My Secret Alora

My Secret Alora
Pelukmu


Tampaknya semesta semakin tersakiti saat hujan yang turun semakin deras. Alora bangkit dari duduknya, dengan payungnya ia meninggalkan taman lalu hanya berjalan menyusuri jalanan tanpa tujuan.


...


Di sisi lain, Ali yang terlihat khawatir juga sedang menyusuri jalan mencari kakaknya. Sejak tadi ia berusaha mengekori kakaknya dari jauh, namun ia kehilangan jejak karena tertinggal bus. Pemuda itu basah kuyup dengan seragam sekolahnya yang berjalan tanpa nyerah mencari. Tampaknya rasa bersalahnya menjadi lebih besar dengan fakta terbaru yang ia temukan tentang Alora.


Back to Alora, gadis itu seperti menemukan jalan keluar dari masalahnya.


"Gua hanya perlu hidup untuk diri gua sendiri! Gua yakin orang tua gua nyelamatin gua dan alasan gua masih hidup hari ini karena mereka ingin gua terus hidup menggantikan mereka. Gua akan hidup sebahagia mungkin untuk orang tua gua!" Pikiran gadis itu akhirnya terbuka.


"Dan Ali? Gua bisa bahagiain diri gua sendiri, jadi Ayah bisa kembali tinggal berdua sama Ali dan gua bakal sendirian lagi! But its fine.. selama gua bisa terus hidup buat orang tua gua! Lagian gua udah transfer uang buat mereka jadi mereka bisa memulai dengan tidak kekurangan!" Gadis dengan payung itu mengangguk yakin.


"Gua harus mulai dari nol lagi, semua jatah beasiswa untuk kebutuhan kuliah udah buat Ayah dan Ali! But its fine.. pacar gua orang kaya!" Tersirat sedikit senyum di ujung bibir gadis itu.


Tak lama berjalan, Ali melihat Alora dengan payungnya yang berjalan pelan sembari termenung. Sedikit terasa lega, setidaknya gadis itu tidak sedang mencoba bunuh diri.


Namun ketika gadis itu menemukan jawabannya, takdir memilih cerita sendiri tanpa berdiskusi dan menerima pendapat siapapun. Sebuah mobil truk yang melaju kecang di tengah hujan itu tiba saja muncuk dari belakang Alora. Angin yang berhembus terlalu kencang juga memperlengkap drama kali ini. Payung Alora dibuat terbang akibat angin hingga tubuh Alora yang tadinya berjalan di pinggir jalan, malah terbawa ke tengah jalan sebelum sempat payung itu terlepas dari tangannya.


Mobil itu terus melaju kencang karena tidak bisa melihat ada orang akibat hujan deras. Suara mobil semakin dekat membuat Alora tersadar dan menoleh ke arah sorot lampu yang mendekat ke arahnya.


"Inikah akhirnya? Aku malah mati ketika memilih hidup?" Batin Alora yang syok ketika mobil itu hanya satu meter lagi akan menyentuh tubuhnya yang melemah itu.


Di sisi lain, Alora yang berjarak sekitar 20 meter dari arah depan kakaknya berlari sekencangnya sembari berteriak keras dalam paniknya.


"Kak Awaaaaaas!" Cairan dari Manik hitam putih itu akhirnya terjatuh bersamaan air hujan yang masuk ke matanya.


"Jangaaaaan!" Teriakan dalam hujan itu saat mendapati mobil itu masih melaju menembus Alora dan masih belum berhenti hingga melewati tempat itu.


"Nggak! Kak! Di mana?" Ali yang terlihat panik dan sedih masih meneruskan larinya ke tempat kejadian.


Tampak seseorang sedang meringkuk menutupi Alora yang berhasil ia tarik ke peluknya walau sambil terbaring.


"Kak Lora?" Kata Ali sembari mendekati mereka.


Pemuda itu perlahan bangkit dan melepas Alora yang sudah pingsan di peluknya tadi. Ali langsung berlutut menyentuh kakaknya untuk membuat gadis itu terbangun.


"Kak! Tolong bangun! Aku minta maaf kak! Kak tolong maafin aku kak! Aku janji akan jadi adik yang baik, tolong bangun kak!" Ali membawa kepala Alora ke pangkuannya.


"Kita harus bawa dia ke rumah sakit! Dia pasti syok lagi, ini bisa jadi akibat trauma kecelakaan yang dulu! Karna gua yakin tadi udah mastiin tubuh Lora terlindungi!" Ucap pemuda itu lalu mecoba mengangkat gadis itu.


