
Siang yang sangat cerah di mana matahari melampiaskan amarahnya pada manusia yang kerap kali mengeluh tanpa bersyukur. Di tengah teriknya itu tampak dua oknum yang baru saja menyelesaikan makan siangnya lalu menuju ke sebuah gedung megah. Andi dan Lia turun dari mobil itu setelah di parkir rapi.
"Sayang maaf banget ya, aku nggak bisa anterin kamu balik ke kampus! Ada meeting mendadak!" Ucap Andi yang tampak tak enak meninggalkan gadis yang ia sebut pacarnya itu.
"Iya nggak apa kok kak Andi!" Sahut Lia dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Lia tunggu aja di sini ya! Aku udah order taksi, bentar lagi sampe ya! Aku harus masuk dulu!" Ucap Andi lagi.
Lia mengangguk tampak patuh.
Tiba saja gadis lain yang tak asing datang langsung menyapa, "Yok Ndi kita masuk!" Ucap wanita itu.
Tentu saja, gadis itu adalah mantannya Andi yang sangat posesif saat bersama pemuda itu. Andi membalikkan tubuhnya lalu dengan segera melangkah masuk ke kantornya. Begitupun gadis itu mengikuti lalu mulai meraih tangan Andi untuk di gandengnya, namun Andi melepaskan tangan yang membelenggu dirinya itu dengan menepis pelan tangan gadis itu.
Tentu sebagai orang yang masih berdiri di sana, Lia melihat apa yang terjadi. Tatapnya menjadi sendu, pikirannya teralih akan hal-hal yang menjadi kemungkinan buruk bagi dirinya. Tak lama, taksi yang tadi di pesan Andi sampai lalu mengantar Lia menuju kampus.
Sesampainya di kampus, tanpa sengaja Lia mendapati Alora yang sedang berjalan bersama Beni. Kedua oknum itu tampak hanya berjalan berdampingan dan saling diam.
"Sejujurnya kalo dilihat-lihat Alora dan Beni punya banyak kesamaan. Mereka adalah dua orang kesepian dengan kepribadian berbeda, Beni versi kasarnya dan Alora versi sad-nya. Entah bagaimana keduanya bertemu dan salah satunya jatuh cinta!" Batin Lia yang menatap dengan sendu.
Di sisi lain, kalimat pertama terdengar dari kedua oknum yang berjalan itu.
"Sejak kapan loe tau gua anak kecil yang sering di sudut taman?" Tanya Beni.
"Gua pernah dengar om Herman dulu panggil nama loe! Beni! Gua jadi ingat anak itu tiap denger nama loe dulu pas SMA. Dan tiba-tiba gua lihat om Herman yang berperan sebagai bokap loe! Gua jadi yakin deh! Anak itu adalah loe!" Sahut Alora masih berjalan pelan.
"Loe se-ingat itu sama anak itu?" Beni kembali dengan kalimat tanyanya.
"Dia orang pertama yang menyadarkan bahwa gua nggak sendirian! Bahwa di dunia ini ada orang lain yang punya luka juga di hatinya. Dulu gua memang nggak se-paham itu, tapi ketika pertama kali gua lihat loe yang murung di sudut taman, aku bertanya apakah dia juga tidak bisa tertawa sepertiku?" Jelas Alora dengan bola mata agak berkaca.
"Lora! Ben! Mau ke mana kalian?" Lia yang akhirnya menghampiri dua temannya itu setelah tadinya menatap dari jauh.
"Gua mau pulang aja sih! Loe kenapa? Kok mukanya sedih gitu?" Alora menyadari Lia tampak lebih murung dari biasanya.
...
Dari yang tadinya mau pulang, ketiga oknun itu berakhir di sebuah Kafe shop dekat kampus mereka. Di salah satu meja Kafe itu sudah lengkap dengan minuman masing-masing.
"... Gua takut kak Andi bakal teralih dan gua bakal sendirian lagi!" Kalimat penutup Lia setelah menceritakan apa yang ia lihat sebelumnya.
