
Percobaan kedua, Andre bersiap-siap pagi sekali lalu dengan melewatkan sarapannya langsung menuju rumah Alora untuk menjemputnya berangkat ke sekolah. Sesuai dugaannya, Alora sedang memakai sepatu di depan rumahnya.
Namun sebuah mobil datang lalu diparkirkan di depan rumah Alora setelah berbalik arah. Ternyata itu mobilnya tante Ina yang datang menjemput. Wanita itu melambai ke arah Alora dengan senyuman merekah di wajahnya.
Alora langsung bangkit dan ikut melambai ke arah tantenya. Ia melirik Andre yang sudah berdiri sekitar 1 menit di sana. Tanpa sepatah katapun Alora memalingkan wajahnya lalu membuka pintu mobil untuk naik ke mobil di sebelah tantenya. Ina langsung menjalankan mesin itu berangkat. Namun, Alora menoleh ke belakang melihat pemuda yang terus menatap belakang mobil yang berjalan itu.
"Apa gua terlalu kejam ya?" Batin Alora dengan tatap sendu itu.
"Udah! Nggak usah dipikirin! Biarin aja dia! Bukan salah kamu kalo tiap lihat dia cuman membuka luka lama, tante juga tiap lihat dia jadi marah juga setelah tau semuanya" Ucap Ina setelah melirik sebentar keponakannya sembari menyetirkan mobilnya.
Di sisi lain, Andre tampak bingung dan menyadari sikap Alora yang sudah sangat berubah padanya. Semenjak kejadian itu seolah membawa perubahan sifat yang signifikan pada gadis itu.
...
Jam istirahat, Alora belum melupakan rutinitasnya untuk tidur di perpustakaan. Begitu bel berbunyi gadis itu seakan menghilang dan secepat kilat sudah berada di bangku sudut perpus dengan sebuah buku ditindih pipi kanannya di atas meja itu.
Kelopak mata yang tertutup dan terbuka selang beberapa detik menggambarkan dirinya sedang berpikir keras.
"Duh! Kok gua merasa kejam ya sama Andre tadi? Kan bukan salah gua juga!" Batinnya sibuk meributkan hal itu lagi.
"Harusnya gua sapa tadi pagi! Eh tapi emang karakter gua gini. Gua pendiam kan? Harusnya dia paham dong!"
"Atau sebagai cowo dia cari tau kek apa yang terjadi! Atau nanya kek! Eh tapi... percuma aja dia nanya ke gua, toh gua nggak bakalan jawab juga ya?"
"Tapi kan bisa coba aja!" Alora tiba saja tersadar dari lamunan itu. Kelopak matanya berhenti bergerak.
"Kenapa gua mikirin dia terus? Apa yang sebenarnya kurang? Apa yang sebenarnya gua harapin?" Alora menutup kelopak matanya mencoba untuk tidur agar tidak memikirkan hal itu lagi.
Di sisi lain, Andre menuju kantin untuk makan. Perutnya meraung karena dia juga melewatkan sarapannya tadi pagi.
Duduk sendirian di salah satu bangku kantin, mengundang si pemikat Gebi datang. Sesuai gelarnya, gadis yang ingin merebut Andre dari Alora itu langsung duduk di depan Andre setelah meletakkan makanannya di meja yang sama.
"Kak Andre sendirian lagi? Cewe kak Andre mana?" Ucap Gebi melirik ke sana ke mari untuk mencari wujud Alora.
Andre hanya diam saja tanpa merespon, karena ia pikir gadis ini tidak perlu tahu.
"Gebi lihat.. kalian udah jarang datang barengan atau makan bareng, Alora jauhin kakak ya? Atau sebaliknya?" Oceh Gebi si kepo itu.
"Yaah.. walaupun Gebi tau dia yang nyelamatin kak Andre dari kejadian itu dan seisi sekolah juga tau, tapi ada yang aneh! Jangan-jangan Alora cuman pengen dapat perhatian aja dari kejadian itu seolah dia udah rencanain semuanya" kalimat terakhir Gebi berhasil menarik sorot mata tampan itu ke arahnya.
"Alora nggak gitu!" Tiga kata keluar dari mulut Andre.
Namun, Gebi tetap melanjutkan hasutannya agar Andre terpisah dari Alora.
"Dan... gua denger Alora udah nggak kerja lagi di Kafe, kehidupan dia udah berubah sejak tantenya balik dari Amerika. Dan dia juga dapat beasiswa penuh dari bokapnya Beni, jadi dia nggak perlu khawatirin uang lagi"
"Loe tau dari mana semua itu?" Tanya Andre dengan kening mengkerut.
"Gua cuman denger aja kok!" Namun gadis itu tiba saja membuka lebar mulutnya berpura-pura terkejut.
"Oh gua tau! Jangan-jangan yang dibilang orang-orang bener! Kalo Alora cuman lintah yang nempel buat manfaatin loe!" Kata Gebi yang membuat Andre ikut tersinggung.
"Maksud loe apa? Jangan ngomong macam-macam tentang Alora!" Kata Andre terlihat kesal menatap gadis di depannya.
