My Secret Alora

My Secret Alora
The Truth


Andre saat ini benar-benar dipenuhi seribu pertanyaan dalam benaknya. Bagaimana tidak, dia tidak menyangka informasi yang ia butuhkan sangat dekat dengannya namun selalu tidak terlihat.


Ia duduk di samping Alora, namun pikirannya jauh di tempat lain. Sama halnya dengan Alora yang duduk di sisi Andre namun pikirannya masih mencoba memecahkan teka-teki mistic yang menghantuinya.


Kenapa ingin hidup bahagia sesulit itu?


Acara makan-makan kelas masih berlangsung, dimulai dari obrolan manis masa SMA hingga desas-desus ketidakadilan ditumpahkan dalam candaan yang akan menjadi kenangan itu. Sesi selanjutnya adalah bercerita tentang first impression satu sama lain berhubung wali kelas sudah keluar.


Di mulai dari ujung hingga ke ujung, hingga tibalah di giliran Alora.


"Lora! Giliran loe!" Ucap Bisma si ketua kelas.


Bola mata Alora serta keningnya ikut bertanya-tanya, ia tidak memperhatikan karena sibuk melamun.


"Ceritain first impression loe ke salah satu yang ada di sini!" Lia menjelaskan karena tahu betul Alora nggak fokus.


"Coba loe ceritain first impression ke pacar loe aja!" Pungkas salah satu siswi yang penasaran tentang hubungan mereka. Semua orang mengganggukkan.


"Gua kenal Andre pas... kapan ya?" Alora tampak berpikir keras karena benar-benar lupa.


"Duh.. Alora penyakitnya kambuh!" Cetos Lia lalu menempelkan telapak tangan di dahinya. Di sisi lain para penonton sudah sangat menantikan, begitu juga Andre yang penasaran akan jawaban Alora.


"Ooh gua ingat!" Menganggkat jari telunjuknya. "kalian tau sendiri kan? Gua jarang masuk kelas atau ketiduran di kelas!"


"Itu sih pasti!" Sahut Bisma lalu menggelengkan kepalanya.


"Nah, gua ketemu dia (Andre) pas Pekan olahraga Sekolah, dia tiba-tiba muncul jadi partner gua. First impression gua waktu itu dia anaknya susah diatur, egois dan nyebelin!" Akhirnya Alora menyelesaikan kalimatnya dengan wajah sangat menjiwai dan ia benar-benar terlihat kesal.


"Trus gimana ceritanya kalian jadian?" Sahut siswi lainnya.


"Itu saya serahkan ke orang selanjutnya (Andre)!" Sahut Alora lagi mencoba melepaskan diri.


"Giliran Loe Ndre! Coba first impression loe ke Lora!" Ucap Bisma yang ikutan penasaran.


"Cuek, ambisius, cantik!" Andre tampak santai menyelesaikan kalimatnya, namun hampir seluruh penghuni kelas itu membuka mulut karena terkejut mendengar kata terakhir.


Alora juga ikut tergerak lehernya menatap Andre, ia tidak percaya yang barusan ia dengar.


"Trus gimana cerita kalian jadian?" Sahut siswa lain penasaran.


"Itu rahasia! Kalian nggak perlu tau!"


"Memang benar, kita akan kelihatan cantik di mata orang yang tepat yaa!" Sahut Lia lalu tertawa bersama yang lainnya.


"Trus menurut loe Ra, Andre ganteng nggak?" Tanya siswi lainnya.


Alora kembali menoleh menatap Andre yang duduk di sisinya dan tentu saja tatap itu di balas Andre.


"Gua nggak perlu jawab kalian udah tau jawabannya!" Sahut Lora dengan nada datar lalu mengalihkan wajahnya.


"Iya sih! Bakalan aneh juga kalo Lora bilang Andre jelek, mengingat wajah sempurna itu! Ya kan guys!" Ucap Lia meyakinkan dan seakan terhipnotis tidak ada yang bisa membantahnya.


...


Hari sudah gelap, namun Andre baru pulang ke rumahnya sejak tadi jam pulang sekolah ia malah ke tempat lain untuk menenangkan dirinya. Ia masih mempersiapkan diri untuk mendengar pernyataan abangnya. Seolah ia merasakan ada sesuatu yang besar menghadang hingga ia harus menguatkan mentalnya.


