Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 196


Tanpa pikir panjang Karina langsung menemui Shafa di ruangannya. Saat dia masuk dia sedikit menganggukkan kepalanya pada Joseph yang melihat ke arah pintu yang baru saja terbuka.


Baru saja mau menyapa Karina, tapi pemandangan itu membuat Shafa menjadi kesal. Dia langsung memanggil Karina, agar pandangan Joseph teralihkan.


"Kak Karina, ada apa? kenapa terburu-buru begitu?" tanya Shafa yang sekaligus membuat Karina tersindir karena dia memang masuk dengan buru-buru hingga lupa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Joseph hanya bisa menghela nafasnya dan kembali bekerja.


"Shafa, aku minta maaf masalah tadi ya. Aku sempat menolak permintaan mu menemani mu liburan. Tapi aku kesini mau mengatakan kalau aku setuju pergi bersama mu, ada Sila juga kan. Pasti akan sangat seru!" ucap Karina sambil tersenyum senang.


Shafa langsung berdiri dan memeluk Karina.


"Thank you so much, calon kakak ipar ku. Kamu memang sangat baik!" sahut Shafa yang juga jadi begitu senang karena Karina setuju pergi dengannya dan kedua kakaknya.


Shafa berpikir itu pasti akan seru, dia juga sudah menyiapkan rencana agar Randy bisa semakin dekat dengan Karina nanti di pulau.


Karina lalu melepaskan pelukannya dari Shafa.


"Baiklah aku akan kembali bekerja ya!" ucap Karina lalu meninggalkan ruangan sekertaris.


Shafa yang melihat Joseph memandangi kepergian Karina pun langsung melemparkan sebuah pulpen ke arahnya. Untungnya Joseph jago bela diri hingga bisa menangkap pulpen itu dengan gesit. Jika tidak mungkin saja pulpen yang memang di arahkan Shafa ke arah mata Joseph itu akan benar-benar menyakiti mata Joseph.


"Nona, kamu sengaja ya?" tanya Joseph yang merasa kalau Shafa sengaja melakukan itu padanya.


Dengan wajah ketus Shafa melihat ke arah Joseph yang juga sedang melihatnya.


"Iya, aku memang sengaja. Aku sengaja ingin matamu itu terluka, kalau perlu sampai buta. Agar matamu itu tidak melihat ke wanita yang akan menjadi istri orang lain. Menyebalkan!" jawab Shafa dengan nada kesal.


Dia lalu kembali ke meja kerjanya, tapi dia duduk dengan posisi membelakangi Joseph.


'Hih, aku kesal sekali. Ada aku di hadapannya pandangannya masih saja ke perempuan lain. Ya ampun, pak tua itu ingin rasanya aku col0k matanya itu!' geram Shafa dalam hati.


Shafa bahkan merem4s-rem4s sebuah kertas sampai tak berbentuk untuk melampiaskan kekesalannya. Dia menganggap kertas itu adalah Joseph.


Sementara Joseph hanya bisa terus menghela nafas panjang. Dia bukan melihat ke arah Karina karena dia masih belum move on, atau berpikiran lebih. Dia hanya ingin menyapanya, tapi Karina sudah terlanjur pergi. Itu saja, tidak lain dan tidak bukan.


Tapi melihat Shafa yang kesal seperti itu entah kenapa membuat Joseph menarik sedikit senyuman di bibirnya.


'Jika saja, kamu juga orang biasa seperti Karina. Mungkin semua akan berbeda Shafa!' lirih Joseph dalam hatinya.


Beberapa jam kemudian, setelah makan siang yang juga di lewati dengan penuh drama karena Shafa terus mengerjai Joseph dengan memintanya membelikan makanan ini dan itu namun pada akhirnya dia memilih untuk makan siang bersama Karina di kantin kantor. Shafa pun pergi meeting dengan Dave.


Sementara itu di ruangan sekertaris, Anita yang baru selesai makan siang juga terkejut dengan banyaknya makanan delivery order yang ada di atas meja Shafa, bahkan di meja Joseph juga.


