
Andre menuju belakang gedung fakultas agar terhindar dari keramaian, diikuti Steve di belakangnya.
Sesampainya di sana,
"Apaan nih? Siapa loe? Berani banget perintahin gua buat ngikutin loe!" Steve yang memprovokasi kesabaran Andre yang hampir tidak ada.
Bhuk! Dubraaak!
Steve terjatuh ke lantai, akibat kesabaran Andre terkuras habis. Tinju demi tinju melayang ke wajah Steve yang juga melakukan jurus pembelaan. Wajah keduanya tampak memar dibalut emosi
"Kenapa? Kenapa loe buat Alora se-menderita itu?" Andre yang membentak karena amarahnya.
"Masalah Alora rupanya?" Steve menyeringai, posisi saat ini keduanya saling memegangi kerah satu sama lain.
"Gua minta maaf!" Kalimat Steve keluar begitu saja dengan nada santai dan tidak terlihat tulus.
"Apa?" Andre terdengar kesal.
"Gua masih suka sama mantan gua Alora! Tapi gua tau dia nggak akan balik ke gua, makanya gua buat dia berutang sama gua supaya gua bisa narik dia lagi, tapi sayang tuh cewe lebih milih loe!" Jelas Steve.
"Apa?"
"Loe tenang aja! Gua nggak akan rebut cewe loe! Harusnya loe hati-hati sama si Psyco! Peluang dia lebih besar!" Steve menambahkan.
Tiba saja hp Andre berdering yang membuat kedua insan itu daling melepas genggaman kerah masing-masing.
"Gua bakal maafin loe buat yang ini! Kalo loe mau denger cerita tentang cewe loe hubungin gua! Gua punya sejuta cerita tentang mantan terindah gua!" Ucap Steve dengan nada memprovokasi lalu pergi dari sana.
Andre mencoba menenangkan diri lalu mengangkat telpon.
"Iya sayang!" pemuda itu bahkan mengubah suaranya menjadi sangat lembut.
"Sayang kamu di mana aku cariin kok nggak ada? Aku nunggu di kantin ya! Kamu cepetan ke sini!" Terdengar suara Alora di balik hp itu.
"Okey!" Sahut Andre lalu menuju toilet untuk membasuh wajahnya.
Menatap cermin yang menampakkan penampilannya, ia menyadari ada memar di area bibir dan pipinya. Selain itu ada luka kecil di bagian bawah bibirnya di mana cairan merah itu terus mengalir. Andre tampak berpikir, ia tidak mungkin menemui Alora dengan wajah seperti itu. Pacarnya akan khawatir dan akan menanyakan apa yang terjadi.
Andre kembali menelpon Alora untuk membatalkan pertemuan mereka. Di lihat bagaimanapun siapapun yang melihat Andre akan khawatir dengan apa yang terjadi.
Namun siapa sangka, begitu Andre keluar dari toilet, ia dikejutkan dengan seorang gadis yang langsung memeluknya. Setelah beberapa detik Gadis itu melepas peluknya lalu berkata sambil menyentuh wajah pemuda itu.
"Ndre, muka loe..." Alora yang terpaku pada wajah pacarnya itu, ia juga menghapus pelan noda darah yang mulai keluar dari bibir Andre dengan ibu jarinya menelusuri bibir pemuda itu untuk menyeka darah itu lalu mengambil tisu di tasnya untuk agar noda merah itu lebih bersih.
Tentu saja, akibat paksaan Alora keduanya berakhir di UKS. Tentu saja Alora mengobati luka pacarnya itu. Andre hanya diam saja sambil terus melirik Alora yang mengoles betadine di lukanya tanpa berkedip.
Begitupun Alora yang hanya fokus pada apa yang ia kerjakan. Selain itu, Alora sedang memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Andre. Namun, ia tidak bertanya, gadis itu menunggu Andre menceritakan padanya.
Gadis itu tiba saja tersadar, ia menatap bibir yang merah itu dengan fokus lalu menatap wajah Andre yang sendu melirik dirinya. Tiba saja Alora memalingkan wajahnya, karena jantungnya yang berdetak sangat kencang secara tiba-tiba.