"Dengerin gua dulu! Karena hidup Alora udah mapan, dia ngejauhin loe karena udah nggak butuh duit loe lagi! Bisa aja kan gitu? Makanya dia berduaan di perpus sama Beni" Gebi tidak pernah berhenti karena sudah memulai.
"Apa? Jaga mulut loe! Jangan sembarangan!" Andre agak terkejut dan tidak terima.
"Gua lihat sendiri, Alora tiduran atas meja ditemenin Beni di perpus!" Kata Gebi membuat Andre sontak berdiri.
Pemuda itu langsung menuju perpustakaan untuk memastikan. Ternyata memang benar, Beni yang duduk di sisi kiri Alora sedikit memiringkan kepalanya untuk menatap sekaligus menikmati wajah Alora yang tertidur itu. Gadis itu tampak imut dan tenang saat tertidur.
Andre kesal dengan pemandangan yang terbentang di depan matanya. Ia melangkahkan kakinya menuju Alora, namun di hentikan Gebi yang ternyata juga ikut mengekor dari tadi. Gadis itu menarik tangan Andre lalu membawanya keluar dari perpustakaan.
"Apaan sih narik-narik gua?" Tanya Andre kesal.
"Maksud loe apa lagi?"
"Kalo ke sana, berarti kak Andre cemburu dong! Secara teknis kak Andre kalah sama Beni, ya nggak?" Entah mengapa kata Gebi terdengar masuk akal bagi Andre.
"Mau loe apasih? Dan juga sebenarnya loe tau dari mana informasi tentang Alora yang loe bilang tadi?"
"Gebi cuman denger-denger aja kok!"
"Awas loe kalo macem-macem!" Andre meninggalkan Gebi setelah kalimat ancamannya yang sama sekali tidak mempan pada gadis itu.
"Hmm.. bukan itu yang penting! Yang penting loe harus jadi milik gua Andre!" Batin Gebi lalu menyeringai.
***
Tiba saja siang itu mendung, ketika bel sudah berbunyi dan Alora sudah meninggalkan ruang kelas menuju halte. Entah bagaimana Lia tertinggal di kelas saat hujan itu turun.
Karena rintik hujan tiba saja menyentuh wajahnya, Alora berlari secepatnya ke halte agar tidak basah. Gadis itu beruntung ia tidak sampai sebasah itu. Begitu ia tiba di halte hujan langsung deras.
Bersamaan dengan Alora, Andre memarkirkan motornya di sisi halte begitu hujan menghantam tubuhnya. Kedua remaja berdiri bersebelahan sembari menatap langit yang tidak menduga akan datangnya hujan.
Alora memilih duduk di beton yang dibuat untuk tempat duduk di halte itu untuk menunggu hujan reda sekaligus menunggu Lia dan bis untuk pulang. Sedangkan Andre berpikir sebentar "gua harus cari tau apa yang terjadi, gimana cara nanyak nya ya?" Batin Andre.
Pemuda itu akhirnya ikut duduk juga di sebelah Alora.
"Tiba-tiba banget hujan ya?" Ucap Andre.
"Iya" sahut Alora setelah melirik sebentar pemuda di sebelahnya itu.
Pemuda itu inisiatif melepas jaketnya saat melihat Alora mulai memeluk tubuhnya karena kedinginan. Andre langsung memakaikan jaket itu di pundak Alora. Gadis itu sedikit terkejut, tiba saja bahunya terasa disentuh. Andre merapikan jaket yang ia pakaikan untuk gadis itu lalu kembali duduk tenang meski hanya mengenakan seragam sekolah di tengah hujan deras itu.
"Kapan redanya ya?" Ucap Andre yang ingin memulai percakapan di tengah derasnya hujan. Namun Alora hanya merespon dengan menatap dengan bola mata menilik dan menemukan fakta hujan akan berlangsung lebih lama saat mencari ramalan cuaca di google.
"Gua minta maaf ya!" Kata acak yang keluar dari mulut Andre terdengar sendu.
Alora yang terkecoh mengarahkan sorot matanya menatap pemuda itu. Seakan hatinya tergerak mendengar kalimat tersebut.
"Harusnya gua yang nyelamatin loe bukan sebaliknya, gua merasa gagal sebagai seorang pacar!" Kata Andre tanpa menatap Alora.
"Iya loe bener! Biar impas memang harus sebaliknya" jawaban Alora yang mengundang beragam pertanyaan di benak Andre.
"Impas? Apa maksudnya?" Batin Andre bertanya sembari menatap Alora.
"Al! Loe marah sama gua?" Tanya Andre lagi.
"Iya!" Sahut Alora setelah beberapa detik berlalu.
"Salah gua di mana? Gua akan perbaikin apapun itu tolong kasih tau gua!"
"Itu semua udah nggak bisa diperbaiki lagi!... Gua memang marah tapi bukan karena kesalahan loe!"
"Terus kenapa?"
"Coba loe cari tau sendiri! Loe pernah bilang mau cari tahu dia di mana kan? Dan gua ngelarang loe waktu itu.. sekarang cari dia!" Kata Alora yang sukses membuat seribu tanda tanya berproses dalam benak Andre.
.
.
.
Tbc