga hendak ke taman rumah sakit untuk mencari udara segar. Saat mendapati Andre yang duduk dengan gadis di sana, hatinya seolah merasa kecewa. Gadis itu langsung membalikkan tubuhnya saat Mila melingkarkan tangannya pada Andre.


Namun, Andre langsung menapis tangan Mila karena risih.


"Tolong berhenti jadi boonerang dalam hidup gua!" Ucap Andre lalu bangkit untuk pergi.


Namun, bola matanya menuju ke arah gadis dengan seragam pasien yang berjalan pelan menjauh itu. Dilihat dari siluetnya dengan rambut panjang itu terlihat seperti Alora, dan Andre tau itu adalah Alora.


Pemuda tunggi itupun berlari untuk mengejar Alora. Saat hampir mendekatinya Andre akhirnya memanggil


"All tunggu!"


Langkah Alora terhenti begitu saja, padahal ia ingin berpura-pura tidak mendengar. Andre langsung menyusul dan berdiri di depan gadis pucat itu.


"Loe... keadaan loe gimana?" Andre tampak bernafas tidak teratur.


"Gua baik!" Sahut si gadis cuek itu.


"Syukurlah! Al.. gua.. berhutang budi sama loe.." Andre mencari topik untuk berbicara dengan gadis itu.


"Kalo loe memang berhutang, maka bayar!" Sahut Alora dengan wajah datar.


"Okey, kalo gitu gua akan lakuin apapun buat loe, apapun yang loe minta. Gimana loe mau minta apa?" Andre tampak gembira dan sangat menginginkan tanggapan Alora.


"Gua akan kasih tau nanti, setelah gua mikirin matang-matang!" Sahut Alora.


"Enggak hanya satu, loe boleh buat berapapun permintaan, gua bakalan kabulin buat loe!" Andre tampak percaya diri.


"Okey!" Sahut Alora lalu melangkahkan kakinya untuk kembali.


"Al tunggu dulu.. gua.." Andre meraih tangan Alora untuk menghentikan langkahnya.


"Andre kenapa loe ninggalin gua sih?" Mila yang datang merusak suasana.


Alora memindahkan perlahan tangan Andre dari pergelangan tangannya sambil berkata "mending loe urusin cewe loe dulu tuh!". Alora pun pergi setelah katanya.


"Cewe gua itu loe Al!" Andre sedikit meninggikan suaranya agar gadis yang pergi itu mendengarnya. Lalu melirik Mila sinis.


"Loe ngapain sih? Rusak moment orang aja!" Andre tampak kesal lalu meninggalkan Mila di sana yang tetap mengikuti pemuda itu layaknya ekor.


Di sis lain, Alora yang kehilangan arah tersesat ke tolet. Di depan toilet laki-laki, gadis itu kebingungan karena tidak bisa menghafal ke mana arah kamar inapnya.


Seorang pemuda keluar dari toile itu, membuat Alora langsung berbalik karena malu.


"Mbak mau ke toilet? Toilet perempuan ada di sisi sana" ucap pemuda itu pada punggung Alora.


"Eh! Beni?" Gadis itu mendapati ternyata si psyco yang ternyata punya rasa iba juga terhadap orang lain. Mungkin sisi psyco-nya libur hari ini.


"Elloe? Kok bisa di sini? Di kamar loe ada toilet juga" ucap Pemuda itu secukupnya.


"Gua tadi mau ke taman rumah sakit, eh malah tersesat ke mari" sahut Alora.


Beni meraih lalu menggenggam tangan Alora dan melangkahkan kakinya menuju taman rumah sakit. Namun ada yang berbeda kali ini, pemuda itu tidak menariknya secara kasar atau brutal. Beni sesekali melirik ke arah Alora yang hanya mengikuti tanpa bantahan tidak seperti biasanya.


"Mau kemana nih?" Tanya Alora sambil ikut berjalan.


"Kan loe mau ke taman!" Sahut Beni.


Setelah beberapa langkah berlalu, merekapun sampai dan duduk di kursi yang di sediakan di sana. Alora menarik nafas panjang sembari menutup matanya lalu menghembuskannya perlahan melalui mulutnya dan mengulanginya beberapa kali.


Kesempatan langka bagi Beni menikmati wajah Alora yang tampak segar walau pucat tanpa ada Andre yang mengganggunya. Pemuda itu tampak menaikkan sedikit sudut bibirnya tanpa sadar.


Namun, ia sadar dengan cepat, Alora sudah kembali membuka matanya. Seperti biasa gadis itu hanya duduk diam tanpa sepatah katapun. Entah itu pesonanya atau bagaimana, Alora yang diam dan berekpresi datar itu menenang orang-orang yang melihatnya. Sikap tenang yang tampak seolah segalanya baik-baik saja, namun siapa tau apa yang sebenarnya sangat menyiksa batinnya.


...


Beni membantu Alora menemukan jalan kembali menuju kamarnya. Karena terlalu banyak pikiran ia tidak menghafal bahkan arah kembali ke kamarnya sendiri.


"Loe ke sini untuk jenguk gua?" Tanya Alora mencoba mencairkan suasana sepi itu.


"Bukanlah!" Sahut Beni.


"Ooh, terus ngapain?"


"Loe masih kepo aja!"


"Yaudah! Thanks udah bantuin gua!"


"Hmm"


Beni masih saja tdak mengakui, padahal dia ke rumah sakit memang untuk menemui gadis itu.


Alora membuka pintu kamarnya dan dikejutkan dengan 4 orang yang sudah berada di dalamnya bersama nenek dan tante Ina.


Jeni dan ibunya Mila serta Andre dan Mila sebenarnya apa tujuan mereka mencari Alora.


"Okey, karena di sini sudah ada Alora, kita akan pastikan semuanya benar atau tidak" ucap Jeni yang sangat ingin membuktikan masalah Mila menindas Alora waktu itu.


"Bukti?" Tanya Alora.


Setelah panjang lebar Jeni menjelaskan, Alora dan Mila masih diam saat Jeni bertanya "apa sebenarnya alasan Mila melakukan itu?"


"Nggak ada diantara kalian yang mau jawab? Lora?" Jeni masih memaksakan saat semua orang di ruangan itu menonton.


"Saya tidak suka ikut campur tentang perasaan atau alasan orang lain, tante! Jadi..." kata Alora tiba saja terpotong oleh Andre yang tidak tahan lagi ingin menjawab.


"Karena Alora itu pacar aku mah!" Sahut Andre yang membuat beberapa orang dalam ruangan itu terkejut.


"Apa benar Alora?"


.


.


.


Tbc