
"Loe suka sama cowonya si cewe miskin itu?" Tanya pemuda dengan alus tebal itu kepada seorang gadis yang duduk bersamanya di meja salah satu Kafe itu.
"Cewe miskin?" Sahut gadis berpenampilan agak terbuka itu.
"Hmm!"
"Maksud loe Alora?"
"Eh Ziva! Loe mau Andre jadi pacar loe kan? Deketin terus tuh cowo! Biar gua yang urus cewenya!" Kata Steve lalu tersenyum bangga.
"Eh! Tapi gua males kerja sama bareng loe! Nanti gua ikutan kena getahnya! Gua bakalan buat Andre suka sama gua secara perlahan."
"Loe tenang aja! Rencana kita perfect kali ini! Gua udah atur semuanya!" Sahut Steve yang sangat percaya diri itu.
"Dapet transferan lagi nih gua! Tuh cewe gampang banget dikibulin hahah!" Sambung Steve yang kegirangan.
"Apa lagi? Siapa lagi yang loe tipu? Anak pemilik perusahaan mana?" Ziva lalu menyeruput minuman di mejanya.
"Ada deh! Loe tukang ngadu nanti gua kena masalah kalo mulut loe bocor!" Sahut Steve.
"Eh tapi! Satu syarat! Loe bebas mau ngapain aja sama siapa aja, tapi jangan sampe loe buat Andre gua terluka! Awas aja kalo loe ketauhan gangguin Andre kayak hari itu!" Ziva yang sangat mengenal pemuda di depannya itu.
"Iya iya! Bawel banget sih loe!"
...
Lingkungan kampus terlihat cerah hari ini, karena akan ada festival yang di selenggaran beberapa hari lagi. Anggota BEM dan DPM bersama ORMAWA lainnya sudah membentuk kepanitian dan lalu lalang mengerjakan tugas masing-masing, tidak lupa dengan seragam kebanggaan yaitu almamater kampus.
Alora berjalan pelan bersama Key sehabis dari kelas menuju perpustakaan.
"Oiya bentar lagi, buka pendaftaran organisasi kampus loh! Loe mau masuk organisasi apa?" Tanya Key sangat bersemangat.
"Gua nggak punya waktu! Gua harus kuliah dan kerja!" Sahut Alora namun raut wajahnya terlihat sedih.
"Gua mau masuk BEM! Kayaknya keren kalo bisa jadi anggota BEM!" Key sangat bertekad. Dan seperti biasa gadis yang tidak bisa diam itu tidak berhenti menceritakan gosip terkini tentang semua organisasi kampus yang ia ketahui.
Jika tidak berpisah sekarang dari gadis ini, telinga Alora akan meledak dengan informasi yang sama sekali tidak bermanfaat itu. Namun, seseorang menyelamatkannya.
"Alora!" Andre yang memanggil Alora sembari melambai disertai senyum cerah di wajah tampan itu.
"Ah sayang!" Alora reflek memeluk Andre agar Key diam dan merasa canggung.
"Gua kangen sama loe!" Ucap Andre membalas peluk yang berdurasi 3 detik itu lalu merangkul bahu Alora.
"Udah makan?" Tanya Andre dan Alora hanya menggeleng dengan ekspresi imut membuat Andre menyeka rambut Alora yang menutupi wajah gadis itu.
"Yaudah ayo makan!" Ucap Andre lalu melangkah menuju kantin.
"Dia juga ikut makan?" Key yang mengikuti di belakang menunjuk ke arah Ziva yang hendak menuju mendatangi Andre. Kedua oknum di depannya menoleh ke belakang.
"Enggak dong!" Sahut Andre lalu melirik Key yang tersenyum mengejek ke arah Ziva yang mendengar dia tidak diajak makan.
"Loe juga nggak akan ikut kan? Loe nggak perlu ikutlah!" Ucap Andre yang sengaja agar mereka bisa menikmati waktu berdua.
Andre kembali merangkul Alora yang terlepas ketika menoleh tadi lalu meninggalkan kedua gadis itu, di mana Ziva juga menertawakan Key yang terlalu percaya diri tapi juga tidak diajak.
...
Beni mulai mengabaikan kuliahnya, dia hanya ke kampus ketika ingin dan jalan-jalan ketika bosan ia hanya menuju tempat nyaman untuk menyendiri. Saat ini ia hanya duduk di bangku taman sendirian layaknya jomblo kesepian. Di sana ia juga menemukan Lia bersama Dian sepertinya sedang mengamati lingkungan untuk tugas kuliahnya.
