
Bak petir di siang bolong, betapa terkejutnya Aline mendengar hal itu. Pria yang selama ini bahkan tak pernah marah atau menolak keinginannya. Sekarang mengatakan akan menceraikannya, bahkan di saat dirinya sedang dalam penjara.
"Mas, kamu jangan main-main ya? ini bukan saatnya bermain-main!" kesal Aline.
"Aku bahkan tidak pernah seserius ini dalam hidup ku Aline. Sebelumnya aku masih berfikir untuk memaafkan mu atas tindakan mu menjadikan putri kita sebagai boneka untuk mencapai tujuan mu yang bahkan tidak jelas itu...!"
Brakk
Aline menggebrak meja karena tak terima dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Adi Praja.
"Apa maksud mu? aku melakukan semua itu agar Luna bisa hidup bahagia!" tegasnya mengelak semua tuduhan Adi Praja.
Adi Praja hanya menghela nafasnya berat.
"Kamu menyakitinya Aline, kamu menyakiti putri kita satu-satunya. Dia terus menangis dan memelukku saat dia menyadari kalau dia merasa benar-benar rendah atas semua perbuatannya. Luna sudah menceritakan semuanya, termasuk kejadian di villa bersama Randy, apa kamu masih punya hati Aline, dia putrimu, Luna itu putri kandung mu. Dia juga anakku, kenapa kau tega menjerumuskan...!"
"Tuan Adi Praja..!" pengacara di sebelah Adi Praja menegur Adi Praja.
Pengacaranya menegur Adi karena Adi sudah mulai menaikkan nada suaranya, dan pengacara itu melihat petugas yang mengawasi mereka mulai terlihat akan maju. Tapi begitu pengacara Adi menegur Adi, dan Adi tidak melanjutkan perkataannya. Petugas itu kembali ke tempatnya lagi.
Adi Praja hanya menghela nafasnya sangat berat. Karena saat dia bicara begitu wajah Aline malah tampak tak terima. Dan mang benar. Aline memang tidak menerima kesalahan yang di tuduhkan Adi padanya. Dia masih bersikeras semua yang dia lakukan adalah untuk kebaikan Luna.
"Ini sudah cukup Aline, aku akan membawa Luna ke luar negeri bersama ayah. Hanya mereka berdua keluarga ku, aku tidak mau sampai Luna atau ayah kondisinya semakin buruk karena ulah mu yang tak pernah sadar akan kesalahan yang kau lakukan ini. Tanda tangani saja surat ini, dan aku akan berikan separuh dari seluruh harta keluarga Praja!" tegas Adi.
Mata Aline membelalak lebar.
"Keterlaluan kau mas, kau akan meninggalkan aku di saat aku kesulitan seperti ini? padahal aku sudah menemani mu selama puluhan tahun dalam suka dan duka...!"
"Hanya dalam suka Aline...!" sela Adi Praja dengan wajah serius.
"Mas...!"
"Itu kenyataan, dimana kau saat ayah sakit? dimana kau saat kami harus keluar negeri dan merawat ayah sambil bekerja? setelah ayah pulang, kau juga tidak merawatnya, hanya para pelayan dan perawat ayah saja. Hentikan sandiwara istri yang tersakiti ini, dan cepat tanda tangan!" tegas Adi Praja.
"Tidak!" Aline bersuara dengan keras.
"Baiklah, tidak mau tanda tangan terserah. Tapi saat kamu bebas jangan harap bisa kembali ke keluarga Praja. Karena kami benar-benar akan pergi dari negara ini. Dan saat itu kamu juga tidak akan dapatkan sepeserpun dari keluarga Praja!" tegas Adi Praja.
Aline benar-benar tak percaya dengan semua yang dia dengar. Tapi sepertinya Adi Praja sangat serius. Tak mau kehilangan semua hartanya, Aline lantas meraih pulpen yang ada di atas meja lalu menandatangani dokumen perceraian antara dirinya dengan Adi Praja.
"Sudah! kirimkan semuanya ke rekening ku!" ujar Aline lalu meninggalkan Adi Praja yang masih memandangi surat perceraiannya.
Aline kembali ke ruang tahanan.
