Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 109


Keesokan harinya...


Pagi ini terasa sangat cerah, secerah wajah Hadi Tama . Dia berangkat dari rumah dengan bahagia. Masalah ibunya dengan Susan sudah selesai. Ibunya sudah memaafkan Susan karena ketulusan cara Susan membuat maaf pada ibunya. Hadi merasa senang karena Susan sepertinya sudah kembali seperti Susan yang dulu dia cintai, Susan yang sangat mengerti dirinya, penurut dan pengertian.


Pagi ini Mika juga sudah berada di mobil bersamanya. Dengan Diah yang selalu bersama Mika di kursi penumpang bagian belakang.


"Mika sayang, apa semalam tidur mu nyenyak?" tanya Hadi sambil menoleh sekilas ke arah Mika lalu kembali fokus ke arah depan lagi karena Hadi memang sedang mengemudi.


Mika kecil hanya mengangguk sambil melihat ke arah depan dan memeluk boneka panda kecil berwarna hitam putih di pelukannya. Hadi baru menyadari tentang keberadaan boneka itu.


"Mika sayang, boneka Mika baru ya. Sepertinya papa baru melihatnya?" tanya Hadi yang sesekali memperhatikan boneka yang sepertinya harganya sangat mahal. Karena ada label yang bertuliskan salah satu produk yang memang Hadi tahu harga boneka dengan mereka itu sangatlah mahal.


"Siapa yang memberikan itu pada Mika? apa Tante Susan?" tanya Hadi yang berpikir mungkin saja Susan yang memberikannya pada Mika. Toh, memang Susan yang memegang salah satu kartu ATM Hadi.


Mika lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Bukan papa. Bukan Tante Susan, Tante Susan tidak pernah membelikan boneka untuk Mika!" ucap jujur Mika yang membuat Hadi menaikkan alisnya.


'Heh, benarkah. Tapi kemarin saat ada laporan penarikan uang, Susan bilang untuk membelikan hadiah untuk Mika agar dia semakin dekat dengan Mika. Oh, mungkin Susan belum memberikannya pada Mika!' pikir Hadi yang berusaha tidak negatif thinking pada Susan.


"Jadi bukan dari Tante Susan, lalu dari siapa?" tanya Hadi yang tidak bisa menebak lagi selain Susan. Kalau ayah dan ibunya, itu sama sekali tidak mungkin. Karena mereka tidak bekerja, dan mereka hanya mengandalkan Hadi saja.


"Dari om tampan yang menemani mama dan aku jalan-jalan ke taman hiburan!" jawab Mika.


Citttt


Hadi langsung menekan pedal rem dengan cepat dengan kakinya. Hadi terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Mika.


Hadi lantas melihat ke arah boneka panda yang ada di pelukan Mika.


'Kenapa aku bisa lupa kalau kemarin Mika menginap di rumah ayah Sila, jadi mereka berjalan-jalan ke taman hiburan? Sila, Mika dan tuan Dave?' tanya Hadi dalam hatinya.


Melihat boneka panda yang di peluk erat Mika, dan betapa bahagianya Mika yang terus tersenyum saat bermain dengan boneka panda itu. Hadi sudah bisa membayangkan betapa bahagianya Mika dan Sila saat itu. Hadi mengusap wajahnya kasar, dia kembali teringat masa-masa ketika dirinya, Sila dan Mika juga sering pergi ke taman hiburan saat akhir pekan. Senyuman Sila yang terlintas begitu saja di benak Hadi, membuatnya merasa tidak senang ketika melihat boneka itu.


Lagi-lagi Hadi mengusap wajahnya kasar.


"Papa kenapa?" tanya Mika yang terkejut karena ayahnya menghentikan mobil secara mendadak.


Hadi lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Meskipun dia tidak menyukai boneka yang ada di pelukan Mika, dia juga tidak mau mengambilnya dari tangan Mika. Karena Hadi sangat menyayangi putri kecilnya itu.


