My Secret Alora

My Secret Alora
Sinar


Sinar surya menerangi bumi begitu pilih kasih, hal itu tampak di mana terik matahari membuat cuaca sangat panas hari ini. Di sana, di bawah pohon beringin ada meja dan bangku yang terbuat dari beton atau biasa di sebut meja batu, seorang gadis berambut panjang yang sibuk men-scrool layar hpnya dengan wajah lesu dan bosan. Bagaimana tidak, gadis itu sudah duduk di sana selama 30 menit sendirian akhirnya memutuskan untuk menuju perpustakaan agar bisa mengadem di bawah AC.


Kali ini di sana, di barisan paling ujung perpustakaan gadis tadi sedang merebahkan kepalanya di atas buku yang tadinya ia baca. Iyap benar, dia memang Alora yang sedang ketiduran karena kurang breefing sama Andre tadi pagi. Gadis itu menunggu pacarnya selesai kelas hingga tertidur. Awalnya ia juga ada kelas namun tiba saja dosen membatalkan kelas karena tidak lagi di tempat dan kelas akan di ganti di hari lain. Alora yang ingin mengobrol dengan Andre memutuskan untuk menunggu, apalagi kalau di luar kampus belakangan mereka sulit untuk bertemu.


Namun, manusia hanya merencanakan dan takdir kerap kali memutuskan sesukanya. Setelah dua jam Alora terbangun lalu mengecek hpnya. Ada sebuah notifikasi dari pacarnya.


"Sayang kalo udah siap kelas, loe pulang duluan aja ya! Gua ada urusan dikit hari ini! Kita ngobrolnya besok aja ya!" Pesan dari Andre.


Alora menghela berat nafasnya, dengan sedikit rasa kesal yang berkumpul di ubun-ubunnya. Tapi apa boleh buat, gadis itu malas berdebat atau menuntut, ia mengambil tasnya lalu pulang.


...


Di sisi lain, Andre yang masih mencari tau tentang Alora menjadikan Steve sebagai informannya. Kali ini pemuda ini sedang menuju ke SMP Alora untuk mendapatkan kronologis kehidupan Alora waktu itu. Pemuda itu sedang memegang setir mobilnya sembari sedikit berpikir.


"Aku harus tau, apa yang sebenarnya terjadi sampai Alora pengen bunuh diri? Al, maafin aku bukannya aku nggak mau nunggu kamu cerita, tapi ini terlalu lama! Hanya aku yang nggak tau apa-apa tentang kamu!" Batin Andre sembari menyusuri jalan dengan mobilnya.


Sesampainya di sekolah itu, tentu saja sudah hampir sepi soalnya bertepatan dengan jam pulang sekolah. Andre turun dari mobilnya setelah di parkir di luar gerbang sekolah. Pemuda tampan itu melihat sekeliling mencari narasumber yang bisa ia wawancarai. Dan hal yang sudah pasti terjadi adalah beberapa gadis remaja yang mengikutinya karena tidak bisa mengabaikan wajah tampan itu.


Akhirnya ia memutuskan bertanya kepada para gadis-gadis itu.


"Kantor guru di mana ya?"


"Oh di sana!" Seseorang menjawab lalu menunjuk ke arah ruangan di belakang mereka.


"Di yang paling ujung, tapi kayaknya para guru udah pulang deh!" Sahut gadis lainnya.


"Kakak mau masuk sekolah di sini ya?" Tanya gadis lainnya dengan polos.


"Aah.. haha.. makasih ya infonya!" Ucap Andre setelah tertawa canggung lalu menuju ruangan itu.


Memang benar, ruangan itu sudah sepi dilihat dari jendelanya. Tiba saja seorang wanita paruh baya keluar dari ruang itu dan mendapati Andre yang berdiri di depan daun pintu masih ragu untuk mengetuk padahal tangannya sudah standby hendak mengetuk.


"Kamu siapa?" Tanya wanita berseragam guru itu sambil tersenyum.


"Aah.. saya..Andre buk! Saya sedang mencari tau tentang Alora, apa ibuk kenal yang namanya Alora?"


"Alora?" Senyum wanita itu seketika pudar, wanita itu mencoba mengingat kalimat yang baru ia dengar.


"Ini orangnya buk!" Andre menampakkan foto Alora dari hp nya.


"Oh Alora yang ini? Kenapa? Dia baik-baik aja kan? Dia.. masih hidup kan?" Wajah yang tampak khawatir itu menunggu jawaban.


"Iya buk! Alora baik-baik aja kok! Tapi kenapa ibuk tanya dia masih hidup gitu?" Andre tampak bingung.


"Dia udah terlalu lama bertahan! Dari dulu dia punya gangguan psycologis yang berat. Saat dia merasa semua hal di sekitanya di luar kendali dan dia seolah meragukan semua orang dan memilih untuk mengakhiri hidupnya." Jelas wanita itu.


