My Secret Alora

My Secret Alora
Nungguin kamu


Lingkungan kampus yang terlihat ramai oleh mahasiswa yang berkeliaran layaknya semut jika dilihat dari langit. Cuaca panas seperti biasa membuat beberapa di antara mereka mengeluhkan tugas sang surya, namun tak heran manusia selalu tidak bisa puas dan menerima apa yang mereka miliki.


Di sana, Andre sedang menunggu gadis yang ia sebut pacarnya di bangku depan jurusan. Tak heran gadis manapun yang lewat sana tidak akan melewatkan kesempatan untuk melirik pemuda yang dianugerahi ketampanan bak aktor korea itu, lalu mereka berbisik pada teman-temannya sembari senyum malu-malu. Dan Andre yang sudah sangat terbiasa dengan perlakuan itu hanya fokus pada layar hpnya dengan wajah datar. Padahal pemuda itu berusaha tidak menonjol dengan menggunakan topi hitam kali ini, namun pesona terlihat dari sudut manapun menatapnya.


"Loe di sini?" Suara yang terdengar familiar itu mengalihkan perhatian Andre. Pemuda itu mendongak lalu tersenyum hingga lesung mini di pipinya ikut terlihat.


"Iya sayang!" Sahut Andre lalu bangkit dari kursi itu.


"Tapi gua udah bilang, gua ada tugas kelompok hari ini bareng mereka! (Key dan Beni)" sahut Alora lagi, lalu ia meraih tangan pacarnya untuk di genggamnya.


"Loe pulang duluan aja, nggak perlu nungguin gua! Nggak apa!" Sambung Alora sambil menatap Andre.


"Alah drama banget!" Ketus Beni lalu melangkah pergi setelah melontarkan kalimat sinisnya.


"Gua duluan dulu ya! Gua tunggu di perpus!" Key juga ikut melangkah pergi menyusuri Beni. Alora hanya membalas dengan anggukan.


"Kok temen kelompok loe mereka-mereka aja! Nggak ada orang lain di kelas loe Yang?" Tanya Andre melirik dua insan tadi sebentar lalu kembali menatap gadisnya.


"Dosen kami nggak suka bagiin kelompok, jadi kelompoknya bentuk sendiri, dan di kelas gua, gua cuman nyaman sama mereka, yang lainnya pada ambisius banget soal nilai, jadi nggak se-frekuensi gitu!" Jelas Alora.


"Ooh gitu? Gua jadi cemburu kalo loe bareng Beni terus!" Andre memasang wajah cemberut namun hanya pura-pura. Gadis di depannya itu tersenyum.


"Udah loe pulang sana! Kita jalannya lain kali aja yaa! Gua ke sana dulu! Nanti mereka ngambek pula sama gua!" Ucap Alora lalu melangkah.


"Sayang tunggu!" Panggil Andre.


"Apa lagi?" Alora membalikkan tubuhnya kembali.


"Saranghae! Love you! Woo Aini! Aishiteru! ..." ucap Andre sembari tersenyum kalem.


Alora bergegas mendekati pacarnya itu lalu menutup mulut Andre denga  telapak tangannya.


"Jangan malu-maluin deh di depan umum!" Ucap Alora lalu melirik ke segala penjuru karena  malu dengan tingkah lebay pacarnya, lalu gadis itu tersenyum. Kali ini Alora malah mendekatkan bibirnya ke arah pipi kanan Andre.


"Love you too!" Bisik Alora di telinga Andre lalu gadis itu berlari kecil menjauh, "Bye sayang!"


Andre tersenyum dengan telinga yang memerah.


...


Di sisi lain, setelah masuk ke perpustakaan, ketiga insan tadi sibuk menyusuri rak buku untuk mencari buku yang bisa mereka jadikan referensi untuk makalah sesuai dengan judul tugas mereka. Setelah setumpuk buku terkumpul, perlahan mereka mempelajari materi dan mendiskusikan materi yang dijadikan topik tugas itu. Tampak kompak dengan tugas masing-masing, di mana Alora mengetik di laptop, Beni mendikte dan Key yang mencari materi yang cocok.


