Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 150


"Is...Istrimu?" tanya Davina tak percaya.


Tapi setelah Davina melihat dengan mata kepalanya sendiri tangan Dave yang menggenggam erat tangan Sila. Tapi Dave tidak terlihat marah, dia justru tersenyum juga tidak terjadi apa-apa pada Dave membuat Davina yang memang sejak dulu inginkan kesembuhan Dave itu matanya pun berkaca-kaca.


Dia lalu melihat ke arah Sila, wanita cantik yang memang sepertinya usianya masih jauh lebih muda di bandingkan Dave. Bahkan menurut Davina mungkin usia Sila juga masih di bawah Shafa. Dan itu memang benar. Sila berusia 25 tahun, sedangkan Shafa 27 tahun.


Davina melihat Sila dari atas sampai ke bawah. Sila memang cantik, dia juga memang sudah terlahir dengan kulit putih bersih. Tapi bukan hal itu yang membuat Davina tidak bisa berkata-kata. Pandangannya selalu tertuju pada tangan putranya yang menyentuh tangan Sila.


"Iya Bu, dia istriku, istri yang sangat aku cintai!" ucap Dave lalu melepaskan tangan Sila sebentar dan mengambil buku nikah mereka yang Dave kantongi di saku jasnya.


"Ini, buku nikah kami!" ucap Dave.


Mata Davina yang berkaca-kaca nyaris tak sanggup menahan air matanya untuk tidak jatuh. Tangannya bahkan gemetaran saat akan meraih buku nikah yang di tunjukkan oleh Dave.


Rizal yang memang masih memeluk lengan Davina juga melihat buku nikah anak keduanya itu. Rasanya masih tak percaya, dia bahkan sudah keluar negeri dan mencari dokter terbaik untuk menyembuhkan Dave. Dia tidak menyangka kalau Dave bisa menemukan penawarnya sendiri.


Setelah melihat buku nikah Davina menutup mulutnya tak percaya. Air matanya pun sudah lolos dari pelupuk matanya.


"Dua bulan, kamu sudah menikah dengannya dua bulan?" tanya Davina tak percaya.


Dave tersenyum dan mengangguk, dia merangkul pinggang Sila.


"Dan Sila sedang hamil sekarang!" ucap Dave yang memuat Davina kembali membulatkan matanya dengan lebar.


Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Bahkan Aline sudah mencubit Luna agar putrinya itu menangis sekencang-kencangnya.


"Agkh... hiks... hiks...!" teriak Luna terisak menangis.


Perhatian semua orang yang tadinya tertuju pada Dave dan Sila pun berpindah pada Aline dan Luna. Aline segera menarik tangan Luna lalu mengajaknya menghampiri Davina.


"Jadi begini caramu membalas semua kebaikan yang telah aku dan keluargaku berikan padamu Davina?" teriak Aline bertanya pada Davina.


Adi Praja hanya bisa diam, sejak awal Rizal memang sudah mengatakan padanya kalau Dave tidak bisa menerima Luna. Dia juga sudah mencoba untuk bicara pada istri dan anaknya, tapi Aline dan Luna tetap keras kepala dan bilang kalau mereka pasti akan berhasil menjadikan Luna menantu di keluarga Hendrawan.


Davina yang masih memegang buku nikah Dave pun menggenggam buku nikah anaknya itu dengan kuat.


"Kamu sudah memberi harapan pada anakku Luna, lalu kamu akan menghancurkannya. Kamu akan menghancurkan hati anakku begitu saja. Kamu akan menghancurkan hidupnya?" tanya Aline berusaha membuat Davina merasa bersalah.


Aline melakukan itu karena dia sudah melihat gelagat Davina yang mulai terharu karena Dave bisa menyentuh Sila. Dan Aline jelas tidak mau itu terjadi, Aline tidak mau kalau sampai Davina menyetujui pernikahan Dave dan Sila.


Luna terisak lagi karena tadi saat dia mulai berhenti menangis. Aline langsung menginjak kaki Luna, membuat wanita itu kembali menangis.


