Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 183


Shafa telah tiba di ruang makan, dia melihat seorang gadis kecil yang sepertinya tidak terlalu mirip dengan Sila. Yah, karena memang Shafa 75 persen wajahnya lebih mirip dengan Hadi. Tapi dengan pipi tembemnya, Mika berhasil membuat Shafa tersenyum saat pertama kali melihatnya.


"Hai sweetie, kamu pasti Mika ya?" tanya Shafa yang langsung mencubit pipi tembem nan menggemaskan Mika.


Dengan mulut penuh karena baru saja disuapi oleh Diah, Mika langsung mengangguk. Dan Shafa tentu saja semakin di buat gemas dengan sikap Mika yang menurutnya sangat lucu itu.


Shafa langsung duduk di samping Mika, dia bahkan mengambil piring yang di pegang oleh Diah. Shafa berniat menyuapi keponakan barunya yang menggemaskan itu.


"Sini, berikan padaku. Biar aku yang menyuapi keponakan chubby ku ini!" seru Shafa yang seperti langsung lupa pada kesedihan nya begitu melihat Mika.


Diah pun menyerahkan piring itu dengan senang hati. Mika yang sudah mengunyah makanan di mulutnya pun berkata.


"Tante ini adiknya Daddy Dave ya?" tanya Mika.


Shafa sampai membuka mulutnya mendengar panggilan untuk kakaknya itu, dan beberapa detik kemudian dia pun terkekeh.


"Ha ha ha, kamu panggil kak Dave apa? Daddy? ya ampun itu terdengar so cute!" ucap Shafa dengan ekspresi gemas pada Mika.


'Kakak pasti senang sekali di panggil Daddy, anak kak Sila ini sangat lucu. Sayangnya ayahnya seorang pengkhianat. Huh... kasihan kak Sila, pasti sangat berat untuknya saat dia harus berpisah dari anak semanis dan selucu ini." batin Shafa.


Saat Sila masuk ke ruang makan, dia melihat Shafa sedang tersenyum senang sambil menyuapi Shafa. Dia merasa keputusannya sudah benar membawa Mika kemari untuk menghibur Shafa.


Sila lalu duduk di kursi yang ada di samping Diah. Menyadari sang nyonya duduk di sebelahnya tadinya Diah sudah akan berdiri untuk pindah tempat duduk agar Sila bisa duduk di sebelah Mika. Tapi baru akan berdiri, Sila menahan tangan Diah.


"Duduk saja di situ mbak Iyah, habiskan juga makan siang mu dulu!" ucap Sila.


Melihat sikap Sila pada baby sitter Mika, Shafa tersenyum lega. Sebab kakaknya punya istri yang sangat baik seperti Sila. Bahkan pada Diah dan Joseph juga Oman, Sila menganggap mereka seperti keluarga sama seperti ayah dan ibunya memperlakukan baby sitter dan pengawalnya di rumah ini.


Mereka makan siang bersama, setelah makan siang Shafa mengajak Mika bermain di taman belakang kediaman Hendrawan. Disana ada sebuah taman yang ada kolam ikannya dan Shafa mengajak Mika memberi makan ikan yang ada disana.


Mika senang sekali, karena ikan-ikan disana sampai bergerumull berebut makanan ikan yang di lemparkan oleh Mika dan Shafa.


"Tante, berikan padaku lagi!" pinta Mika karena makanan ikan di tangannya sudah habis.


"Punya Tante juga sudah habis. Tunggu sebentar ya, Tante akan minta pelayan untuk ambilkan lagi!" ucap Shafa dan Mika pun mengangguk.


"Bi Siti, Bi Siti...!" teriak Shafa memanggil pelayannya.


Tapi yang di panggil tak kunjung datang. Karena bi Siti tak kunjung datang, Shafa pun berkata pada Mika.


"Mika sayang, tunggu di sini sebentar ya. Tante akan ambil dulu makanan ikannya di gudang!" ucap Shafa dan Mika sekali lagi mengangguk.


Sila memang sedang tidak bersama mereka, karena Sila ingin Shafa lebih akrab bersama dengan Mika. Supaya Shafa juga melupakan trauma dan kesedihannya. Sila bersama Diah sedang membereskan peralatan makan siang mereka tadi bersama para asisten rumah tangga di kediaman Hendrawan.