"Apa yang terjadi sebenarnya buk?" Tanya Andre lagi.


"Sebenarnya dia punya trauma saat kecil kehilangan orang tua kandungnya, cuman dia berusaha mengubur rasa kehilangan itu, hingga dia berpikir bahwa ingatannya hilang. Memang benar pada akhirnya ingatan itu berhasil hilang akibat kecelakaan kecil saat keluarga barunya jatuh bangkrut."


"Kecelakaan lagi?" Andre makin bingung.


"Iya! Kepalanya terbentur terlalu keras! Akibat bullying karena ia jatuh miskin di sekolahnya yang dulu!" Sahut wanita itu.


"Saat Alora masuk ke sekolah ini, dia tampak hadir dengan jiwa yang bebeda. Ayahnya menceritakan semuanya pada saya, karena saya wali kelasnya saat itu."


"Saat ini Alora sudah mengingat semuanya buk! Perubahan sikapnya juga terlihat jelas seperti dia menyembunyikan sesuatu," sahut Andre.


"Kamu siapanya Alora?" Tanya wanita itu.


"Saya.. temannya Alora buk!"


"Tolong kamu jaga dia ya! Jangan tinggalin dia lagi! Walaupun dia kadang cuek, jutek, tapi dia baik kok!"


"Iya buk!" Sahut Andre lalu tersenyum.


***


Di sisi lain, Alora yang sudah terlanjur ditinggal Andre tadi siang sedang overthinking di mana logika sedang berdebat dengan nuraninya.


"Andre kenapa sering ngilang sih?" Batin Alora.


Gadis itu terlihat cemberut duduk di bangku depan minimarket di lingkungan mereka sembari menyeruput susu dari botolnya.


"Gua bosan banget lagi! Biasanya jam segini gua lagi kerja! Buang-buang waktu banget sih gua! Apa gua cari kerjaan lagi aja?" Batin Alora dengan dahi mengkerut.


"Hey! Ngapain loe bengong gitu!" Suara pemuda itu berhasil mengalihkan pandangan Alora yang tadinya buram.


"Eh loe Ben! Gua kira Andre!" Wajah datar gadis itu terlihat sendu.


"Loe kenapa lagi? Cowo loe ghosting?" Tanya Beni.


"Sini ke pelukan gua! Gua bakal jagain loe dan buat loe bahagia!" Sambung Beni sembari membuka tangannya seolah menyambut gadis itu.


Alora hanya membalas dengan lirikan tajam menggunakan ujung matanya dan terlihat malas menjawab.


"Lagian loe nya sih! Kan gua udah pernah bilang, mending loe jujur sama diri loe sendiri dan jujur juga sama Andre, jadi dia nggak akan merasa seperti ada yang loe sembunyikan dari dia!" Beni menambahkan koleksi kalimat bijaknya.


"Gua nggak mau Andre lihat gua yang menyedihkan itu, gua takut dia bakal ninggalin gua!"


"Dasar bodoh! Loe harusnya buat dia nerima loe apa adanya! Jangan hanya mencintai sendirian, cinta itu timbal balik!" Beni dengan mulut tajamnya menjadi bijak lagi, walau sebenarnya apa yang dia lakukan tidak sebijak kalimatnya.


"Terus loe gimana?" Alora malah balik bertanya.


"Gua kenapa?" Sahut Beni.


"Loe masih suka sama gua?" Tanya Alora lagi dengan wajah datar itu.


"Loe gr banget sih! Iyalah! Gua masih suka sama loe dan pengen loe jadi milik gua!" Beni yang selalu menjawab dengan nada tinggi.


"Trus loe bakal gimana? Kata loe cinta itu timbal balik, kenapa loe masih mencintai sendirian?" Pertanyaan lain dari Alora membuat Beni terdiam sebentar lalu menjawab.


"Itu pilihan gua bukan urusan loe!"


"Ini juga pilihan gua, kenapa loe ikut campur?" Jawab Alora dengan tegas.


"Karna gua pengen loe bahagia!" Sahut Beni, namun kali ini terdengar sendu.


"Kalo suatu saat Andre ninggalin loe, lari ke gua! Gua bakal buat Andre kembali buat loe! Bagi gua kebahagian loe lebih penting!" Tatap hangat yang jarang terlihat dari pemuda itu malah berlayar kali ini.


Alora menoleh dan mendapati pemuda itu terlihat tulus dengan ucapannya.


"Kalo itu terjadi, kenapa loe bakal buat Andre kembali ke gua? Kenapa loe nggak buat aja gua jatuh cinta sama loe?" Tanya Alora lagi.


"Karena yang loe butuhin itu Andre bukan gua! Kenapa loe malah makin hancurin hati gua dengan nanya gitu?" Batin Beni.


"Cari tau aja sendiri!" Sahut Beni lalu bangkit dari kursi itu dan pergi.


Cinta sebesar itu dan pengorbanan.


.


.


.


Tbc