
Tampaknya musim hujan memang sudah datang, hampir tiap sore semesta selalu mencairkan tangisnya. Hari ini sebelum berangkat ke kampus, Alora membeli payung terlebih dahulu di minimarket dekat rumahnya.
Saat ini gadis itu sedang menuju ke gedung jurusan psikologi sehabis dari fakultas ekonomi. Ia memasuki gedung asing baginya itu lalu menuju lorong kelas yang terlihat mirip namun terlihat asing. Tentu saja, gadis berambut panjang itu mencari keberadaan bestienya.
Dian yang baru keluar dari kelas setelah menyelesaikan MK, melihat gadis yang tidak asing baginya, tentu saja pemuda itu langsung menyapanya.
"Alora kan?"
Gadis itu hanya mengangguk lalu tersenyum canggung.
"Kamu ngapain di sini?" Tanya Dian.
"Aku cari Lia, kamu ada lihat nggak dia di mana?" Alora kembali celingak-celinguk memperhatikan segala sudut.
"Lia nggak datang hari ini!" Sahut Dian yang heran melihat gadis di depannya itu.
"Apa?" Bola mata gadis itu membulat.
Dian terus meilirik Alora dan terlihat ingin menyampaikan sesuatu.
Di kantin, dua kopi hangat yang tertera dalam cangkir di atas meja itu milik Alora dan Dian. Keduanya duduk saling berhadapan dalam suhu dingin di tengah rintik hujan yang menyapa bumi.
"Harusnya loe telpon Lia dulu! Jangan langsung cari, kan sia-sia aja loe kemari" ucap Andi setelah satu teguk kopi hangat di depannya.
"Hpku ketinggalan di rumah!" Sahut Alora lesu laku menghela berat nafas dan mengangkat cangkir kopi yang ditiup sebentar lalu meminumnya.
Dian tampak melirik kanan-kiriĀ menilik segala penjuru.
"Loe cari apaan?" Tanya Alora.
"Dua cowo yang datang hari itu!"
"Maksud loe Andre dan Beni?" Alora terheran.
"Iya gua mau lihat siapa yang akan datang hari ini!" Pemuda itu masih celingak-celinguk.
"Nggak akan ada yang datang hari ini!" Sahut Alora lalu kembali meneguk kopinya.
"Btw... dua cowo itu siapa? Kok kayaknya mereka tertarik banget sama loe?"
"Loe penasaran? Kenapa dua cowo ganteng bisa deket sama gua gitu? Semua orang yang baru ngobrol sama gua pasti nanyain itu!"
"Iya gua penasaran!"
"Yang satu pacar gua, satu lagi.. temen SMA gua!"
"Jadi yang tinggi putih itu, cowo loe dan yang ngasih baju itu teman SMA" Dian mengangguk-angguk dengan mulut berbentuk O, mengisyaratkan ia baru tau.
"Untuk apa sih loe nanyain mereka?"
"Supaya gua bisa menilai"
"Untuk apa loe menilai? Nggak ada manfaat signifikan juga buat loe!"
"Yaah gua pengen tau aja, siapa tau suatu saat kita jadi rekan kerja atau rekan bisnis, jadi gua tau"
"Kenapa orang-orang suka menilai orang lain sesuai dengan standar mereka sendiri? Pernah nggak mereka menilai diri dulu sebelum memberikan penilaian pada orang lain?"
"Iya sih loe bener!"
"Cuman mengingatkan, yang terlihat tidak mencerminkan yang sebenarnya terjadi" kalimat Alora yang membuat Dian sedikit merenung.
Alora berdiri setelah mengecek jam di tangannya. "Gua pergi dulu!" Lalu melangkahkan kakinya menjauh.
"Ini alasannya? Karena loe berbeda dari yang lain!" Pikir Dian lalu tersenyum dan meneguk kopinya lagi.
...
Alora menemui Andre yang baru selesai kelas di depan fakultas mereka.
"Sayang udah makan?" Tanya Andre lalu meraih tangan pacarnya.
"Iya, tadi gua makan di kantin!" Sahut Alora.
"Aku telpon kok nggak diangkat?"
Andre melepas genggamannya dari tangan Alora lalu merangkul bahunya.
"Aku kangen sama kamu" ucap Andre lalu tersenyum lebar. Gadis itu mendongak menatap pemuda itu lalu ikut tersenyum gemas melihat pacarnya.
"Kita kemana sekarang?" Tanya Alora dalam senyumnya.
"Kita jalan-jalan di taman aja? Atau mau makan? Atau loe lagi kepengen apa?" Tanya Andre yang tampak bersemangat pergi nge-date dengan kekasihnya.
"Karna lagi hujan gini, mending kita pulang aja gimana?" Saran Alora yang tampak kelelahan.
