My Secret Alora

My Secret Alora
Hangat


"Kurang aj*r, nguji kesabaran gua loe?" Pukulan lainnya yang hendak di layangkan di mana pipi kiri Andre kembali menjadi targetnya.


"Stop! Berhenti!" Teriak Alora lalu mendekati kedua remaja itu.


"Kalian apaan sih? Huh?" Bentak Alora yang terdengar jelas.


"Masih TK loe Ndre? Loe Ben? Paud?" Tanya Alora dengan wajah kesal, lalu menghela berat nafasnya.


Namun kedua pemuda itu bahkan tidak bergeming, Beni masih menghentikan pukulan lainnya yang ingin sekali ia tempelkan di wajah Andre. Tangannya masih di tempat yang sama, bola mata satu sama lain masih tidak mau kalah satu sama lain.


"Lepasin tangan loe!" Perintah Alora  yang entah bagaimana Beni akhirnya menurunkan kedua tangannya, namun masih dengan tatap singa mengamuk.


Di sisi lain Andre juga tidak mau kalah, masih menatap lawannya tanpa berkedip.


"Loe berdua ikut gua" perintah Alora lalu melangkah menuju tempat yang lebih sepi. Tentu saja layaknya terhipnotis kedua pemuda itu mengekor di belakang Alora.


"Uwaah wow" seru salah seorang penonton sembari mengacungkan jempolnya.


"Alora hebat!" Sahut siswi lainnya lalu menutup mulut dengan tangannya.


"Ternyata Alora pawang dari 2 cowo terganteng di sekolah kita!" Ucap temannya Gebi.


Gebi yang juga menyaksikan otomatis membuka lebar mulutnya.


"Sepertinya tugas loe buat deketin Andre akan panjang dan berat Geb".


...


Alora membawa kedua manusia tadi ke kelas mereka.


"Siapa yang mulai?" Alora memulai introgasi.


Beni menunjuk Andre.


"Kenapa Ndre?" Tanya Alora lagi.


Namun Andre hanya diam saja.


Beni memasang senyum sinis menertawakan Andre dalam batinnya yang tidak mengungkap alasan pertengkaran mereka seperti pengecut.


Alora hanya menatap kedua pemuda di sisi kanan dan kirinya bergantian.


"Guys, gua nggak butuh pertengkaran kalian, loe berdua boleh ngapain aja asal jangan jadikan gua sebagai alasan kalian saling tinju" ucap Alora.


"Ini hidup gua! Kenapa kalian yang repot berantem?"


"Tolong lah, kalo ada masalah itu dibicarain baik-baik bukan adu tenaga"


Usai mengatakan kalimat terakhirnya, Alora kembali menuju lapangan, namun di tengah jalan ia memutuskan kembali ke kelas karena khawatir.


Ternyata kedua insan itu masih di sana, berada di balik dinding kelas, Alora mendengar kata Andre


"Gua percaya sama Alora! Apapun yang terjadi"


"Kebanyakan drama loe!" Sahut Beni lalu meninggalkan kelas itu, Alora reflek sembunyi ke belakang pohon besar.


Setelah merasa aman, Alora keluar dari persembunyiannya menuju depan kelas dan mendapati Andre yang keluar dari kelas itu.


Cairan merah segar menghiasi wajah pemuda itu.


"Ayo ke UKS!" Alora meraih dan menggenggam tangan kanan Andre.


Pemuda yang digenggam tangannya itu terus memamerkan senyumnya karena senang. Sejak mereka pacaran, tidak ada yang namanya skinship, palingan hanya tersentuh tanpa sengaja. Tapi kali ini Alora sendiri yang berinisiatif.


Di UKS, Alora mengambil kotak P3K lalu meletakkan di meja sisi bangku Andre duduk.


Andre merasa senang, sepertinya ia akan menatap wajah Alora dari dekat jika gadis itu mengobati bagian wajahnya yang terluka.


"Loe tunggu bentar ya" ucap Alora lalu pergi sebentar.


"Ini dia dokter, tadi habis baku hantam dianya" ucap Alora, lalu sesosok wanita paruh baya berseragam dokter duduk di bangku depan Andre.


"Kamu nggak tau cara obatinnya?" Tanya dokter sembari membuka peralatan P3K.


"Enggak dok" sahut Alora polos. Namun gadis itu memperhatikan caranya dan berusaha mengingatnya agar lain kali ia bisa mengobati luka dirinya.


Setelah selesai, dokter langsung pergi dari tempat itu. Andre tampak kecewa karena kehilangan kesempatan untuk menatap wajah Alora dari dekat.


"Loe nggak apa kan? Sakit nggak?" Tanya Alora.


"Enggak sakit kok, loe tenang aja aman" jawab Andre.


"Sebentar" ucap Alora, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Andre untuk memperbaiki perban di pipi Andre yang hampir terlepas.


Deg deg.. Andre tidak bisa menghentikan goncangan jantungnya yang tiba-tiba itu.  Walau tatap sendu Alora masih sangat terasa.


