Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 102


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di sebuah klub malam. Hadi dan ke enam temannya sedang merayakan kenaikan jabatan Hadi sebagai CEO.


Tiga orang teman kerjanya yang dulu satu tim dengannya, Irwan, Deni dan Andri tampak begitu senang karena mereka juga bebas memilih makanan dan minuman yang mereka mau. Apalagi ini adalah pestanya pada pria. Banyak wanita cantik yang menemani mereka minum. Salah seorang di antara wanita itu sejak tadi terus berusaha untuk mendekati Hadi, dengan pakaian mininya dia terus menempelkan beberapa anggota tubuhnya pada Hadi yang memang sepertinya juga tertarik pada wanita itu.


"Tuan, kalau tuan mau. Di lantai dua ada privasi room, kita bisa mengobrol lebih dekat lagi di dalam sana. Hanya berdua!" ucap wanita berpakaian mini itu dengan genit. Tangannya terus saja mera*ba ke sana kemari. Membuat Hadi yang memang sedang kesal pada Susan karena tingkahnya yang semakin tidak dia mengerti dan selalu membuat keributan dengan keluarganya menjadi semakin tertarik pada wanita di depannya itu.


Wanita itu bahkan nyaris duduk di pangkuan Hadi.


Perlahan dia meniup telinga Hadi dan berbisik.


"Tuan tidak perlu pakai pengaman, karena aku selalu rutin minum pil penunda kehamilan!" bisik wanita cantik itu dengan dadanya yang sudah menempel pada dada Hadi serta tangan jahilnya yang sejak tadi menggoda dan menari-nari di atas lutut Hadi.


Irwan hanya terkekeh melihat Hadi yang masih mencoba untuk menahan rayuan wanita itu.


"Hadi, sudah sana. Kamu kan sudah jadi duda, sudah lama pasti kamu tidak menyentuh wanita kan. Kami akan tutup mulut!" ucap Irwan yang meletakkan tangannya di mulutnya seperti menarik sebuah resleting melewati sisi kanan ke sisi kiri mulutnya.


"Iya Hadi, atau mau aku temani. Tapi kamu yang bayar ya!" ucap Deni yang sejak tadi menang sudah tidak tahu berapa kali dia sudah mencium wanita uang ada di sampingnya yang menemaninya minum.


Hadi masih diam, sebenarnya dia juga sudah tidak tahan lagi. Dia juga tidak perlu cemas tentang Susan, karena memang semua teman kerjanya tidak ada yang tahu kalau dia sudah berhubungan dengan Susan. Mereka hanya tahu kalau dia dan Susan adalah seorang atasan dan sekertaris pribadi nya. Itulah kenapa mereka selalu terlihat bersama di kantor atau di tempat lain.


Wanita yang menemani Hadi itu semakin tidak sabar mendengar kalau Hadi lah yang akan membayar semua tagihan mereka di sini. Dia sangat yakin kalau Hadi ini pasti orang kaya yang banyak uang. Tentu saja wanita itu tidak mau melewatkan begitu saja kesempatan untuk menyenangkan Hadi, yang secara otomatis dia akan mendapatkan banyak uang dari Hadi nantinya. Dengan berani wanita itu langsung duduk di pangkuan Hadi, dengan posisi berhadapan dia langsung mencium bibir Hadi di depan sua orang yang ada.


Teman-teman Hadi bersorak, melihat Hadi yang juga ikut membalas ciuman wanita itu. Wanita itu dengan agresif ingin membuat Hadi terbawa suasana dan melakukan hal lebih padanya, dengan begitu dia pasti akan mendapatkan banyak uang.


"Sudah pak Hadi, bawa saja dia naik ke atas!" seru Deni.


Hadi yang memang sudah sangat menginginkan wanita itu pun langsung menggendongnya, tanpa melepaskan ciumannya dengan wanita itu.


"Tunjukkan dimana tempatnya!" ucap Hadi yang melepaskan ciumannya pada wanita itu, kemudian menciumnya lagi.


