
"Ibu aku minta maaf, tapi lima menit lagi aku ada meeting penting. Jika ibu ingin menunggu di sini maka silahkan, tapi aku tidak bisa menemani ibu!" ucap Dave yang sudah membereskan dokumen yang tadi dia sudah selesai menandatanganinya.
Davina pun memegang kepalanya, rupanya dia sudah membuat kesalahan dengan mempercayai Luna begitu saja. Dia bahkan tidak mendengarkan Shafa yang sudah mengatakan padanya kalau Dave itu sangat profesional. Dia bisa membedakan masalah pribadi dan pekerjaan. Mana mungkin kakaknya itu salah mengambil keputusan.
"Baiklah Dave, ibu akan pergi. Tapi berikan kepastian berapa lama skorsing yang kamu berikan pada Luna!" tanya Davina.
"Dia sudah menghambat banyak sekali pekerjaan, mengganti semua kerangka laporan itu dia juga tidak mampu. Ibu seharusnya memang dia tidak bekerja di sini!" tegas Dave yang mulai terlihat serius.
"Tapi Dave...!"
"Ibu, aku sudah memberikan kesempatan untuk Luna seperti yang ibu minta. Tapi dia mang tidak bisa di ajari. Bukan... dia memang tidak mau belajar. Ini perusahaan besar Bu, aku minta maaf sekali lagi. Sebaiknya Luna tidak usah kembali bekerja disini. Ayo Jo!" ucap Dave mempertegas keputusan nya untuk memecat Luna saja daripada wanita itu semakin membuat masalah untuknya.
Setelah mengatakan hal itu, Dave langsung mengajak Jo untuk segera pergi ke ruang meeting.
"Dave... Dave...!" Davina terus coba memanggil Dave tapi anaknya itu malah tidak menghiraukan nya.
Luna hanya bisa mendengus kesal di belakang Davina. Dia tadinya berpikir kalau dia mengadu pada Davina maka tantenya itu akan membantunya tapi ternyata Davina bahkan tidak bisa merubah keputusan Dave.
Luna mendekati Davina.
"Tante, bagaimana ini. Dave malah memecat ku?" tanya Luna.
'Ya ampun, mau bagaimana lagi. Kenapa juga Luna harus seperti itu. Aku sudah berkali-kali berusaha mendekatkan Dave dengannya, tapi semua sia-sia!' keluh Davina dalam hatinya.
Meskipun Davina juga kecewa pada Luna, tapi dia masih harus menenangkan calon menantu pilihannya itu.
"Sudahlah, tidak bekerja di kantornya juga tidak masalah kan. Oh ya, sebentar lagi Dave ulang tahun. Kamu bisa memberinya kejutan ulang tahun, mungkin dia akan terharu dan mulai membuka hatinya untuk mu. Bagaimana?" tanya Davina.
Luna mengangguk senang.
"Iya tante, aku akan berusaha!" jawab Luna membuat Davina tersenyum. Dan pada akhirnya mereka pun meninggalkan kantor Dave.
Sementara itu di perusahaannya. Hadi sedang menandatangani surat promosinya. Jabatan wakil CEO hari ini telah resmi dia dapatkan. Senyuman puas terpancar jelas dan begitu lebar di wajah Hadi, akhirnya usahanya selama ini membuahkan hasil yang sangat luar biasa.
Semua orang sekarang akan memanggilnya pak wakil CEO, dan tentu saja gaji dan semua fasilitas akan lebih baik dari sebelumnya saat dia hanya menjadi wakil manager.
"Selamat ya pak Hadi!"
Itulah yang dikatakan semua orang yang hadir dalam ruangan direksi. Semua orang sudah sepakat karena kinerja Hadi yang di anggap sangat luar biasa bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan Hendrawan Grup.
"Bagaimana kalau kita rayakan kenaikan jabatan mu ini?" tanya Irwan salah satu teman kerja Hadi.
"Iya pak Hadi, bagaimana kalau kita pergi D'Moon untuk merayakannya. Khusus untuk para pria pak Hadi!" ajak Deni, salah satu rekan kerjanya juga.