"Harusnya gua tadi cari Alora buat hibur dia, bukannya malah dia yang mencoba berada di sini untuk menghibur gua, gua memang bod*h" batin Andre akhirnya tersadar.


...


Tidak lama setelah menonton di pinggir lapangan, tiba saja bola melaju ke arah Alora yang tidak fokus karena larut dalam pikirannya.


Alora merasakan tubuhnya terasa hangat, dengan sedikit guncangan. Saat tersadar ia menyadari bahwa Andre telah memeluknya, bola volley itu mengenai punggung Andre yang menyebabkan guncangan.


"Peluk Andre hangat dan nyaman" Alora membatin.


Pemuda itu melepas peluknya dan bertanya "loe nggak apa kan?"


"Iya, makasih ya" ucap Alora pelan.


"Ciiieee, sweet banget sih.." Ucap Lia yang menyaksikan kejadian tadi di depan matanya.


"Gua rasa genre thriller loe bakalan kalah loraa" Lia merangkul bahu Alora lalu berbisik "genre romance gua yang akan menang".


"Tolong sadar diri, tolong Liaa" kata Alora yang terdengar lesu.


***


Seperti biasa Andre mengantar Alora ke tempat kerja lalu pulang. Walau merasa khawatir, Andre juga punya urusan lain yang harus ia selesaikan.


Dan seperti yang kita ketahui rumor tentang Alora membuat hampir semua orang di Kafe itu menganggap remeh gadis itu.


"Hmm.. si selingkuhan nggak usah pura-pura kerja, mending duduk aja sambil goyang-goyang kaki" ucap si penggosip saat mendapati Alora yang sedang mencuci piring dapur.


Alora sudah terbiasa dengan sindiran, apalagi sindiran yang dituju tidak mencerminkan kebenaran.


"Lora, loe enak banget kerja nerima gaji buta, kita-kita yang capek kerja, loe kebanyakan libur, alasannya masalah keluarga" ucap gadis penggosip itu sambil memasang raut sinis.


"Dari mana loe tau gua nerima gaji buta, manajer aja belum umumkan keputusan nya" sahut Alora.


Gadis itu pergi setelah mengambil gelas-gelas yang ia butuhkan.


Setelah sif kerja berakhir, seluruh staf Kafe berkumpul atas perintah Indra sebagai manager untuk mengumumkan laporan kinerja pegawainya.


Setelah menjelaskan panjang lebar secara transparan pegawai yang akan menerima bonus atas kinerja mereka, Indra juga mengumumkan pegawai yang bermasalah.


"Untuk kasus Alora, gajinya akan dipotong sebanyak jam dia libur. Jadi sisa gaji yang dipotong itu akan dibagikan kepada staf yang menghandle tugas Alora, jadi semuanya clear kan?" Jelas Indra yang berdiri di depan para karyawan itu.


"Dan satu lagi, kalian digaji untuk bekerja bukan untuk bergosip. Kedua anak big bos ikut bekerja di sini jadi seharusnya kalian jaga mulut kalian" ucap Indra lalu meninggalkan para staf untuk masuk ke ruangannya.


Alora tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Merasa seakan mengalahkan para penggosip itu tanpa harus bertindak. Alora tertawa karena merasa lucu dengan hidupnya saat satu persatu staf mulai bersiap untuk pulang. Beberapa diantara mereka merasa bersalah dan meminta maaf karena menuduh Alora seperti itu.


Beni yang hanya memantau tiba saja bergumam "2 anak bos?" Lalu tersenyum sinis.


...


Pulang kerja Alora beruntung dijemput Andre yang alasannya


"Gua kebetulan lewat sini yaah sekalian aja, kita bisa pulang bareng"


Alora tersenyum, tatapan matanya terlihat lebih lega.


Sesampainya di rumah Alora, gadis itu turun dari motor.


"Makasih ya Ndre!" Ucap Alora.


"Yoi aman pokoknya!" Andre mengancungkan jempolnya.


"Gua boleh minta sesuatu nggak sama loe? Loe bisa turun dari motor bentar?" Tanya Alora dengan raut wajah datar itu.


"Iya bisa, ada apa?" pemuda itu mengangguk lalu turun dari motor.


"Gua boleh meluk loe nggak? Sekali aja!" Kata Alora dengan wajah datar yang terlihat sendu itu.


Andre syok mendengar permintaan Alora, namun mengganggukan kepalanya dengan jawaban "iya"


Gadis itu melangkah mendekat lalu memeluk pemuda itu. Pelukan hangat dan nyaman yang dibutuhkan Alora setelah beberapa hari berat yang dilaluinya, gadis itu menyandarkan kepalanya ke dada bidang Andre dengan kedua tangan melingkari pinggang pemuda tampan itu.


Di sisi lain Andre awalnya merasa canggung namun akhirnya ia ikut melingkarkan tangannya di punggung Alora.


"Beberapa hari ini hidup gua berat banget rasanya. Makasih banyak loe mau percaya sama gua!"


Memiliki orang-orang yang selalu mendukung dan percaya padaku akan selalu menjadi sumber kekuatan terbesarku.


.


.


.


tbc