
Sila yang sudah mengantarkan Mika ke sekolahnya pun kembali ke rumah sakit. Dave sangat senang melihat Sila, tapi Davina sedikit menegurnya.
"Sila, kan ibu sudah bilang. Istirahat saja di rumah. Kamu sedang hamil nak, tidak boleh lelah dan tidak boleh memikirkan hal-hal seperti ini...!" ucapan Davina terhenti karena Rizal langsung merangkul istrinya itu.
"Bu, biarkan saja. Sila ingin menghibur adik iparnya. Tidak apa-apa!" ucap Rizal lembut.
Davina hanya bisa menghela nafasnya panjang. Lalu mengusap lengan Sila perlahan.
"Tapi kamu jangan terlalu lelah ya nak!" ujar Davina dan Sila langsung tersenyum dan mengangguk paham.
Tak lama kemudian Shafa sudah keluar dari kamar mandi di bantu seorang perawat. Karena perawat juga ingin memastikan keadaan Shafa.
Setelah di periksa dan di beri obat. Shafa kembali ke ranjang pasien nya. Tapi kali ini posisinya duduk dengan sandaran dua buah bantal di belakang untuk menopang punggung nya.
Semua orang sudah berada di hadapan Shafa, dan wanita muda itu tahu apa yang ingin di dengar oleh semua anggota keluarganya.
Shafa menghirup nafas dalam-dalam, mencoba untuk tidak emosional saat akan menceritakan tentang semua masalahnya dengan Vincent.
Shafa masih bingung akan mulai semua ceritanya darimana. Tapi kemudian Dave mengusap kembali kepala Shafa dengan lembut.
"Mulai saja dengan perjanjian pernikahan kalian!" ucap Dave yang tahu kalau sang adik sedang bingung ingin mengatakan dari mana dulu tentang masalahnya dengan suaminya itu.
Shafa melihat ke arah Dave yang menampilkan ekspresi wajah sangat tenang. Shafa kembali menghela nafasnya dan dia pun mulai berkata.
"Ayah, ibu aku minta maaf. Aku tidak mengatakan hal ini sebelumnya pada kalian. Aku dan...!" Shafa kembali menjeda kalimatnya.
Shafa merasa tercekat saat akan menyebutkan nama Vincent. Rasanya Shafa tidak bisa mengucapkan lagi nama itu, terasa sangat sulit baginya mengeluarkan ejaan nama itu.
Dave yang melihat mata sang adik yang kembali memerah dan berkaca-kaca juga ikut memegang bahu Shafa dengan pelan.
Rizal benar-benar merasa sangat haru melihat apa yang dilakukan oleh Randy dan Dave. Rizal merasa sangat bangga pada Randy dan juga Dave, mereka berdua begitu sayang dan mengasihi adik mereka itu. Mereka terus menunjukkan sikap mereka yang sangat mendukung dan selalu akan ada bersama dengan Shafa, di samping Shafa.
"Aku dan pria itu punya sebuah perjanjian pernikahan, dia bilang dia menyukaiku sudah ratusan kali. Aku selalu bilang aku tidak bisa menerimanya karena... karena...!" Shafa kembali menjeda apa yang ingin dia katakan.
Shafa sama sekali tidak ingin membawa nama lain dalam masalahnya. Meskipun dia memang tak pernah menerima pernyataan cinta Vincent karena ada orang lain di dalam hatinya. Tapi semua itu juga percuma, karena orang itu selalu menolaknya.
"Karena?" tanya Davina pelan. Ibu Shafa itu sangat penasaran.
Shafa menelan salivanya dengan susah payah, kemudian dia berusaha untuk bicara lagi.
"Karena aku memang tidak bisa mencintai nya meskipun aku sudah berusaha!" lanjut Shafa.
Dave dan Randy berusaha mencari kebenaran dalam manik mata coklat sang adik. Dan mereka berdua bisa melihat dengan jelas kalau Shafa bicara jujur.
"Lalu kenapa kamu setuju menikah dengannya nak?" tanya Davina yang sudah sangat emosional.
"Permisi" suara Joseph membuat semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arahnya.
