Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 82


Air mata Sila tumpah, melihat sang putri yang sudah dia nantikan untuk bertemu selama hampir dua bulan malah terlihat takut dan tidak mau mendekat padanya.


Dave yang menyaksikan Sila hanya bisa diam sambil berjongkok berusaha menatap putri kecilnya yang sedang berusaha terus bersembunyi bahkan memegang baju baby sitter nya dengan kencang pun mengerutkan keningnya.


Apalagi saat dia menunggu cukup lama dan tak ada tanda-tanda Hadi berada di dalam mobil itu.


"Jo, lihat ke mobilnya. Cek apakah Hadi ikut datang atau tidak bersama anaknya!" seru Dave dan Joseph pun langsung melaksanakan perintah tuannya itu.


Beberapa saat kemudian Joseph kembali.


"Tuan Hadi tidak ada di mobil tuan, sepertinya dia tidak ikut mengantarkan nona kecil!" ucap Joseph melaporkannya pada Dave.


"Sudah ku duga, pria licik dan pengecut itu tidak mungkin akan berani kemari mengantarkan Mika. Dia pasti mengira kalau Sila pasti sudah mengatakan semua perbuatan buruknya pada kedua orang tuanya!" seru Dave terdengar sangat kesal pada Hadi.


Sementara itu, Sila masih terus berusaha untuk membujuk Mika agar mau mendekatinya sambil terus menyeka air matanya.


"Mika sayang, ini mama nak! Mama sangat rindu sekali pada Mika!" lirihnya.


Sila tidak berani bergerak maju, karena saat dia mencoba melakukan itu tadi. Mika malah tampak semakin takut dan ingin menangis. Sila hanya bisa memegangi dadanya dengan kuat, menahan pilu yang begitu menyayat. Putrinya terlihat sangat takut padanya.


Sila pun akhirnya melihat ke arah baby sitter Sila yang sejak tadi hanya diam sambil memegangi tas Mika.


"Suster, bisakah bujuk anak ku agar mau ku peluk?" tanya Sila dengan tatapan sedih pada baby sitter Mika.


'Ya ampun, aku harus bagaimana. Semua ini gara-gara nyonya Susan yang mengatakan kalau ibu kandung nona Mika akan memisahkan nona Mika dari ayahnya. Dia bahkan mengatakan kalau sampai nona Mika memeluk ibu kandungnya, maka artinya dia sudah siap kehilangan ayahnya. Apa yang dipikirkan seorang anak berumur empat tahun saat mendengar kalimat seperti itu, aku harus bagaimana ini?' tanya baby sitter Mika dalam hati merasa kebingungan.


Tapi meskipun sang baby sitter terlihat bingung harus berkata apa pada Mika. Dia tetap berusaha untuk membujuk Mika karena kasihan melihat Sila yang sudah menangis dan terlihat sangat sedih.


Baby sitter bernama Diah itu lalu berbalik dan berjongkok menghadap ke arah Mika.


"Mika sayang, itu mama Mika. Bukannya dulu Mika selalu bilang pada mbak Iyah kalau Mika ingin bertemu mama. Itu mama sayang!" ucap Diah lembut berusaha membujuk Mika.


Mika masih menggelengkan kepalanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Tapi kata Tante Susan, kalau Mika ikut mama nanti Mika gak bisa ketemu lagi sama papa, mbak Iyah!" bibir mungil Mika mengatakan kalimat itu.


Hati Sila benar-benar terasa sakit.


'Susan! kamu itu manusia atau bukan?' tanya Sila dalam hatinya.


Sila tidak menyangka kalau Susan sudah menanamkan keyakinan seperti pada putrinya. Hati Sila pun merasa sangat sakit, awalnya dia memang hanya ingin hak asuh Mika dan memaafkan Hadi juga wanita pelakor itu. Tapi setelah melihat semua ini, dan mendengar sendiri kalau Susan telah menghasut anaknya untuk menjauhinya. Membuat Sila mengepalkan tangannya kuat.


'Kamu yang sudah memaksaku melakukan semua ini Susan!' geramnya dalam hati.


Sila pun menyeka seluruh air mata yang tersisa di wajahnya. Kini dia tersenyum setulus mungkin pada Mika dan mendekatinya.


