My Secret Alora

My Secret Alora
Satu Pilihan


Ketiga remaja yang sedang duduk di kursi tunggu rumah sakit. Alora terlihat sangat cemas sembari menggigit kuku ibu jari kedua tangannya. Andre dan Beni hanya terus menatap Alora dengan kecemasan yang berlebihan itu.


"Loe tenang aja, Lia pasti akan baik-baik aja!" Hibur Andre lalu menepuk punggung Alora. Namun pemuda di sisi lain gadis itu melirik tajam seolah tidak suka melihat Andre menyentuh Alora.


Dokter akhirnya keluar lalu menjelaskan kondisi Lia sebenarnya hanya kelelahan dan stres akibat banyak pikiran. Bagaimana tidak, Lia juga tipikal yang menyimpan sendiri semua masalahnya yang dipendam sendirian di tambah seorang sahabat yang juga butuh perhatian, dia tidak mungkin menambah beban Alora.


Alora dan dua pemuda itu sudah berada di ruang Lia. Gadis bergelar bestie itu duduk di bangku sisi ranjang Lia sembari mengusap rambut Lia. Cairan bening mengalir begitu saja saat ia berkedip, Alora sepertinya merasa bersalah karena selalu merepotkan Lia. Sesegera mungkin  mengusapnya agar tidak ada yang menyadari dia menangis.


Namun takdir tidak bisa berbohong, kedua pemuda itu telah melihat deraian air mata yang mengalir itu.


Tak lama, orang tua Lia datang dan langsung mendekati gadis itu.


"Lora, Lia kok bisa pingsan?" Tanya ibunya Lia.


"Kata dokter Lia kecapean tan. Dia butuh istirahat total, dan harus banyak makan makanan bergizi" sahut Alora setelah segera menyapu cairan di ujung matanya.


"Ini gimana kalian bawa dia ke rumah sakit?" Tanya Ayahnya Lia.


"Itu Beni om, tadi kebetulan Beni lewat dan bantuin bawa Lia ke rumah sakit pakek mobilnya dia" jelas Alora.


"Makasih banyak ya nak Beni" ucap Ayah Alora tampak bersyukur.


"Lora pulanglah yaa! Ganti baju dan jangan lupa makan, nanti kalo tante pulang sebentar tante akan ajak kamu ke sini lagi" ucap wanita paruh baya itu.


"Alora masih pengen nemenin Lia tante!" Raut sedih itu tidak bisa disembunyikan.


"Nggak apa! Kamu juga harus istirahat, kamu pasti capek, coba lihat gips di kaki kamu! Ingat! Kakimu masih sakit jadi nggak boleh banyak gerak dulu! Pulang yaa" wanita hangat bergelar ibu itu sangat lembut pada Alora.


Alora akhirnya bangkit dari kursi itu lalu memeluk Wanita paruh baya itu.


"Begitu Lia sadar kabarin Lora ya tan!" Ucap Alora lalu melepas pelukan itu.


...


Di depan rumah sakit, tampak Andre dan Alora menunggu Beni yang mengambil mobil di tempat parkir. Begitu mobil Beni terhenti di depan mereka, Andre langsung membuka pintu belakang mobil untuk Alora lalu membantunya masuk. Namun ketika Andre juga ingin ikut duduk di bangku belakang, Beni angkat suara.


"Woi! Gua bukan supir loe! Naik di depan atau pulang sendiri?"


"Iya iya bawel!" Andre hanya menurut karena malas membuat keributan.


Sebenarnya Beni tidak ingin Andre duduk di dekat Alora.


"Eh tapi.. sejak kapan kalian akur?" Pertanyaan Alora membuat suasana mobil mencekam, keduanya diam lalu secara tidak sengaja menjawab bersamaan.


"Kita nggak akur!"


Alora menoreh senyum di bibirnya "sejak kapan pula ada kata 'kita' di antara kalian?" Tanya Alora lagi.


"Sejak gua kenal sama loe (Alora)!" Sahut Beni yang membuat kedua insan di mobil yang sama itu tercengang.


"Di hidup gua nggak pernah ada kata 'kita' tapi sejak loe muncul, lalu loe ubah ritme hidup gua, loe harus tanggung jawab (Alora)!" Kata Beni sembari menyetir itu.


"Salah gua di mana?" Tanya Alora.


Namun Beni hanya diam saja.


"Hubungan kalian apa?" Pertanyaan yang tiba saja keluar dari balik bibir Andre.


"Kenapa? Loe takut dia berpaling dari loe?" Sahut Beni segera setelah pertanyaan itu.


"Hubungan kemanusiaan! Keterikatan karena rasa iba dan balas budi!" Jawaban Alora membuat kedua pemuda lainnya terdiam.


***


Pagi menyambut lagi seperti biasa, gemerincing burung bernyanyi membangunkan gadis itu dari mimpi buruknya. Ia membuka mata dan manik itu langsung membendung cairan bening yang muncul begitu saja.


Setelah bersiap-siap layaknya seorang yang hidup dengan rajin, gadis itu lalu keluar dari pagar rumahnya sembari tertatih menggunakan tongkatnya menuju halte bis.