"Enak saja mau membuang ku begitu saja. Luna anak bodoh itu, apa saja yang sudah dia katakan pada ayahnya. Aku sudah sampai seperti ini untuknya, dia malah mengadu yang tidak-tidak pada ayahnya. Dasar anak bodoh!" gerutu Aline di dalam ruang tahanan.
***
Baru menghentikan mobilnya di depan makam, Randy menoleh ke arah dimana makam Alisha berada dengan mata yang berkaca-kaca.
Di depan makam, ada penjual bunga. Dan setelah keluar dari dalam mobil, Randy menuju ke tempat penjual bunga itu berada.
Beberapa tangkai mawar berwarna merah di beli, dan langsung membawanya ke makam Alisha.
Beberapa langkah Randy terasa sangat berat. Matanya juga sudah tergenang air mata yang siap kapan saja untuk tumpah.
Dan saat Randy tiba di depan pusara terakhir istrinya itu. Randy langsung berlutut di samping makam Alisha. Tiba-tiba saja bayangan wajah Alisha melintas begitu saja di benak Randy. Wajah meneduhkan sang istri yang selalu tersenyum saat menyambutnya pulang kerja meskipun itu jam sebelas malam. Alisha tidak akan tidur duluan jika Randy mengatakan akan pulang. Meskipun itu tengah sampai larut malam.
Air mata Randy yang sejak tadi sudah menggenang pun akhirnya tumpah.
"Alisha!" lirihnya.
Mencintai seseorang itu memang sangat dilematis. Saat dia ada rasanya semua dunia milik kita. Tapi saat dia pergi, semua yang ada di dunia ini seolah ikut pergi bersamanya.
Dan Randy pernah mengalami hal itu, kedatangan Alisha dalam hidupnya membawa jutaan kebahagiaan yang tak bisa dua ungkapkan dengan kata-kata. Tapi kepergiannya juga membawa segalanya milik Randy. Bahkan jati dirinya.
Butuh waktu sampai lima tahun lamanya baru dia bisa kembali ke hati dirinya. Dan itupun setelah bertemu Karina yang memang sangat mirip dengan Alisha dari mulai cara bicara dan juga sifat mereka.
Tapi luka itu terbuka kembali, saat kebenaran terungkap. Jika kematian Alisha bukan karena kecelakaan. Tapi karena Aline yang mencelakainya. Randy merasa sangat bodoh, sangat bersalah dan sangat kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga istrinya itu dengan baik. Hingga seseorang bisa mencelakai Alisha.
Randy meletakkan beberapa tangkai mawar merah di atas pusara Alisha.
"Maafkan aku sayang, aku bahkan tidak pernah menyelidikinya. Kamu pasti sangat kecewa padaku, kamu pasti tidak tenang selama ini karena orang yang mencelakai mu masih bebas bersenang-senang bahkan merubah target nya dariku ke Dave. Maafkan aku yang tidak menyadari semua itu Alisha. Aku sungguh minta maaf!" ucap Randy terisak sambil memeluk tanah pusara Alisha.
"Kalau bukan karena kelalaian ku, kamu pasti sekarang masih...!" Randy memejamkan matanya. Dia tidak bisa melanjutkan perkataannya.
Randy menyadari kalau dia melanjutkan apa yang dia katakan. Itu seolah dia menentang takdir, karena mau bagaimana pun juga Alisha tidak akan pernah kembali.
"Semua ini salahku Alisha, maafkan aku, maafkan aku!" ucap Randy yang sangat merasa bersalah pada mendiang istrinya.
Beberapa lama Randy menangis dan meluapkan rasa bersalahnya pada Alisha. Sampai kemudian dia mengangkat tubuhnya dan menyeka air matanya.
"Aku berjanji padamu Alisha, wanita itu, Aline Praja itu. Dia akan membayar semua perbuatannya padamu. Dia akan membusuk di penjara. Aku janji padamu!" ucap Randy dengan sangat yakin dan tegas.
Meskipun begitu mata Randy tidak bisa menyembunyikan kalau dia benar-benar merasa bersalah karena telah gagal menjaga Alisha.
***
Bersambung...