My Secret Alora

My Secret Alora
New Friend


Hari-hari terus bergatian seperti seharusnya, selama hampir dua minggu Lia dan Alora bersama Andre dan Beni terus disatukan di kantin pada jam istirahat. Namun berbeda dengan SMA, jam kuliah mereka agak berbeda hingga peluang untuk bertemu semakin berkurang.


Perbedaan itu menjadi sebuah transisi di mana semua orang mulai sibuk dengan tugas masing-masing. Di mulai dari tugas mandiri, tugas kelompok, kuis hingga midtest dan ujian final, satu persatu menyapa dan menyibukkan mereka.


Namun, sebagai seorang pacar yang baik Andre selalu menjemput Alora tiap kelas Alora selesai. Sama seperti hari ini, Andre sudah menunggu di samping ruang kelas itu.


Tiba saja seorang gadis juga duduk di samping Andre yang juga duduk di kursi tunggu itu.


"Eh kamu Andre kan?" Sapa gadis itu lalu tersenyum. Gadis berambut panjang dengan gaya blonde dan style ala cewe-cewe glamour, terlihat jelas bahwa ia anak orang kaya.


Andre menoleh menatap gadis cantik nan modis itu. "Oh? Kamu yang tadi.. kita satu kelompok kan?"


"Iya!" Gadis itu tersenyum cerah


"Nama kamu siapa tadi?"


"Ziva! Kita sekelas padahal tapi loe nggak ingat nama gua! Kita ngomongnya santai aja ya"


"Okey!" Andre menjawab sambil tersenyum.


Alora akhirnya keluar dari kelas itu, tentu saja di susul Beni dari belakangnya. Gadis itu hanya diam saja saat Andre masih sibuk berbincang dengan teman barunya itu. Dan tentu saja Beni juga ikut menatap sombong dengan kedua tangannya di saku celananya.


Langkah Alora tiba saja dihentikan Beni saat ingin menghampiri Andre. Alora menoleh kesal karena pemuda ini selalu menarik tangannya tanpa izin. Tatap tajam Alora membuat Beni membuka mulut untuk beralasan.


"Kita tunggu pas Andre udah lihat loe, dia akan manggil Loe pakek nama atau panggilan sayang!" Ucap Beni masih memantau pergerakan Andre.


"Buat apa kita tunggu yang begituan? Nggak ah! Gua sibuk!" Sahut Alora dengan alis tertaut.


"Bentar!" Beni masih menggenggam pergelangan tangan gadis itu. "Gua yakin, satu tindakan akan berarti banyak kemungkinan"


Alora menarik tangannya hingga berhasil lepas dari pemuda aneh itu. Gadis ini tanpa sadar menunggu Andre menatapnya, entah bagaimana perkataan Beni terdengar masuk akal baginya.


"Eh udah selesai?" Ucap Andre pada pacarnya lalu tersenyum. "Ayo!" Pemuda itu langsung meraih tangan Alora untuk di genggam lalu melirik Beni dengan sorot mata tajam dan membawa Alora melangkah bersamanya.


"Apa artinya? Bukan nama ataupun panggilan sayang! Dia sebenarnya anggap aku ini apa?" Batin Alora sembari menatap Andre yang berjalan ceria di sisinya.


Di sisi lain, Beni masih mematung di tempatnya "sial! Gua kalah lagi!" Batin Beni lalu menuju tempat parkir.


...


Setelah menyelesaikan tugasnya menyusun siklus Akuntansi lengkap dengan Laporan Keuangan, Alora bangkit dari kursi belajar lalu membaringkan tubuhnya di kasur kamarnya dan menghela berat nafasnya malam itu. Seluruh badannya terasa pegal karena terlalu lama duduk. Namun tidak seberapa seperti saat ia dulu bekerja.


Hidupnya serasa membosankan, selama ini ia tidak pernah istirahat, terus bekerja sampai lupa apa yang sebenarnya ia inginkan dalam hidupnya. Banyak waktu luang adalah sebuah kemewahan baginya. Karena sudah terlalu lama menderita, ia bahkan tidak punya standar kebahagiaan.


Alora meraih hpnya lalu menemukan sebuah chat dari Andre.


"Udah makan malam? Mau dinner bareng?"


Chat yang dikirim jam 19.33 WIB, baru dibaca gadis itu jam 22.36 WIB. Perang saraf di mulai, haruskah ia jujur belum makan? Atau ia berbohong sudah makan, atau ia tidak perlu membalasnya lagi karena pertanyaannya sudah basi.


