
Joseph tampak sangat canggung, tapi Shafa malah berjalan memutar dan membuka pintu mobil penumpang bagian depan. Dengan santainya dia duduk di sebelah Joseph. Membuat pria dengan wajah garang itu menatap Shafa dengan serius.
"Nona...!"
"Shafa, atau mungkin akan lebih baik kalau kamu panggil aku sayang Jo!" ucap Shafa dengan suara yang terdengar menahan sedih.
Joseph menghela nafas berat. Dan hanya bisa diam sambil kembali beralih ke depan.
"Jalan!" seru Shafa membuat Joseph kembali menoleh ke arah Shafa.
"Nona, aku sedang menunggu nona Karina. Ini perintah tuan Dave!" bantah Joseph.
Tapi Shafa seolah tak ingin keinginan nya terus di tentang oleh Joseph. Shafa melipat kedua tangannya di depan dada dan menyer0ngkan sedikit posisi duduknya ke arah Joseph.
"Jalankan mobilnya atau aku akan mencium mu di sini!" tegas Shafa.
Tanpa menunggu lagi Joseph langsung menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan area parkir.
"Nona mau kemana?" tanya Joseph dengan wajah datar dan nada suara dingin setelah mereka meninggalkan mall itu cukup jauh.
"Ke nerak4!" ketus Shafa yang membuat Joseph langsung menginjak ped4l rem mobilnya.
"Hentikan tingkah konyol mu ini nona!" gertak Joseph yang sudah mulai tersulut emosi.
"Kamu marah? ayo marah? kenapa hanya padaku kamu bisa marah? kenapa hanya padaku kamu bisa menentang dan mengatakan tidak. Kenapa pada ayah dan ibu juga pada kak Randy dan kak Dave kamu tidak pernah mengatakan tidak, kenapa Jo?" tanya Shafa yang matanya sudah berkaca-kaca.
Joseph hanya diam, dan itu membuat hati Shafa semakin terasa sakit.
"Aku sudah mengatakannya padamu kan, aku menyukai mu Jo. Aku bahkan sudah menyukai mu sejak aku masih SMP. Kalau waktu itu kamu bisa tersenyum dan mengatakan aku pasti hanya bercanda, apa sekarang kamu juga masih menganggap aku bercanda. Usiaku sudah 27 tahun Jo, apa kamu masih anggap aku gadis remaja yang tidak mengerti apa itu cinta?" tanya Shafa yang sudah tak bisa menahan air matanya lagi.
"Nona, kamu sudah menikah. Sebaiknya jaga nama baik kamu dan juga suami mu!" ucap Joseph yang membuatnya mendapatkan pukulan beberapa kali di lengannya oleh Shafa.
"Dasar jahat, kamu yang meminta aku menyetujui pernikahan ini kan. Kenapa kamu tidak bisa membuka hati mu untukku. Apa kamu pikir aku akan bahagia menikah dengan orang yang tidak aku sukai? aku datang padamu ketika lamaran itu datang. Bodohnya aku mengira jika aku menikah kamu akan merasa kehilangan, aku memang bodoh!" keluh Shafa yang memukul-mukul kan tangannya di dashboard mobil.
Joseph yang tidak mau Shafa terluka lantas melepaskan sabuk pengaman nya dan menarik kedua tangannya dan menahan tangan Shafa.
"Nona, jangan sakiti dirimu sendiri. Nona!" seru Jo yang mulai panik pada kenekatan Shafa yang bahkan tidak ragu untuk menyakiti dirinya sendiri.
Masih sambil terisak Shafa berhenti memberontak pada genggaman tangan Joseph. Jaraknya yang begitu dekat dengan Joseph membuat Shafa nekad.
Shafa menarik tangannya dari tangan Joseph lalu dengan cepat kedua tangan Shafa menarik belakang leher Joseph ke arahnya dan mencium bibir Joseph.
Mata Joseph terbuka lebar, ini adalah kali pertamanya berciuman dengan seorang wanita. Tapi bukan hanya Joseph, ini juga adalah kali pertama Shafa mencium seorang pria.
Satu detik... dua detik... tiga detik...
Shafa melepaskan ciumannya ketika dirinya sendiri mulai kehabisan udara. Dengan nafas tereng4h-eng4h Shafa melihat wajah Joseph yang memandangnya dengan tatapan yang tidak seperti biasanya.
