My Secret Alora

My Secret Alora
Anak Sekolah


Andre berjalan menuju kelas sembari termenung. Tanpa sadar seorang gadis telah mengikuti dan menyamakan langkah dengannya, iyap Gebi. Gadis pantang nyerah itu senantiasa memanfaatkan kesempatan saat Andre sendirian.


"Kak Andre! Kelas kakak hari ini ada acara ya?" Tanya Gebi dengan wajah sumbringah dan antusias.


Namun, Andre hanya fokus dengan apa yang ia pikirkan. Menyadari pemuda itu tidak memperdulikannya, Gebi tampak malu sendiri. Gadis itu tampak seolah di abaikan. Namun karena merasa marah, Gebi menghentikan langkah Andre dengan melompat ke depan Andre yang tidak memperhatikan jalan itu.


Dubraakk.. Gebi terjatuh karena menabrak pemuda itu. Ia merintih kesakitan namun Andre hanya menatapnya menyerupai elspresi datar Alora biasanya. Pumuda itu tidak peduli dan melanjutkan langkahnya dengan mengambil jalan di sisi lainnya.


Tentu saja, Gebi dihantui rasa malu atas tingkah cerobohnya sendiri, harusnya berpikir dulu sebelum bertindak.


Di sisi lain, di mana Andre juga tidak menyadari bahwa Alora melihatnya ketika Gebi berjalan di sisi Andre seolah jalan bersama hingga dia diabaikan.


"Andre perlahan sudah mampu menyingkirkan benalu darinya" batin Alora.


Karena Andre yang dulu selalu peduli dengan pandangan orang terhadapnya, namun sejak mengenal Alora seakan kepribadiannya sedikit berubah bersamaan fase awal menuju kedewasaan.


...


Di kelas yang riuh itu, siswa/siswi sudah kompak menyiapkan beragam kue dan bahan minuman untuk acara perpisahan kecil-kecilan di detik-detik terakhir masa SMA mereka. Saat wali kelas tiba, mereka memulai mempersiapkan acara.


Mulai dari sie konsumsi hingga sieĀ  perlengkapan dan dekorasi, setiap unit sudah ditentukan oleh wali kelas, saatnya bekerja. Beberapa siswa mengatur meja dan kursi agar mereka dapat duduk secara berhadapan. Siswa lainnya menyiapkan makanan yang sudah mereka beli dari hasil uang kas selama satu tahun. Dan ada juga siswa lainnya yang hanya bertugas mengontrol dan memerintah tanpa ikut membantu.


Alora bersama bestie dan 2 teman lainnya sedang membuat minuman segar. Alora bertugas memecahkan es batu, Lia bertugas menakar ukuran gula dan bahan lainnya, yang satunya menyiapkan air dan lainnya menyiapkan wadah besar serta gelas-gelas.


Tidak lama dan berkat kerja sama, meja sudah tersusun rapi dengan sekitar 25 porsi makanan sudah tertera rapi lengkap dengan gelas minuman. Perlahan semua siswa mendekat dan duduk di bangku yang tersedia.


Tentu saja semua orang tidak tau bahwa hubungan Andre dan Alora tidak baik-baik saja. Terkhusus untuk pasangan itu di sediakan kursi di ujung agar mereka duduk bersebelahan.


"Okey, karena semuanya udah ngumpul kita akan mulai acara kita! Ayo kita nikmatin menu makanan yang ada di depan kita yaa" ucap guru wali kelas itu.


"Baik buk!" Sahut siswa serentak.


Siswa di kelas itu menikamti makanan mereka sembari bersenda gurau sesamanya. Sebuah kehidupan masa SMA yang terlihat sangat menyegarkan seolah semua orang ingin memutar kembali masa-masa tersebut. Kisah kasih di sekolah yang terjalin begitu saja berkat arahan takdir yang mempertemukan mereka satu sama lain.


Bukan tanpa alasan, saling bertemu dan mencintai kisah itu adalah cara takdir memperkenal bahwa ada perpisahan di setiap pertemuan. Masa di mana kamu ingin berhenti, tapi perjalanan panjang yang masih menantimu. Meski hidup tanpa tujuan, tapi perlahan takdir menuntun ke arah yang seharusnya.


Alora melahap makanan enak di depannya, walau sebenarnya dia adalah oknum yang tidak pernah membayar uang kas kelas, namun seluruh siswa pengertian itu membiarkannya karena tahu bagaimana keadaan hidup gadis itu. Yang terkadang diskros karena menunggak uang SPP sekolah.


