Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 213


Randy mulai bersikap sedikit terus terang ketika dia merasa Karina sudah mulai membuka hatinya dan mulai mau bercanda dengannya. Beberapa candaan terlontar dari mulut Randy, dia memang tidak pak4r dalam hal itu, karena sudah beberapa tahun ini mulutnya memang lebih sering menggombal daripada bercanda.


"Kalau kita terjebak di sini sampai malam bagaimana menurutmu?" tanya Randy pada Karina.


Mereka bahkan sudah selesai makan malam. Namun hujan terlihat masih saja turun dengan sangat deras. Seharusnya memang sebelum liburan, ada baiknya mencari tahu kondisi cuaca di tempat kita akan bepergian. Jika tidak, maka inilah yang terjadi, liburan Shafa, Randy, Karina dan Joseph malah di terpa hujan sejak siang tadi mereka sampai. Hanya reda sebentar, dan sekarang malah semakin deras.


Di tanya seperti itu oleh Randy, Karina hanya mengangkat bahunya sekilas.


"Apa mungkin adikmu tidak berniat membawakan kita payung dari dalam paviliun itu?" tanya Karina.


Karena Karina yakin kalau sebenar di dalam paviliun itu pasti ada payungnya. Tadi saat pulang, Hasnah juga membawa payung di tangannya.


Randy pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Kurasa tidak, apa kamu tahu? ku pikir mereka berdua memang sengaja melakukan semua ini. Membiarkan kita terjebak di sini!" jelas Randy.


Karina pun terdiam. Dia memang bisa merasakan hal itu. Tapi dia memang sudah mengikhlaskan perasaan nya pada Joseph sejak. Joseph mengatakan dia tidak pernah menyukai Karina. Apalagi saat peristiwa kecelakaan yang hampir melukai Karina dan Shafa sebelum berangkat ke pulau. Karina yakin kalau apa yang dikatakan Joseph itu memang benar. Buktinya dia memilih menyelamatkan Shafa dan mendorongnya ke arah Randy.


Bahkan nama yang di teriakan Joseph saat itu adalah nama Shafa. Padahal Shafa dan Karina ada di sana, jika dia memang perduli pada keduanya dengan perasaan yang sama, pasti Joseph akan menyebutkan nama keduanya. Tapi itu tidak, hanya nama Shafa saja.


Jika Karina memperhatikan sejak di kantor dan sejak di pulau ini. Joseph memang terlihat banyak melihat ke arah Shafa. Dia yakin kalau Joseph memang menyukai Shafa. Sayangnya baru Karina seorang saja yang menyadari hal ini.


"Sejujurnya, aku malah sangat berterima kasih pada mereka. Selama dua minggu semenjak pernikahan kita di tetapkan. Kita berdua memang jarang bicara berdua, dan tidak pernah makan malam berdua seperti ini. Juga tidak pernah duduk berdekatan berdua seperti tadi siang!" jelas Randy.


Karina hanya menghela nafasnya panjang. Dia menyadari kalau semua yang di katakan oleh Randy itu benar.


Randy pun memberanikan diri memegang tangan Karina.


"Aku akan jujur padamu tentang satu hal!" ujar Randy membuat Shafa yang tadinya melihat ke arah tangannya yang di pegang Randy. Kini beralih menatap Randy yang juga sedang menatapnya dengan penuh perasaan.


Deg deg deg


Berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya, kali ini saat menyapa manik coklat tua pria berusia di atas kepala tiga itu jantung Karina mulai berdetak kencang. Benar-benar tidak seperti biasanya. Mungkin karena tatapan Randy memang terlihat sangat tulus, atau mungkin karena suasana tempat dan malam yang mendukung.


"Aku bertaruh dengan Dave!" ucap Randy menjeda sebentar apa yang ingin dia katakan.


Karina pun masih dengan ekspresi wajah yang sama. Bahkan kali ini pipinya sedikit merona.


"Jika aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta padaku hingga hari dimana aku seharusnya melamar mu ke rumah orang tuamu. Maka aku akan melepaskan mu!"


Deg


Karina langsung menarik tangannya dari genggaman Randy. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba merasa ada sesuatu yang hilang dan dia tidak menyukai hal itu.


