
"Al loe baik-baik aja kan?" Tanya Lia begitu menutup pintu mobil yang ia naiki.
"Its okey! Kenapa nanya gitu?" Sahut Alora yang duduk di sisi pengemudi.
"Gua khawatir aja, loe kesulitan bersosialisasi kayak dulu.." Lia mendekatkan tubuhnya ke arah Alora yang duduk di depannya.
"Nggak usah khawatir, gua ikutin saran loe kok, gua senyumin semua orang yang gua temuin, sampe bibir gua pegel!"
"Nggak gitu loh konsepnya! Ngapain senyumin semua orang, beberapa orang aja yang sekelas sama loe, yang kira-kira baik dan nggak manfaatin loe!" Lia kembali cerewet seperti biasanya.
"Ada apa sih? Kok segitunya? Alora kan jago sosialisasi! Dia pernah kerja sebagai custumer service padahal!" Akhirnya si supir ikut biacara. Andre yang membawa kedua penumpangnya dengan mobil barunya di hari pertama ke kampus.
"Itu beda dong! Yang gua maksud adalah make a friend. Gua khawatir Lora akan sendirian di kelasnya.."
"Pak, ini dua kasus yang berbeda, bapak fokus nyetir aja udah!" Pungkas Lia lalu kembali menatap Alora.
"Pak? bapak? Gua masih 18 tahun! Dua bulan lagi baru 19 tahun, style gua juga nggak mirip bapak-bapak! Gua tersinggung!" Andre juga tertular penyakit cerewet Lia.
"Apaan sih loe? Lebay banget!" Lia mengaitkan alisnya dengan bibir mengerucut.
"Chagiya! (sayang) Bestie kamu bisa nggak kita turunin di tengah jalan aja? Dia berisik banget ngatain aku lebay lagi!" Andre memelas pada Alora hingga gadis itu tersenyum gemas.
"Apaan sih? Makin lebay deh!" Lia terus menyaut.
"Tuh kan lihat! Dia ngatain aku lagi!"
Entah bagaimana perdebatan itu terus berlanjut.
"Udah-udah! Kalian bukan anak TK ih!" Alora mencoba meredam, lalu melanjutkan kalimatnya
"Loe tau sendiri Lia bestie terbaik dan satu-satunya yang gua punya, kita nggak bisa dong ninggalin dia, kalo Lia turun gua juga bakalan ikutan turun!" Kata Alora yang membuat Lia terharu dengan bola mata berkaca.
"Ini yang paling gua suka dari pacar gua! Kesetiaan nomor satu!" Sahut Andre lalu tersenyum lalu melirik gadis di sampingnya sebentar sambil menyetirkan mobilnya.
...
Malamnya, Lia tampak membawa rantang makanan menuju rumah Alora. Walau rumah Alora hanya berjarak 8 menit jalan kaki, namun Lia menyadari ada yang mengikutinya dari belakang. Begitu dia keluar dari rumahnya, tak lama ia merasa diikuti.
Seseorang yang berpakain serba hitam dengan masker dan topi yang hitam pula, Lia dapat merasakan aura seseorang muncul dari kegelapan. Gadis itu mempercepat langkah kakinya. Keringatnya keluar begitu saja saat ia merasa ketakutan. Ia tidak bisa kembali dan hanya bisa terus berjalan saat cairan bening menetes begitu saja.
Lia berjalan tidak fokus, ia bahkan tidak bisa menemukan siapapun yang bisa diminta pertolongannya.
"Duh! Siapa sih? Gua takut!" Lia merengek dalam batinnya.
Langkahnya semakin cepat, begitupun orang yang mengikutinya. Lia sangat penasaran akhirnya ia menoleh dengan gerak kaki melangkah cepat. Sosok mengerikan itu semakin mendekatinya. Tiba saja "dduk!" Entah bagaimana gadis itu terdampar di pelukan seorang pria.
Gadis itu merintih ketakutan dan menangis.
"Tolong jangan apa-apakan saya!" Teriak Lia sambil menangis.
"Mbak tenang ya! Saya bukan penjahat kok!" Terdengar suara pria dengan deep voice.
Orang yang tadinya mengikuti Lia berbalik arah saat melihat ada orang lain bersama gadis itu. Gadis itu mendongak menatap orang itu tanpa melepas cengkraman baju pemuda itu.
"Kak Andi? Huhu.. Lia takut banget!" Akhirnya Lia melingkarkan tangannya di tubuh pemuda itu sambil menangis.
Andi membalas peluk itu sesaat usai terkejut, ia menepuk pelan punggung gadis itu agar ia tenang.
"Tenang ya! Ada gua di sini!" Hibur Andi.