"Loe kenapa?" Tanya Andre sembari memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Alora yang agak merona.
"Gu..gua khawatirlah! Lain kali jangan sampe babak belur gini lagi! Kalo mau berantem panggil gua biar gua aja yang babak belur!" Ucap Alora tanpa berpikir, namun masih menyembunyikan wajahnya dengan menundukkan kepalanya
"Jangan dong! Gua nggak mau loe terluka!" Andre menyeka rambut Alora yang menutupi wajahnya ke belakang telinganya. Lalu berusaha membuat Alora kembali menatapnya.
"Loe babak belur gini aja ganteng banget banget sih? Gua nggak lagi mimpi kan pacar gua seganteng ini?" Alora akhirnya kembali menatap wajah Andre.
Andre menaikkan ujung bibirnya tersenyum saat mendengar kalimat random Alora.
"Udah nggak usah senyum!" Wajah Alora kembali serius. "Gini aja udah ganteng!"
Kalimat pujian dari Alora tentu kembali membuat Andre tersenyum walau kembali mendesis karena sakit.
"Dibilang jangan senyum! Biar aku aja yang senyum!" Kalimat lainnya Alora yang berhasil membuahkan gelora tawa di antara mereka.
...
Epilog: (Jawaban Eps:100)
Beni melirik Alora sebentar sembari menyetirkan mobil itu, ternyata Alora memerhatikan dirinya walau tidak pernah mengungkapkannya. Alora bukannya tidak peka, gadis itu hanya tidak ingin peduli.
"Gua tau loe kesepian! Anak-anak yang terluka hatinya akan selalu kesepian walaupun sedang berada di keramaian!" Ucap Alora.
"Trus kenapa loe ajak gua buat ketemu sama Steve di hari ultahnya dia lagi! Kenapa bukan pacar loe?" Tanya Beni lagi.
"Itu..." kalimat Alora terhenti lalu sedikit merenung.
"Aku tidak ingin Andre tau aku semenyedihkan ini! Aku takut dia bakalan ninggalin aku!" Batin Alora meringis.
"Gua butuh loe, karena loe kan si Psyco! Loe cocok jadi pengawal gua!" Sahut Alora dengan jawaban yang berbeda dari hatinya.
"Kalo gitu loe harus bayar gua! Tumpangan, biaya driver, biaya bodyguard, mana bayaran gua?" Sahut Beni.
"Loe yakin minta bayaran sama cewe miskin kek gua? Jahat banget sih! Harusnya gua ajak pacar gua aja tadi!"
"Nah! Itu masalah loe! Plin plan aja seumur hidup!"
"Turunin gua!" Alora mode ngambek.
"Apaan sih loe? Jadi kekanak-kanakan gitu!" Beni yang juga dipancing emosinya.
"Turunin aja di pinggir jalan itu! Gua pengen jalan kaki!"
Akhirnya Beni menuruti, menurunkan Alora di pinggir jalan dekat taman yang hampir sampai ke lingkungan rumah mereka.
"Loe yakin? Mau jalan kaki?" Tanya Beni memastikan.
"Iya! Loe pergi sana!" Sahut Alora.
"Dasar cewe! Udah dibantuin ngelunjak! Alora kenapa sih semakin ke sini makin aneh!" Gumam Beni yang membalap mobilnya meninggalkan Alora di jalan itu.
Langkah demi langkah sembari larut dalam pikirannya. Gadis itu bahkan tidak menyadari sebuah mobil yang berjalan perlahan mengikuti dirinya di jalan yang agak sepi itu. Andre yang mengawasi Alora dari belakang karena sedari tadi mengikutinya.
Setelah menapaki beberapa meter, tiba saja langkah Alora berhenti. Begitupun Andre yang mengerem mobilnya agar tidak ketahuan. Tampaknya gadis itu benar-bebar dalam pemikiran yang dalam.
"Apa gua mati aja!" Tiba saja teriakan Alora yang sampai ke lobang telinga Andre.
Pemuda itu sangat terguncang mendengar kalimat yang keluar dari mulut pacarnya itu.
.
.
.
Tbc