Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 222


Sila melepas tangannya perlahan dari genggaman Murti. Melihat apa yang dilakukan istrinya, Dave merasa sangat lega. Ternyata istrinya bisa mengambil keputusan dengan tepat. Dengan tidak ikut campur urusan Hadi lagi, maka Dave sangat yakin kalau Sila memang sudah sepenuhnya move on dari masa lalunya. Meski Sila memang sudah lama melakukan itu, sejak dia mengetahui dirinya hamil anak Dave, sejak saat itu pula dia sudah menghapus bayang-bayang masa lalunya dengan Hadi.


Murti terlihat sangat kecewa.


"Sila!" lirih wanita paruh baya itu.


"Aku juga seorang ibu, Bu Murti. Tapi aku tidak akan pernah membela anakku jika dia memang melakukan kesalahan. Aku tidak bermaksud tidak ingin membantu Bu Murti ketika Bu Murti sedang dalam kesulitan. Tapi mas Hadi memang bersalah Bu. Dan dia punya kewajiban menanggung segala akibat perbuatannya itu, dia sudah melanggar hukum. Maka biarkan mas Hadi membayar semua perbuatannya dan menebus semua kesalahannya dengan jalan yang benar Bu!" Sila berusaha menasehati Bu Murti.


Bukan bermaksud menggurui yang lebih tua. Tapi saat ini Murti pasti sedang dalam keadaan tidak bisa berpikir dengan tenang. Sebagai seorang ibu yang dia pikirkan hanya bagaimana menyelamatkan anaknya dari penjara.


Murti tertunduk sedih.


"Ayahnya... ayahnya Hadi masuk ke rumah sakit Sila. Rumah Hadi di sita, kami di paksa keluar dari rumah. Zain sedang dalam perjalanan...!"


Grepp


Sila langsung memeluk Murti dengan erat. Dia tahu kalau saat ini Murti pasti sedang dalam keadaan paling sedih. Suaminya kembali masuk rumah sakit, dan Hadi di penjara. Dia di usir dari rumah mewah anaknya, apa yang lebih buruk dari semua hal yang menimpa Murti saat ini.


Sila lalu menoleh ke arah suaminya. Dave pun mengerti maksud Sila. Bagi siapapun yang terjerat kasus seperti Hadi itu, semua harta bendanya akan di sita untuk mengganti kerugian dari pihak pelapor. Jadi mungkin saja aset mereka di bank juga sudah di bekukan, di saat seperti ini pasti sangat berat bagi dua orang paruh baya seperti Murti dan Haris.


"Ibu Murti jangan khawatir, aku yang akan menanggung semua pengobatan pak Haris. Kalian juga bisa tinggal di hotel untuk sementara waktu. Anak buah ku akan mengaturnya. Tapi kalau masalah Hadi Tama, seperti yang istriku katakan itu di luar kapasitas kami!" tegas Dave.


Mendengar suaminya mau membantu pak Haris dan Bu Murti, Sila sangat merasa tenang. Dave pun lalu menghubungi Oman. Beberapa saat kemudian Oman datang.


"Iya tuan!" sapa Oman.


"Oman, dengar. Urus biaya administrasi rumah sakit dan segala pengobatan untuk pak Haris. Semuanya sampai beliau sembuh. Dan urus hotel untuk keluarga pak Haris. Juga semua keperluan mereka!" seru Dave.


Murti masih menundukkan kepalanya. Dia tidak menyangka kalau suami Sila yang sekarang sangat baik, bahkan jauh lebih baik dari putranya sendiri. Murti melihat ke arah Sila yang memang terlihat lebih segar, lebih cantik dan lebih bahagia. Bahkan pakaian serta semua yang melekat di tubuh Sila adalah barang-barang yang sangat mahal.


"Terima kasih banyak Sila, sekali lagi ibu minta maaf atas...!"


Sila langsung mengusap lengan Murti pelan.