"Wah, tuan Joseph. Memangnya akan ada acara ya, banyak sekali makanan nya?" tanya Anita yang memang tidak tahu apa yang terjadi.


Sebab sejak jam 11 siang tadi, Anita sudah ijin akan makan siang bersama temannya di luar.


Joseph yang masih bingung mau di apakah makanan sebanyak itu hanya bisa berdecak kesal.


"Ini semua pesanan nona Shafa, tapi saat semua ini sudah datang. Dia malah makan siang dengan nona Karina di kantin!" jelas Joseph.


Anita terkekeh mendengar apa yang dikatakan Joseph padanya. Dia bisa membayangkan betapa kerepotan nya Joseph tadi itu. Dan betapa kesalnya Joseph karena semua usahanya berakhir sia-sia.


"Kenapa malah tertawa, bantu aku membereskan semua ini. Kalau tidak aku tidak akan bisa bekerja!" keluh Joseph.


Dua jam berlalu dengan penuh ketenangan dalam ruangan sekertaris. Anita memang sangat serius jika bekerja, begitu pula dengan Joseph. Dalam waktu dua jam itu bahkan tidak ada satu kata pun keluar dari mulut mereka berdua.


"Selamat sore!" tiba-tiba sebuah suara membuat Anita dan Joseph langsung menoleh ke arah pintu.


Shafa yang baru datang langsung bergegas ke arah Joseph lalu menutup laptop yang sedang di gunakan oleh Joseph.


"Nona...!" baru Joseph akan protes Shafa langsung menyela.


"Sssttt... hentikan semua pekerjaan mu. Temani aku mencari barang-barang untuk camping!" ujar Shafa membuat Joseph mengernyitkan keningnya.


Anita yang tidak mau ikut campur pun segera kembali fokus pada pekerjaan nya.


"Barang-barang untuk camping?" tanya Joseph.


"Iya, kita kan mau ke pulau. Aku mau kita liburan ala camping gitu!" jelas Shafa.


"Untuk apa nona, disana kan ada villa dan semua fasilitas nya?" tanya Joseph.


"Ck... kamu sudah tua Jo, mana mengerti kesenangan liburan di alam. Pokoknya tidak ada yang akan liburan di villa, kita akan liburan ala camping di dekat pantai. Itu pasti sangat seru!" Shafa sudah membayangkan betapa serunya liburannya dengan kedua kakak dan kakak ipar dan juga calon kakak iparnya itu.


"Nona, tapi...!"


Sebelum Joseph selesai bicara, Shafa sidah menarik lengan Joseph dan memaksanya untuk bangun. Setelah itu dia mendekati Joseph dan berbisik ke telinganya.


"Ikut aku sekarang, atau aku akan mencium mu di depan Anita!"


Joseph langsung mundur setelah mendengar bisikan shafa. Wajahnya juga sangat sulit di deskripsikan. Sementara Shafa yang sangat puas melihat ekspresi Joseph itu langsung terkekeh dan berjalan menuju meja kerjanya. Meraih tasnya, lalu pamitan pada Anita.


"Sampai jumpa hari Selasa Anita!" ujarnya lalu keluar dari ruangan itu.


Melihat Joseph yang tak kunjung mengikutinya, Shafa yang sudah di dekat pintu langsung berbalik.


"Pak tua, aku serius ya. Aku hitung sampai tiga... !"


Anita yang mendengar itu pun jadi semakin bingung. Dia memperhatikan Joseph yang terlihat sangat tegang dan gugup.


'Tuan Joseph kenapa? dia terlihat sangat takut pada nona Shafa?' tanya Anita dalam hati.


"Satu..."


Joseph mendengus kesal lalu mengambil kunci mobilnya di atas meja.


"Dua...!"


"Anita, aku pergi dulu. Tolong urus semua keperluan tuan Dave!" seru Joseph pada Anita yang langsung mengangguk paham dengan cepat.


"Ti..!"


Hitungan belum selesai dan Joseph telah berjalan lebih dulu melewati Shafa bahkan berjalan mendahului nya keluar dari ruang sekertaris.


***


Bersambung...