Mika mengangguk dan tersenyum manis pada Hadi. Senyuman Mika itu langsung membuat suasana haru Hadi yang tadinya tidak karuan menjadi kembali tenang. Hadi lalu tersenyum dan kembali melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah Mika.


Beberapa menit kemudian, mobil Hadi terparkir di depan pintu gerbang sekolah Mika. Mika masih berusia 4 tahun, karena itu dia sekolah di sebuah sekolah yang bahasa umum nya kelompok bermain. Awalnya Sila yang menyekolahkan Mika disana, karena selain banyak permainan yang mendidik, juga bisa membuat Mika tidak jenuh karena menunggu dirinya dan Hadi yang memang bekerja.


Hadi mencium kening Mika, sebelum putrinya itu berbalik dan masuk bersama dengan Diah. Setelah itu Hadi kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan ke kantor. Beberapa menit kemudian Hadi tiba di kantornya, jarak antara kantor Hadi dan sekolah Mika hanya sekitar 20 menit saja.


Hadi langsung masuk ke dalam ruangannya, karena dia tidak melihat Susan di meja sekertaris di depan ruangannya. Saat Hadi naik jabatan menjadi wakil CEO, Susan juga ikut naik jabatan menjadi sekertaris pribadi wakil CEO. Sedangkan sekertaris yang lama, sudah di demosi kebagian lain.


Hadi duduk di kursi kebanggaan nya saat ini. Dia membuka beberapa dokumen di atas meja, dan membacanya sebentar. Lalu Hadi menandatangani semua dokumen yang ada di atas meja itu. Hanya di baca sekilas saja, karena dia percaya kalau Susan pasti sudah membacanya. Itulah yang membuat Hadi dulu respect sekali pada Susan, dia selalu mengerjakan semuanya dengan baik. Baik itu masalah pekerjaan atau kebutuhan Hadi.


Setelah selesai dengan menandatangani dokumen Hadi langsung kembali bersandar di kursinya, dia sedang memikirkan apa yang akan dia beli nanti dengan gaji pertamanya sebagai wakil CEO. Yang pasti gajinya itu sepuluh kali lipat lebih banyak daripada gajinya sebagai wakil manager. Hadi bahkan sudah merencanakan untuk membeli mobil baru dengan gaji pertama setelah menjabat sebagai wakil CEO.


Saat Hadi tengah senang memikirkan semua itu, dia di kejutkan dengan kedatangan Susan yang tiba-tiba. Susan membuka pintu dengan keras dan tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Mas, kamu harus lihat ini!" ucap Susan terdengar panik.


Susan memberikan sebuah surat dengan amplop khusus yang biasanya hanya dimiliki oleh institusi pemerintah saja.


"Apa ini?" tanya Hadi yang langsung mengambil surat itu dari Susan.


Mata Hadi melotot ketika membaca isi surat yang dia keluarkan dari dalam amplop.


"Gugatan? hak asuh Mika?" pekik Hadi yang benar-benar terkejut dengan apa yang dia baca.


"Bagaimana mungkin, bukankah putusan pengadilan sudah jelas. Dan sidang nya besok? bagiamana mungkin?" Hadi terus bertanya, tapi Susan juga bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Hadi itu.


Dia juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Dia saja terkejut, karena kalau sampai Hadi kehilangan Mika, dia pasti akan berpikir untuk bersama dengan Sila lagi. Dulu juga Mika yang selalu menjadi alasan Hadi tidak mau menceraikan Sila. Setelah Susan membujuknya dan memastikan hak asuh Mika akan ada di tangan Hadi, baru Hadi setuju dengan rencana Susan. Tapi kalau seperti ini, Susan juga ketar-ketir. Takutnya Hadi malah akan membatalkan rencana pernikahan mereka.


Hadi lantas meraih ponselnya.


"Mau menghubungi siapa mas?" tanya Susan yang khawatir kalau Hadi menghubungi Sila.


"Siapa lagi, tentu saja pengacara!" jawab Hadi dengan nada keras. Dia benar-benar panik saat ini.


***


Bersambung...