
Hadi Tama yang sudah mengurus semua biaya administrasi untuk Susan pun segera membawa Susan pulang ke rumah. Atas permintaan Susan, dia ingin tinggal di rumah Hadi saja. Alasannya adalah di rumah Hadi ada 3 orang asisten rumah tangga. Sedangkan di rumah ibunya tidak ada, jadi dia pasti akan cepat pulih kesehatan nya kalau di rumah Hadi. Sebenarnya Murti yang ikut menjenguk Susan sudah menawarkan untuk memberikan satu asisten rumah tangga ke rumah Susan selama Susan dalam masa pemulihan, tapi Susan menolak. Karena semua fasilitas lebih lengkap di rumah Hadi, jadi dia akan cepat pulih kalau di tempat Hadi.
Murti hanya bisa diam, ketika Hadi menerima semua keputusan Susan itu. Murti sebenarnya sangat tidak senang. Tapi dia menyadari kalau mungkin saja semua ini adalah karma untuknya. Dulu dia menyia-nyiakan menantu sebaik dan se pengertian Sila, bahkan Zainudin dan Anita Lia, kedua adik Hadi kuliah dari uang Sila. Rasa sesak begitu terasa di hati Murti, karena sikap nya dulu sangat tegas dan keras pada Sila. Sampai dia bercerai dengan Hadi pun, Murti masih sangat kasar pada Sila. Dan itu membuatnya sangat menyesal.
Karma kini datang padanya, menyia-nyiakan Sila akhirnya mendapatkan pengganti Sila yang bahkan sama sekali tidak bisa menghormatinya sebagai orang tua. Jangankan seperti Sila yang selalu membantu Hadi dalam urusan keuangan, Susan bahkan hanya tahu bagaimana menghabiskan uang. Jangankan tahu cara membantu Murti membereskan rumah seperti Sila dulu, Susan hanya tahu membentak para asisten rumah tangga jika mereka bekerja tidak sesuai kemauan Susan.
Setelah selesai membereskan semuanya, Hadi dan Murti juga Susan dan ibunya pergi ke rumah Hadi. Seperti seorang yang sakit parah, padahal kata dokter kondisinya sudah baik-baik saja. Susan milih untuk memakai kursi roda dan mengatakan pada Hadi akan memakai kursi roda di rumah nanti.
Hadi hanya bisa mengiyakan kemauan Susan, demi calon anaknya. Sedangkan Murti hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan calon menantunya yang manjanya minta ampun itu.
Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di rumah. Saat Hadi membawa Susan ke kamar tamu, Susan pun marah pada Hadi.
"Mas, kenapa aku malah di bawa ke kamar tamu sih?" tanya Susan dengan nada kesal.
"Susan, kita kan belum resmi menikah. Kamu tahu sendiri kan orang-orang di sini, tetangga-tetangga di sini seperti apa?" Hadi balik bertanya pada Susan.
Susan terdiam, sebab perasaannya sebagai seorang wanita dan juga calon istri Hadi sangat tidak enak. Seperti merasa kalau Hadi sedang membohongi nya.
"Yang benar mas hanya alasan itu saja, kamu tidak menyembunyikan pelakor itu di kamar mu kan?" tanya Susan curiga.
Hadi yang merasa Susan semakin lama semakin membuatnya illfeel dengan terus memancing keributan antara dirinya dan Hadi pun mengusap wajahnya kasar.
"Susan, sebenarnya apa masalah mu? kamu tidak suka kamar ini atau memang sengaja hanya menjadikan hal ini alasan untuk kembali marah dan menyalahkan aku?" Hadi benar-benar sudah lelah menghadapi hari ini.
Hari-hari skorsing dari pekerjaan sungguh membuat Hadi sangat bosan. Apalagi bukannya di semangati atau di hibur saat dia terpuruk seperti ini. Susan malah terus cari masalah dan memancing pertengkaran terus menerus.
"Kamu sudah minta aku menceraikan Rosa, aku sudah lakukan. Kamu ingin tinggal di sini sudah ku kabulkan. Apalagi sekarang? aku mulai lelah Susan, aku benar-benar kehilangan sosok Susan Delia yang aku temui setahun yang lalu. Aku sekarang tidak mengenali wanita yang di depan ku ini sebenarnya siapa?" tanya Hadi yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Susan.
