
Pagi lainnya menyapa seperti biasa, namun agak mendung. Alora berangkat sekolah bersama sang pacar. Gadis itu tampak memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam udara segar bersamaan angin yang mengibaskan rambutnya di atas motor yang melaju itu.
Andre diam-diam melirik spion yang sengaja di arahkan agar dapat melihat wajah Alora. Pemuda dengan hidung mancung itu terus saja memamerkan senyum tipis manis-nya saat melirik gadis yang diboncengnya itu.
Sesampai di parkir sekolah, rambut Alora agak berantakan karena di tiup angin saat motor melaju. Andre tidak bisa membiarkannya saat melihat Alora merapikan rambutnya. Pemuda itu merogoh saku celananya.
"Nih!" Pemuda itu memberikan tali ikat rambut kepada Alora.
"Huh? Loe bawa beginian ke sekolah? Aneh banget! Gua juga bawa sih, cuman kan loe cowo buat apa coba?" Gadis itu mengambilnya lalu menguncir rapi rambutnya.
"Gua sempat lupa, Alora si banyak nanya masih ada rupanya"
Alora tidak menanggapi, hanya berjalan menuju kelas. Kedua remaja itu berjalan berdampingan sambil mengobrol kecil. Namun dibalik itu, ada banyak cewe-cewe yang patah hati karena sosok tampan di sisi Alora telah menjadi milik gadis itu.
Gebi si gadis cantik berkacamata yang duduk di depan kelasnya menatap Andre dan Alora jalan bersama membuatnya iri sambil berkata "Cha Eun Woo memang gak bisa digapai, namun Cha Andre yang di depan mata juga sulit untuk digapai"
"Loe ngomong apaan Geb? Loe suka sama Andre?" Tanya teman sebangkunya yang juga duduk di depan kelas itu.
Gebi hanya mengangguk.
"Loe lupa? Cewenya Andre itu psyco?"
"Kok bisa sih julukannya psyco?"
"Karna cuman dia yang berani nantangin Beni si psyco hansome itu, gua lihat sendiri hari itu"
"Tapi menurut gua, Alora itu bukan psyco. Dia cuman cewe yang sok tangguh seolah dirinya segalanya. Wajahnya juga biasa aja, kok bisa ya Andre milih dia"
"Kalo gitu, coba loe ubah penampilan loe, karna loe cantik, pake kontak lensa aja, buka kacamata lalu deketin Andre, gua mau lihat siapa yang akan di pilih"
"Okey, ayo kita lihat" Gebi tampak percaya diri.
Di sisi lain ada Mila yang terlihat sangat kesal karena Andre memilih Alora. Melihat mereka jalan berdampingan membuatnya makin kesal.
"Loe kalah?"
Suara itu terdengar asing di telinga Mila, setelah berbalik menoleh, ternyata itu Beni.
"Apaan sih loe?" Mila kesal mengingat kejadian Beni pernah melabraknya untuk membela Alora.
"Loe memang gak bisa berubah atau loe nantangin gua?" Tanya Beni
"Maksud loe apaan?" Mila agak ngeri melihat wajah serius pemuda itu.
"Gua lihat loe naruh roti beracun agar di makan Alora"
"Terus mau loe apa?"
"Hari itu karna gua tau Alora gak akan ngambil rotinya jadi loe masih aman, tapi..." pemuda itu mendekatkan bibirnya ke telinga Mila dan berbisik.
Entah apa yang dibisikkan Beni, namun wajah Mila tampak tertegun dengan bola mata melebar. Beni tersenyum sinis lalu menepuk bahu Mila dua kali dan pergi.
"Gua lupa tu cowo psyco" batin Mila dengan kening mengkerut.
...
Jam istirahat tanpa sengaja Beni dan Andre berpapasan di kantin, keduanya sedang mencari meja untuk duduk namun hanya tersisa satu meja dan terpaksa keduanya harus duduk saling berhadapan.
Kedua pemuda itu tampak saling membuang muka.
Pemandangan langka dua cowo ganteng di satu frame, walau karakter keduanya jauh berbeda.
"Loe ngapain duduk bareng gua?" Akhirnya Beni mengeluarkan kalimat pertamanya karena tidak tahan melihat Andre.
"Loe nggak lihat meja lain penuh?" Sahut Andre.
"Mumpung loe di sini, suruh Alora jauhin bokap gua!"
"Kenapa? Bokap loe cuman anggap dia anak angkat aja kok"
"Tapi orang-orang gak mikir gitu!"
"Maksud loe apa?"
"Cari tau aja sendiri" kalimat terakhir Beni lalu pergi.
