Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 38


Anita langsung mengajak Sila ke ruangannya. Setelah di jelaskan kalau tugas Sila adalah menggantikan beberapa tugas Joseph, Anita malah terkesan begitu mendominasi untuk menjelaskan apa saja pekerjaan yang harus dilakukan oleh Sila


"Itu meja kerjamu, dan kamu tidak boleh masuk ke ruangan bos kalau tidak di perintahkan. Ingat semua pekerjaan yang aku jelaskan tadi!" seru Anita.


Sila langsung mengangguk paham, dia mendengarkan dengan baik setiap apa yang dikatakan Anita padanya.


Anita lalu mengalihkan pandangannya ke arah tangan Sila yang saling menaut di depan perutnya.


"Dan satu hal lagi, tuan Dave itu punya Myshopobia parah sekali. Kamu jangan sampai menyentuhnya, atau dia akan langsung memecat mu. Mengerti!" ucap Anita lagi.


Sila langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat. Sila pikir Anita cukup baik, jika tidak mungkin dia tidak akan mengatakan masalah ini padanya kan. Karena kalau dia memang tidak baik. Maka tentu saja Anita lebih baik tidak memberitahu tentang Myshopobia yang di derita Dave, karena dengan begitu Sila bisa di pecat.


Tapi seorang Anita sangat profesional, setelah tahu tugas Sila tidak ada hubungannya dengan tugasnya, dia merasa harus mendidik Sila dengan baik agar bisa bekerja sama dengan dirinya.


Anita lalu berjalan ke arah meja kerjanya, dia membuka nakas yang ada di belakang meja kerjanya, lalu meraih sebuah benda dari dalam sana. Sekotak sarung tangan dia keluarkan dan berjalan kembali ke arah Sila. Anita meletakkan kotak itu di atas meja kerja Sila.


Tuk


Kotak berwarna putih dengan gambar sarung tangan di sisi kanan dan kirinya itu di lemparkan di atas meja Sila. Awalnya Anita mau meletakkannya dengan benar, tapi dia malah melemparkannya saat di dekat meja kerja Sila.


"Itu adalah sarung tangan, ingat untuk selalu memakainya saat kamu bekerja!" seru Anita dan langsung di balas dengan anggukan oleh Sila.


"Terimakasih kak!" ucap Sila berusaha bersikap sopan. Karena Sila pikir usianya Anita pasti lebih tua darinya maka dia memanggil Anita dengan kak.


Sementara Anita yang di panggil seperti itu merasa kurang senang dalam hatinya.


"Eh, kenapa panggil aku seperti itu? memangnya aku kakak mu?" tanya Anita yang jelas memprotes panggilan Sila padanya barusan.


"Itu...?"


"Memang berapa usiamu?" tanya Anita dengan nada kesal menyela apa yang ingin Sila katakan.


"Dua puluh lima!" jawab Sila cepat.


"Heh, umur kita itu cuma beda tiga tahun. Jangan panggil aku seperti itu, panggil saja Anita. Kamu ini...!" kesal Anita uang langsung berjalan ke arah meja kerjanya.


Sila hanya diam sejenak lalu mulai duduk di kursinya. Dia mencoba untuk beradaptasi dengan meja kerja barunya ini. Semua sudah ada di mejanya, komputer dan juga beberapa dokumen penting tentang Dave dan juga perusahaan. Sila langsung memakai sarung tangan pemberian Anita.


Sementara itu Anita diam-diam mengeluarkan cermin yang ada di laci meja kerjanya. Anita meraih cermin itu dan berkaca dengan meletakkan kaca itu di bawah meja.


Anita memegang pipinya dan berkata.


"Ck... apa aku sudah terlihat setua itu?" tanya Anita sambil bergumam pelan.


Sementara itu, di kediaman Hendrawan. Lagi-lagi Shafa harus dibuat mendengus kesal dengan tingkah sok polos dari Luna pada ibunya. Dengan menggelayut manja di lengan Davina, Luna menangis bombai dan terus meminta agar Davina mengantarnya ke kantor Dave.


"Ck... kan tadi ibu sudah bilang, ibu sangat sibuk hari ini. Kak Luna juga sudah kenal semua pegawai kak Dave kan. Tinggal temui Anita saja dan katakan ibu yang meminta Kak Luna bekerja disana. Beres!" seru Shafa kesal pada tingkah Luna.


"Benar Luna, Tante minta maaf ya. Tapi hari ini Tante harus pergi menemani om ke pertemuan penting!" tambah Davina yang sebenarnya sudah di tunggu oleh sang suami di dalam mobil untuk pertemuan penting.


"Tapi Tante, Dave tidak akan mendengarkan siapapun selain Tante. Bagaimana kalau dia tidak mau menerimaku bekerja sebagai sekertaris nya?" tanya Luna yang matanya masih basah karena air mata buatannya.