Ketika semua teman-teman Hadi malah semakin meprovoka*si Hadi. Tanpa setahu mereka dan tanpa mereka sadari, sejak tadi ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh.


Orang itu adalah Roy, salah satu anak buah Oman yang memang bertugas untuk mengawasi Hadi. Roy bahkan sudah mengambil video saat Hadi masuk ke dalam klub malam tersebut. Dan senyuman menyeringai terlihat jelas di wajah Roy, ketika dia berhasil merekam video saat Hadi menggendong wanita itu ke lantai dua klub malam ini.


"Heh, bagus. Kamu malah mempermudah pekerjaan ku!" gumam Roy.


***


Sementara itu, Susan yang memang sudah keluar dari rumah Hadi karena Murti mengusirnya terus berusaha menghubungi Hadi. Tapi ponsel Hadi sama sekali tidak bisa di hubungi.


"Kemana sih dia? kenapa ponselnya tidak aktif?" tanya Susan dengan raut wajah kesal.


Susan masih berdiri di depan pintu rumah Hadi, dan menunggu taksi yang dia pesan. Dia sudah berusaha melawan, tapi dia kalah jumlah. Semua orang yang hadir dalam acara selamatan atas kenaikan jabatan Hadi ikut membela Murti untuk mengusirnya dari rumah Hadi.


"Lihat saja, aku tidak akan diam saja. Aku pastikan kalian akan membayarnya!" kesal Susan yang dia tujukan pada ibu Hadi, dan juga keluarganya yang lain.


Keesokan harinya.


Hadi Tama terbangun karena wanita yang bernama Mila itu membuka tirai jendela. Membuat sinar matahari masuk dan menyilaukan Hadi.


"Selamat pagi tuan!" sapa Mila dengan jubah mandi dan rambutnya yang masih basah.


Hadi duduk dan mengusap wajahnya.


"Jam berapa sekarang?" tanya Hadi.


"Jam 7 pagi tuan, aku tahu tuan harus bekerja kan. Makanya aku berusaha membangunkan tuan. Itu baju tuan, aku sudah menyiapkan yang baru, aku rasa ukurannya pas dengan tubuh tuan!" ucap Mila yang juga sudah mengoleskan selai coklat di roti panggang yang akan dia sajikan untuk Hadi.


Hadi tersenyum melihat Mila yang begitu perhatian padanya. Sebenarnya Hadi memang sangat suka dengan wanita yang penuh perhatian dan memanjakannya.


"Kamu tidak lelah?" tanya Hadi.


Mila pun tersipu, tapi sebenarnya dia hanya pura-pura saja bersikap sok manis seperti itu padahal dalam hatinya.


'Huh, apa dia bilang? lelah? hanya dua kali saja mana mungkin aku lelah, biasanya orang lain bisa empat sampai lima kali semalam, dia ini lemah sekali. Kalau saja dia tidak punya banyak uang, malas sekali aku bersikap seperti ini!' batin Mila.


Sambil berjalan mendekati Hadi, Mila membawa nampan yang sudah berisi sarapan dan kopi untuk Hadi.


"Tuan, sarapan dulu. Semua teman tuan sudah pulang semalam, dan ini tagihannya!" ucap Mila dengan lembut lalu memberikan sebuah Nita pada Hadi.


'35 juta, apa-apaan ini!' pikir Hadi.


Tapi karena dia merasa harus menjaga image nya di depan Mila dia pun bersikap tenang dan berusaha biasanya saja.


"Akan ku bayar, setelah sarapan!" jawab Hadi dan Mila pun tersenyum.


"Dan untuk ku tuan?" tanya Mila.


"Untuk mu dua kali lipat dari ini!" ucap Hadi sombong. Dia tentu saja ingin terlihat benar-benar seperti orang kaya.


Mila tersenyum senang, dan mencium pipi Hadi lalu masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian.


Hadi yang telah menghabiskan lebih dari 100 juta dalam satu malam pun mengusap kepalanya gusar.


'Aku tidak akan datang ke klub lagi kalau seperti ini!' sesal Hadi.


***


Bersambung...