
Hari mendung lainnya tampak dari awan hitam yang menguasai langit. Seorang pemuda tampan berwajah datar sedang menyusuri lorong rumah sakit. Beni melirik kanan kiri mencari kamar wanita itu.
Sebuah pintu terpampang nyata di mana kenyataan lainnya yang akan di hadapi siap menyapa. Ceklek bunyi pintu terbuka dan tampaklah seorang wanita paruh baya dengan pakaian rumah sakit dan beragam alat medis ada di tangan dan wajahnya.
Pemuda itu dengan langkah perlahan memasuki ruang itu, hingga wanita itu menoleh dengan senyum tipis di bibirnya. Wajah asing memasuki ruangannya wanita itu mencoba bersikap ramah.
"Nak, kamu siapa?" Tanya wanita itu.
Beni hanya menatap, setelah beberapa saat menjawab,
"Beni..."
"Beni? Kamu cari siapa?" Tanya wanita itu lagi.
"Aku anaknya Herman Wijaya!" Ucap Beni.
"Apa?" Bola mata wanita itu berkaca dan senyum tipis itu seketika pudar, lalu wanita melanjutkan katanya,
"Anakku? Kamu tumbuh dengan baik!" Wanita itu bangkit dari tempat tidurnya lalu duduk yang tadinya hanya berbaring.
"Tolong mendekatlah anakku! Aku ingin meluk kamu! Mama kangen sama kamu!" Ucapnya pada Beni yang masih berjarak satu meter darinya.
"Kangen?" Beni sedikit mengeluarkan senyum sinisnya. "Iya bagaimanapun memang anda yang melahirkan aku!"
"Apa? Kenapa kamu kasar sama mama kamu sendiri?" Wanita itu mengernyit agak kesakitan.
"Kenapa baru sekarang ngabarin kami? Selama 10 tahun lalu aku nungguin, kenapa baru sekarang?"
Tiba saja suara pintu kembali terdengar dan seorang pemuda lainnya masuk bersama gadis remaja.
"Dia siapa mah?" Tanya yang pemuda baru masuk itu sambil melirik Beni. Kedua oknum itu langsung menuju ranjang ibu mereka itu lalu memeluk ibunya.
"Oh sayang kalian udah pulang! Pemuda ini..." belum sempat menyelesaikan kalimatnya, wanita itu telah kehilangan Beni.
Beni merasa tidak berarti saat mendapati dua anak lainnya dari ibunya. Seolah hanya dia yang tidak bisa mendapatkan kasih sayang dari ibunya. Ia masih belum bisa berdamai dengan luka dalam di hatinya. Senyum cerah yang di dapati dua anak itu hanyalaha omong kosong baginya.
"Apaan? Ngapain gua ke sini sih? Cih!" Gumam Beni sambil berjalan cepat dan sejauh mungkin dari kamar tadi.
"Cih! Sayang?" Senyum sinis Beni tidak tertahan lagi.
"Apa semua ini? Wanita itu nggak pernah senyum sama gua! Tapi manggil anak barunya sayang? Peluk?" Tentu Beni kesal saat bersamanya dulu hanya sebuah amukan dan amarah yang di dapatkannya saat bersama wanita yang enggan ia panggil ibu itu.
...
Setelah cukup lama memikirkannya di bawah hujan, saat hujan reda Beni memikirkan seseorang yang akan membuatnya tenang. Terakhir kali sebuah sentuhan tulus berhasil membuatnya merasa lebih baik.
Beni sampai hanya dengan 10 menit berjalan kaki ke rumah Alora. Setelah mengetuk pintu itu, wajah cerah Alora seolah menyambutnya dengan hangat. Walau senyum itu memudar namun Beni tidak bisa menahan dirinya, ia bahkan menyadari sebuah mobil datang, Beni dengan wajah sendu itu menghela berat setelah menetapkan sorot mata itu pada gadis ini. Tubuh Beni seolah tak terhentikan, ia memeluk Alora saat sadar Andre yang baru turun dari mobil menyaksikan mereka.
Tentu Andre tidak bisa menerima apa yang ia lihat, pemuda itu langsung berlari lalu menarik kedua bahu Beni agar melepas peluk iti dari pacarnya dan mehempasnya ke lantai teras rumah itu. Kesabaran Andre terlalu lama sudah diuji, pemuda itu melancarkan sebuah genggaman penuh ke wajah Beni dengan berada di atasnya namun tetap bertumpu pada lantai, hanya saja Beni terkapar di lantai itu.