Akhirnya Alora membalas "belum" hanya satu kata lalu menutup hpnya dan melanjutkan tidurnya. Tak lama, suara seseorang mengetuk pintu. Alora bangkit dan tidak lupa untuk bertanya sebelum membuka pintu.


"Siapa ya?" Teriak Alora dari dalam rumah.


"Pesanan makanannya sudah sampai!" Sahut pria itu dari luar.


Alora membuka pintu dan ternyata benar paket makanan sudah sampai. Setelah menerima paketnya, gadis itu berlari mengambil hpnya kembali.


"Selamat makan chagiya! (Sayang)" chat masuk dari Andre yang membuat ujung bibir gadis itu terangkat.


"Chagiya kamu sweet banget sih?" Ucap Alora sembari membalas pesan pacarnya itu.


Pagi ini Alora berangkat sendirian ke kampus, tampak ia sedang menunggu bus di halte dekat rumahnya. Bus tiba, gadis itu naik lalu turun ketika sampai di kampusnya. Ia berjalan kaki hingga tiba di kelas.


Di depan kelas seorang gadis menghampirinya.


"Kamu maba (mahasiswa baru) kan?" Tanya gadis cantik itu.


"Iya, ada apa ya?" Sahut Alora sangat berhati-hati dengan perkataannya.


"Kenalin gua Keysha! Loe bisa panggil gua Key, gua butuh bantuan loe! Ikut gua!" Gadis itu sepertinya titisan Beni versi cewe. Soalnya gadis berpenampilan tomboy itu langsung menarik tangan Alora lalu membawanya ke kantor dosen.


Saat ini di depan dosen mata kuliah Akuntansi.


"Buk! Saya udah nemuin orang yang akan bantuin saya untuk ngejar ketinggalan selama saya nggak masuk kelas! Saya udah memenuhi syarat kan?" Ucap Key pada dosen itu.


"Kamu ini nggak pernah berubah! Tahun lalu kamu terlambat, tahun ini juga terlambat, mau sampai umur berapa kamu di sini terus?" Ucap wanita paruh baya bergelar dosen bernama Rini itu.


"Nama kamu siapa?" Tanya Bu Rini pada Alora.


"Alora buk!"


"Kamu beberan mau bantuin senior kamu ini?"


Alora melirik Key yang sedang menyakinkan Alora menggunakan telepathy dengan seluruh bagian wajahnya bahkan kepalanya mengangguk menyuruh gadis itu mengiyakan.


"Enggak buk!" Sahut Alora.


"Loh kenapa? Bukannya kamu udah setuju tadi?" Key masih berusaha meyakinkan Alora dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Saya nggak bisa bantu! Tapi kalo mau bantuan saya, saya bisa pinjamkan catatan saya untuk kakak ini belajar. Karena saya tidak mau terikat dengan orang lain" jelas Alora.


Key panik, pasalnya dia harus mengulang tahun depan lagi jika tidak bisa masuk tahun ini lagi.


"Yaudah saya ijinkan kamu masuk ke kelas saya! Satu syarat! Key, kamu harus pelajari catatannya Alora, masuk minggu depan kamu saya tes!"


"Baik buk! Terimakasih buk!" Ucap Key lalu meninggalkan ruangan itu dan Alora juga mengekor di belakangnya.


"Sebentar!" Gadis itu menghentikan langkah Alora yang ingin menuju kelas. Sedangkan Alora hanya menatap terdiam.


"Kenapa loe jawab enggak tadi? Loe mau cari masalah sama gua?" Tanya Key.


Alora mengatupkan kedua tangan di depan wajahnya.


"Maaf banget! Kehidupan yang aku jalanin di sini adalah karena keterikatan yang nggak bisa aku lepas. Jadi tolong! Kak Key nggak perlu ngertiin aku tapi tolong hargain pilihan aku!" Alora melangkahkan kakinya menuju kelas.


"Tuh cewe kenapa?" Gumam Key yang penasaran maksud dari jawaban Alora.


Di kelas, Alora melihat Beni yang terlihat rajin sedang membuka bukunya. Ternyata pemuda itu menyontek paksa tugas yang harus dikumpulkan hari ini. Korbannya terpaksa memberikan bukunya karena Beni itu kembali menggunakan ancaman yang entah apa yang dibisikkan sehingga korbannya bergetar ketakutan.


"Alora!" Seseorang membentak dan memukul meja Alora yang sedang duduk itu. Gadis yang dijadikan tujuan itu menatap orang itu.


"Ternyata loe beneran Alora yang itu?" Senyum seringai dan sorot mata tajam.


.


.


.


Tbc