Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 298


Setibanya di apartemen Dave, Sila mendapatkan banyak sekali hadiah dari ibu mertuanya. Benar-benar sampai penuh satu kamar bayi yang sudah dia siapkan dengan Dave.


"Mas, padahal masih empat bulan lagi prediksi dari dokter aku akan melahirkan. Tapi ibu sudah memberikan kita semuanya. Aku bahkan tidak perlu membeli apapun lagi!" ucap Sila sambil terkekeh melihat semua barang di kamar bayi anak kedua mereka.


Dave mendekati Sila dan mengecup mesra kening Sila.


"Itu artinya, sayangku ini hanya perlu banyak istirahat, banyak makan makanan bergizi dan banyak olahraga ringan untuk menjaga kesehatan mu dan calon putra kita!" ucap Dave yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Sila.


Semua berjalan lancar, hingga 2 minggu kemudian. Randy dan Karina sudah kembali dari liburan bulan madu mereka. Tentu saja, acara lamaran untuk Joseph dan Shafa juga segera di persiapkan oleh keluarga Sila dan keluarga Dave.


Joseph akhir-akhir ini sibuk bekerja agar dapat cuti lebih banyak untuk prosesi pernikahan dan bulan madu dengan Shafa. Sementara Shafa bersama ibunya dan juga Karina sibuk mempercantik diri agar dia menjadi lebih bersinar saat hari pernikahan nya nanti. Meskipun ini pernikahan keduanya, tapi pernikahan nya kali ini lebih spesial, karena Shafa sangat mencintai mempelai prianya ini.


Niken dan Sila sibuk menyiapkan hiasan untuk bingkisan yang akan mereka bawa ke kediaman Hendrawan. Sila dan Dave akan berangkat dari rumah ayah Prio, sedangkan Randy dan Karina lah yang akan mendampingi Shafa, Rizal dan Davina.


Oman yang ikut membantu malah membuat Niken bolak-balik tepok jidat, sebab semua hiasan yang dia pasang jungkir balik tak karuan.


"Hei Oman, perhatikan aku baik-baik ya. Lalu lakukan seperti yang aku lakukan. Belajar dengan baik, setelah Joseph pasti kamu juga akan menikah kan?" tanya Niken.


Sila yang mendengar hal itu pun terkekeh.


"Tentu saja kak, tapi dia harus siapkan mahar yang besar untuk melamar Anita...!"


"Nyonya!" sela Oman merasa malu.


"Anita? jadi Oman dan Anita?" tanya Dave yang baru tahu akan hal itu.


Sila langsung mengangguk sambil tersenyum.


"Iya mas, kamu harus jadi wakil keluarga Oman nanti. Karena mahar untuk wanita berpendidikan tinggi di adat Oman kan mahal sekali. Benar tidak Oman?" tanya Sila.


Oman yang masih menggaruk kepalanya pun menjawab.


"Tidak nyonya, Anita bilang kita akan pakai cara nasional saja...!"


"Wah...!" Sila langsung membulatkan matanya mendengar apa yang dikatakan Oman.


"Kau gerak cepat juga ya Oman. Tak ku sangka dalam dua Minggu kau sudah dapatkan hati Anita!" seru Sila yang membuat Oman makin salah tingkah.


Dave langsung merangkul istrinya itu dengan mesra.


"Sayang, ternyata jodoh Joseph dan Oman tidak jauh-jauh dariku juga ya?" tanya Dave dan di balas anggukan oleh Sila.


Yang lebih menyenangkan semuanya adalah orang-orang yang baik. Ternyata memang benar sebuah pepatah yang mengatakan kalau" wanita baik hanya untuk pria baik, wanita yang tidak baik juga akan bertemu pria yang tidak baik" dan hal itu benar adanya.


Segala persiapan telah selesai di kediaman Hendrawan. Malam hari ini akan di adakan lamaran untuk Shafa. Dan esok hari adalah acara pernikahannya dengan Joseph. Acaranya memang tidak sebesar saat pernikahan Randy dan Karina. Itu juga kemauan dari Shafa dan Joseph, hanya keluarga dekat, teman-teman dekat Shafa dan Joseph dari panti asuhan dan beberapa karyawan di perusahaan.


Malam hari tiba, rombongan keluarga Prio Utomo dan juga Dave tiba di tempat itu dengan pakaian sangat rapi.