'Bagus kalau begitu! aku saja tidak yakin kamu bisa bekerja. Setahuku yang kamu bisa hanya menghabiskan uang kakek mu saja!' batin Shafa kesal.


Berbeda dengan reaksi Shafa yang acuh pada keluhan Luna. Davina begitu menyayangi Luna bahkan sudah menganggap Luna seperti putrinya sendiri. Davina mengelus lembut kepala Luna.


"Ya sudah, biar Tante coba hubungi Dave lagi ya!" ucap Davina mencoba menenangkan Luna.


Davina lalu menghubungi putra keduanya itu. Dia juga sudah mendengar dari anak buah yang dia utus untuk mengawasi Dave kalau putranya itu sudah kembali ke kantor. Jadi pasti dia akan mengangkat panggilan telepon dari Davina.


"Halo Bu!" sapa Dave


"Halo Dave, bagaimana cuti mu?" tanya Davina.


"Sepertinya ibu juga tahu kan bagaimana cuti ku" balas Dave yang langsung membuat Davina tersedak.


"Ehem, Dave sudahlah semua itu ibu lakukan untuk menjagamu!" elak Davina.


"Oh ya, ibu sungguh baik. Aku sangat menyayangimu ibu!" ucap Dave yang langsung membuat Davina tersenyum.


Berbeda dengan Randy, Dave memang sangat dekat dengan ibunya.


"Dave, dengar! mulai hari ini Luna akan bekerja di kantor mu, sebagai sekertaris mu. Ibu tidak bisa mengantar Luna ke sana karena ibu punya urusan penting hari ini dengan ayahmu jadi jangan membuat masalah oke!" seru Davina.


"Ck... ibu kenapa harus wanita itu? aku bahkan sudah punya dua sekertaris!" keluh Dave.


"Dua?" tanya Davina yang juga bingung. Karena setahunya sekertaris Dave hanya Anita saja.


"Iya, dua. Lalu untuk apa aku pekerjakan nona manja keluarga Praja itu, dan lagi Bu! apa dia bisa bekerja?" tanya Dave kesal.


Davina lalu melihat ke arah Luna yang sedang menatapnya dengan mata berbinar penuh harap.


"Pasti bisa, kamu tinggal ajari saja dia. Bagaimana dia kan calon istrimu, kamu harus...!"


"Bu, aku tidak mau menikah dengannya! jangan sebut dia calon istriku!" sela Dave terdengar sangat kesal.


"Baiklah, tapi sekarang ibu harap kamu bisa memberikannya kesempatan untuk berusaha menunjukkan ketulusan nya ya! ibu mohon!" ucap Davina mengalah dan membujuk Dave.


Mendengar kata permohonan dari sang ibu, Dave pun tidak berdaya.


"Baiklah, tapi dalam seminggu jika dia tidak bisa melakukan apapun, aku akan memecatnya!" tegas Dave.


"Baiklah Dave, sekarang dia akan berangkat ke kantor mu. Sambut dia dengan baik ya!" seru Davina terlihat senang.


Dave tidak menjawab lagi dan langsung mengakhiri panggilan telepon. Davina langsung beralih pada Luna.


"Sayang, Dave mau menerima mu sebagai sekertaris nya. Sekarang kamu bisa berangkat ke kantor Dave!" ucap Davina yang langsung membuat Luna tersenyum senang.


Dengan langkah yang begitu bersemangat Luna langsung keluar dari kediaman Hendrawan menuju kantor Dave. Shafa yang melihat itu langsung berkata.


"Tidak kah ibu lihat, perubahan ekspresi wanita itu benar-benar lebih cepat dari kita membalikkan telapak tangan! awalnya dia seperti sedang tertimpa musibah dan beban hidup yang begitu berat, lihat dia sekarang!" terang Shafa mencoba menjelaskan pada sang ibu kalau Luna memang pandai bersandiwara.


Tapi bukannya mendengarkan Shafa, Davina malah mengusap lengan putri bungsunya itu.


"Jangan bicara seperti itu nak, bagaimana pun juga keluarga Praja itu adalah keluarga yang baik. Yang sudah jelas bibit, bebet dan bobotnya. Tidak akan ada wanita yang lebih baik untuk Dave dari pada Luna. Hanya Luna yang mau mengerti Mhysophobia parah Dave, dia bahkan tidak masalah jika tidak punya anak. Coba kamu pikirkan itu, Luna sudah mau berkorban seperti itu, tidaklah kamu itu sangat tulus!" kata Davina.


'Ck... tentu saja tidak masalah tidak punya anak, dia bahkan sama sekali tidak bisa mengurus anak! bagaimana menjelaskannya pada ibu?' tanya Shafa dalam hati.


***


Bersambung...