My Secret Alora

My Secret Alora
Cinta Pertama


Pagi dengan suhu agak dingin, namun dengan giat para mahasiswa mengejar kelas pagi. Beni baru saja masuk ke kelas dan menuju meja di mana Alora sudah duduk rapi dengan buku terbuka. Manik keduanya bertemu saat Beni menarik kursi di sisi gadis itu. Namun interaksi keduanya hanya sampai di sana.


Kelas pun berakhir, perjalanan mata kuliah yang agak membosankan membuat beberapa di antara mereka menguap beberapa kali. Alora menutup buku lalu memasukkan ke dalam tasnya. Lalu gadis itu melirik pemuda di sisinya dan Beni juga melirik Alora di waktu yang sama, bola mata keduanya kembali bertemu.


"Good bye!" Ucap Beni.


"Huh?" Alora tampak bingung.


"Gua udah move on dari loe!" Ucap Beni lagi.


"Huh?" Alora tampak semakin melebarkan bola matanya karena terkejut dengan pernyataan tiba-tiba itu.


"Dan gua akan pindah dari sini! Loe adalah orang pertama yang tau ini jadi rahasiain ya!" Kalimat Beni yang berhasil membuat Alora bertanya-tanya.


"Huh? Kenapa?" Akhirnya ada kata yang bermakna dari gadis yang sedari tadi hanya merespon, "huh."


"Makasih udah buat gua jatuh cinta! Dan makasih juga udah ngangep gua obat buat trauma loe!" Batin Beni lalu pemuda itu bangkit dari kursinya dan keluar dari kelas.


Alora mengejar di belakang pemuda itu dan menyusul, ia merasa masih banyak yang perlu di tanyakan dari pernyataan singkat itu.


"Kenapa? Jawab gua dulu!" Alora berusaha menyamakan langkahnya dengan pemuda yang mengambil langkah besar itu.


"Jangan diam aja jawab dong!" Alora masih berusaha.


Di sisi lain, Lia yang ingin menemui Alora menyusul ke fakultas Ekonomi dan tentu saja ia melihat Alora bersama Beni yang tampak akur seolah terlihat mengobrol dari jauh, walau sebenarnya hanya Alora yang menodongkan pertanyaan tanpa jawaban.


Lia menyusul ke arah dua oknum di depannya itu.


"Seru banget kayaknya! Ada apa nih?" Tanya Lia yang baru tiba membuat langkah mereka terhenti.


"Ini si Beni katanya mau..." tentu kata Alora terhenti oleh Beni yang membungkam Alora dengan menutup mulut Alora dengan tangannya lalu berdeham.


"Ck! Apaan sih loe?" Alora berdecak kesal setelah di lepas, dan ia paham Beni ingin kepergiannya dirahasiakan.


"Loe yakin?" Tanya Alora yang masih ragu.


Beni hanya membalas dengan anggukan kecil. Dan tentu Lia semakin penasaran.


"Apanya? Apaan sih? Gua kepo nih?" Tanya Lia.


"Nggak ada! Biasalah anak aneh ini!" Sahut Alora. "Btw loe cari gua bestie?" Tanya Alora.


"Iya nih! Mau curhat!"


"Oh ya? Lets go!"


Kedua gadis itu pergi bersama tinggallah Beni yang juga pergi ke tujuannya, namun kedua gadis itu kompak menoleh ke arah Beni dengan pikiran masing-masing.


...


Kedua gadis dengan pesona masing-masing itu duduk di sebuah Kafe dekat kampus mereka. Lia menceritakan apa yang ia dengar hari itu tentang Andi dan juga perasaan Andi. Semakin dipikir, Lia semakin merasa bersalah karena merasa dirinya membuat Andi menahan kebahagiaannya. Bagaimanapun jika hanya menguntungkan sebelah pihak maka bukanlah sebuah kebahagiaan. Dirinya juga tidak bisa menikmati hubungan dengan rasa bersalah dan rasa kasihan itu.


Sebagai teman yang baik Alora mendengarkan dan memberi sedikit saran.


"Perasaan loe gimana?" Tanya Alora.


"Gua nggak tau! Semua terasa hampa!" Lia menjawab dengan sendu.