Hadi berpikir sejenak. Dia pikir memang tidak ada salahnya kalau dia mengajak teman-teman kerjanya untuk merayakan kenaikan jabatannya ini.
"Baiklah, nanti malam kita ke sana. Kamu Deni, atur saja reservasi nya!" jawab Hadi yang langsung di balas sikap hormat bendera oleh Deni.
Sementara itu, di rumahnya Hadi. Semua anggota keluargaku juga sedang menyiapkan jamuan istimewa atas kenaikan jabatan Hadi. Ibunya juga sudah mengundang para tetangga agar bisa hadir, untuk berdoa dan makan bersama.
Susan yang baru saja bangun pada pukul 10 pagi pun di buat heran dengan semua keributan dan orang-orang yang banyak di rumah Hadi membuatnya menjadi kesal.
"Apa-apaan ini?" teriaknya hingga membuat semua orang yang sedang sibuk membantu ibu Hadi membuat kue dan menyiapkan sayuran dan masakan lain menjadi terkejut dan langsung menoleh ke arah Susan.
Mendengar wanita itu berteriak. Ibu Hadi langsung meninggalkan pekerjaan nya yang sedang menyiapkan minuman untuk para tamu dan menghampiri Susan.
"Kenapa berteriak seperti itu? memang kamu pikir di sini hutan?" tanya ketus ibu Hadi.
"Memangnya kenapa, ini rumah calon suamiku. Artinya ini juga rumah ku, kenapa kalian membuat kekacauan begini tidak minta ijin padaku dulu?" tanya Susan.
"Ini rumah anakku, bahkan tanpa aku meminta ijin pun dia akan mengijinkan ku. Kamu siapa, menikah saja belum sudah banyak mengatur!" balas ibu Hadi yang tidak mau kalah dengan Susan.
Susan pun mulai mendengar beberapa orang yang ada di dalam ruangan itu membicarakan nya. Susan menjadi sangat kesal, dia menghentakkan kakinya dengan kencang lalu segera pergi dari tempat itu.
"Ya ampun, itu calon istrinya Hadi. Ih... gak tahu sopan santun ya!" ucap seorang ibu muda yang sedang membungkus adonan kue.
"Iya ih, mereka kan belum nikah ya. Masak tinggal satu rumah. Kayaknya kita harus laporin nih Bu sama pak RT. Bisa kena batunya ini komplek nanti!" sahut ibu berambut keriting di depannya.
"Eh mendingan kita bilang aja sama ibu Murti!" ajak salah seorang yang mendengar percakapan dua orang itu.
"Bu Murti!" panggil ibu muda itu.
"Iya Santi, kenapa? masih kurang adonan nya?" tanya ibunya Hadi.
"Bukan itu, maaf ini mah ya Bu. Santi mau tanya Bu? memangnya calon istrinya Hadi itu tinggal di rumah ini ya Bu?" tanya Santi yang membuat semua ibu-ibu yang sedang membantu di ruangan itu langsung menghentikan aktivitas mereka dan menoleh ke arah Santi dan ibunya Hadi.
Murti tampak bingung. Dia pun sudah berulang kali bilang pada Hadi agar sebelum menikah wanita itu tidak tinggal di rumah ini. Tapi Hadi tetap saja tidak mau dengar kata ibunya.
"Iya Santi, tapi mereka sebentar lagi akan menikah kok!" jawab Murti.
"Tapi sebaiknya jangan Bu, nanti kalau sudah menikah saja dia baru tinggal di sini. Biar gak jadi gunjingan orang, ibu kan tahu kalau tunggal bersama sebelum nikah itu bisa bawa sial loh Bu Murti!" ucap Santi menasehati ibunya Hadi itu.
"Iya Bu, gak baik. Bisa-bisa satu komplek kita nanti kena sial!" sambung ibu Wineke yang berada di hadapan Santi.
Murti benar-benar malu, dia hanya tersenyum pahit dan menganggukkan kepalanya.
"Iya, ibu-ibu. Nanti aku bilang pada Hadi!" ucapnya sangat canggung.
***
Bersambung...