
"Uhukk... Uhukk!"
Susan terbatuk ketika dia meminum susu hamil yang di buatkan oleh asisten rumah tangga di rumah ayahnya.
Mila yang sedari tadi memang mencari anaknya itu pun menghampiri Susan dan duduk di sebelah Susan sambil menepuk pelan punggung anaknya itu.
"Pelan-pelan Susan, minum susu saja kok bisa batuk sih?" tanya ibunya.
"Gak tahu nih Bu, sepertinya ada yang lagi ngomongin aku deh. Dan pasti omongan jelek sampai aku keselek begini!" ucap Susan sambil membersihkan sekitar mulutnya dengan tisu yang dia ambil dari atas meja makan.
"Hih, kamu aja kurang hati-hati minumnya. Oh ya, bagaimana dengan Hadi? apa rencana mu berhasil membujuknya? pasti berhasil kan, pria itu paling bisa di bujuk lewat perutnya dan bagian bawah perutnya. Pasti berhasil kan?" tanya Mila yang tidak mau malu jika harus mengatakan pada sanak saudara dan juga para tetangga kalau pernikahan mewah Susan akan di batalkan.
"Gagal Bu, mas Hadi kelihatannya marah sekali. Padahal aku tuh cuma mau kasih pelajaran aja sama mantan istrinya itu, mana aku tahu kalau tuan Dave Hendrawan begitu menyayanginya!" ucap Susan yang membuat Mila mendengus kesal.
"Ih, gimana sih Susan. Masa' merayu Hadi begitu saja tidak bisa. Pokoknya kamu harus bujuk dia lagi, pakai cara apa saja yang penting kamu harus bisa bujuk dia. Ibu gak mau sampai harus bilang ke tetangga dan semua saudara kalau pernikahan mewah kamu gak jadi di gelar. Mau di taruh mana muka ibu?" tanya Mila kesal pada Susan.
"Gimana lagi dong bu, perhatian aja sudah gak mempan?" tanya balik Susan yang sudah kehabisan ide membujuk Hadi yang sangat kesal padanya.
"Gertak dia, bilang kamu akan mogok makan. Dia pasti akan takut terjadi apa-apa padamu dan calon anak kalian kan?" tanya Mila memberi saran pada anaknya.
"Sudah bu, aku sudah mengatakan itu pada mas Hadi. Tapi mas Hadi malah bilang terserah! dan jangan buat dia tambah pusing!" jawab Susan.
Mila yang mendengar apa yang dikatakan Susan pun hanya bisa menghela nafas panjang.
'Ck... bahkan cara seperti itu tidak mempan. Bagaimana lagi? aku sungguh tidak mau malu, mau di taruh mana wajah ku di depan semua orang yang sudah aku bagi undangan!' batin Mila masih terus memikirkan cara agar bisa membujuk calon menantunya.
Sementara itu di apartemen Dave, Sila dan Dave masih berada di atas tempat tidur. Dengan selimut yang menutupi tubuh mereka yang polos. Dengan posisi Sila yang bersandar di dada Dave tapi dengan membelakangi Dave.
Dave juga Sedati tadi terus mengusap lembut perut Sila yang sudah mulai membesar meski tidak terlalu besar juga. Karena baru akan masuk trimester kedua.
Dave menceritakan pada Sila, tentang apa yang tadi di beritahu kan oleh Anita padanya. Dan telepon dari Anita itu juga yang mengakhiri pergulatan mereka. Kalau tidak pasti masih akan berlanjut hingga Mika kembali dari sekolah.
"Mereka membuat janji jam 1 siang nanti, karena Anita bilang padaku kalau mereka sudah datang dan aku tidak ada di perusahaan!" ucap Dave, dan yang dimaksud Dave dengan mereka itu adalah Kamal dan juga beberapa orang dewan direksi.
Mereka masih berharap kalau Dave merubah keputusan nya. Tapi sayang itu tidak akan pernah terjadi.
"Jadi itu alasan mas tidak berangkat ke perusahaan?" tanya Sila lembut sambil menyandarkan pipinya di lengan kekar Dave.
