
Diah baru akan membuka mulutnya menjawab pertanyaan dari Hadi. Namun di belakangnya juga sudah berhenti sebuah mobil tepat di depan teras rumah ayah Sila.
Melihat Diah yang menoleh ke arah belakang Hadi, pria itu juga mengikuti arah pandangan Diah. Dia mengernyitkan keningnya ketika melihat mobil Dave yang berhenti disana. Apalagi setelah melihat Joseph keluar dari dalam mobil lalu membukakan pintu mobil penumpang bagian belakang.
Dave Hendrawan keluar dari dalam mobil. Membuat Hadi langsung berbalik dan berjalan mendekat ke arah Dave yang sedang melepaskan kacamata hitam yang di pakainya.
"Selamat pagi tuan Dave!" sapa Hadi berusaha untuk tetap sopan meskipun sebenarnya timbul banyak sekali pertanyaan dalam benaknya.
Bagaimana tidak, seorang CEO perusahaan multinasional datang pagi-pagi ke rumah asisten pribadi nya. Belum lagi Hadi masih ingat syarat agar kontrak kerja sama antara perusahaan tempatnya bekerja dengan perusahaan Dave adalah mengijinkan Mika untuk menginap di rumah ayah Sila.
Meski semua pertanyaan itu muncul berselingan di kepala Hadi. Dia tetap berusaha untuk tetap tenang dan terus tersenyum ramah pada Dave.
"Oh, tuan Hadi. Selamat pagi juga. Apa yang anda lakukan di sini pagi-pagi seperti ini?" tanya Dave dengan pandangan yang jelas terlihat sangat tidak senang melihat Hadi ada di rumah ayah Sila.
Diah yang malah di buat merinding karena percakapan ramah dua orang di depannya itu menggidikkan bahunya pelan. Bagaimana tidak, mereka memang saling menyapa, bahkan saling tersenyum tapi mata mereka tidak bisa berdusta kalau ada rasa tidak suka satu sama lain. Kalau di deskripsikan mungkin ada kilatan cahaya di antara pandangan Dave pada Hadi dan sebaliknya.
Diah yang sudah merinding pun memilih untuk masuk dan memberitahukan pada Sila tentang kedatangan Hadi, Dave dan Joseph.
Hadi yang mendengar pertanyaan Dave malah terkekeh.
"Tuan Dave, bukankah aku pernah bilang padamu kalau Sila adalah mantan istriku, jadi ini juga adalah rumah mantan mertuaku. Dan putriku juga sedang menginap di sini...!"
"Oh, mau menjemput putrimu?" tanya Dave santai menyela ucapan Hadi yang sudah panjang lebar mencoba menjelaskan kalau dia punya banyak alasan untuk berada di rumah ayah Sila.
Meski Hadi merasa agak kesal dengan cara bicara Dave. Tapi dia harus menahan emosinya karena memang dia harus sangat menjaga hubungan kerja sama yang baik dengan Dave. Paling tidak sampai dirinya resmi di angkat menjadi wakil CEO di perusahaan dimana dia bekerja.
Hadi menghela nafas berat.
"Iya tuan Dave, aku kemari untuk menjemput Mika. Dia harus sekolah pagi ini!" ucap Hadi yang lebih memilih mengalah dan tidak memperpanjang perdebatan tentang alasannya berada di sini.
"Dan tuan Dave sendiri?" tanya Hadi dengan tatapan sedikit menyelidik.
"Ada meeting penting pagi ini, aku menjemput Sila!" jawab Dave cuek dan langsung melewati Hadi masuk ke dalam rumah ayah Sila.
Dave sedikit kesal, karena kedatangan Hadi dirinya tidak jadi menemani Sila mengantarkan Mika ke sekolahnya.
Joseph juga langsung mengikuti Dave, membuat Hadi makin kesal saja. Tapi juga langsung masuk ke dalam.
"Nyonya Sila.. nyonya Sila!" seru Diah yang tergesa-gesa masuk ke ruang makan.
Semua orang yang ada di ruang makan tentu saja langsung menoleh ke arah Diah.
"Ada apa Diah?" tanya Sila yang juga lumayan kaget Diah memanggilnya seperti itu.
"Itu, di depan ada tuan Hadi dan tuan Dave!" jawab Diah yang langsung membuat Sila berdiri dari duduknya.
'Mas Hadi? mau apa dia kemari?' tanya Sila dalam hati.
Sila lumayan terkejut mendengar kedatangan Hadi. Kalau Dave, Sila sama sekali tidak terkejut karena memang mereka sudah ada janji untuk mengantarkan Mika ke sekolahnya pagi ini.
Karena sarapan mereka juga selesai, Sila mengajak Mika untuk ke ruang tamu. Dan begitu Mika melihat Hadi, gadis kecil itu langsung berlari ke arah Hadi.