"Loe mau ke mana malam-malam begini?" Tanya Andi seusai Lia melepas peluk itu.
"Lia mau nganterin makanan buat Lora, tapi orang itu tiba-tiba ngikutin Lia huhu.." Lia mencoba menjelaskan namun tidak mampu menahan tangisannya.
Andi melirik seorang pria serba hitam itu sudah berbalik arah dan menjauh.
"Yaudah gua anterin ya!" Ucap Andi lalu merangkul Lia sambil berjalan menuju rumah Alora.
Sesampainya rumah Alora, Lia langsung memeluk sahabatnya itu.
"Ada apa? Eh ada kak Andi?" Tanya Alora dengan Lia masih di peluknya.
"Ada yang ngikutin dia tadi, kayaknya ada niat tersembunyi gitu" jelas Andi.
"Kalo gitu ayo masuk dulu!"
...
"Apa daerah kita ini udah nggak aman ya? Dulu gua pulang malam oke-oke aja!" Tanya Alora.
"Kayaknya sih, nanti aku hubungin pak lurah supaya keamanan daerah kita di perketat, kalian nggak usah khawatir ya!" Ucap Andi.
"Makasih ya kak! Lia nggak tau apa yang akan terjadi kalo nggak ada kak Andi" Lia tampak sudah baik-baik saja.
"Oya kamu mau pulang habis ini?" Tanya Andi.
"Tadinya gitu sih! Tapi Lia masih takut, tapi kalau nginap di sini besoknya Lia takut nggak keburu pulang ke rumah siap-siap karena ada jam mata kuliah pagi besok! Gimana ya?" Lia tampak merenung.
"Udah! Loe nggak usah khawatir, gua bakalan anterin loe!" Sahut Alora.
"Trus loe balik lagi gimana? Sendirian?"
"Gua kan bisa tidur di rumah loe!"
"Tapi loe juga ada kelas pagi besok kan?"
"Nggak apa! Kalo nggak keburu gua bisa bolos aja besok! Gampang kan?" Alora sangat mendalami perannya, padahal ia hanya tidak ingin pergi kuliah.
"Jangan gitu dong! Masa baru masuk udah bolos aja?" Andi ikut berpendapat. "Gini aja! Lia biar gua yang antar! Gua juga mau ke mini market dekat sini jadi bisa sekalian"
Alora menatap Lia menunggu jawaban, namun Lia hanya mengangguk. Bagaimana pun bersama pria jauh lebih aman dari pada dua orang gadis berkeliaran malam-malam.
...
Seperti katanya, Andi mengantar Lia pulang. Perjalanan terasa sunyi hanya terdengar suara binatang malam menyinsing beserta langkah kaki yang terdengar kompak itu.
Diam-diam Lia melirik wajah tampan Andi, ia menyadari pemuda di sisinya itu sangat peduli terhadap orang lain. Dilihat bagaimanapun kepribadiannya berbeda dari Andre. Andi terlihat lebih tegas dan terpercaya.
Sesampainya di rumah Lia,
"Makasih kak Andi untuk kebaikannya malam ini!" Ucap Lia.
Andi hanya membalas dengan anggukan lalu menaikkan kedua ujung bibirnya tersenyum.
"Kak Andi nggak mau masuk dulu?" Tanya Lia lagi yang seakan tidak ingin berpisah.
"Lain kali aja ya! Aku harus pulang juga ada kerjaan yang nunggu di kerjakan!" Sahut Andi lalu pergi.
Lia juga masuk ke dalam rumahnya, begitu menutup pintu, Lia berteriak dengan sumbringah.
"Omgggggg.. gua dianterin kak Andi demi apa? Aaaa.. gua seneng banget!" Gadis itu melompat-lompat kegirangan.
"Eh tapi... aaah gua bodoh banget! Nyia-nyiain kesempatan besar buat ngobrol sama kak Andi! Huhu.."
"Harusnya gua nyari topik apa gitu! Tapi.. kenapa otak gua nge-blank di dekat kak Andi? Aaa.. phabo! Phabo!"
Mamanya Lia muncul dari kamarnya setelah mendengar anaknya berisik di luar.
"Lia kamu kenapa? Kok teriak gitu malam-malam? Tidur sana!" Wanita paruh baya itu merangkul bahu anaknya.
"Sayang besok lanjutin lagi teriaknya, sekarang kita tidur dulu ya!"
"Oiya mah! Tadi Lua takut banget..." Lia menceritakan apa yang terjadi hingga detailnya.
...
Di sisi lain, Andi kembali menoleh ke arah rumah Lia saat gadis itu telah masuk dan menutup pintu.
"Dia imut banget sih?" Ucap Andi lalu tersenyum.
.
.
.
Tbc