***


Andre sedang mengerjakan kuis-nya tampak fokus lalu dengan segera menyelesaikannya saat waktu pengerjaannya sudah habis. Usai semua kuis mahasiswa terkumpul, dosen pun keluar dari kelas setelah memberi sedikit ceramah pencerahan masa depan. Andre segera membereskan barangnya dan memasukkan semua ke dalam tas.


Namun ada satu orang yang mengincarnya, iyap Ziva! Gadis itu masih saja menempel pada Andre dengan segala harapan yang ia punya. Ziva mendekati meja Andre dan menyapa Andre dengan nada manja.


"Hai Andre! Loe mau ke mana nih? Kita makan bareng di kantin yok!" Ucap Ziva.


"Sorry jangan ganggu gua! Gua udah punya pacar!" Tegas Andre yang menyadari niat gadis itu.


"Bareng teman kelompok kok! Kan kita belum ngerayain kemenangan mutlak kelompok kita kemaren!" Sahut Ziva mencari alasan.


"Kalian makan aja ya! Ntar kirim aja tagihannya biar gua yang bayar!" Ucap Andre lalu memakai tasnya dan pergi.


Ziva mengerutkan dahinya karena kesal, pemuda itu bertranformasi menjadi Beni saat bersama gadis selain pacarnya.


...


Di sisi lain, ada seorang gadis yang larut dalam pikirannya. Alora yang berjalan di sisinya menggandeng tangan Lia. Lagi dan lagi Lia melirik Beni yang hanya lewat tanpa acuh padanya.


"Apa Beni marah sama gua ya?" Tanya Lia.


"Entah! Loe kayak nggak tau tu orang aja! Biasa tuh dia mood-mood-tan, lagi pms kali!" Sahut Alora mencoba menghibur, namun tatap Alora juga sedikit menyembunyikan kesedihan.


"Jadi loe udah nentuin pilihan loe?" Tanya Alora.


"Iya! Gua akan sampein besok malam! Sebelum kak Andi berangkat ke luar kota!" Sahut Lia.


...


Keesokan malamnya,


Andi membawa Lia ke restoran mewah yang sudah ia reservasi sebelumnya. Dan tentunya dengan pelayanan terbaik pula. Namun anehnya, Lia yang biasanya selalu bercerita tiap mereka dinner, kali ini gadis ini hanya diam saja melahap makanannya.


"Iya kak!" Sahut Lia singkat dan juga menyelesaikan suapan terakhirnya.


"Nggak terasa ya! Semua berlalu gitu aja!" Ucap Andi lalu tersenyum tanpa bersalah dengan wajah tampan itu.


"Kak kita... putus aja ya!" Ucap Lia yang berhasil membuat Andi melebarkan bola matanya.


"Huh? Kenapa?" Andi tampak tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Sebenarnya hari itu di Kafe Lia denger semuanya. Lia pengen kakak bahagia! Kejar cinta kak Andi! Lia juga nggak bisa nerusin hubungan dengan rasa bersalah ini!" Bola mata gadis itu telah berkaca.


"Kamu gimana? Kamu yakin? Lia tolong jangan aneh-aneh deh!" Bola mata Andi juga ikut berkaca.


"Kak Andi bisa jalanin hubungan tanpa perasaan? Ini bukan cinta jika hanya untuk kepentingan satu orang! Lia jadi paham gimana Beni ikhlasin Alora untuk Andre!"


"Tapi Lia... memutuskan hubungan juga bukan oleh sebelah pihak!"


"Lia baik-baik aja kok! Lagian Lia masih muda juga! Masih banyak di luar sana kisah menarik lainnya menunggu Lia!" Ucap Lia sembari menyembunyikan kesedihannya di balik bola mata yang ia tahan bendungan air di ujung manik itu agar tidak jatuh.


"Lia..." kata Andi kembali dihentikan Lia.


"Kak! Lia akan pergi, jangan kejar Lia atau Lia bakal berubah pikiran! Nikmatin waktu kakak dengan orang yang hati kakak pilih!"


Gadis itu terlalu rapuh untuk menahannya lebih lama. Ia segera bangkit membalikkan tubuhnya dan langsung pergi, begitupun dengan cairan bening uang langsung mengalir bersama dengan langkah pertama yang ia ambil.


Di sisi lain, Andi yang ingin mengejar tiba saja dihantam rasa ragu di mana perasaannya untuk Lia tidak sebesar yang ia yakini selama ini. Begitulah pupusnya hubungan singkat itu bersamaan berakhirnya cinta pertama Lia.


...