"Papa!" panggil Mika sambil berlari ke pelukan Hadi yang memang sudah berjongkok dan merentangkan tangannya ketika melihat Mika keluar dari ruang makan.
"Selamat pagi sayang. Apa kamu senang menginap bersama mama?" tanya Hadi yang tersenyum tulus pada putri kecilnya itu.
Mika menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya papa, Mika senang sekali. Tapi Mika akan lebih senang kalau papa juga bisa menginap disini bersama Mika!" ucap Mika yang langsung membuat Sila melihat ke arah Dave yang terlihat memasang ekspresi wajah tidak suka dan menatap tajam ke arah Hadi.
"Mika sayang, kalau kamu inginkan hal itu. Mika harus tanya dulu pada tante Susan, apakah papa Mika boleh menginap di rumah mantan mertuanya!" ketus Niken yang membuat Dave menaikkan sebelah alisnya.
Sila yang merasa apa yang dikatakan kakak iparnya itu kurang pantas di dengar anak-anak pun segera memegang lengan kakak iparnya itu.
"Kakak tolong jangan berkata seperti itu di depan anak-anak!" bisik Sila pada Niken.
"Maaf Sila, tapi aku kesal sekali pada pria pengecut dan munafik itu!" balas Niken sambil berbisik juga pada Sila.
Sedangkan Mika yang polos malah langsung bertanya pada ayahnya.
"Kalau Mika bilang pada Tante Susan, apa boleh pa?" tanya Mika yang membuat Hadi jadi bingung sendiri.
"Mika sayang, sudah hampir terlambat. Sebaiknya sekarang kita berangkat. Ayo pamit dulu pada mama mu!" ucap Hadi mencoba mengalihkan perhatian Mika.
Meski kecewa karena pertanyaan nya tak mendapatkan jawaban. Mika yang memang penurut langsung berbalik dan melangkah ke arah Sila yang memang berdiri tidak jauh darinya.
"Mama Mika berangkat sekolah dulu ya!" ucap Mika yang langsung membuat Sila memasangkan tas di punggung Mika.
"Iya sayang, belajarnya yang semangat ya. Di dalam tas Mika, mama sudah bawakan bekal kesukaan Mika. Jangan lupa di makan ya sayang!" ucap Sila dengan senyuman tulusnya juga.
Mika lalu menyalami Sila, dan Sila pun mencium kening dan kedua pipi Mika. Mika juga berpamitan pada Dion, Tasya dan juga Niken.
"Nyonya Sila saya permisi!" ucap Diah pamit pada Sila dan langsung di balas anggukan kepala oleh Sila.
Hadi pun mendekat ke arah Sila, ketika Hadi mendekat ke arah Sila. Dave refleks ingin maju juga, tapi Joseph menahannya.
"Tahan tuan, mungkin dia hanya ingin berpamitan!" bisik Joseph pada Dave yang langsung membuat Dave menghentikan langkahnya tapi tetap saja Dave mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
"Sila, aku permisi dulu...!"
"Pergi ya pergi saja! kenapa sekarang berpamitan. Dulu saja kamu seling...!" ketus Niken. Namun belum selesai dia bicara Sila menyenggol lengan kakak iparnya itu.
"Kakak, masih ada Tasya dan Dion. Jangan bicara seperti itu!" bisik Sila yang membuat Niken kesal dan memilih untuk pergi dari tempat itu mengajak Tasya dan Dion keluar dari rumah untuk mengantar mereka sekolah.
"Sila, aku... !" Hadi masih berusaha untuk bicara. Tapi..
"Maaf mas, Mika sudah hampir terlambat. Sebaiknya mas Hadi segera mengantar Mika, jika tidak biar aku saja yang mengantarnya!" sela Sila yang memang malas bicara lama-lama dengan Hadi apalagi ada Dave disana.
"Baik, aku pergi!" ucap Hadi yang langsung pergi.
Setelah semua orang pergi, Dave menghampiri Sila.
"Sila, apakah tidur mu nyenyak?" tanya Dave yang berdiri sangat dekat dengan Sila.
Sila tersenyum pada Dave sambil mengangguk senang.
"Iya mas, terimakasih ya kamu sudah membantuku supaya Mika bisa menginap. Sebentar ya, aku ambil tas ku dulu!" ucap Sila yang tidak peka dengan pertanyaan Dave.
Setelah Sila meninggalkan nya, Dave mengusap wajahnya kasar.
"Huh, dia tidur nyenyak. Apa dia tidak tahu kalau aku bahkan tidak bisa tidur karena memikirkan nya!" gumam Dave yang membuat Joseph menahan tawanya sambil berbalik dari bosnya yang semakin bucin itu.
***
Bersambung...