"Kamu mau menghancurkan hidup cucu dari orang yang telah mengangkat mu dari jalanan? orang yang juga sudah memberimu makan dan juga tempat bernaung saat kamu ada di antara hidup dan mati?" seru Aline terus berusaha memojokkan dan menekan perasaan Davina.


Tangan Davina mulai gemetaran, Rizal tentu saja tidak ingin membiarkan Davina dalam keadaan seperti itu. Terus di tekan dan di persalahkan oleh Aline.


"Aline cukup, istriku memang sudah banyak berhutang pada keluarga Praja. Tapi bukan padamu! jadi cukup dengan semua omong kosong mu itu. Adi saja sejak tadi diam, ayahnya yang sudah memberi makan Davina, lalu siapa kamu yang datang saat Davina sudah sukses bahkan menjadi donatur di rumah panti jompo keluarga Praja?" tanya Rizal yang selama ini sudah mu4k menahan semua sikap dan perkataan Aline pada Davina.


Davina terisak, dia memang bukan siapa-siapa tanpa kakek Praja yang sudah membawanya dari jalanan ke rumah megah itu. Memberinya makan, menyekolahkan dirinya hingga jadi wanita sukses seperti sekarang.


"Tapi Davina yang sudah berjanji menikahkan Luna dengan Dave. Luna bahkan bersedia mengorbankan seumur hidupnya berbakti pada Dave meski tanpa di sentuh...!"


"Cukup sandiwaranya Tante Aline!" seru Randy yang ikut membela ibunya.


Randy biasanya tidak ingin ikut campur, tapi karena Dave sudah menikah dengan Sila. Dan Dave terlihat bahagia, juga penyakit nya bisa di sembuhkan oleh Sila. Randy tidak tahan lagi untuk ikut bicara.


Shafa terlihat sangat senang. Karena tadi jujur saja dia agak cemas kalau ibunya sampai kembali terpengaruh karena semua ucapan Aline.


Semua mata lalu tertuju pada Randy, tak terkecuali Sila yang tak menyangka kalau Randy ada di pihaknya dan juga Dave.


"Hentikan semua sandiwara mu, atau aku akan katakan siapa wanita yang datang ke kamar hotel ku saat aku berada di kota Bulan!" gertak Randy yang membuat Luna dan Aline saling pandang.


Tentu saja mereka tidak mau kalau sampai Randy mengatakan yang sebenarnya pada keluarga Hendrawan. Kalau Luna juga telah tidur dengan Randy untuk menjebak Randy agar menikah dengannya. Sayang sekali saat itu Luna sudah tidak perawan, dan jebakan mereka malah berbalik. Mereka coba merekam kejadian itu saat Luna membujuk Randy yang sedang mabuk, tapi mereka edit. Sayang sekali saat menunjukkannya pada Randy agar Randy menikahi Luna, Randy bahkan punah rekamannya yang utuh. Sejak saat itu mereka berhenti mengejar Randy, dan malah beralih pada Dave.


Mata Aline merah menahan amarahnya, tangannya terkepal kuat. Padahal tinggal selangkah lagi mereka bisa mendapatkan apa yang mereka mau. Dave malah membawa wanita yang menghancurkan semua rencana dan kerja keras mereka.


"Davina!" teriak Aline berusaha untuk menekan Davina dan mengalihkan perhatian semua orang dari apa yang dikatakan Randy.


Tapi Davina kembali melihat ke arah Sila dan Dave. Davina melihat putranya terlihat sangat bahagia memeluk pinggang Sila. Lagipula Davina sangat ingin cucu dari Dave, dan sebentar lagi dia akan mendapatkannya.


Dengan mata yang masih berlinangan air mata Davina pun tersenyum ke arah Dave lalu beralih ke arah Aline.


"Aline, aku minta maaf. Tapi aku tidak bisa mengorbankan kebahagiaan putraku demi hutang budi ku!" ucap Davina yang langsung membuat Aline mendengus kesal dan menarik tangan Luna untuk segera keluar dari ruangan itu.


***


Bersambung...