"Iya sih, nanti kita pesan makanan aja ya, ayuk kita pulang" Andre membuka payungnya lalu tangan kanannya merangkul bahu Alora agar gadis itu tidak kebasahan terkena percikan hujan. Sedangkan bahu kirinya dibiarkan basah asalkan gadisnya aman terjaga.
...
Keesokan harinya, Andre bersiap dengan outfit kerennya lalu menjemput kekasihnya. Tentu Alora dengan outfit seadanya yang tidak jauh-jauh dari jeans dan kemeja yang di dalamnya kaos polos dengan rambut yang terurai.
"Kamu cantik banget!" Ucap Andre lalu tersenyum.
"Apaan sih? Jangan buat gua malu deh!" Sahut Alora namun tidak bisa ia sembunyikan pipinya yang merona.
Merekapun berangkat menggunakan mobil Andre. Tentu dari sudut pandang siapapun Alora yang miskin terus diikuti kedua pemuda kaya, seolah dirinya terlihat seperti wanita materialistis, walaupun mereka tidak tau bagaimana keadaan sebenarnya. Hal itu pula yang membuat semua orang melempar tatap iri dan penuh tanda tanya tiap melihat Alora berjalan dengan pemuda yang tidak selevel dengannya.
Tidak terkecuali hari ini, namun Alora juga melupakan satu hal, ini adalah hari di mana ia harus sekelas dengan Steve, pemuda menyebalkan dari masa lalu yang menjadikan dirinya boomerang lainnya yang ingin dihindari Alora.
Dari kejauhan Steve sudah melirik Alora bersama pemuda tampan itu di depan kelas sedang mengobrol. Steve tidak memindahkan pandangannya dari Andre sedikitpun, ia memindai dari atas sampai bawah brand apa yang dikenakan hingga ke detail-detail terkecil hingga ia menyimpulkan Andre adalah orang kaya.
Steve mendekat lalu ketika tiba di depan kelas ia melempar tatap pada Alora yang tanpa sengaja juga melirik pemuda itu yang tersenyum sinis padanya lalu memasuki kelas.
"Sayang, nanti kalo aku belum selesai kelas, kamu pulang duluan aja ya! Aku nggak mau kamu terlalu lama nungguin aku, kalo di rumah kamu bisa gunakan waktu kamu buat istirahat" ucap Andre.
"Tapi kalo aku kangen sama kamu gimana?" Tanya Alora dengan wajah polosnya yang membuat Andre gemas.
"Pulang aja! Aku nggak mau kamu ketiduran di sembarang tempat, kalo ada yang jahat nanti gimana? Aku juga akan ikutan sakit nanti"
"Oke deh!" Alora tampak agak lesu menjawab.
"Sayang! Aku balik ke kelas dulu ya! Kamu belajar baik-baik ya" ucap Andre pada gadisnya itu.
Alora hanya mengangguk lalu tersenyum.
"Tapi gua nggak mau kita pisah!" Andre memasang muka cemberut yang terlihat imut itu, tapi terlalu menggelikan dilihat Alora.
"Udah! Sana pergi! Belajar yang rajin ya chagiya!" Alora tersenyum imut di depan Andre.
"Jangan senyum! Aw jangan senyum!" Andre ber-akting seolah dadanya tertembak.
"Yaudah pergi sana!" Alora memukul pelan bahu Andre agar pemuda itu tidak terlambat masuk ke kelasnya di lantai 3.
Andre mundur tiga langkah untuk menjauhi Alora sambil melambai, namun ia kembali maju mendekati Alora.
"I love you!" Bisik Andre di telinga gadis itu, lalu menatap Alora yang menggeleng melihat kelakuan pacarnya.
"Oya satu lagi! Kalo kamu ngantuk di kelas, tidur aja! Kamu nggak belajar juga nggak apa, biar nanti biar aku aja yang kerja nafkahin kamu!" Andre kembali berbisik di telinga Alora dan berhasil membuat gadis itu tertawa.
"Iya pak bos! Sana masuk! Sekarang loe harus lari naik tangga!" Alora sedikit mendorong agar Andre pergi lalu melambaikan tangannya.
"Hati-hati!" Ucap Alora saat Andre mendekati tangga.
"Gua nggak peduli apa kata orang! Gua ternyata sesuka itu sama Andre! Rasanya gua nggak bisa kehilangan dia" batin Alora lalu memasuki kelas itu, dimana pemburu sudah menargetkan gadis itu sebagai mangsanya.
Steve sudah menyiapkan peluru lainnya, yang sengaja ia simpan saat targetnya lebih mudah dijerat.
Beni yang baru masuk langsung memilih kursi di samping Alora setelah melirik Steve yang tidak henti melempar tatap pada gadis itu.
.
.
.
Tbc