"Kenapa malah berpikir begitu. Aku kan tadi bilang ingin menghabiskan waktu yang sangat lama dengan mu, kalau bisa seharian saja kita di kamar, berpelukan seperti ini!" ujar Dave yang memeluk Sila dan terus menciumi kepala dan wajahnya. Pokoknya sekenanya sama, apa juga Dave cium dari bagian tubuh Sila.
Sila yang merasa kegel1an pun terkekeh. Tapi dia kemudian ingat dengan kejadian tempo hari saat dia dan Arinda makan siang bersama di mall. Saat itu Sila melihat Shafa dan suaminya bertengkar. Tidak hanya itu, Sila juga mendengar tentang perjanjian pernikahan. Sila jadi merasa harus memberitahu hal ini pada Dave.
"Mas, aku ingin katakan sesuatu yang penting!" ucap Sila membuat Dave berhenti menciumi Sila.
"Apa yang lebih penting dari ini sayang?" tanya Dave makin memeluk Sila dengan erat.
"Aku serius mas!" ucap Sila yang langsung membuat Dave melonggarkan sedikit pelukannya pada istri tercintanya itu.
"Baiklah, sekarang katakan!" seru Dave yang sudah siap mendengarkan dengan serius.
"Yang benar?" tanya Dave yang menyela ucapan Sila.
Dave bukan tidak tahu masalah Shafa dan Vincent yang memang jauh dari kata suami istri yang romantis. Tapi Dave tidak menyangka kalau adiknya itu akan bertengkar di depan umum.
Sila mengangguk yakin.
"Iya mas, aku ceritakan dari awal ya!" ucap Sila dan Dave pun mengangguk setuju.
"Ketika aku makan dengan Mika dan Diah, aku kan pergi ke toilet tuh. Nah pas aku kembali, aku lihat Shafa bersama suaminya dan juga dua orang paruh baya. Aku pikir mungkin mereka ayah dan ibu suami Shafa. Saat ada kedua orang tua itu, Shafa dan suaminya terlihat biasa-biasa saja. Bahkan Shafa banyak tersenyum. Tapi saat kedua orang tua itu pergi, mulai ada pertengkaran di antara mereka, mereka mulai berdebat...!"
"Kamu mendengar apa yang mereka perdebatkan?" lagi-lagi Dave menyela ucapan Sila sangking penasaran nya.
Sila pun langsung mengangguk.
"Jadi Shafa melihat mu?" tanya Dave.
Sila pun langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku meng1ntip mereka dari balik lemari hias yang ada di restoran!" jawab Sila jujur.
Dave sampai terkekeh mendengar penuturan istrinya itu, dia tidak bisa bayangkan Sila saat menjadi Sherlock Holmes mode on dan berdiri mematung mendengarkan pertengkaran Shafa dan Vincent.
Melihat suaminya tertawa, Sila pun bingung.
"Kenapa mas malah ketawa?" tanya Sila.
Dave berusaha untuk menghentikan tawanya.
"Sayang, lagian kenapa kamu ikut campur urusan mereka sih?" tanya Dave.
"Mas, dia kan adikmu. Itu artinya dia juga adikku, melihatnya bertengkar begitu aku kan jadi penasaran. Naluri ku sebagai seorang kakak ipar kan ingin tahu apa yang terjadi pada kedua pasangan itu!" jelas Sila panjang lebar.
"Sayang, bilang saja kamu kepo. Lalu?" tanya Dave.
Sila sedikit cemberut mendengar suaminya bilang dia kepo. Tapi Sila lalu melanjutkan ceritanya lagi.
"Dan saat mereka bertengkar, suami Shafa berusaha menenangkan Shafa. Tapi Shafa menepis tangan suaminya dengan keras. Dia bilang begini 'Ingat ya dalam surat perjanjian kita kamu tidak boleh sama sekali menyentuh ku, kamu yang buat sendiri surat perjanjian pernikahan itu, apa kamu juga mau mengingkarinya?' begitu mas kata Shafa!" jelas Sila.
Dave yang mendengar cerita Sila pun mengernyitkan keningnya.
"Perjanjian pernikahan?" tanya Dave dengan wajah tak menyangka dan di balas anggukan kepala oleh Sila.
***
Bersambung...