Prio Utomo mendampingi Joseph, selalu berada di sebelah Joseph. Dan Rizal bersama Randy pun menyambut kedatangan Prio Utomo beserta rombongannya. Saat Randy mengulurkan tangannya pada Dave. Dave pun mengernyitkan keningnya.


Dave pun menjabat tangan kakaknya itu sambil menepuk lengannya pelan. Di lanjutkan dengan acara lamaran di dalam ruang keluarga. Semua benar-benar terasa sangat hikmat. Joseph yang dikenal tak banyak bicara pun harus berdiri di depan semua orang meminta pada Rizal Hendrawan untuk melamar Shafa, putri sulung Rizal dan Davina.


Mata semua orang tampak berkaca-kaca, ketika Joseph menghampiri Rizal yang sedang duduk di kursi lalu bersimpuh di depan Rizal dan meletakkan kepalanya di kedua lutut Rizal.


"Tuan besar, terimakasih atas segala kebaikan tuan besar selama ini. Aku berjanji pada tuan besar akan menjaga Shafa, melindunginya, membahagiakan Shafa Hermawan melebihi diriku sendiri!" tutur Joseph membuat semua orang benar-benar terharu dan meneteskan air mata.


Sila yang sensitif sudah memeluk suaminya sambil tersedu-sedu. Dave yang melihat ketulusan sang sahabat sekaligus asisten kepercayaannya itu pun ikut menitikan air matanya.


'Adikku, kamu akan bersama pria yang tepat. Tidak akan ada yang lebih baik dari Joseph!' batin Dave melihat ke arah Shafa yang juga sudah memeluk ibunya sambil terisak melihat apa yang dilakukan dan di katakan oleh Joseph.


Rizal bahkan terlihat menyeka air mata yang hampir jatuh dari sudut matanya. Setelah itu dia menepuk bahu Joseph perlahan.


"Aku percaya padamu Jo, aku serahkan putri kesayangan ku, harta paling berharga ku padamu. Aku tahu dia akan sangat bahagia bersamamu!" jawab Rizal Hendrawan dengan suara yakin, wajahnya pun menyiratkan demikian.


Selanjutnya Shafa dan Joseph berdiri di tengah ruangan itu. Sila dan Niken membawakan dua buah seserahan secara simbolis yang diberikan pada Joseph, lalu Joseph menyerahkannya pada Shafa. Selanjutnya adalah acara foto bersama.


Acara lamaran berlangsung dengan sangat lancar. Yang kemudian di lanjutkan dengan pengajian. Pakaian yang mereka kenakan masih sama, hanya saja para pria memakai peci dan para wanita lanjut mengenakan kerudung. Mika kecil tampak imut dengan kerudung yang dia pakai.


Acara pengajian pun berlangsung sangat hikmat dan lancar. Cuaca juga selalu mendukung apapun perayaan di kediaman Hendrawan. Tuhan memang maha baik.


Setelah acara pengajian, para tamu undangan lain pulang. Termasuk Joseph dan keluarga Prio Utomo yang akan datang besok pagi untuk acara pernikahan.


Setelah semua tamu undangan pulang, Shafa yang seharusnya istirahat malah masuk ke kamar kedua orang tuanya.


"Ayah, ibu. Aku tidur si sini ya malam ini?" tanya Shafa sambil memeluk guling di sebelah sang ayah yang sedang duduk bersandar di sandaran tempat tidur.


"Memangnya kamar mu kenapa?" tanya Davina sambil membersihkan sisa make up di wajahnya.


Shafa lantas melepaskan guling yang dia peluk. Lalu memeluk sang ayah.


"Tidak kenapa-napa, hanya ingin tidur dengan ayah dan ibu sebelum aku keluar dari rumah ini!"


Jawaban Shafa sontak saja membuat Rizal dan Davina langsung diam dengan mata yang berkaca-kaca.


Seperti itulah perasaan orang tua yang akan melepas anak perempuan nya setelah menikah.


Rizal memandangi wajah Shafa yang sudah memejamkan matanya sambil memeluknya. Bayangan ketika Shafa kecil berlari dan terjatuh lalu datang menangis dan mengadu padanya tiba-tiba terlintas begitu saja. Tangan Rizal terangkat menyentuh kepala Shafa dan membelainya lembut.


'Putriku sayang... !' lirih Rizal dalam hati tapi tanpa terasa air mata sudah menetes dari kedua sudut mata pria paruh baya itu.


Davina juga melihat apa yang dilakukan suaminya dari pantulan cermin di depannya. Dan tanpa dia sadari air matanya juga sudah membasahi pipinya.


***


Bersambung...