Di sisi lain, Beni selalu mengambil kesempatan kapan pun ia bisa untuk menatap gadis yang ia sukai secara leluasa. Setelah membaca beberapa kata, bukannya memeriksa ejaan yang di ketik, Beni malah fokus ke wajah Alora, begitupun seterusnya. Walau begitu pemuda itu mampu mengendalikan pikirannya bahwa gadis itu bukan miliknya.


"Guys lebih mudah copas dari website gak sih?" Key akhirnya angkat suara.


"Iya loe bener!" Sahut Alora.


"Tapi gua lebih suka gini!" Suara berat itu ikut berkomentar, toh kerjanya hanya mendikte saja dengan sedikit modus.


Kedua pasang sorot sinis lainnya mengarah pada pemuda itu karena kesal.


"Kalo gitu kita campur aja, sebagian dari buku, yang lainnya google kan aja!" Saran beni dengan nada malas.


"Boleh jugak gitu! Al! Langsung gas!" Ucap Key bersemangat.


"Ah mungkin gua terlalu berlebihan overthinkingnya, Beni kan kadang-kadang juga manggil gua Al!" Batin Alora sembari melanjutkan apa yang ia kerjakan.


Walau belum sepenuhnya selesai, ketiga insan itu sudah kelaparan dan memutuskan untuk pulang.


"Eh kita lanjutin besok aja ya! Capek banget laper lagi!" Ucap key sembari membereskan barang miliknya.


"Okey!" Sahut Alora yang juga membereskan barang miliknya.


...


Suasana luar yang terasa lebih adem dengan angin sepoi-sepoi yang bertiup dari satu pohon ke pohon lainnya. Seseorang sedang tertidur di meja batu bawah pohon dekat perpustakaan. Namun pemuda itu menutupi wajahnya di balik lipatan tangannya itu.


Di lihat bagaimanapun, Alora langsung tau itu Andre yang masih dengan setelan yang sama dengan yang tadi. Gadis itu mendekati pemuda yang tertidur itu lalu menyentuh pelan bahu Andre untuk membangunkannya. Tentu saja, sedikit sentuhan saja membuat Andre yang tidak bisa tidur nyenyak itu langsung terbangun.


"Sayang! Kok loe belum pulang sih?" Tanya Alora saat pemuda itu mengangkat kepalanya dan topi hitam itu terjatuh dari kepalanya.


"Gua pengen nungguin kamu aja! Kenapa loe nggak pernah bilang kalo loe juga sering banget nungguin gua kayak gua nunggu loe gini? Kemarin juga kan? Kok loe nggak bilang, maunya kan biar gua antar loe pulang dulu!" Andre yang sudah begitu panjang menyusun kalimat padahal baru bangun.


"Gua nggak pengen ngerepotin loe! Lagian gua..." kalimat Alora di potong Beni yang datang langsung duduk di depan mereka.


"Lagian Alora kan bisa pulang bareng gua! Gua bisa anterin Alora ke mana pun di mau pergi!" Beni dengan santainya lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Alora dan melanjutkan kalimatnya.


"Kemaren untung ada gua yang anterin Alora, ya nggak?"


Raut wajah Andre sedikit berubah, ia juga menunggu jawaban gadis itu, Alora tampak sedikit berpikir lalu menjawab setelah melirik Beni sebentar,


"Iya! Yaudah pulang yuk!"


"Kita jalan dulu aja! Loe belum makan juga kan! Yuk kita beli makanan kesukaan loe!" Andre bangkit dari duduknya lalu menggenggam tangan Alora yang juga ikut berdiri lalu pergi.


"Key gua duluan ya!" Ucap Alora lalu melambai ke arah Key yang sedari tadi menyaksikan drama itu.


"Iya! Take care!" Sahut Key lalu gadis ini mendekati Beni.


"Loe nggak ada niatan kasih tumpangan ke gua gitu? Yah gua nggak minta anterin sih, rumah kita searah nanti gua turun di halte bis aja, gimana?" Key tampak penuh harap.


Beni yang diam saja lalu bangkit dari beton itu.


"Pulang sendiri sana!" Ketus Beni lalu pemuda itu pergi.


"Loe temen gua loh! Pelit banget!" Teriak Key, namun hanya sia-sia di bawa oleh angin lalu.


"Tuh cewe (Alora) beruntung banget sih? Pakek pelet apa dia?" Gumam Key lalu berjalan menuju kantin.


.


.


.


Tbc