Sebelum pulang, ia hanya berkeliling lalu tiba di sebuah taman bermain anak-anak dan duduk di sana. Tanpa sengaja ia menoleh dan menemukan Alora bersama anak-anak sedang bermain, sepertinya mereka adalah anak panti asuhan.


Andre hanya terus menatap senyuman manis itu, namun seakan ada rasa lain yang timbul. Ia seolah merasa sangat ingin melihat Alora tertawa seperti itu juga saat bersamanya.


...


Malamnya, motornya sudah terparkir di garasi penyimpanan di rumahnya. Ia hanya berjalan pelan penuh tekanan menuju pintu depan rumah. Membuka pintu perlahan karena tidak ingin menarik perhatian dengan kepulangannya.


"Alora itu anak broken home kan?" Tanya Jeni pada Andi yang sedang menikmati makan malam mereka di meja makan.


Mendengar nama Alora di sebut, Andre secara naluriah mendekat lalu bersembunyi di dekat dinding.


"Apaan sih mah? Kok tiba-tiba bahas itu?" Balas Andi yang merasa tidak nyaman mendengarnya.


"Yaa.. mama nggak mau aja dia pacaran sama Andre! Anak broken home itu kebanyakan berantakan hidupnya dan mental mereka nggak stabil, nanti dia manfaatin dan cuman porotin uangnya Andre aja!" Pungkas Jeni sesukanya.


"Mamah kok jahat banget ngomong gitu? Dia udah nyelamatin nyawa Andre loh!"


"Mamah yakin banget! Itu cuman rencana dia aja biar kita bisa pepet kita terus!" Jeni dengan sombong mengangkat dagunya dan menikmati makanannya.


Andi sangat kesal dengan kalimat ibunya itu, ia tidak tahan lagi dan berkata


"Maah! Penyebab hidup Alora berantakan itu karena mamah tau!"


"Apaan sih kamu kok tuduh mama? Nggak jelas deh kamu!"


"12 tahun lalu, gedung tempat perayaan ultah Andre terbakar, coba aja mamah nggak nekat buat acara itu di sana, dan rayain di rumah aja.. semua ini nggak akan terjadi!" Andi terbawa emosi namun masih menahan amarahnya.


"Apaan sih kamu? Apa hubungannya? Udah lama juga kejadian itu" Jeni masih teguh dengan pendiriannya.


"Papah udah ngelarang untuk buat acara hari itu mah! Dan saat acara berlangsung mamah tega ninggalin Andre sendirian! Ibunya Alora yang meninggal hari itu karena nyelamatin anak mama tapi terpaksa ninggalin anaknya sendiri, apa mama pernah cari tau atau merasa bersalah?"


Jeni seolah tertampar mendengar kebenaran itu. Namun ia masih tidak bisa percaya apa yang didengarnya.


"Apa?"


Di sisi lain, Andre yang sedang menguping ikut shock dengan segera menutup mulutnya yang otomatis terbuka agar tidak mengeluarkan suara. Ia juga masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Maah.. ini kebenarannya, mama harus sadar! Dan di hari yang sama juga Alora kehilangan ayahnya yang berusaha bawa ibunya ke rumah sakit karena kekurangan ambulan. Kecelakaan mobil sampai Alora kehilangan ingatannya juga!" Jelas Andi yang tampak berkaca.


Bola mata Jeni sudah berkaca menyadari kesalahannya.


"Dan saat sudah tau semuanya, Lora masih mau nolongin Andre lagi meskipun juga pasti mengiris luka lamanya! Dan ..." kata Andi terpotong saat Andre tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


"Kenapa loe sembunyiin semua ini dari gua bang?" Andre bertanya dalam nada tinggi.


"Andre? Loe sejak kapanĀ  ..."


"Kenapa loe sembunyiin masalah sebesar ini? Sekarang gua harus gimana sama Alora? Aarrghh!" Andre emosional lalu mengacak kasar rambutnya sambil berteriak.


.


.


.


tbc