
Mika tertidur di pangkuan Dave setelah berusaha menulis surat dengan tangannya sendiri untuk Hadi.
Sila yang memperhatikan mereka berdua dari pintu kamar Mika bahkan mulai meneteskan air mata kebahagiaan nya.
Dave bukan ayah kandung Mika, tapi kasih sayangnya. Sila merasa kalau kasih sayang Dave pada Mika itu bahkan melebihi kasih sayang Hadi, ayah kandung Mika sendiri. Dave selalu menjadikan Mika prioritas utamanya. Bahkan saat makan malam tadi, Dave belum menghabiskan semua makanan di atas piringnya melihat Mika yang terus merengek minta segera di buatkan surat untuk Hadi. Dave bahkan meninggalkan meja makan dan menggendong Mika ke kamarnya untuk segera mengabulkan permintaan dari putri sambungnya itu.
Dave kemudian melihat lagi surat dengan banyak stiker warna-warni di kertas putih yang sudah Mika tulis dengan susah payah selama hampir dua jam.
Dave hanya menghela nafasnya panjang. Melihat begitu banyak kata cinta yang dan rindu yang Mika tulis untuk Hadi. Tapi bagaimanapun juga, sebesar apapun kasih sayang Dave untuk Mika. Tetap tidak akan merubah kalau Mika memang adalah anak kandung Hadi, dan Hadi juga begitu menyayangi Mika. Jadi Dave hanya berusaha berbesar hati saja, satu tangan Dave bahkan membelai lembut kepala Mika. Pikirannya sudah jauh melangkah ke depan, membayangkan nanti saat Mika menikah pun yang akan menjadi wali Mika adalah Hadi, bukan dirinya.
Dave hanya bisa mengusap wajahnya kasar.
"Apa yang aku pikirkan, dia memang ayah kandungnya kan. Lagipula Mika baru lima tahun. Kenapa aku memikirkan masalah wali nikahnya!" gumam Dave yang terdengar oleh Sila yang masih berada di pintu kamar Mika.
Sila menyeka air matanya dan langsung mengernyitkan dahi bingung.
'Masalah wali nikah? siapa yang mau menikah?' tanya Sila yang perasaan nya mulai tidak tenang.
Dengan cepat Sila melangkah maju, menghampiri Dave yang memang posisi duduknya membelakangi pintu kamar Mika.
"Mas, siapa yang mau nikah? mas mau nikah lagi?" tanya Sila dengan tatapan mata galak.
Dave mengernyitkan keningnya.
"Kamu kenapa sayang? kamu ngomong apa sih? siapa yang mau nikah lagi? satu saja aku kewalahan...!"
"Mas!" pekik Sila.
Dave malah terkekeh.
"Sayang, mana mungkin aku menikah lagi. Aku hanya bisa menyentuh mu, tidak mungkin aku menyakitimu dan diriku sendiri dengan menikah lagi. Bagiku kamulah satu-satunya wanita yang akan dan selalu aku cintai seumur hidup ku!" tutur Dave begitu romantis lewat perkataan dan juga tatapan matanya pada Sila.
Wajah Sila bersemu merah, tapi dia berusaha untuk tidak terbuai dengan kata-kata suaminya.
"Aku mendengar kamu bicara tadi, tentang wali nikah...!"
Belum selesai Sila bicara, Dave kembali terkekeh.
"Sayang maaf, aku akui aku tadi memang agak terlalu berhalu. Lihat ini!" ujar Dave memberikan surat yang di buat Mika untuk Hadi.
"Aku melihat ini, dan rasanya sedikit iri pada Hadi Tama. Apalagi membayangkan nanti yang akan menjadi wali nikah Mika juga Hadi Tama, bukan aku!" jelas Dave dengan tatapan mata sedih ke arah Mika yang tertidur pulas di pangkuannya.
Sila langsung menjadi sedih. Dia menepuk bahu Dave dan mencium pipi Dave agar suaminya itu tidak sedih lagi.
"Mas, Mika juga sangat menyayangi mu. Dia juga selalu bertanya padaku kapan kamu pulang kalau kamu tidak di rumah. Lagipula bukankah masih ada anak-anak mu yang lain nanti yang akan meminta mu menjadi wali nikah mereka!" ucap Sila yang mencoba menenangkan dan menyenangkan hati Dave.
