My Secret Alora

My Secret Alora
The Power Of Psyco


Sepasang remaja yang masih mengenakan seragam sekolahnya tampak sedang beradu mulut di pinggir jalan masuk ke rumah sakit itu. Di sisi lain, Alora yang berjalan kaki menuju rumah sakit itu sehabis membeli makanan untuk ayahnya yang sakit itu menghampiri remaja SMA itu karena mengenal salah satu dari mereka.


"Gua udah bilang jangan ikutin gua lagi! Gua nggak akan masuk sekolah!" Ucap gadis dengan penampilan agak tomboy dengan rambut panjangnya namun seragamnya berantakan.


"Gua nggak ngikutin loe! Nggak usah gr! Lagian nggak ke sekolah tapi pakek seragam! Bukankah itu penipuan? Siapa yang mau loe tipu di rumah sakit itu?" Ucap pemuda yang rapi dengan seragam SMA-nya.


"Diam loe! Nggak usah ikut campur urusan gua!" Sahut gadis itu kesal lalu menggerakkan tangannya ke arah kerah baju Pemuda itu, namun Alora menangkap tangan gadis itu tepat sebelum kerah baju itu disentuh.


Keempat sorot mata itu melirik Alora yang tiba saja ikut campur.


"Ali jaga sikap loe!" Ucap Alora.


"Malas banget gua!" Ali langsung melangkahkan kakinya menuju gerbang rumah sakit untuk masuk.


"Loe siapa? Nggak usah sok jadi pahlawan deh!" Tanya Fathia yang menarik tangannya dari genggaman Alora.


Alora menyilang tangan di atas perutnya, lalu menatap serius Fathia yang menatapnya tajam. Alora tersenyum ke arah gadis SMA itu lalu berkata,


"Loe mirip sama gua yang dulu, tapi cuma dikit! Goodluck yaa!" Alora kemudian melangkahkan kakinya namun kalimat selanjutnya yang diucapkan Fathia membuatnya berhenti dan berbalik.


"Jadi loe Alora? Gua denger hidup loe lebih bermasalah daripada gua, goodluck ya!" Fathia bersikap sombong.


Alorapun tersenyum sinis, "oh ternyata gua salah! Loe nggak mirip gua! Fyi.. pakek seragam sekolah nggak akan buat orang administrasi rumah sakit luluh! Mereka tetap bakal nagih bayarannya nggak peduli loe dewasa atau SMA!"


"Sok tau loe!" Sahut Fathia.


"Gua tau! Loe sendiri yang bilang hidup gua lebih bermasalah kan?" Alora mempertahankan senyum sinisnya hingga berbalik lalu kembali berwajah datar. Ia juga tidak peduli lagi dan hanya fokus pada tujuannya.


Setelah beberapa saat memikirkan kalimat Alora, Fathia juga ikut masuk ke rumah sakit untuk membuktikan perkataan Alora salah.


Tidak ada yang menyadari, Beni sedari tadi mengawasi apa yang terjadi. Ia juga ikut masuk ke rumah sakit entah apa tujuannya.


...


Setelah masuk, Fathia langsung melancarkan aksinya dengan berakting sedih dan memohon pada bagian karyawan administrasi rumah sakit, namun hasilnya nihil seperti yang dikatakan Alora. Walau kesal, ia tidak bisa melakukan apa-apa karena miskin. Ayah tirinya sudah menyerah akan biaya rumah sakit, dan adiknya yang masih SMP ikut ayah tirinya. Saat ini ia menjabat sebagai kepala keluarga untuk mengobati mamanya.


Tentu saja Beni mengawasi semuanya, si psyco dengan sikap kasar namun berhati lembut itu juga melancarkan aksi hero-nya. Pemuda itu membayar biaya rumah sakit lalu pergi. Namun, adiknya itu menangkap aksi heroik abangnya dan menolak dengan brutal, bahkan setelah biaya itu sudah terbayar.


"Loe masih sok baik gini? Jujur aja loe gengsi kan? Dan loe masih pura-pura nggak bisa maafin mama, sebenarnya tujuan loe apasih?"


Di sisi lain, Alora yang hendak mengunjungi bagian apotek untuk mengambil obat milik ayahnya, gadis itu tidak sengaja menemukan pertengkaran itu.


"Tujuan? Emangnya feedback buat gua apa dengan begini? Dengerin baik-baik! Gua nggak seperti wanita itu yang ninggalin keluarganya yang dalam kesulitan." Kalimat Beni menyentuh lara gadis SMA itu, entah bagaimana ia bisa memahami dengan benar, bagaimana ia juga memiliki perasaan yang sama saat ditinggal ayah tirinya.


"Jaga mulut liar loe itu! Loe bisa aja celaka kalo salah milih lawan!" Sorot tajam yang mengarah ke arah Fathia itu tampak menakutkan walau hanya berdurasi singkat.


Beni langsung berbalik melanjutkan jalannya.


"Tunggu!" Kata itu keluar dari mulut gadis itu, tentu saja Beni menghentikan langkahnya lalu disusul Fathia.


