My Secret Alora

My Secret Alora
Mode Cemburu


Alora bangkit dari kursinya dengan amarah jelas terpancar dari matanya.


"Apaan nih? Mau pamer kemesraan?" Tanya Alora.


"Loe juga apaan? Loe merasa cantik sampe harus pamer tidur di depan cowo lain gitu?" Sahut Andre yang juga kesal.


"Gua beneran tidur! Gak maksud gitu!"


"Makanya hentikan kebiasaan tidur di sembarang tempat gitu! Gua juga nggak sengaja, nih cewe nabrak orang bikin salah paham aja!" Andre sedikit melirik kesal ke arah Ziva.


Oknum lainnya hanya terdiam menyaksikan perdebatan pasangan itu.


"Sayaaaang!" Alora memelas dengan wajah cemberut yang terlihat imut. "Aku lagi marah nih!" Sambung gadis itu.


"Aku juga lagi kesal sayang!" Sahut Andre dengan wajah datar.


"Kalo gitu ikut aku! Kita harus selesain masalah ini!" Alora keluar dari kelas itu, lalu disusul Andre yang mengekor di belakang.


Suasana kelas itu canggung saat hanya tinggal tiga oknum dengan tiga kepribadian berbeda. Lia melirik kedua oknum lain lalu melontarkan kalimatnya.


"Gara-gara kalian nih!" Lia terlihat kesal langsung keluar dari kelas itu.


"Gua suka momentnya! Yaah walaupun tanpa gua rencanain, ini lebih baik! Loe gimana?" Ucap Ziva pada Beni.


Pemuda itu tersenyum sinis.


"Gimana kalo kita kerja sama aja! Gua tau loe pasti pengen Alora jadi milik loe kan? Pas banget gua pengen Andre jadi milik gua! Gimana?" Ziva semakin terpancing ke arah lain.


Beni dengan wajah datarnya akhirnya menjawab, "sorry! Gua nggak murahan kayak loe!" Lalu tersenyum sinis sembari melangkah keluar kelas.


...


Di sisi lain, Andre masih mengikuti langkah pacarnya. Alora menghentikan langkahnya saat menemukan  tempat teduh yang ada kursi. Gadis itu membalikkan tubuhnya menghadap Andre.


"Sayang! Gimana tadi akting gua bagus nggak?" Tanya Alora dengan senyum merekah di wajahnya.


"Bagus banget! Andre mengacungkan kedua jempolnya ke arah gadis itu. "Tapi loe ngapain sih akting segala? Untung gua juga mantan aktor jadi bisa ngikutin tanpa naskah haha!"


"Kalo kita baikan gitu aja, otomatis mereka bakalan ngikutin kita! Kita juga butuh quality time ya nggak!" Sahut Alora lalu duduk di kursi yang tersedia.


"Bilang aja loe mau berduaan sama gua!" Andre tersenyum sembari duduk di samping pacarnya.


Pemuda itu merangkul Alora lalu membuat kepala Alora jatuh di atas bahunya.


"Sayang! Kamu jangan ketiduran lagi di depan Beni ya! Aku nggak suka lihat dia manfaatin waktu buat mandangin kamu!" Ucap Andre yang membuat Alora menoleh sebentar memastikan ekspresi wajah pemuda itu lalu tersenyum.


"Gua suka loe cemburu gini!" Sahut Alora sambil tersenyum.


Andre menoleh ke arah Alora lalu ikut tersenyum.


"Tapi loe jangan deket-deket juga sama Ziva itu ya! Gua nggak pengen loe jatuh hati sama yang lain!" Tatap Alora tiba saja berubah sendu.


"Okey deh! Apapun demi cintaku!" Ucap Andre.


"Apaan sih gausah lebay gitu juga!"


Di tengah canda tawa kedua oknum itu, tiba saja sebuah suara menggema.


"Aloraaa! Hei loe di sini? Gua cariin juga!" Ucap Key yang baru sampai. Tentu saja Alora langsung duduk dengan benar setelah mengangkat kepalanya dari bahu pacarnya.


"Ada apa?" Tanya Alora pada Key.


"Tugas kelompok kita!" Key tampak mencari alasan saat kalimatnya belum tersambung dengan benar.


"Kenapa? Bukannya udah dikumpulkan? Gua juga udah cek semua aman kok!" Sahut Alora.


"Ohya? Gua nggak masuk minggu kemaren jadi nggak tau deh! Haha!" Sahut Key.


"Oiya Andre gimana kabar loe?" Sambung Key setelah menoleh ke arah Andre.