"Sudah bu, yang sudah lalu biar berlalu. Meskipun begitu Mika tetaplah cucu Bu Murti, kapan saja Bu Murti mau bertemu Mika. Bu Murti bisa menghubungi ku!" ucap Sila terakhir kali sebelum Oman mempersilahkan Murti mengikutinya.


Setelah Murti dan Oman pergi dari kediaman Hendrawan. Dave mengusap air mata di wajah Sila yang sempat dia tumpahkan karena mendengar Haris masuk rumah sakit tadi. Dave memang tahu kalau selama ini dari seluruh keluarga Hadi Tama, yang tulus menyayangi nya memang hanya ayah mertuanya itu saja. Maka wajar menurut Dave, Sila sedih mendengar kabar tidak baik itu.


"Kamu ingin menjenguk pak Haris?" tanya Dave pelan pada Sila.


Sila pun mengangguk perlahan.


"Kalau mas mengijinkan nya!" jawab Sila.


Sementara itu, kabar tentang Hadi Tama juga sudah sampai pada Joseph di perjalanan pulang mereka dari pulau. Oman terus memberikan update terbaru tentang kabar itu.


Setidaknya hal itu membuat Joseph mengalihkan kebingungannya terhadap sikap Shafa yang sejak malam itu terus menghindarinya.


Joseph sempat menyangka kalau dia telah salah bicara. Tapi setelah di pikir-pikir lagi, Joseph tidak merasa ada yang salah dengan apa yang dia katakan pada malam itu pada Shafa. Tapi dia juga heran kenapa Shafa terkesan menjauhinya.


Di dermaga ketika, Randy dan juga Karina sudah turun terlebih dahulu dari speed boat, Joseph menahan tangan Shafa yang juga akan turun menyusul Karina dan Randy.


"Nona, ada apa dengan mu?" tanya Joseph.


Shafa langsung menghentakkan tangannya dengan kuat agar terlepas dari genggaman Joseph. Tapi usaha Shafa itu sia-sia saja, karena tenaga nya tak bisa di bandingkan dengan Joseph. Ibarat kelinci melawan singa, sangat jauh berbeda.


"Ih, lepaskan pak tua!" protes Shafa.


"Apa aku ada salah bicara padamu? kenapa kamu seperti menghindar dariku terus?" tanya Joseph.


"Lepas tidak, aku ini masih istri orang. Kalau pegang-pegang terus di lihat orang. Nanti aku akan dapat pandangan buruk!" pekik Shafa yang terus mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Joseph.


Mendengar jawaban seperti itu, Joseph merasa aneh. Joseph bahkan mengira Shafa terbentur sesuatu atau hal lain. Bagaimana bisa wanita yang selama ini selalu mengajarnya bahkan ketika sudah menyandang status sebagai istri orang, hari ini malah berbalik membicarakan masalah pantas atau tidak pantas di hadapannya.


Namun ketika Joseph lengah karena memikirkan apa sebenarnya yang ada di kepala Shafa. Shafa pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menginjak kaki Joseph dan segera melepaskan tangannya dari genggaman Joseph. Secepatnya dia langsung meloncat baik ke atas jembatan kayu dermaga. Dan langsung berlari ke arah Randy dan Karina.


Joseph hanya memandangi kepergian Shafa.


'Ada apa dengannya?' tanya Joseph dalam hatinya.


***


Sementara itu di rumah sakit dimana Susan dan ibunya sedang di tangani dengan serius oleh dokter.


Hilman yang berdiri seorang diri di depan sebuah ruang UGD hanya menatap nanar ke ruangan itu. Barusan dokter mendatangi dirinya, dan meminta persetujuan untuk tindakan operasi besar.


Wajah Hilman sangat pucat, hatinya juga begitu getir. Barusan dia menandatangani dus surat persetujuan tindakan operasi besar sekaligus. Yang pertama adalah operasi pengangkatan rahim Susan. Dan yang kedua adalah operasi untuk tindakan amputasi kaki kiri Mila.


Hilman terjatuh ke lantai, dia terduduk lemas dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca.


"Susan... Mila...!" lirihnya begitu pilu.


***


Bersambung...