Mata Dave langsung berbinar.
"Benarkah? jadi berapa Sila junior yang akan memintaku menjadi wali nikah mereka?" tanya Dave bersemangat.
Sila menatap ke arah lain dan memikirkan sejenak.
"Mungkin dua!" jawab Sila setelah berpikir sejenak.
Mata Sila langsung melebar.
"Mas, apa kamu ingin punya anak perempuan semua?" tanya Sila keheranan.
Dave langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak juga, akan ada empat Sila junior dan empat Dave junior setelah Mika!"
Ucapan Dave membuat Sila langsung lemas dan menggelengkan kepalanya.
"Hoh... yang benar saja mas. Kalau begitu mas saja yang hamil dan melahirkan!" protes Sila yang langsung berjalan keluar dari kamar Mika dengan wajah bete tingkat dewa.
Dave malah terkekeh melihat wajah bete Sila. Dan beberapa saat kemudian, dia pun kembali pada Mika. Dave menggendong Mika ke tempat tidurnya, menyelimutinya, dan mencium keningnya lalu berkata.
"Selamat tidur bidadari kecil Daddy, mimpi indah ya sayang. Daddy menyayangi mu!" ucap Dave lalu mematikan lampu kamar Mika.
Dave berjalan keluar dengan surat yang Mika buat untuk Hadi di tangannya. Besok dia akan berikan itu pada Oman, agar Oman memberikannya pada Hadi Tama.
Sementara itu di apartemen Joseph...
"Sudah malam Shafa, kamu harus pulang! bukankah tuan besar dan nyonya besar akan pulang malam ini!" kata Joseph yang sudah bersiap memakai jaketnya untuk segera mengantarkan Shafa pulang.
Shafa yang hanya berdiam diri di depan televisi sambil memeluk bantal dan ngemil kacang Mede goreng pun hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak mau, aku mau menginap di sini. Besok aku harus bekerja. Dan kau masih libur pak tua, aku tidak akan bisa bernafas kalau terlalu lama berpisah darimu!" ucap Shafa yang membuat Joseph memegang kepalanya lagi.
'Shafa jangan mulai lagi, aku sudah berkali-kali mandi hari ini!' batin Joseph gusar .
"Shafa, hanya satu hari. Lusa aku juga akan masuk kantor. Sebenarnya aku sudah mau masuk kantor, tapi bos melarang ku!" jelas Joseph.
"Kalau begitu aku menginap saja di sini. Kita bisa begadang berdua, menonton drama romantis. Bagaimana?" tanya Shafa yang langsung menoleh ke arah Joseph.
Mata Shafa dan Joseph bertemu. Jangan tanya seperti apa debaran jantung mereka berdua. Joseph pun menyadari kalau Shafa lama-lama di apartemen ini, pertahanan dirinya juga bisa lemah dan bisa saja dia malah melakukan hal yang selama ini sangat dia tahan pada Shafa.
Joseph pun maju dan mendekati Shafa. Mencium kening Shafa dengan lembut. Membuat mata wanita muda itu terpejam sekilas.
"Aku sangat menyayangimu, kau tahu itu kan. Dan aku selalu ingin bersamamu, kau juga tahu itu kan. Tapi sekarang belum saatnya, kau tahu tidak betapa sulitnya aku menahan diri saat kau ada di dekatku seperti ini. Aku juga lelaki biasa Shafa, aku bisa saja lemah dan akhirnya akan sangat tidak baik bagi kita berdua. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku hanya akan menyentuh mu saat aku sudah menjadikan mu istriku. Jadi tolong bantu aku, lima menit lagi kamu masih duduk di sini, aku rasa pertahanan ku akan...!"
Belum selesai Joseph bicara. Shafa langsung berdiri dan meraih tasnya.
"Malam pak tua, sampai jumpa besok!" ucap Shafa yang sudah berlari menuju pintu apartemen Joseph dan pergi dari sana.
Joseph masih terdiam di tempatnya, dia sudah menduganya. Shafa sebenarnya sangat takut tentang hal itu. Joseph pun hanya menghela nafasnya panjang.
'Kau takut, tapi kau terus menggodaku. Kau memang nakal!' batin Joseph.
***
Bersambung...