Tentu saja Beni berhasil membuat Andre kembali overthinking.
***
Di Kafe, Alora mengabaikan setiap tatap sinis yang menargetkannya. Gadis itu bekerja seperti biasa hingga seseorang memanggilnya karena dipanggil atasan.
"Al loe dipanggil pak Herman, ke ruangan saya sekarang" kata Indra yang berjabatan manajer itu.
"Loe denger sendiri kan? Alora di panggil big bos, kira-kira mau bahas apa ya?" Ucap salah satu staf.
"Mau pacaran kali! Kan selingkuhan" sahut staf lainnya.
Setelah membawa Alora ke ruangannya, Indra keluar untuk mengurusi masalah pelanggan.
"Tuh kan? Pak Indra sampe keluar, berduaan dong di ruangan itu"
Ucapan para staf itu dihentikan Dita sebagai karyawan senior "kalian apaan sih? Bukannya kerja malah gosip, kerja sana!"
Di ruangan manajer,
Alora sudah duduk di balik meja di depan Herman.
"Ada apa bapak panggil saya?"
"Kamu baik-baik aja kan?" Tanya Herman.
"Iya"
"Syukurlah. Tapi saya menerima laporan kalau kamu terlalu banyak libur dalam bulan ini, jadi saya terpaksa harus ambil tindakan untuk men-skors kamu, agar adil seperti karyawan lain"
"Iya pak, saya memang banyak libur, tapi tidak bisakah saya tetap bekerja tapi potong saja gaji saya"
"Kamu nggak usah khawatirkan gaji, walau kamu diskors tapi saya tetap akan membayar gaji kamu full, anggap saja kamu bisa istirahat setelah semua masalah yang menimpa kamu"
"Tapi saya tidak bisa menerima gaji buta pak, sudah cukup bapak membayar uang sekolah saya, saya tidak bisa terus bergantung kepada orang lain, lebih baik izinkan saja saya bekerja dan potong gaji saya pak"
"Baiklah kalau itu keputusan kamu. Saya bangga sama kamu" Herman tersenyum layaknya seorang ayah yang bangga dengan tekad anaknya.
"Saya lihat kamu bisa dipercaya, saya punya penawaran"
"Penawaran apa pak?"
"Kamu berencana kuliah di mana? jurusan apa?"
"Saya tidak akan kuliah pak!"
"Apa? Nggak boleh, kamu harus kuliah! Saya berencana memberikan kamu beasiswa dan saat kamu lulus nanti kamu akan bekerja di perusahaan saya"
Alora masih tampak tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Beneran pak?" Matanya berkaca karena terharu.
"Iya, tapi kamu harus masuk jurusan manajemen atau akuntansi, saya juga berencana memasukkan Beni ke jurusan itu karna dia juga harus belajar agar bisa meneruskan perusahaan saya"
"Terimakasih banyak pak" cairan bening membendung menahan rasa harunya.
"Dengan begini saya jadi tenang memikirkan masa depan perusahaan dan anak-anak saya"
Herman meneguk kopi yang telah disediakan di meja itu.
"Tantangan buat kamu Alora, kamu harus buat Beni masuk kuliah juga di tempat yang sama dengan kamu"
"Sepertinya itu akan sulit pak, Beni sangat membenci saya, tapi saya akan coba"
"Kamu udah berhasil ubah dia kok, kamu nggak sadar?" Herman menggeleng kepalanya melihat Alora yang tidak peka itu.
Alora keluar bersamaan dengan Herman dari ruangan itu sembari mengobrol hingga mengantar Herman keluar Kafe.
Tentu saja pemandangan tersebut akan menambah bumbu sebagai pelengkap rumor palsu yang beredar.
Setelah Herman pergi, Beni tiba saja muncul dan menarik tangan Alora lalu membawanya ke belakang Kafe. Tentu saja Beni menarik tangan Alora secara kasar hingga menyisakan bekas merah di pergelangan gadis itu.
"Aaaaaah" desis Alora sembari mengelus pelan pergelangan tangannya.
"Sakit?" Tanya Beni sinis.
"Gak sakit kok! Kenapa?"
"Loe gila!"
"Baru tau? Oya satu lagi, tolong jangan daftar kuliah di tempat yang sama dengan gua, soalnya gua gak mau kuliah, loe kuliah yang bener bahagiain bokap loe"
"Heh loe ngomong apaan?"
"Soalnya gua nggak mau meneruskan ini lagi"
"Loe mau mati?" Beni menaikkan nadanya mendengar Alora melantur aneh.
"Iya!..."
.
.
.
tbc