"Sayang udah!" Alora menghentikan pukulan lainnya yang hampir melayang dengan memeluk Andre dari belakang.
"Tolong biarkan dia sekali ini aja! Dia lagi butuh bantuan kita!" Sambung Alora yang memperkuat lingkaran tangannya di pinggang Andre.
"Apa?"
...
"... jadi gitu ceritanya!" Akhir kalimat Alora setelah bercerita panjang lebar tentang ibu Beni yang tiba-tiba muncul. Ketiga oknum itu duduk di masing-masing kursi belakang meja bulat di teras Alora.
"Ternyata loe punya kisah sedih juga? Yaah seorang ibu memang punya pengaruh besar walaupun kita nggak bisa dapat kasih sayang dari mereka!" Sahut Andre yang melirik ke arah Beni.
Beni hanya diam lalu bangkit dari kursinya dan pergi.
***
Malam itu tampak sunyi, dua gadis sedang menikmati quality time mereka di rumah Alora. Dua bungkus mie yang sudah di masak itu siap untuk disantap.
"Lora! Hmm.. apa Steve sering gangguin loe?" Tanya Lia.
"Iya! Kodratnya dia memang seorang pengganggu!" Sahut Alora lalu mengambil sendoknya dan menyendokkan kuah mie lalu meniupnya karena panas.
"Apa loe yakin Beni bakalan selalu bantuin loe pas Steve ngelakuin sesuatu?" Lia tampak khawatir.
"Entahlah! Yang pasti gua harus secepatnya bayar hutang ke dia!" Alora meneguk kuah mie yang baru ia masukkan ke mulutnya itu.
"Tapi.. kapan loe berhutang sama dia? Gua bingung kan setelah selesai semua dia menghilang dari jangkauan kita!" Sesuap Mie akhirnya masuk ke dalam mulut Lia.
"Ternyata nyokap gua pinjam duit sama dia sebesar 50 juta dan gua nggak tau selama ini! Tu cowo juga minta semua dikembalikan atas dasar gua manfaatin dia katanya."
"Tuh cowo emang bener-bener g***!"
"Yah mau gimana lagi udah nasib gua gini!"
"Mm.. sebenarnya hari itu.. gua ketemu sama Steve! Dia ngancam bakalan buat loe menderita dia juga bakal ngulangin semua kejadian waktu itu, makanya gua panik sampe kumat!" Lia mengungkap apa yang sudah lama ingin dia sampaikan.
"Gua udah tau!" Sahut Alora.
"Lah udah?"
"Iya! Steve bilang sendiri... buat ngancam gua dia tentu harus manfaatin semua kartu yang dia punya kan?" Senyum sinis tiba saja terlihat di bibir Alora.
Lia yang khawatir tampak merenung dan memasukkan mie ke mukutnya dengan wajah merengut.
"Loe tau sesuatu Lia?" Tanya Alora yang membuat Lia tersadar dari lamunannya.
"Apa?" Tanya Lia menatap penuh gadis di depannya.
"Orang yang diinjak suatu saat akan menginjak! Gua pastiin gua akan balas mereka semua!" Alora tersenyum ke arah Lia.
"Lia makan banyak yaa, bestie harus sehat untuk ngebuktiin semua kan??"
.
.
.
Tbc
Epilog:
Lia yang berdiri di Lobby gedung jurusannya tampak merenung menunggu hujan reda. Tiba saja Steve datang membuat gadis itu terkejut parah hingga kehilangan kendali nafasnya.
"Lia? ternyata emang ello!" kata Steve tak lupa seringai psikopathnya.
"Ngapain kamu di sini?" Lia tampak ketakutan lalu memastikan dirinya tidak menatap pemuda itu.
"Hahahahah bakal seru hidup gua! Gua pastiin loe nggak akan bisa hidup tenang! Bestie loe! Alora itu? Gua bakal buat dia menderita!" raut wajah psikopath tergambar sempurna.
"Gua nggak rela! Semua kacau akibat rencana bodoh loe! dan Sayangnya gua bakalan ngulangin lagi semua! dengan sempurna!" Steve meninggalkan Lia.