Shafa yang melihat kedatangan Joseph langsung kembali menitikan setitik air mata dari sudut matanya yang buru-buru dia seka dengan jari tengahnya karena tidak ingin siapapun melihatnya.
Shafa merasa sangat malu, sedih dan sangat emosional jika ingat semua penolakan Joseph yang secara tidak langsung menjadi penyebab Shafa menerima lamaran dari Vincent.
Joseph langsung berjalan mendekati semua orang. Shafa langsung memalingkan wajahnya ketika Joseph perlahan mendekat ke arahnya.
"Apa kamu sudah menemukan laki-laki bren9sek itu?" tanya Dave.
"Maaf tuan, tapi dia dan kedua orang tuanya sudah tidak ada di rumah ataupun di villanya saat aku dan anak buah kita ke sana. Tapi aku sudah meminta semua berjaga di setiap dermaga, bandara, pelabuhan, terminal dan pinggiran kota!" jelas Joseph panjang lebar.
"Baik Jo, kamu bisa kembali ke pekerjaan mu!" ujar Rizal.
"Maaf tuan besar, tapi ada yang ingin saya tunjukkan pada kalian!" ucap Joseph yang langsung menunjukkan rekaman tentang semua pernyataan nenek Vincent.
Nenek Vincent mengatakan kalau Vincent memintanya untuk berpura-pura sakit parah. Dan ketika Vincent datang membawa seorang wanita, nenek Vincent di minta oleh Vincent untuk langsung tertarik pada wanita itu hingga ingin menjadikan nya sebagai istri Vincent. Bahkan nenek Vincent di minta untuk mengatakan kalau itu adalah keinginan terakhirnya.
Melihat dan mendengarkan pernyataan nenek Vincent itu, semua orang menjadi geram. Bahkan tak terkecuali Shafa, dia kira memang neneknya Vincent itu benar-benar sakit. Ternyata itu hanya trik Vincent untuk mendapatkan simpati dari Shafa.
"Dia memang pria yang tidak bermor4l!" pekik Randy yang seolah lupa siapa dirinya, dia seolah berkata seperti itu, seolah lupa apa yang sudah dia lakukan di luaran sana karena depresi nya di tinggal Alisha.
Wajah Rizal juga terlihat memerah, dia yang paling sabar pun tidak terima putrinya di permainkan seperti itu.
"Lalu apa isi perjanjian pernikahan kalian itu?" tanya Rizal yang ingin semuanya jelas sebelum dia mengambil keputusan.
Shafa kembali menghela nafas.
"Dia yang menuliskan perjanjian itu sendiri, dia bilang dia tidak akan pernah menyentuh ku jika aku tidak mengijinkannya, dan jika dalam 6 bulan aku belum bisa jatuh hati padanya, dia akan menceraikan aku!" jelas Shafa.
Davina merasa begitu sedih, dia merasa kecolong4n. Kenapa dia tidak pernah berpikir untuk bertanya atau mengobrol lebih inten5 dengan putrinya satu-satunya itu.
"Tapi kamu sudah menyetujui pernikahan itu nak, kewajiban seorang istri...!"
"Dia bilang dia tidak akan meminta hak nya yah, sebelum aku jatuh cinta padanya!" sela Shafa yang kesal sekali pada Vincent.
Davina langsung memeluk erat Shafa yang kembali menangis. Rizal sidah tak dapat bicara banyak, dia juga tidak ingin dua wanita yang sangat berharga dalam hidup nya menangis seperti itu di depannya.
Rizal pun memanggil seorang pemuka agama, dia lalu meminta penjelasan atas apa yang terjadi pada anaknya itu.
Sang pemuja agama lalu mengatakan.
"Hai orang-orang beriman! Tidak halal bagi kamu mempusak4i perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata..."
"Meski mereka telah menikah pak ustadz?" tanya Dave yang sangat penasaran.
"Meski mereka telah menikah!" jelas sang ustadz.
Setelah mendengarkan penjelasan sang ustadz, Rizal pun yakin akan keputusan apa yang seharusnya dia ambil.
***
Bersambung...