Di tengah jalan, Andi menghentikan mobilnya saat melihat gadis dengan tongkat itu memaksa berjalan.


"Lora! Ayo naik!" Ucal Andi.


Awalanya gadis itu ingin menolak tumpangan itu, tapi ia tiba-tiba teringat orang-orang yang menyayanginya seperti kata Andi hari itu.


"Kenapa kamu langsung jalan? Kan bisa tungguin aku di depan rumah kamu! Lagian rumah kita nggak seberapa jauh" ucap Andi setelah membantu Alora naik ke mobil.


Alora sangat penasaran dengan arti mimpinya. Sebuah mimpi yang terasa nyata namun sulit untuk dihadapi. Setelah banyak berpikir, ia memutuskan untuk menerima apapun yang terjadi.


"Kak Andi!..." kata Alora terhenti lagi.


"Ada apa?" Tanya Andi yang fokus menyetirkan mobilnya.


"Kapan kak Andi punya waktu? Alora udah siap untuk mendengarkan kisah itu"


"Kisah yang mana?" Andi tidak paham yang dimaksudkan gadis itu.


"Kisah dari ingatanku yang hilang!" Kata Alora yang membuat Andi sedikit shock hingga menoleh ke arah gadis itu.


"Kamu yakin?"


"Aku tau ayahku meninggal karena kecelakaan mobil saat berusaha membawaku ke rumah sakit dan aku juga ada dalam mobil itu, mungkin itu yang membuat ingatan ku hilang" kata Alora yang membuat Andi benar-benar tercengang.


"Kamu udah ingat semuanya?" Tanya Andi yang tampak tidak percaya.


"Aku cuman ingat kecelakaan itu, saat mobil kak Andi melaju kencang hari itu, perasaan dan ingatan itu tiba saja muncul hingga aku tersadar aku sudah terbaring di rumah sakit" ucap Alora yang berusaha melawan traumanya.


"Tapi.. bagaimana dengan ibuku? Aku masih belum mengingatnya" sambung Alora.


"Aku akan menceritakan semuanya, tapi tidak hari ini.. aku akan ceritakan semuanya di hari libur ya" ucap Andi yang ingin mengulur waktu.


Alora mengangguk lalu menatap sisi jendela. "Andai aku bisa merasa lebih baik setelah mengingat semuanya" batinnya.


...


Sesampai di sekolah, Alora melihat Andre yang berjalan berdampingan dengan Gebi dari arah tempat parkir. Entah bagaimana pemandangan itu menggelitik perasaan yang terpendam itu.


"Sayang! Aku di sini!" Teriak Alora sehingga tidak hanya Andre, namun beberapa siswa lain juga melihat ke arahnya.


Andre langsung menghampiri Alora, namun masih tetap diikuti benalu pantang menyerah bernama Gebi itu.


"Sayang, rangkul aku dong! Biar aku nggak jatuh atau kepleset" pancing Alora dan Andre langsung menuruti keinginan gadis itu.


Seperti biasa, orang ketiga itu merasa kesal melihat pemandangan di depannya.


"Sayang kamu mau aku gendong aja?" Pancing Andre yang gemas melihat tingkah Alora hari ini.


"Jangan sayang, nanti apa kata orang!" Sahut Alora yang tersenyum kecil. Andre juga ikut tersenyum. Andre memengangi Alora dengan kedua tangannya agar gadis itu aman.


...


Karena Lia masih di rumah sakit, Alora duduk sendirian di bangkunya, namun Andre paham betul gadis itu merasa kesepian.


"Sepi ya?" Tanya Andre yang baru saja tiba dan duduk di bangku milik Lia. Alora hanya membalas dengan anggukan dengan raut sedih.


"Gitu juga yang dirasain Lia saat loe nggak ada!"


"Dia panik dan cari loe ke mana-mana saat loe hilang. Dia duduk merenung sendirian saat loe di rumah sakit, segitunya dia sayang sama loe!" Sambung Andre lalu melanjutkan katanya.


"Dan yang paling penting dia juga pengen loe punya masa depan cerah dan bebas menikmati hidup loe!"


"Tapi gua malah ingin mengakhiri hidup gua? Menyia-nyiakan seseorang yang begitu berharga bagi gua!" Sahut Alora.


"Selama ini gua nggak menyadarinya karna dia selalu ada, tapi gua baru sadar rasanya.. kehilangan seseorang yang berharga"


"Kehilangan memang sudah bukan apa-apa dalam hidup gua, saking seringnya orang-orang ninggalin gua gitu aja! Tapi.. dia yang satu-satunya yang selalu menyambut saat gua datang dan nggak pernah pergi" Alora mengakhiri kalimatnya.


"Kalo loe memang se-menyesal itu! Ayo kuliah bareng kita! Kita semua bisa terus melanjutkan kisah kita dan saling melengkapi selama hidup kita" kata Andre yang membuat Alora berpikir.


"Apa kuliah adalah jawabannya? Dari awal takdir mempermainkanku hingga akhirnya aku harus memilih pilihan yang sejak awal sudah ditentukan" batin Alora yang terus bermain hingga ia tersadar.


"Kalo gitu..Ayo kuliah bareng!"


.


.


.


tbc