Setelah Shafa melepaskan nya, Joseph menatap Shafa beberapa detik. Tapi dia langsung kembali melihat ke arah depan. Tanpa memakai sabuk pengaman dia langsung kembali menyalakan mobilnya.
"Aku akan mengantar mu pulang nona!" seru Joseph dengan ekspresi wajah kembali datar dan hanya fokus ke arah depan.
Sepanjang perjalanan Shafa juga memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Tidak ada suara dari keduanya. Perasaan Shafa sungguh campur aduk.
'Apa yang aku lakukan? apa yang akan dia pikirkan tentang aku. Cinta ini benar-benar membuat ku tidak waras!' batin Shafa yang tidak berani menoleh ke arah Joseph.
Sementara itu pikiran Joseph juga sudah campur aduk tidak karuan. Dia memang sudah dua kali mendengar pernyataan cinta dari Shafa. Dan yang tadi itu adalah ketiga kalinya. Tapi Joseph dulu berpikir kalau itu hanya rasa kagum seorang remaja padanya yang sudah menjaganya dari SMP sampai sekarang. Lagipula Joseph tidak pernah berpikir untuk menyukai Shafa. Dirinya dan Shafa bagaikan langit dan bumi. Sungguh tidak mungkin akan ada ikatan lain antara mereka berdua selain nona dan pengawalnya.
Tapi apa yang dilakukan Shafa padanya tadi benar-benar membuatnya dalam kebimbangan.
Perasaan campur aduk, rasa seperti tersengat listrik tegangan rendah membuat otaknya tidak bisa berpikir dengan benar. Joseph juga merasa sangat bersalah karena bukan menjaga Shafa dengan benar, mencegahnya melakukan perbuatan itu, dia malah menikma4tinya dan tanpa sepengetahuan Shafa yang memang tidak melihat ke arahnya. Joseph sesekali masih mengec4p rasa manis di bibirnya karena perbuatan Shafa tadi.
'Aku pasti sudah tidak waras!' pikir Joseph yang terus merasa bersalah pada keluarga Hendrawan karena tidak bisa mencegah Shafa menciumnya.
Setelah dalam waktu sekitar setengah jam, mobil yang dikemudikan Joseph pun tiba di depan rumah besar yang adalah keluarga Hendrawan.
Tapi saat Joseph akan turun, dan Shafa tahu Joseph akan membukakan pintu mobil untuknya. Shafa dengan cepat melepaskan sabuk pengaman nya dan meraih tasnya lalu keluar sendiri, membuat Joseph terdiam dan menghentikan langkahnya sebelum sampai di depan pintu yang sudah Shafa buka duluan. Shafa bahkan membanting pintu mobil Joseph membuat Joseph hanya bisa memandang apa yang Shafa lakukan itu.
Shafa langsung bergegas masuk ke dalam rumah tanpa menoleh sedikitpun pada Joseph dan tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Membuat Joseph yang memang sedang bimbang sekarang bertambah bingung. Tanpa menunggu lagi, Joseph berjalan kembali dengan cepat ke arah pintu pengemudi. Dia lalu langsung masuk ke dalam mobil, sebelum menyalakan mesin mobil Joseph menoleh sekilas ke arah pintu rumah besar itu.
'Wanita itu benar-benar bisa membuat ku gil4!' batin Joseph yang langsung melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Hendrawan.
Sementara itu Shafa yang masih berdiri di belakang tirai baru berbalik ketika mobil Joseph sudah pergi. Dia memegang jantungnya yang memang seperti mau lepas saat bersama dengan Joseph tadi. Sambil memegang bibirnya, Shafa tersenyum tapi kemudian ekspresi wajahnya berubah ketika melihat seseorang yang berdiri di depannya.
"Kamu, ngapain kamu di sini?" tanya Shafa ketus pada sosok wanita di depannya.
Wanita itu menghampiri Shafa.
"Jangan galak-galak dong Shafa, aku ini calon kakak ipar mu. Tante Davina yang mengajak ku menjenguk Randy di rumah sakit!" jawab Luna yang membuat Shafa langsung memutar bola matanya malas meladeni Luna dan langsung masuk ke ruang tengah.
***
Bersambung...