Andre, si pemuda tampan itu tidak mampu mengalihkan pandangannya dari Alora. Otaknyaasoh memproses apa yang di maksud Alora. Dia bahkan sudah datang ke rumah nenek Alora untuk bertanya namun tidak mendapatkan jawaban. Karena Ina dan nenek tidak ingin memberitahukan apapun saat itu. Keduanya masih ditinju kenyataan sama halnya Alora.


Tanpa sengaja, Alora menumpahkan seluruh minuman yang terpleset dari tangannya ke roknya. Air berwarna yang mendominasi rok yang terlihat kotor saat ini.


Andre dengan sigap mengambil jaket miliknya lalu mengikatnya di pinggang Alora saat gadis itu sontak berdiri.


"Kamu bisa pakek ini dulu untuk ke kamar mandi!" Ucap Andre sembari mengikat lengan jaket ke belakang pinggang gadis itu. Ia melakukannya agar Alora tidak perlu malu ke kamar mandi karena pakaiannya kotor.


Seperti biasa sikap Alora tidak acuh, meski hatinya bergetar bahkan saat mendapati Andre sangat perhatian padanya. Berbeda jauh sikapnya dari tadi pagi di mana pemuda itu mengabaikan Gebi yang jatuh di depannya. Kemudia Alora menuju kamar mandi bersama Lia.


"Lora gua kayaknya mau nyerah deh!" Ucap Lia yang sedang berkaca di kamar mandi dan Alora yang membersihkan roknya di tempat yang sama.


"Kenapa" sahut Alora masih repot membersihkan.


"Kak Andi kayaknya udah punya pacar!" Pungkas Lia hingga Alora pun ikut terkejut.


"Masa sih?"


"Iya! Gua lihat sendiri kak Andi jalan sama cewe kemarin huhu.." Lia dengan wajah ekspresifnya sedang murung.


"Loe salah kali! Adiknya kadang!"


"Oh iya jugak ya! Pokoknya.. yang mau gua bilang itu loe harus cari tau dulu jangan langsung ambil kesimpulan"


"Gimana cara ngasih tau kak Andi?"


"Dengerin gua! Gua denger cinta masa SMA itu cuman cinta monyet jadi loe jangan terlalu berharap nanti bakalan sakit sendiri. Toh cinta monyet akan menghilang dengan sendirinya." Jelas Alora seolah terpaksa mengatur kalimat itu dalam otaknya.


"Dari mana loe denger semua itu?"


"Ada dari temen-temen gua!"


"Tapi kan ten loe cuma gua!"


...


Setelah perdebatan panjang asal usul kalimat Alora tadi, kedua gadis itu akhirnya balik ke kelas. Karena roknya masih basah, Alora masih menggunakan jaket Andre sebagai penutup.


Namun Andre sudah tidak ada di kelas. Pemuda itu mencari rivalnya untuk memdapati informasi yang ia inginkan. Walau terlihat hanya diam dan garang, Beni adalah sumber informasi karena tau semuanya.


Kebiasaan Beni untuk berteduh di bawah pohon pinggir lapangan masih sama. Andre menemukan pemuda itu setelah berkeliling hampir satu sekolah.


Beni tampak bersantai di bawah pohon dengan mata tertutup menikmati angin sepoi-sepoi yang lewat. Andre datang dengan deham besar yang disengaja agar oknum lainnya membuka mata.


Sesuai target, Beni membuka mata lalu melirik.


"Ngapain loe di sini?" Tanya Beni tanpa bergerak dari tempatnya.


"Gua mau nanya sama loe!" Sahut Andre langsung to the point.


"Siapa yang Alora maksud? Cari dia! Siapa yang di suruh cari Alora?" Namun pertanyaan salah yang diajukan Andre berakhir sia-sia.


"Loe apaan sih? Gajelas! Mana gua tau, kan dia nyuruh sama loe bukan ke gua!" Beni kembali melanjutkan santainya.


"Gua yakin loe pasti tau sesuatu! Kasih tau gua! Apa penyebab Alira jauhin gua?" Peetanyaan berikutnya dari Andre.


"Loe beneran nggak tau?" Beni memasang senyum sinis.


Andre hanya diam saja menunggu kalimat berikutnya pemuda di depannya.


"Gua juga nggak tau! Kalo mau tau cari tau sendiri!" Kalimat Beni mempermainkan Andre.


"Loe jangan main-main! Gua nanya serius!" Andre masih menahan emosinya.


Beni tertawa menikmati amarah yang harus ditahan itu.


"Kalau loe memang mau tau, tanya ke orang terdekat loe!"


"Siapa?"


"Ck! Loe memang nggak peka! Tanyain abang loe! Andi!" Kalimat terakhir Beni lalu kembali menutup matanya.


.


.


.


Tbc