"Iya kak! Tapi kak Andre bawa mobil kan? Kak Andre ambil mobil biar Ali yang angkat kak Lora!" Ucap Ali dengan inisiatif.


"Yaudah, loe ikut gua ya!" Sahut Andre dan langsung bangun mengambil mobilnya. Begitupun Ali yang mengangkat kakaknya berlari di tengah hujan deras itu, lalu membawa masuk Alora saat Andre membawa mobilnya mendekat dan turun untuk membuka pintu. Setelah memasukkan Alora dalam mobil merekapun berangkat ke rumah sakit.


...


Sebenarnya Andre adalah orang kedua yang menyaksikan perdebatan Alora dan Beni kemarin tentang keinginan Alora untuk mati. Pemuda itu jadi diam saja dan ia mencari tahu permasalahannya dengan bertanya pada Ayah Alora. Ia pun mengambil tindakan dengan sengaja menemukan Ali di mall agar ia bisa menunjukkan bahwa kakaknya layak untuk hidup.


Pemuda yang menjabat sebagai pacar itu, juga langsung mengikuti ke mana pun Alora pergi untuk berjaga-jaga dan melindunginya. Satu-satunya cara menyelamatkan adalah dengan mencegah saat hal itu terjadi, bahkan kata-kata akan kalah dengan tindakan. Dan itulah yang terjadi saat ini, pemuda ini berhasil pada rencananya. Namun, misi selanjutnya adalah memastikan gadisnya baik-baik saja.


Andre bisa ingat betul bagaimana sebuah keberuntungan saat ia meraih tangan Alora dan gadis itu terbawa ke peluknya walau membuat keduanya terjatuh. Ia sangat bersyukur saat melirik Ali bersama Alora berada di kursi belakang mobilnya.


Setelah hampir 20 menit, akhirnya mereka menemukan rumah sakit terdekat, merekapun masuk dan Ali kembali menggendong kakanya di punggungnya. Keduanya berlari ke IGD agar segera mendapat pertolongan pertama. Para perawat berlari membawa troli ranjang lalu membaringkan gadis itu di sana dan langsung di tangani dokter yang bertugas.


"Ali, loe hubungin ayah loe ya! Tapi jangan bilang sama tante Ina ataupun nenek! Mereka akan sedih banget, kita lihat dulu keadaan Lora baru hubungi mereka ya!" Ucap Andre lalu duduk di bangku yang tersedia untuk menunggu pasien.


Seperti kata Andre, Ali menghubungi ayahnya, namun ia tidak bisa mengatakan apapun.


"Halo! Ali? Ali kamu kenapa? Jawab papah!" Suara yang terus menggema dari telepon itu.


"Pah, Al... pah.." Ali tampak ragu melanjutkan kalimatnya.


"Apa? Ada apa Ali? Kamu kenapa-kenapa? Tolong jawab papah jangan diam aja!" Suara Hilman terdengar tampak khawatir.


"Maafin Ali pah, hari ini bolos sekolah!" Kata Ali lalu menutup teleponnya. Dan terdiam hanyut dalam pikirannya.


"Gimana caranya bilang kalo semua ini terjadi karna gua?" Batun pemuda itu lalu kembali ke tempat Andre duduk dan masih menunggu.


"Loe udah telpon ayah loe?" Tanya Andre menatap Ali yang duduk di sampingnya.


Remaja yang seragamnya basah kuyup itu menjawab dengan menggelengkan kepalanya dan memasang wajah sedih.


"Loh? Kenapa?" Tanya Andre lagi.


"Ali nggak bisa kasih tau papah, karena semua ini gara-gara Ali, coba aja Ali nggak egois waktu itu..." remaja ini tampak menyesali apa yang telah ia lakukan.


Andre menepuk pelan punggung Ali yang tertunduk menahan tangis di sisinya.


"Ali! Gua bersyukur banget Alora yang jadi pacar gua! Gua hampir aja kehilanga dia.. tepat di hari ulang tahun gua! Dan tepat 15 tahun sejak hari itu, orangtua Alora menyelamatkan gua dan meninggalkan Alora sendirian di dunia kejam ini!" Andre tampak menyeka air matanya yang belum sempat mengalir.


...


Tak lama dokter keluar lalu memberikan pernyataan.


"Pasien baik-baik aja! Dia kecapean dan juga demam karena sepertinya kurang tidur dan..." dokter melirik kedua pemuda dengan baju basah di depannya lalu kembali bertanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kalian semua basah termasuk pasien? Hujan membuat demam pasien semakin naik!" Dokter menunggu jawaban dari kedua remaja itu.