Entah kenapa Beni harus kembali menjadi penonton kisah cinta orang lain.
"Gua dikutuk kayaknya! Apa urusannya pengen sendiri aja sesusah itu!" Ucap Beni pada dirinya sendiri lalu mengalihkan pandangannya.
"Makanya cari pacar! Jangan kasar dan bersikap baiklah!" Suara seorang wanita yang sedang menyapu taman itu.
Beni melirik dan mendapati sosok tidak asing yang terlihat dari samping itu. Namun karena sedang malas meladeni Beni merebahkan tubuhnya di kursi panjang itu lalu menutup matanya di bawah pohon rindang itu.
Di sisi lain, Lia masih mengikuti di belakang Andi karena penasaran dan sekaligus ia ingin mencari tahu apa hubungan mereka. Namun, seseorang menepuk bahunya hingga ia terkejut dan berteriak.
"Aaak!" Lia yang sangat terkejut hingga seluruh tubuhnya mengekspresikan rasa takut berlebihan. Nafasnya juga ikut tidak teratur karena saat mendapati Andi bersama seorang gadis, jantungnya sudah tidak baik-baik saja, denyut yang memompa dengan kecepatan penuh ditambah kejutan itu membuatnya hilang kendali.
Dada yang terasa sesak, sepertinya penyakit itu berhasil menyerangnya lagi. Lia kesulitan mengontrol nafasnya lalu meraih hpnya dan masih mencoba menekan tombol satu untuk gawat darurat.
"Loe kenapa? Ini gua Dian! Lia sorry gua nggak maksud apa-apa!" Dian menyentuh bahu Lia mencoba menenangkan gadis itu namun dia sendiri panik.
Andi menoleh dan mendekat saat mendengar keributan. Banyak orang-orang hanya menoleh lalu meninggalkan tidak ada yang datang menolong. Dian masih berusaha namun kebingungan. Andi mendekat dan menyadari gadis itu adalah Lia. Di sisi lain, lutut Lia melemas dan telah jauh di rerumputan itu dan berhasil menekan tombol 1 yaitu menelopon Alora.
"Lia loe kenapa?" Andi langsung memegangi Lia dan berkata,
"Lia bernafaslah! Tarik nafas pelan! Buang nafas pelan! Tenang Lia! Cobalah tenang!" Andi merangkul Lia lalu memeluk gadis itu saat sudah lebih tenang.
...
Hp Alora begetar di tengah berlangsungnya mata kuliah, di saat dosen sedang menjelaskan materi. Alora tampak malas memeriksa, namun ketika melihat nama Lia, gadis itu langsung mengangkat diam-diam. Namun seperti yang kita ketahui, itu adalah panggilan darurat dari bestienya.
Alora sontak berdiri dan berkata,
"Pak! Saya minta izin teman saya sedang darurat!" Gadis itu mengambil tasnya lalu berlari keluar kelas.
Di lobby, ia bertemu dengan Andre lalu berangkat ke taman dengan motor Andre. Alora teringat chat terakhir Lia yang mengatakan akan melakukan observasi lapangan ke taman terdekat dari kampus.
Sesampainya di sana tentu saja Lia sudah tidak di sana. Alora yang sangat khawatir, bola matanya sudah berkaca namun, ia belum menemukan Lia di manapun bahkan setelah berkeliling taman itu bersama Andre dengan berlari.
"Lia loe di mana?" Alora semakin khawatir.
"Ndre! Gimana kalo Lia pingsan karena sendirian nggak ada yang nolongin!" Alora tidak dapat menahan lagi kesedihannya terlihat jelas alisnya sudah mengekerut sejak tadi.
"Loe tenang aja, Lia pasti baik-baik aja! Yok kita cari lagi siapa tau dia di toilet atau di bawa ke klinik terdekat!" Sahut Andre lalu meraih tangan Alora dan berlari kembali.
Tiba saja langkah Alora terhenti saat seseorang meraih tangan Alora. Kedua remaja yang berlari itu otomatis menoleh ke sosok yang menghentikan langkahnya.
"Lia udah dibawa pulang bang Andi!" Ucap Beni yang menggenggam tangan kiri Alora itu.
Alora merasa sangat lega di tengah rasa panik itu. Gadis itu tiba saja menangis lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menekuk lututnya. Andre dan Beni saling menatap sebentar lalu Andre ikut duduk di sisi Alora kemudian memeluk gadis itu sambil menepuk pelan bahunya agar Alora tenang.
Pertama kalinya, gadis itu gagal menahan air matanya di depan orang lain.
.
.
.
Tbc