"Gua dengar loe kecelakaan, loe nggak apa kan? Gimana pelakunya udah ketangkap belum?" Pertanyaan random yang terasa janggal keluar dari mulut Key. Alora sedikit terkejut, sesaat ia melirik Andre yang juga menatapnya.


"Gua nggak tau! Itu urusan polisi!" Sahut Andre singkat. "Sayang! Pulang yuk!"


"Key! Gua pulang!" Ucap Alora lalu pergi.


...


Di sisi lain lagi, Lia berjalan menuju jalan keluar kampus untuk pulang, namun ia dikejutkan oleh Andi yang tidak pernah ia bayangkan akan bertemu di kampus. Setelah lirikan sebentar, ia berpura-pura tidak melihat dan mempercepat jalannya. Namun takdir berkata lain,


"Lia!" Panggil Andi lalu pemuda itu menghampiri Lia. Gadis itu hanya membalas dengan senyum canggung.


"Kok kak Andi di sini?" Tanya Lia.


"Ada pertemuan penting, jadi aku harus ke sini deh! Seneng banget bisa ketemu Lia di sini!" Andi tersenyum setelah menyelesaikan kalimatnya.


"Kamu mau pulang? Ikut aku aja yok!" Sambung Andi.


"Lia pulang bareng gua!" Tiba saja suara itu muncul dari belakang Lia. Ternyata Beni ada di belakang Lia sedari tadi.


"Lia ada janji pulang sama Beni?" Tanya Andi pada Lia yang terlihat bingung karena Beni yang muncul tiba-tiba.


"Sebenarnya Lia tadinya mau pulang sendiri, tapi kalo ada tumpangan boleh juga!" Sahut Lia.


"Yaudah bareng aku aja yok!" Andi meraih tangan Lia.


"Udah gua bilang! Lia pulang bareng gua!" Suara Beni agak meninggi.


"Yaudah Lia pilih deh mau pulang sama siapa?" Andi yang melirik kesal ke arah Beni lalu menatap lembut Lia di depannya.


"Loe bisa pulang dengan aman, atau loe bisa aja pulang dan ujungnya nggak nyaman! Pilih lah!" Sahut Beni dengan sifat angkuhnya.


"Maksud loe gua bakal buat Lia nggak nyaman gitu?" Tanya Andi yang mulai kesal.


"Sebaiknya loe selesain dulu masalah sama pacar loe yang dari tadi mantau loe tuh! Jangan buat orang lain ikut terjerumus dalam masalah loe!" Ucap Beni sembari menunjuk ke arah seorang wanita yang memang sedang memantau Andi.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Beni langsung meninggalkan tempat itu. Dan Lia dengan terpaksa mengikuti Beni, walaupun hatinya ingin bersama Andi.


Di dalam Mobil Beni, keduanya sudah duduk rapi dengan sabuk pengaman, namun Beni malah menatap tajam ke arah Lia yang duduk di sampingnya.


"Kenapa loe?" Tanya Lia setelah tidak sengaja menoleh ke arah Beni lalu kembali memalingkan wajahnya.


"Kalo gua nawarin harusnya loe langsung terima! Jangan buat gua harus ngejelasin kayak tadi!" Kalimat yang terdengar seram hanya karena keluar dari mulut Beni.


"Iya deh! Maafin gua ya! Tapi loe hebat banget kok loe bisa tau pacar kak Andi ada di sana?" Lia yang ingin mencairkan suasana.


"Kalo loe naik mobil Andi tadi, loe bisa aja berakhir jadi obat nyamuk dan loe kelihatan murahan! Loe paham nggak sih?" Beni yang terlihat kesal membentak Lia.


"Iya iya! Gua tau! Gausah diperjelas gitu.. gua jadi sedih." Raut wajah Lia berubah sendu bersamaan Beni menghidupkan mesin mobilnya dan melaju.


...


Sesampainya di rumah Lia,


"Kok loe tau rumah gua di sini? Loe kan belum pernah ke sini!" Tanya Lia yang sedang membuka sabuk pengamannya.


"Cepetan turun!" Sahut Beni ketus.


"Jangan-jangan... loe nggak mungkin suka sama gua kan? Kalo gua ingat lagi belakangan ini loe sering nolongin gua! Eh tapi jangan suka sama gua! Gua nggak sanggup, kenapa nggak kak Andi aja yang hatinya terbuka buat gua?"


"Udahan ceramahnya cepetan turun!"


"Makasih ya!" Lia turun dari mobil lalu menuju ke halaman rumahnya.


Di sisi lain, Beni masih memantau lalu bergumam sendirian.


"Dasar cewe nggak peka!" Ucapnya ketus, lalu membelokkan mobilnya untuk pulang.


.


.


.


Tbc