Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 40


Sila masih berdiri di tempatnya, dia masih menundukkan kepalanya tidak berani melihat ke arah Dave. Sebenarnya dia merasa sangat terkejut ketika wanita bernama Luna tadi begitu manja pada Dave, apalagi ketika wanita itu bilang ingin dekat dengan Dave dan terus berada di sisinya.


Sila memang istri Dave, tapi dia juga sadar diri kalau dirinya dan Dave memang bagai langit dan bumi. Dave mau membantunya mendapatkan hak asuh Mika saja seharusnya Sila sudah sangat bersyukur.


Dave berjalan mendekati Sila, ketika pria itu berada di hadapan Sila Dave membelai lembut rambut Sila yang terurai di bahu Sila.


Sila masih diam, dia juga tidak menunjukkan ekspresi yang berlebihan.


"Tidak ingin bertanya siapa wanita itu?" tanya Dave pada Sila dengan suara pelan dan berat.


Sila masih diam, beberapa detik kemudian dia mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Dave.


"Dia kekasih tuan?" tanya Sila pelan.


Mata Dave melebar saya Sila mengatakan hal itu. Ada rasa tidak senang ketika dia mendengar apa yang di katakan Sila tapi dengan ekspresi wajah yang biasa saja di tunjukkan oleh Sila padanya.


Dave menarik tangannya lalu berjalan mendekati Sofa. Dave duduk di sana dan menepuk pahanya.


"Kemari!" serunya dingin.


'Tuan Dave ini, ini kan di kantor. Apa iya aku harus duduk di pangkuannya?' tanya Sila dalam hati.


Dave semakin kesal karena Sila tak juga berjalan ke arahnya.


"Apa aku harus mengulanginya?" tanya Dave dengan wajah dan nada suara yang benar-benar dingin.


Sila lalu bergegas menghampiri sang suami dan duduk di pangkuan Dave. Bibir pria itu tertarik ke atas di kedua sudutnya.


Dave lalu memeluk pinggang Sila dan mendekapnya.


"Dia bukan kekasih ku, satu-satunya wanita yang aku suka hanya kamu!" ucap Dave yang membuat wajah Sila merona.


"Tapi yang kamu katakan tadi ada benarnya juga!" ucap Dave lagi.


Dan kali ini senyuman tersipu langsung hilang dari wajah Sila.


"Luna itu wanita pilihan ibu ku. Ibu ku ingin dia jadi istriku!" jelas Dave lagi.


Sila langsung berdiri dari pangkuan Dave, entah keberanian darimana dia melakukan hal itu, tapi mendengar apa yang dikatakan oleh Dave kalau Luna adalah calon istrinya membuat Sila kesal tanpa dia sadari sendiri.


Dave lumayan terkejut ketika Sila tiba-tiba menepis tangannya lalu berdiri.


Tapi tak lama kemudian Sila sadar dengan apa yang dia lakukan dan merutuki dirinya sendiri.


'Aih kenapa juga aku jadi kesal mendengar hal itu, apa tuan Dave merahasiakan pernikahan kami juga karena dia sebenarnya ingin menikah dengan wanita itu dan dia hanya menjadikan aku terapisnya saja?' tanya Sila dalam hatinya.


Sementara itu Dave malah tersenyum.


"Kamu cemburu?" tanya nya tanpa beban.


Mendengar pertanyaan Dave wajah Sila kembali memerah.


'Hah apa katanya? aku cemburu? apa iya aku cemburu? tapi kenapa aku harus cemburu? dia menikahi ku kan memang ingin menjadikan aku terapisnya dan aku butuh bantuannya untuk mendapatkan hak asuh Mika dan juga membuktikan kalau aku tidak bersalah pada ayah ku dan keluargaku!' pikir Sila lagi.


Sehingga dengan cepat Sila langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak tuan, aku tidak cemburu!" jawab Sila


Dan lagi-lagi Dave terlihat sangat kecewa dengan jawaban Sila. Dia mendengus kesal lalu berdiri.


"Baiklah Sila, selain itu juga ada satu hal lagi. Bersiaplah, karena sepuluh menit lagi kita akan berangkat ke sebuah hotel untuk meeting dengan perusahaan mantan suami mu!" ujar Dave.


Deg


Sila tertegun, dia menelan salivanya dengan cepat. Melihat reaksi Sila itu Dave yakin kalau Sila merasa sangat tidak siap untuk bertemu kembali dengan mantan suaminya.