"Trus gimana menurut loe? Sikap kak Andi sama loe gimana?" Tanya Alora yang duduk bersebelahan dengan Lia.
"Kak Andi baik sih seperti biasanya, tapi dibanding sebagai pacar gua lebih kayak adiknya nggak sih? Dia memperlakukan gua dengan baik... tapi gua rasa dia hanya menjaga gua sebagai adiknya. Dan cewe itu juga sering banget deket-deket gitu, bukan sekali dua kali lagi Lora!" Jelas Lia yang tampak sedih.
"Perasaan loe sendiri gimana?" Lora yang hanya bisa bertanya.
Setelah mendengar pertanyaan itu Lia melirik dengan tatap sendu ke arah Beni yang duduk di depan mereka asik dengan hp di tangannya. Pemuda itu tampak tak acuh.
"Gua nggak tau!" Sahut Lia pelan masih menatap Beni.
"Hei Lia! Kenalin dong kita ke temen loe!" Ucap salah satu dari dua gadis itu.
"Oh Deiya! Kenalin ini Lora sahabat gua..." kalimat Lia terpotong oleh gadis yang satunya.
"Jangan sama dia (Alora)! Sama yang ini aja (Beni)!"
"Oh iya Geyna, ini Beni!" Sahut Lia menunjuk ke arah Beni. Namun, bukan Beni namanya jika ramah dengan orang lain, pemuda itu sama sekali tidak acuh lalu bangkit dari kursinya menuju toilet.
Keempat gadis di sana dibuat tak percaya dengan sikap angkuhnya itu.
"Kok dia gitu banget sih? Sombong banget!" Ucap Deiya.
"Iya tuh! Males banget gua!" Sahut Geyna.
"Tau kali dirinya populer, yaudah pergi aja yok!" Ucap Deiya lagi lalu mereka pergi.
Yaah... begitulah fake friend yang datang pas ada maunya aja. Alora melirik sahabatnya yang tampak semakin sedih karena diabaikan oleh fake friend itu. Begitupun Beni yang tidak bisa bekerja sama sedikit pun.
"Udah biarin aja mereka! Nggak usah dipeduliin orang kek gitu! Masak datang cuman pengen kenalan sama Beni, abis itu pergi gitu aja!" Ucap Lora lalu merangkul bahu sahabatnya.
***
Ketidaksengajaan yang terus berulang layaknya dejavu, pemuda yang memang ditakdirkan untuk jadi penyelamat, namun tidak menginginkan takdir itu. Lagi dan lagi, Beni yang sedang menyetir di jalan mendapati Andi yang turun dari mobil itu bersama mantan pacarnya. Tampaknya itu rumah gadis itu.
Namun, entah bagaimana kali ini Beni tidak bisa terus diam, walau kasar setidaknya dirinya masih punya sedikit nurani. Beni menghentikan mobilnya berpura-pura mogok, lalu berpura-pura seolah dia baru melihat mereka dan menghampiri mereka saat mereka menyadari dirinya ada di sana.
"Eh bro! Bukannya loe punya pacar ya? Kok loe di sini?" Tanya Beni yang sebenarnya malas.
Andi terdiam namun si gadis itu langsung menjawab, "Dia anterin gua lah!"
"Oh! Bro! Kasian banget Lia ya!" Ucap Beni lalu kembali menuju mobilnya.
"Maksud loe apa? Lia kenapa?" Tanya Andi yang membuat Beni berhenti melangkah lalu menjawab tanpa menoleh.
"Sibuk anterin mantan sampe nggak tau perasaan pacar sendiri? Lucu ya? Loe sama adik loe si Andre itu sama aja, kalian terlalu fokus pada apa yang kalian cari sampe lupa apa yang terlihat di depan kalian!" Sahut Beni lalu menyeringai.
"Mau loe apa?" Sahut Andi yang emosinya sedikit terpancing.
"Kalo masih suka bilang aja! Jangan bohongin diri loe! Bukannya lebih cepat ninggalin Lia lebih baik sebelum harapan dia lebih besar?" Ucap Beni lalu pergi.
.
.
.
Tbc