Susan pun terdiam. Dia masih kesal pada Hadi karena tega menikah di belakangnya. Tapi dia juga menyadari kalau dia terus bersikap seperti ini, dan tidak kembali pada Susan yang perhatian dan di sukai Hadi dulu, meskipun dia berhasil menyingkirkan Rosa, mungkin akan ada lagi Rosa Rosa lain yang akan muncul. Karena biar bagaimanapun Hadi sekarang ini memang sudah punya kriteria sebagai pria tampan yang mapan dan menjanjikan masa depan bagi siapapun yang menjadi pendamping nya.
"Huh, meskipun aku masih dendam pada kecurangan mu mas, tapi aku juga tidak mau kehilangan mu. Baiklah, aku akan berdamai dengan keadaan!" gumam Susan.
***
Di perjalanan menuju mall, Shafa terus memperhatikan sikap Joseph yang sejak tadi wajahnya sangat dingin.
"Pak tua, kamu punya selimut tidak di mobil ini?" tanya Shafa sambil melihat-lihat ke arah jok belakang mobil.
Joseph pun menoleh sekilas. Karena dia bahkan tidak tahu apa saja yang ada di mobil ini, sebab ini adalah mobil Shafa sendiri. Mobilnya dia tinggal di kediaman Hendrawan tadi pagi.
"Aku kedinginan, aku kedinginan karena sikap mu yang seperti es itu padaku... ha ha ha !" Shafa bahkan terkekeh sendiri setelah mengucapkan kalimat itu pada Joseph.
Joseph mengernyitkan dahinya, dia tidak menyangka hal seperti itu saja sudah sangat membuat Shafa senang bukan main. Tapi melihat Shafa tertawa lepas seperti itu, hati Joseph juga ikut senang. Setidaknya wanita di sampingnya itu sudah bisa melupakan peristiwa yang di alaminya beberapa waktu yang lalu.
"Jo, berhenti!" tiba-tiba Shafa berteriak membuat Joseph sangat terkejut lalu menginjak pedal rem dengan cepat.
Joseph segera memeriksa keadaan sekeliling mobil, tapi dia tidak melihat ada yang aneh di depan mobil, di samping kiri dan kanan juga di belakang. Semua terlihat sangat baik, tidak ada juga binatang yang lewat. Joseph pun langsung bertanya pada nona.
"Nona ada apa? apa kau melihat sesuatu tadi?" tanya Joseph penasaran dan juga sedikit bingung.
Apalagi saat dia menoleh ke arah Shafa, wanita itu malah menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak aku tidak lihat apa-apa!" jawabnya sangat santai.
Joseph kembali mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Shafa. Kalau dia tidak melihat apa-apa kenapa Shafa meminta Joseph untuk berhenti.
"Nona, lalu kenapa kamu minta aku berhenti?" tanya Joseph dengan mimik wajah serius.
"Aku tidak meminta mu menghentikan mobilnya..!" terang Shafa.
Joseph makin di buat bingung.
"Lalu?" tanya Joseph.
"Aku memintamu berhenti membuatku makin jatuh cinta padamu Jo!" jawab Shafa yang di sertai dengan kekehan kecil dari wanita itu.
Tapi Joseph sama sekali tidak merubah mimik wajah seriusnya. Tanpa kata-kata dia langsung memalingkan wajahnya dari Shafa dan kembali melajukan mobilnya.
Shafa berdecak kesal, dia pikir Joseph akan mengatakan sesuatu atau apalah. Tapi ternyata lagi-lagi semua yang dia katakan di anggap angin lalu oleh pria kutub itu.
'Ya ampun, pria ini benar-benar ya. Ngomong apa gitu kek, ini lempeng-lempeng aja kek jalan tol. Huh... jangan menyerah Shafa, ingat kata pepatah sekeras-kerasnya batu karang akan tergerus oleh ombak di lautan. Pak tua, aku tidak akan menyerah!' batin Shafa yakin.
***
Bersambung...