"Kelihatannya kamu masih belum siap bertemu dengannya, baiklah aku akan mengajak Anita dan Luna saja!" ucap Dave lalu berjalan ke arah meja kerjanya.


Sila langsung berbalik ke arah Dave.


"Tuan, apa kalau aku ikut maka tuan tidak akan pergi bersama nona Luna?" tanya Sila gugup.


Dave lagi-lagi tersenyum senang dalam hatinya.


'Dia ini cemburu, hanya saja dia tidak mau mengakuinya. Bagus! ternyata perasaan ku tidak bertepuk sebelah tangan!' batin Dave yang merasa senang.


"Tentu saja, dia masih harus banyak belajar dari Anita. Jika kamu ikut, maka kita hanya akan pergi bertiga, aku, kamu dan juga Joseph!" jelas Dave.


Sila langsung mengangguk yakin.


"Aku ikut tuan, aku akan minta bantuan Anita dulu untuk mengetahui detail kerja sama tuan dengan perusahaan T itu!" ucap Sila mantap dan bersiap keluar dari dalam ruangan Dave.


Tapi dengan cepat Dave menahannya dengan memeluk pinggang Sila dari arah belakang.


"Tidak perlu!" ucap Dave yang nafasnya terasa berat.


Dave menyandarkan dagunya di bahu Sila.


"Masih ada waktu sepuluh menit, tapi kamu tidak perlu mempelajari apapun, Joseph akan menangani semuanya. Kamu hanya perlu terus berada di sampingku, bersama ku!" kata-kata itu keluar dari bibir Dave dengan sangat lembut.


Deg deg deg


Jantung Sila berdetak dengan kencang tak karuan, Dave selalu bisa membuat jantung Sila seperti itu. Perasaan yang tidak pernah dia rasakan saat masih bersama Hadi dulu.


Dave yang juga dapat mendengar debaran jantung Sila itu lalu memegang kedua lengan Sila dan mengarahkannya agar Sila berbalik dan menghadap ke arah Dave. Sila yang tangannya mulai terasa dingin karena gugup hanya menundukkan wajahnya.


Dave lalu meraih dagu Sila dan membuat wanita itu menatap Dave yang tengah menatapnya sangat dalam. Dave pun mendekatkan wajahnya ke arah Sila, semakin dekat hingga bibirnya menempel pada benda kenyal dengan lapisan lipstik berwarna merah itu.


Satu detik, dua detik, tiga detik Dave memejamkan matanya, ketika dia merasa kalau Sila juga membalas ciumannya. Dave senang karena Sila membalasnya.


Sementara Sila merasa harus melakukan semua itu, dia juga sudah banyak belajar caranya dari Dave, dan dia tidak mau sampai Dave merasa kecewa padanya seperti Hadi dulu.


Dave terus mengulangi apa yang dia lakukan, dengan tangan yang berada di belakang kepala Sila untuk membuat wanita itu tidak beranjak darinya.


Tok tok tok


Tiba-tiba pintu ruangan itu ada yang mengetuk, Sila yang mendengar itupun langsung mundur dan menjauh dari Dave. Sementara Dave yang merasa kehilangan sesuatu pun mendengus kesal, dia melirik tajam ke arah pintu dan berkata.


"Ck... mengganggu saja!" kesalnya sambil menunggu orang di balik pintu bersuara.


Sila yang merasa bibirnya sangat basah pun meraih tissue yang ada di atas meja di dekat sofa dan dengan cepat mengusap bibirnya lalu membuang tissue itu ke kotak sampah yang ada di dekat sofa.


Dave yang melihat tingkah Sila seperti itu sedikit terhibur dari rasa kesalnya pada seseorang yang berada di balik pintu yang menurutnya sudah mengganggunya.


"Tuan Dave, ini Anita!" seru Anita dari luar.


"Masuk!" sahut Dave.


Anita lalu masuk dan melirik ke arah Sila yang berdiri dekat tempat sampah.


"Tuan, nona Luna maksudku Luna marah-marah saat aku mengajarinya dan dia membanting laptop yang isinya banyak file penting!" ucap Anita.


Dave langsung merubah wajahnya menjadi serius.


"Dimana dia?" tanya Dave.


"Ada di ruangan sekertaris, dia bahkan bilang walaupun aku mengadu pada tuan, tuan akan tetap membelanya!" ucap Anita mengatakan yang sebenarnya.


Dave mendengus kesal lalu berjalan keluar dari ruangannya menuju ke ruangan sekertaris.


***


Bersambung...