Lia hanya berjalan kaki menyusuri jalan dengan air mata yang terus mengalir walau langsung ia lap dengan tisu yang ia ambil di restoran tadi. Tanpa sadar langkahnya membawa dirinya ke Kafe di mana ia akan menemukan pemuda yang tak acuh padanya belakangan ini. Dan entah bagaimana ia mencari Beni bukannya Alora untuk bersandar.


Tentu tempat andalan Beni ada di sudut Kafe dengan laptop terbuka dan menyala, namun yang pemuda itu tekan malah hpnya. Lia langsung menuju ke arah pemuda itu dan langsung memeluk Beni.


Beni sedikit terkejut, lalu pemuda menyentuh kedua bahu Lia untuk dijauhkan dari tubuhnya.


"Tolong biarin gua gini sebentar aja!" Kalimat Lia terdengar bersamaan dengan isak tangisnya. Di mana Beni juga merasakan cairan hangat membasahi kaos yang ia kenakan dan akhirnya malah menepuk pelan punggung Lia agar ia merasa baikan.


"Ben! Loe pernah bilang 'kalo suatu saat kak Andi nyakitin gua, maka gua harus lari ke pelukan loe!' Jadi sekarang gua udah lari ke peluk loe! Apa yang akan loe lakukan sekarang?" Ucap Lia yang masih memeluk Beni.


Beni kembali memegangi bahu Lia yang membuat Lia melepas peluknya. Tak lupa Beni menyelipkan rambut Lia yang menempel di pipinya ke belakang telinga gadis itu akibat cairan asin yang membasahi pipinya. Ia juga mengelap pipi lembab itu dengan lengan jaketnya agar air mata itu bersih.


"Ayo pacaran sama gua!" Ucap Beni serius.


Bola mata Lia membulat dengan mulut yang sedikit terbuka.


***


.


.


.


Seminggu kemudian, tampak semua orang berkumpul di bandara mengantar Andi untuk dinas di luar kota. Dan Lia juga ada di sana, tentu saja keadaan menjadi lebih baik saat mereka menyadari perasaan mereka masing-masing.


"Andre jagain Alora tuh! Jagain mami juga, gua akan pulang sesekali!" Ucap Andi pada adiknya itu.


"Siap bos!" Sahut Andre yang berdiri di samping Alora. Sedangkan gadis itu hanya tersenyum.


"Lia jaga diri loe ya! Makasih udah beri gua kesempatan buat kembali sama orang yang menyembuhkan luka gua dulu!" Ucap Andi pada Lia dan gadis itu hanya mengangguk sembari tersenyum.


"Ben! Jagain Lia ya! Yaah walau gua masih agak kesel sama loe!" Kalimat Andi yang terdengar ramah walau dengan ekspresi datar khusus untuk Beni.


Beni hanya mengangguk sekali dengan ekspresi datar pula.


"Okeh guys! Alora dan Andre serta Lia dan Beni! Semoga kalian baik-baik aja ya! Kalo perlu apa-apa telpon aja gua! Gua akan datang buat adek-adek gua! Dan mami juga ya! Bye semuanya!" Kalimat terakhir Andi setelah memeluk Andre dan ibunya lalu pergi menuju ke arah pesawat.


Akhirnya semua orang lengkap dengan pasangan masing-masing. Alora dan Beni telah menemukan obat dari kesepian mereka. Walaupun sisa luka masih tersimpan jauh di dalam diri, namun bersama seseorang setidaknya mampu menutupi semua sakit yang terkubur itu. Perlahan keadaan menjadi lebih baik, goresan dan ukiran indah di bibir manis itu tergambar sempurna.


Semua orang melambai tak lupa mengukir senyum di bibir mereka.


Tidak ada akhir yang benar-benar bahagia, rasa sakit selalu menyertai dan terus menyapa saat ia punya waktu. Sering didengar bahwa hidup adalah tentang proses, di mana semua hal bisa saja terjadi tanpa minta izin ataupun berpamitan.


Begitupun dengan kisah ini, tidak ada akhir yang sempurna. My secret Alora adalah milik Beni, di mana Andre menemukannya lebih cepat dan mendapatkannya.


-Salam Cinta dari Author-


.


.


.


TAMAT


SEMOGA KALIAN SEMUA SUKA:)


JUMPA LAGI DI KISAH SEDIH LAINNYA


SEE YOU GUYS!