"Kalo loe memang nggak ninggalin keluarga yang dalam kesulitan, bantuin gua dapat kerja! Loe kan kaya!" Fathia masih dengan nada liarnya.


"Emangnya loe keluarga gua?" Pertanyaan psyco yang membuat Fathia tidak bisa menahan seringainya.


Alora yang sempat terhenti dan menonton, akhirnya langsung pergi karena malas ikut campur urusan orang lain.


"Okeh gua bakal kasih loe kerjaan! Ikut gua!" Ucap Beni dengan wajah datar dan nada angkuh lalu membawa adiknya itu menuju mobil lalu mereka pergi bersama dengan mobilnya.


...


Alora kembali ke ruangan ayahnya usai menebus obat untuk ayahnya yang bersiap untuk pulang. Pria paruh baya itu mengalami kecelakaan ringan, beruntung hanya kakinya yang terluka. Namun, sayangnya ia mendengar hal lainnya kali ini.


"Maksud ayah dia mandiri sedangkan aku manja gitu? Emang kapan ayah kasih perhatian lebih ke aku? Lagian Alora itu cuman anak angkat!" Sahut Ali dengan sedikit emosi.


"Kamu jangan ngomong gitu buat kakak kamu! Lupa kamu siapa yang jagain kamu pas mama kamu pergi dari rumah dulu?"


"Udahlah pah! Itu emang tugas dia sebagai kakak angkat, jangan bisa nyusahin! Dulu dia sering banget juga nyusahin kita semua kan? Tiba-tiba teriak sendiri di kamar nggak jelas banget!" Ucap Ali yang cemburu pada kakaknya.


"Ali!" Panggil Alora begitu memasuki ruangan itu. "Loe bener! Apa gua mati aja ya kalo gitu? Loe bakal hidup tenang tanpa gua?"


"Hush! Nggak usah ngomong macam-macam! Sini bantuin ayah biar kita pulang!"


Alora memainkan perannya, senyum yang ia paksakan itu terasa sulit akibat goresan hatinya yang terlalu dalam.


"Mati aja sana!" Ucap Ali karena kesal namun tidak bersungguh-sungguh.


Seketika senyum Alora pudar, namun ia tetap membantu ayahnya berdiri lalu memapahnya keluar di sebelah kiri ayahnya, dan Ali memapah di sebelah kanan ayahnya.


***


Usai Final semester, para mahasiswa sedang menikmati masa healing setelah stres selama satu semester. Namun, hilangin stres tidak selalu dengan healing. Buktinya Lia yang duduk nongkrong sendirian di depan market di lingkungan mereka yang bersebelahan dengan taman sangat enjoy dengan earphone di kedua telinganya. Tak lupa lengkap dengan setelan training berwarna pink sambil menunggu bestienya datang.


"Duh Lora kemana sih?" Ucap gadis itu sembari fokus men-scrool sosial media di hp miliknya dan sesekali menjilat es kream yang hampir meleleh ditangannya.


Terdengar suara bangku tertarik, gadis itu menoleh dengan senyum cerahnya.


"Baru dateng loe..." kalimatnya terhenti saat orang yang ia kira Alora malah Andi.


"Loe nungguin gua?" Tanya Andi sembari tersenyum.


Lia tampak malu, "aah maaf kak Andi, Lia pikir Lora yang datang."


"Santai aja! Oya emang kalian mau ke mana?" Tanya Andi lagi.


"Kita mau jogging! Tapi kayaknya Lora gak niat jogging, kalo gini bakal kesiangan!" Sahut Lia.


"Kalo gitu bareng gua aja yok! Gua juga lagi sendirian!" Kalimat ajakan yang berhasil membuat pipi Lia memerah, tentu saja rasa suka Lia sama Andi membuatnya tersipu dan terharu.


"Loe tenang aja! Nggak bakal ada yang marah kok!" Sambung Andi sambil memamerkan senyum tampannya.


Lia mengangguk malu-malu membuat pemuda itu semakin gemas melihat gadis di depannya.


...


Beberapa menit kemudian, Alora yang sedang berlari kencang karena bangun kesiangan menuju minimarket itu. Seperti yang kita tahu Lia sudah pergi istilahnya pdkt dengan doi-nya.


Helaan nafas Alora terdengar berat, ia bukan lagi jogging tapi layaknya lomba lari mengejar waktu. Karena tinggal sendirian, Alora memutuskan duduk di kursi yang di sediakan di sana di bawah payung tenda yang teduh. Gadis itu merebahkan kepalanya ke meja sambil terengah-engah, dan siapa sangka gadis itu malah ketiduran beberapa menit kemudian karena semalam kurang tidur.


Suara bangku yang digeser seorang dengan jaket tudung hitam serta topi dan setelan serba hitam lalu duduk di bangku sisi lain meja di depan Alora yang tertidur.


"Loe lumayan cantik juga! Tapi sayang... gua nggak suka sama loe!" Ucap orang itu lalu menyeringai.


Namun, kenyataan juga memberikan kisah lainnya. Tiba saja pintu Minimarket terbuka dan siluet pemuda gagah yang tampak keren. Tentu saja dewa penyelamat berkedok psyco selalu ada di waktu yang tepat.


.


.


.


Tbc