Ketika Shafa akan pergi ke gudang belakang dia tidak sengaja berpapasan dengan Oman dan Joseph yang sedang minum kopi di ruang tengah.


Oman dan Joseph langsung berdiri dan menyapa Shafa.


"Selamat siang nona!" ucap Oman dan juga Joseph sambil sedikit membungkukkan badan mereka.


"Siang Oman!" balas Shafa menyapa Oman sekilas lalu berjalan menuju gudang belakang.


"Heh Jo, nona sudah pergi! kenapa masih berdiri. Duduk sini, kita harus bicarakan cara mencari si Vincent itu. Kira-kira dia pergi kemana ya, apa mungkin dia menginap di hotel murah. Tapi apa iya orang seperti dia bisa hidup di ruangan yang tidak ada pendingin udaranya...!" Oman bicara panjang lebar.


Namun ketika Oman sedang berusaha berdiskusi dengan Joseph. Yang di ajak diskusi malah asik dengan pikirannya sendiri. Joseph bahkan masih berdiri.


'Dia benar-benar mengacuhkan ku!' batin Joseph gusar.


Melihat Joseph tak kunjung duduk, Oman pun menarik tangan Joseph dan menuntunnya untuk duduk.


Hal itu tentu saja mengagetkan Joseph.


"Apa-apaan kau?" tanya Joseph dengan ekspresi wajah dingin.


"Kau yang apa-apaan? aku ajak diskusi malah berdiri saja. Coba lihat peta ini!" ucap Oman memperlihatkan sebuah gambar peta di layar ponselnya.


Joseph yang kembali fokus pada pekerjaan nya pun melihat ke arah layar ponsel Oman.


"Anak buahku sudah aku bagi tiga kelompok, mereka semua berpencar mencari hotel dan penginapan berkelas. Tapi tidak di temukan ada Vincent atau ayah dan ibunya di tempat-tempat itu. Apa mungkin mereka tinggal di perkampungan atau desa di sekitar pasar atau pantai?" tanya Oman memberikan masukannya pada Joseph.


Joseph mengangguk paham.


"Mungkin saja, aku akan cari di dekat perkampungan nelayan, kamu cari di dekat perkampungan pasar tradisional. Kita harus menemukan Vincent, karena tuan besar sudah mendaftarkan gugatan ke pengadilan!" seru Joseph dengan serius.


"Baik. Aku akan segera menghubungi anak buahku!" Oman pun berdiri dan segera menjauh sedikit kearah teras samping untuk menghubungi anak buahnya.


Saat Joseph juga sedang mengirim pesan pada anak buahnya, Shafa yang baru kembali dari gudang dengan membawa sekotak makanan ikan melewati Joseph yang duduk di sofa begitu saja.


Joseph mulai merasa gusar, tapi kemudian dia berpikir lagi.


'Kenapa aku harus kesal, ini justru baik. Sangat baik jika nona mengganggap ku tidak ada dan tidak penting!' pikir Joseph yang juga bersikap biasa saja dan tidak menyapa Shafa.


Shafa yang sudah berada di luar rumah pun menghentakkan kakinya berkali-kali karena kesal.


"Aku tidak menyapanya, harusnya dia menyapa ku duluan dong. Ini malah diam saja seperti tidak melihat ku. Menyebalkan!" gerutu Shafa sambil memukul-mukul kotak makan ikan yang dia pegang.


Mika yang melihat Shafa datang dengan kotak makanan ikan yang di pukul-pukul oleh Shafa pun mendekati Shafa dan bertanya.


"Tante, kenapa Tante pukul-pukul kotak makanan ikan itu?" tanya Shafa polos.


Shafa pun tersenyum masam.


"Oh, ini... ini supaya makannya jadi lembut sayang. Jadi ikannya mudah untuk mengunyah nya nanti!" jawab Shafa memberi alasan pada Mika.


"Mengunyah?" tanya Mika dan Shafa mengangguk dengan cepat.


"Tante, tapi kata Miss Eny ikan tidak mengunyah makanan mereka!" ucap Mika yang membuat Shafa tersenyum bingung sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.


***


Bersambung...