"Ah itu..." Andre tampak memikirkan alasannya.


"Tadi hampir kecelakaan dokter! Apa ada luka atau benturan di tubuh kak Lora dok?" Ali yang sangat khawatir.


"Sebenarnya ada sedikit luka benturan di bagian dahinya, tapi nggak separah itu jadi kalian nggak usah khawatir!" Jelas dokter.


"Syukurlah! Kami bisa masuk jenguk pasien sekarang kan dok?" Tanya Andre.


"Sebaiknya kalian ganti pakaian kalian dulu, baru jenguk pasien! Kalo nggak, kalian juga bisa ikutan sakit dengan pakaian lembab gitu!" Sahut dokter lalu pergi.


"Gua ada baju ganti di mobil, yuk!" Ajak Andre yang membuat Ali mengikutinya di belakang.


Seperti kata dokter, keduanya mengganti pakaian, lalu bergegas masuk untuk menjenguk Alora.


Alora tampak tertidur damai dengan lingkaran hitam mengitari kelopak matanya. Ali dan Andre sudah masuk dan saat ini berada di samping ranjang Alora di ruang IGD.


"Bukankah udah saatnya loe harus hubungin bokap loe?" Tanya Andre pada Ali sembari menatap Alora.


"Iya loe bener bang!" Sahut Ali lalu dengan berat mengambil hp-nya.


Namun, seseorang menyibak tirai itu membuat kedua oknum di sisi Alora itu menoleh.


"Pah?" Ali tampak tercengang dan kehilangan kata-katanya. Ia melirik Andre di sisi nya karena mengira Andre yang menghubungi ayahnya, namun Andre malah menaikkan bahunya lalu menggeleng dengan bibir agak manyun.


"Gimana keadaan anak saya?" Tanya Hilman pada Andre.


"Alora baik-baik aja, dia kecapean dan demam, dia cuma butuh banyak istirahat om!" Sahut Andre.


"Ali kamu ikut papah bentar!" Hilman meninggalkan tempat itu begitupun Ali yang mengikuti di belakang.


Ketika sampai di tempat yang agak sepi, Hilman menghentikan labgkahnya. Ia berbalik lalu menatap anaknya yang menunduk dengan rasa penyesalan.


"Maafin Ali pah! Harusnya Ali lebih sadar, dan nggak menyalahkan kak Lora! Semua ini salah Ali, Ali rela diapain aja pah!" Suara sendu itu terdengar tulus. Ali melirik sebentar ayahnya yang diam saja tanpa merespon lalu kembali menunduk.


Tiba saja, Hilman memeluk anaknya lalu menepuk punggung Ali dalam peluknya.


"Kerja bagus anak papah! Terima kasih sudah mau mengerti nak!" Bola mata pria paruh baya itu agak berkaca lalu melepas peluk dari anaknya itu.


"Papah nggak marah?" Tanya Ali yang terheran denga  perlakuan ayahnya.


"Pemberontakan dan amarah di usia kamu itu wajar, dan kamu berhasil melalui itu dengan memahami apa yang harus di hargai dan diselamatkan." Sahut Hilman lalu menepuk bahu Ali.


"Tapi pah, apa kak Lora bakal maafin aku?" Ali kembali terdengar sendu.


"Kamu lupa? Dia Alora! Rela mati demi kamu! Apa dia nggak akan maafin adiknya?" Sahut Hilman dengan pertanyaan lainnya yang menjebak.


"Tugas kamu sebagai adik laki-laki adalah melindungi kakak kamu! Harapan papah satu-satuny hanyalah melihat anak papah akur dan tumbuh menjadi pribadi yang baik. Itu udah cukup buat seorang ayah." Sambung Hilman lalu merangkul anaknya.


...


Di sisi lain, Andre yang duduk di sisi Alora sembari mengelus pelan pergelangan tangan Alora sambil terus menatap jemari lentik itu yang terlihat pucat. Andre hanya diam saja tanpa sepatah katapun.


Tanpa sadar Andre tidak melihat Alora yang membuka matanya perlahan lalu menemukan sesosok siluet yang ia kenali.


"Aku masih hidup?" Batin Alora lalu memantapkan tatap nya ke arah pemuda di sisinya.


Gadis itu membangkitkan tubuhnya lalu langsung memeluk pemuda bergelar pacarnya itu dan Andre sedikit tersontak kaget lalu membalas pelukan itu. Pelukan dalam diam dan tenang. Alora selalu merasa nyaman dalam peluk hangat itu, begitun Andre yang juga nyaman dengan peluk itu.


.


.


.


Tbc