"Mika sayang, apa yang dikatakan Tante Susan itu tidak benar. Mika adalah anak papa dan mama. Meskipun Mika bersama mama, Mika juga masih boleh bertemu papa dan bermain dengan papa!" ucap Sila mencoba bicara pelan-pelan pada anaknya itu.


Mika mulai melepaskan pegangannya pada baju Diah. Perlahan mata Mika yang memperlihatkan ketakutan berubah menjadi mata mungil yang menyiratkan rasa penasaran pada apa yang baru saja dia dengar. Melihat Mika sudah mau mendengarkan ucapannya, Sila bergegas menghampiri Mika dan bersimpuh dengan tumpuan kedua lututnya di depan putrinya itu.


"Mika sayang!" ucap Sila lembut sambil mengusap lembut rambut putrinya. Sila begitu bahagia bisa melihat putrinya dari dekat bahkan membelai rambutnya seperti yang selalu dia lakukan dulu.


Mika pun mulai mau mendekat pada Mika.


"Kenapa mama tidak pernah datang? mama gak sayang Mika lagi ya?" tanya gadis mungil itu membuat Sila langsung kembali menangis.


Sila langsung memeluk putrinya itu.


"Sayang, mama sayang sama Mika. Mama sayang sekali sama Mika!" ucap Sila sambil menyeka air matanya.


'Ya Tuhan, apa saja yang sudah mereka katakan pada putriku ini!' batin Sila sedih.


Ternyata selain mengatakan akan menjauhkannya dari sang ayah kalau Mika bertemu Sila, Susan dan Hadi juga membohongi Mika kalau Sila memang tidak pernah berusaha mencari dan mendatanginya.


Sila lalu menjauhkan dirinya sedikit untuk bisa melihat Mika.


"Maafkan mama ya sayang, mama mencari Mika. Tapi mama tidak bisa menemukan Mika. Mama juga tidak tahu alamat papa Hadi. Ponsel mama hilang, mama juga tidak bisa menghubungi papa. Maafkan mama ya nak!" ucap Sila kembali memeluk Mika yang perlahan mulai menggerakkan tangannya membalas pelukan Sila.


Sila memejamkan matanya hingga air mata kembali menetes ke pipinya.


'Terimakasih Tuhan, terimakasih karena telah membawa putriku padaku lagi!' batin Sila begitu bahagia.


"Mama, Mika juga rindu mama!" ucap gadis kecil itu membuat Sila tersenyum sangat senang.


Mika lalu menciumi wajah anaknya itu, menciumi telapak tangan dan punggung tangan anaknya itu lalu memeluknya lagi.


Dave yang melihat Sila dan Mika sudah kembali dekat tersenyum senang, begitu pula dengan Joseph dan juga Diah.


'Syukurlah nona Mika bisa menerima ibunya lagi. Melihat nyonya Sila yang begitu lembut dan perhatian, aku bahkan ragu dia sudah selingkuh seperti yang dikatakan nyonya Susan itu. Wah, kalau nyonya Susan melihat ini, dia pasti akan kebakaran jenggot!' batin Diah.


Dave lalu berjalan mendekati Sila dan Mika.


"Halo cantik, bagaimana kalau kita jalan-jalan dan makan eskrim?" tanya Dave membuat Mika menjadi takut dan bersembunyi di belakang Sila.


Melihat sikap Mika itu, senyuman yang tadinya terlukis di wajah Dave mendadak hilang.


"Sayang, ini Om Dave. Dia adalah orang yang telah membantu kakek dan juga mama saat kami berada dalam masa sulit. Om Dave sangat baik. Mika mau kan beri salam pada om Dave, setelah itu kita akan makan eskrim dan jalan-jalan ke taman bermain. Mika mau kan?" tanya Sila dengan lembut pada Mika.


Setelah mendengar ucapan Sila, akhirnya Mika menganggukkan kepalanya sekali. Senyuman yang hilang dari wajah Dave itu pun kembali.


"Halo Om!" sapa Mika sangat menggemaskan.


Dave lalu mendekat ke arah Sila dan berbisik di telinga istrinya itu.


"Akan lebih bagus lagi kalau dia panggil aku ayah kan?" tanya Dave yang berbisik pelan di telinga Sila dan membuat wajah Sila merona.


***


Bersambung...