"Aku minta maaf Karina, bukan maksud ku menjadikan cintaku bahan taruhan. Aku hanya ingin semua orang yakin kalau perasaan ku padamu tidak main-main. Aku tahu aku pernah sangat berbuat salah padamu...!"


'Ada apa dengan hatiku, kenapa aku tidak suka dengan apa yang kadal buntung ini katakan?' tanya Karina dalam hatinya.


Randy yang mendapat reaksi seperti itu dari Karina mengira Karina marah karena dia menjadikannya sebagai hal untuk bertaruh. Randy pun ikut berdiri dan menghampiri Karina. Dia berdiri tepat di hadapan Karina.


"Karina dengar, aku benar-benar minta maaf! aku tidak bermaksud... !" Randy menjeda ucapannya karena dia melihat mata Karina bahkan sudah berkaca-kaca.


"Karina...!" lirih Randy memanggil Karina yang bahkan tak mau menatap ke arahnya.


"Aku minta maaf, tapi sampai waktu itu tiba. Ijinkan aku untuk berusaha membuatmu mencintaiku!" pinta Randy yang wajahnya penuh dengan rasa bersalah.


Karina kemudian melihat ke arah Randy.


"Seberapa besar cintamu padaku?" tanya Karina pada Randy.


"Sangat besar, hingga jika kamu meminta nyawaku pun, akan aku berikan!" tegas Randy tanpa keraguan sedikitpun.


"Apa akan lebih besar daripada cintamu untuk Alisha?" tanya Karina.


Deg


Randy terdiam, dia tidak menyangka akan ada pertanyaan itu terlontar dari bibir Karina. Randy menundukkan kepalanya, sejujurnya dia sudah bisa melupakan rasa sedih itu sejak Karina hadir di hidupnya. Tapi justru Karina lah yang membuatnya ingat lagi pada luka lamanya itu, hingga Randy pun tak bisa berkata-kata lagi.


"Aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan mu, tapi yang bisa aku pastikan adalah hanya kamu yang akan jadi prioritas ku untuk sekarang dan selanjutnya. Kamu adalah masa kini dan masa depan ku Karina!" terang Randy.


Karina cukup puas mendengar jawaban Randy, tapi sesulit sulitnya bersaing cinta adalah bersaing dengan orang yang sudah tiada. Dia menyadari itu, karena sampai kapanpun Alisha akan selalu berada di tempatnya di dalam hati Randy, yang meskipun Randy bilang dia begitu mencintai Karina, tapi Alisha juga akan tetap ada di sana.


"Yah mau bagaimana lagi kadal buntung, sepertinya aku juga sudah mulai menyukai mu!" ucap Karina dengan ekspresi seperti orang yang hanya bisa pasr4h dan tinggal menerima n4sibnya saja.


Randy yang mengira dia akan mendapatkan tamparan atau bahkan penolakan secara terang-terangan dari Karina, membulatkan matanya dengan lebar. Dia benar-benar terkejut dengan apa yang dikatakan Karina barusan. Seperti sebuah mimpi menurutnya.


"Kamu bilang apa?" tanya Randy yang masih takjub dengan apa yang baru dia dengar.


"Ck... aku tahu kamu sudah di atas kepala tiga, tapi apa iya pendengaran mu sudah mulai terganggu?" tanya Karina.


Randy mengedipkan matanya berulang kali. Wanita di depannya ini benar-benar sudah kembali bicara ketua padanya. Tapi sedetik kemudian Randy langsung tersenyum senang. Dia bahkan tanpa minta ijin pada Karina memeluk Karina dengan erat bahkan mengangkat sedikit tubuh wanita itu dan membawanya berputar-putar. Seperti yang di film-film itu. Randy tertawa bahagia, dan Karina juga. Randy bahkan terus mengatakan kalau dia sangat bahagia dan dia sangat mencintai Karina.


"Sayang, bolehkan aku memanggil mu sayang mulai sekarang?" tanya Randy yang baru saja menurunkan tubuh Karina.


Dengan tersipu Karina mengangguk perlahan membuat senyum Randy bertambah lebar saja.


***


Bersambung...